
Namun baru beberapa meter saja mobil itu berjalan, tiba-tiba sebuah mobil menghadang mereka. Dan betapa terkejutnya Zein serta Jamie ketika melihat sang pengemudi mobil yang ternyata adalah Devan. Entah apalagi yang ingin Devan lakukan, tetapi baik Zein dan Jamie sedang tidak memiliki banyak waktu lagi.
“Haish, sialan!” umpat Zein dengan penuh kemarahan.
“Hay, apa matamu buta! Cepat singkirkan mobilmu, apa tidak lihat bahwa kami sedang sangat terburu-buru!” teriak Zein dengan sangat frustasi.
“Zein, …”
Jamie mencoba menghentikan Zein ketika melihat Devan mulai berjalan mendekati mobil mereka. Zein semakin mendengus kesal akan kedatangan polisi yang telah memfitnah dirinya itu. Terlebih lagi, Zein sudah mengetahui bahwa Devan saat ini sedang diskors oleh atasannya.
“Apalagi yang ingin bajingan itu lakukan?” gerutu Zein yang tampak jelas tidak menyukai Devan.
Perlahan Devan mengetuk kaca mobil yang tengah di kemudikan oleh Zein. Sebenarnya Zein sangat malas untuk menanggapi polisi muda itu, tetapi dengan sangat terpaksa Zein pun akhirnya menurunkan kaca mobilnya.
“Ada apa lagi? Tuduhan apalagi yang ingin kau lakukan pada kami?” cecar Zein dengan nada ketusnya.
“Maaf, boleh kita bicara sebentar?” pinta Devan yang memaklumi sikap Zein.
“Tidak bisa! Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menanggapi tuduhanmu lagi,” ketus Zein yang berniat menutup kaca mobilnya kembali.
“Kalian berdua mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya, bukan?”
Namun, pernyataan Devan seketika menghentikan niat Zein untuk menutup kaca mobilnya. Detik itu juga terlintas di benat Zein untuk memanfaatkan Devan untuk membantunya. Selama dia focus menyelamatkan Ayana dan Ailee, Devan yang akan menangani yang lainnya.
“Kau sungguh ingin mengetahui siapa pelaku pembunuhan berantai yang sebenarnya?” tanya Zein kembali memastikan.
“Tentu, _....”
“Baiklah, ikuti aku! Aku akan menunjukan siapa pelaku yang sebenarnya padamu,” potong Zein yang sudah tidak memiliki banyak waktu lagi.
__ADS_1
...****************...
Di saat Zein kembali menginjak gas mobilnya, pengawal yang dia sewa juga sudah berkumpul dan mengikutinya. Begitu juga Devan yang tidak akan melewatkan kesempatan untuk menangkap pelaku pembunuhan berantai dan penculikan yang sampai saat ini belum kunjung dia temukan jejaknya.
Beralih pada Ayana yang kini telah tiba di sebuah Gedung tua yang terdapat di tengah hutan. Hanya dalam hitungan detik, Ayana sudah bisa merasakan energi jahat dari tempat itu. Energi yang selama ini dia rasakan setiap kali terjadi hal buruk di sekitarnya.
Tiada pencahayaan dari lampu, hanya ada cahaya bulan dan lilin yang mungkin sengaja di nyalakan di sana sebagai alternative pencahayaan yang bisa mereka andalkan.
Tanpa rasa takut sedikitpun Ayana menghancurkan segel yang melindungi sekitar Gedung tua tersebut. Entah mengapa Ayana melakukan hal tersebut, tetapi dia merasa bahwa Zein dan Jamie pasti akan datang untuk menyelamatkan Ailee dan dirinya.
“Tempat apa ini?” gumam Ayana sembari memperhatikan sekitarnya dengan perasaan waspada.
Tiba-tiba pintu Gedung tua tersebut terbuka dengan sendirinya. Ayana cukup terkejut melihatnya, tetapi detik berikutnya satu persatu lilin yang ada di sana menyala seakan mengisyaratkan Ayana untuk mengikutinya.
Dengan hati-hati, Ayana terpaksa harus mengikutinya. Sebab dia tidak memiliki petunjuk lain yang bisa membawa dirinya menemukan Ailee.
Hingga tibalah Ayana di sebuah ruangan yang sangat luas dan sebuah pemandangan mengerikan seketika membuat Ayana semakin tercengang dan terdiam di tempatnya.
Dan yang lebih menyedihkan terdapat tiga bayi laki-laki yang masih berlumuran darah serta Ailee yang di ikat pada tiang yang berada di tengah. Dimana tepat di atasnya tidak ada atap sama sekali, sehingga cahaya bulan bisa masuk menyorot tubuh Ailee.
“Selamat datang, Ayana! Mahluk special yang berhasil aku panggil ke dunia ini dengan susah payah, bahkan untuk mendapatkan kekuatanmu saja aku harus rela melakukan ritual terlarang ini,” ucap Zuko yang muncul dengan mengenakan pakaian khusus untuk ritual.
Sebuah pakaian seperti jubah putih yang polos bertuliskan sebuah matra pemindah yang Ayana bisa perkirakan di tulis dengan menggunakan darah segar.
Begitu pula dengan Cade yang mengenakan pakaian yang sama seperti Zuko. Keduanya tidak menutupi identitasnya lagi seperti sebelumnya.
“Ternyata kau dalang dari semua kekacauan ini,” ujar Ayana sembari berusaha menahan emosinya.
“Memangnya kau pikir siapa lagi?” Zuko tersenyum mengejek.
__ADS_1
“Memang siapa yang memanggilmu datang ke dunia ini? Kalau bukan aku seorang ilmuwan hebat yang memiliki kekuatan di luar akal manusia.” Dengan sombongnya Zuko membanggakan dirinya sendiri.
“Jika saja kau menyerahkan kekuatan milikmu dengan suka rela, maka aku juga tidak perlu menggunakan cara seperti ini,” lanjutnya dengan sorot matanya yang tajam dan nada bicaranya penuh penekanan seolah melempar semua kesalahan kepada Ayana.
“Mengapa kau begitu serakah menjadi manusia? Kau tidak hidup di dunia yang penuh dengan monster dan peperangan, tetapi kenapa kau malah menciptakan monster itu sendiri dengan menggunakan tubuhmu,” ujar Ayana berharap bisa menyadarkan Zuko akan akibat yang harus dia tanggung karena perbuatannya sendiri.
"Apa kau menceramahi ku sekarang? Kau tidak ingin menyelamatkan wanita itu rupanya.” Bukannya sadar kelakuan Zuko malah semakin gila saja.
“Ailee, …” Suara Ayana tertahan ketika melihat Ailee yang masih tidak sadarkan diri.
“Dia yang akan paling menderita di bandingkan yang lainnya dan semua ini karena dirimu,” ucap Zuko penuh penekanan.
Diam-diam Zuko mengaktifkan sebuah perangkap yang berada tepat di bawah kaki Ayana. Sebuah energi jahat yang membentuk beberapa utas tali langsung saja mengikat tubuh mungil Ayana.
Perangkap itu Zuko dan Cade buat dengan sangat susah payah, karena menggabungkan kekuatan keduanya agar Ayana tidak bisa melepaskan diri.
“Bajingan gila, cepat lepaskan aku! Jika kau memang menginginkan kekuatanku, maka ambil ‘lah dengan cara bertarung denganku. Bukan menggunakan cara licik seperti ini,” ujar Ayana yang berusaha keras untuk melepaskan tali yang mengekang tubuhnya. Bahkan kekuatannya seolah tidak berfungsi untuk memutuskan tali tersebut.
“Aku sudah melakukannya sampai sejauh ini! Kau pikir aku akan termakan omong kosong mu, tidak akan pernah!” tegas Zuko.
“Waktunya sebentar lagi akan tiba! Tersisa beberapa menit lagi sampai gerhana bulan merahnya akan di mulai,” ujar Cade mengingatkan.
“Gerhana bulan merah,” gumam Ayana yang seperti memikirkan sesuatu di benaknya.
...****************...
Kembali pada Zein dan bala bantuannya yang kini sudah mulai memasuki hutan dengan mengikuti alat pelacak nya. Zein tidak peduli akan apapun yang akan muncul di depannya, dia tetap memberanikan diri semakin masuk ke dalam hutan hingga dia menemukan sebuah Gedung tua yang sangat suram.
Bersambung, .....
__ADS_1