You Are My Anime

You Are My Anime
33.Belanja Bersama


__ADS_3

Beruntung Ayana tidak mendengarnya, karena terlalu asyik menikmati pemandangan bunga sakura di sepanjang jalan itu. Hingga Zein menyadari sendiri bahwa dia tak sadar lagi-lagi terpesona dengan Ayana.


“Astaga, apa yang baru saja aku katakan? Apakah tadi aku benar-benar mengatakan bahwa dia sangat cantik? Tidak, … Itu mustahil, aku mungkin hanya sedang gila sesaat,” gumam Zein yang berusaha menyangkal perkataannya sendiri.


“Benar, Zein! Kau hanya gila sesaat saja, sekarang sadarlah dan kembali menjadi manusia yang normal lagi. Okay!” lanjut Zein yang masih bicara dengan dnegan dirinya sendiri.


Baru saja, menyakinkan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak terpesona dengan kecantikan Ayana. Tapi siapa sangka baru satu detik berlalu, kini Zein malah sedang mendekap tubuh Ayana di dalam pelukannya.


Zein yang melihat Ayana hampir jatuh saat seseorang menabrak tubuh mungilnya dengan keras. Sontak saja, langsung berlari menhampiri Ayana untuk melindungi. Dan kali ini tidak bisa Zein pungkiri lagi, menatap mata indah milik Ayana membuat Zein tersadar bahwa hatinya sejak awal memang sudah terpikat oleh tokoh animasinya sendiri.


“Zein,” ujar Ayana yang masih dalam pelukan Zein.


“Kau tidak apa-apa ‘kan? Tidak ada yang terluka?” tanya Zein dengan raut wajah khawatir.


“Aku tidak apa-apa, ‘kan ada Zein yang melindungiku,” jawab Ayana yang membuat Zein kembali tersadar dari akal sehatnya dan dengan cepat dia pun melepaskan pelukannya pada Ayana.


“Lain kali kalau jalan hati-hati! Jangan sampai menabrak orang lain lagi, karena terpesona dengan sesuatu,” ujar Zein yang menjadi salah tingkah karena malu dnegan perbuatannya sendiri.


“Baiklah dan terima kasih sudah melindungiku, Zein!” ucap Ayana dengan senyuman manisnya yang membuat jantung Zein serasa hampir berhenti berdetak.


“Zein, lihatlah kita sudah sampai!” seru Ayana sembari menunjuk kea rah supermarket yang tinggal beberapa lagi mereka sampai.


“Astaga, Ayana! Berhentilah tersenyum semanis itu, aku bisa gila kalau kau terus terlihat semanis ini,” batin Zein yang merasa semakin frustasi dengan perasaannya sendiri.


“Zein, ayo cepat kemari!” panggil Ayana yang tidak sabar untuk waktunya berbelanja.


“Iya, iya, … Aku datang!” sahut Zein.


Begitu sampai di supermarket, Zein pun langsung mengambil troli belanjaan untuk menarus semua barang yang akan dia beli nantinya. Sampai dia menyadari bahwa tatapan Ayana terus saja tertuju pada troli yang sedang dia dorong.


Karena penasaran Zein pun bertanya, “Ada apa? Apa yang kau lihat?”


“Zein, boleh aku naik ke dalam situ?” pinta Ayana dengan wajah memohon.


“Tidak boleh! Memangnya kau tidak malu apa?” tolak Zein dnegan tegas.

__ADS_1


“Memangnya malu kenapa? Dia juga bisa naik ke dalam situ, tapi kenapa aku tidak boleh?” rengek Ayana sembari menunjuk kea rah seorang anak kecil yang duduk di dalam troli.


Zein pun melihat ke arah Ayana menunjuk, dia hanya bisa menghela napas panjang dengan kelakuan Ayana. Namun, pada akhirnya Zein tetap mengijinkan Ayana untuk duduk di dalam troli belanjaan. Sebab Zein tidak tahan dengan tatapan memohon Ayana yang terlihat semakin menggemaskan dan berhasil meluluhkan hatinya itu.


“Zein, kau memang terbaik! Terima kasih sudah mengijinkanku duduk di dalam sini. Ini sungguh sangat menyenangkan,” ujar Ayana yang terlihat sangat kegirangan seperti anak kecil.


“Aish, … Kuharap tidak ada yang mengenaliku disni,” gumam Zein yang menyembunyikan wajahnya dengan menggunakan tutup kepala hoddie yang dia kenakan.


“Zein, cepat dorong yang kuat! Aku ingin meluncur dan mengambil makanan yang di sana!” seru Ayana yang menikmati mainan barunya.


“Tidak boleh seperti itu, duduk saja dengan tenang!” ujar Zein yang lagi-lagi memperingatkan Ayana untuk tidak berulah.


“Huh! Zein tidak seru,” gerutu Ayana yang terlihat kecewa.


“Jangan menggerutu terus! Kau makan apa malam ini?” tanya Zein sembari melihat ke sekelilinganya.


“Daging! Aku mau makan daging, ayam goreng dan telur,” jawab Ayana yang kembali bersemangat.


“Tidak baik mengonsumsi makanan yang terlalu banyak karbohidrat saat malam. Pilih salah satunya saja, nanti menu yang lain bisa di makan saat sarapan,” ujar Zein menjelaskan.


“Ayo, kita beli dagingnya dulu!”


Zein pun mulai mendorong troli nya menuju area khusus yang menjual berbagai macam daging. Karena Ayana sangat menyukainya, Zein pun memutuskan membeli banyak stock daging. Tidak ingin terkena bau daging, akhirnya Ayana pun turun dari troli dan memilih untuk berjalan di samping Zein.


“Ay, kau masih mau tetap duduk di sini bersama dengan daging-daging ini?” tanya Zein saat ingin memasukan daging yang dia pilih ke dalam troli, tapi ternyata Ayana masih santai duduk di dalamnya.


“Kenapa? Aku masih ingin duduk di sini,” jawab Ayana sembari mengkerucutkan bibirnya yang membuat Zein lagi-lagi tak bisa berkata apapun.


“Nanti tubuhmu akan ikut bau, lebih baik kau turun dulu. Lain kali kalau kita pergi berbelanja lagi, kau boleh menaikinya sepuasmu,” ujar Zein yang kali tidak bisa diam saja, demi kebaikan Ayana juga.


“Baiklah, tapi bantu aku turun!”


Ayana langsung mengulurkan kedua tangannya, layaknya anak kecil yang meminta di gendong oleh ayahnya. Walau menghela napas panjang, tapi Zein tetap meraih uluran tagan Ayana. Dia pun mengangkat tubuh mungil Ayana keluar dari troli dengan mudahnya.


“Terima kasih, Zein!” ucap Ayana yang selalu tersenyum manis saat berterima kasih pada siapapun.

__ADS_1


“Ambil ‘lah apapun yang ingin kau makan,” ujar Zein pada Ayana yang terlihat sangat menikmati waktu berbelanja itu.


“Sungguh aku bisa mengambil apapun yang aku mau?” tanya Ayana memastikan.


“Hmm, … Asal kau memang benar-benar sangat menginginkannya. Mengerti?” jelas Zein yang tidak ingin Ayana menyalahgunakan kebaikannya untuk membeli barang-barang yang tidak perlu.


“Sesuatu yang benar-benar aku inginkan? Baiklah, aku mengerti!” sahut Ayana walau sejenak harus memikirkan maksud ucapan Zein barusan.


Namun, sepertinya Ayana memang mengerti maksud perkataan Zein. Dilihat dengan caranya yang hanya mengambil barang-barang tertentu dan kemudian di letakan di dalam troli. Hingga akhirnya membuat troli belanjaan mereka menjadi sangat penuh.


“Astaga, sejak kapan belanjaanku jadi sebanyak ini? Pasti ini ulah Ayana! Bagaimana aku membawa semua barang ini, padahal aku tidak membawa mobil,” gerutu Zein.


Dia lupa bahwa dirinya tidak sedang membawa mobil kesayangannya. Alhasil, Zein pun memaksa kepada pegawai toko untuk membeli trolinya sekalian. Awalnya karyawan itu tidak mengijinkan, tapi setelah Zein bicara langsung dengan pemilik toko yang ternyata merupakan salah satu rekan bisnisnya. Akhirnya Zein bisa membawa pulang semua barang belanjaannya dengan trolinya sekaligus.


Bonus senyuman manis Ayana, ....



^^^^^^Bersambung, .... ^^^^^^


...****************...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari ‘yah!😍😍...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru antara Zein si Ceo tampan dengan tokoh animasi ciptaannya yang berubah menjadi manusia. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...

__ADS_1


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2