You Are My Anime

You Are My Anime
Menyusun Rencana


__ADS_3

Zein dan Jamie keluar dari kantor kepolisian di saat yang bersamaan. Keduanya saling terdiam saling melempar pandangan satu sama lain dan detik berikutnya keduanya sama-sama tertawa karena merasa sedikit lucu dengan hari yang mereka lalui hari ini.


“Beraninya polisi bodoh itu menuduhku sebagai seorang pembunuh? Mau di taruh di mana wajah tampanku ini,” protes Jamie kemudian.


“Aku dengar jatuh korban lagi ketika kita sedang di interogasi yang berarti dua bajingan itu sudah sembuh dari luka sebelumnya,” ujar Zein yang membuat Jamie seketika terdiam.


“Apa mereka masih mengincar kita lagi?”


Ternyata sikap diam Jamie bukan karena dirinya terkejut melainkan kerena dia takut akan kembali di bunuh seperti sebelumnya. Zein hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dari sahabatnya itu yang sok kuat tapi pada dasarnya sangat penakut.


“Sebaiknya kita pulang! Ayana dan Ailee pasti sedang sangat mengkhawatirkan kita dan juga kita harus mengatakan soal korban yang kembali berjatuhan,” ujar Zein yang berjalan mendahului Jamie masuk ke dalam mobil yang terparkir di sana.


“Kau benar! Mereka pasti sangat khawatir, apalagi Ayana yang tadi terlihat sangat shock,” imbuh Jamie yang segera menyusul Zein.


...****************...


Beralih pada sosok Zuko yang memanfaatkan identitas palsunya sebagai dokter untuk mencari sisa persembahan ritual. Apalagi masih kurang tiga bayi laki-laki yang baru lahir dan seorang wanita hamil sebagai wadah sementara akan kekuatan yang akan dia rebut dari Ayana.


Terlebih Zuko sudah mendengar bahwa Cade telah berhasil melakukan dengan sangat baik. Di tambah sebentar lagi gerhana bulan merahnya juga akan muncul dalam beberapa hari lagi. Zuko dengan santainya berjalan di setiap lorong rumah sakit terutama pada bagian bersalin dan ruang incubator bayi.


“Dokter Zay, apa yang sedang anda lakukan di sini?” tanya salah satu perawat yang tidak sengaja berpapasan dengan Zuko yang saat itu sedang mengawasi keadaan dan memilih mangsanya.


“Hanya sedikit berjalan-jalan, aku cukup bosan karena hari ini sedang tidak ada jadwal operasi penting,” jawab Zuko sekenanya.


“Ouh, … Silahkan lanjutkan jalan-jalan anda,” ujar perawat tersebut yang memaklumi alasannya.


Zuko tidak ambil pusing dan kembali melanjutkan tujuannya. Dia langsung saja menuju ke ruangan incubator bayi, tetapi tidak menemukan anak yang memiliki tanda gerhana bulan merah. Bahkan Zuko juga tidak berhasil menemukan tubuh wanita hamil yang cocok untuk di jadikan wadah sementara.


“Sial! Kenapa di sini tidak ada satupun bayi yang memenuhi kriteria yang aku butuhkan,” umpat Zuko dalam hatinya.


“Sepertinya aku harus mencari di rumah sakit lainnya.” Akhirnya dia memutuskan untuk mencarinya di rumah sakit yang lain.

__ADS_1


...****************...


Kembali pada Zein dan Jamie yang akhirnya tiba di kediaman Ailee. Keduanya langsung saja masuk untuk menemui pasangan masing-masing dengan raut wajah khawatir. Namun, bukan keadaan Ayana yang terlihat mengkhawatirkan tetapi keadaan Ailee yang tampak sangat lemas sambil menangis.


“Ayana!”


“Ailee!”


Zein segera menghampiri Ayana dan memeluknya dengan erat, begitu juga dengan Jamie yang langsung merengkuh tubuh Ailee yang semakin menangis tanpa henti. Ayana pun akhirnya ikut menangis bersama Ailee begitu Zein kembali lebih cepat dari dugaan semua orang.


“Apa yang terjadi padamu? Kenapa sampai menangis seperti ini?” tanya Jamie pada Ailee sembari mengusap punggungnya pelan.


“Hiks, … Awalnya aku tidak ingin menangis! Tapi aku sangat khawatir padamu, aku sangat takut kehilanganmu,” terang Ailee semakin memperat pelukannya pada Jamie.


“Sia-sia aku mempercayakan Ayana padamu! Ternyata keadaanmu yang perlu di khawatirkan,” celetuk Zein yang dengan sengaja menggoda Ailee.


“Berisik! Diam saja kau, semua ini salahmu!” bentak Ailee tidak terima.


“Jamie, lihat sahabatmu bersikap jahat padaku!” adu Ailee pada kekasihnya.


“Zein, bisakah kau diam sebentar,” pinta Jamie dengan raut wajah sedikit memohon.


Ketika Zein ingin kembali protes, Ayana dengan cepat menyelanya dan mengalihkan perhatian Zein hanya terfokus padanya. Ketika tatapan mata keduanya saling bertemu, Zein langsung saja mencium bibir mungil Ayana sekilas.


“Apa kau khawatir padaku dan menangis seperti dia?” tanya Zein dengan sedikit menyindir pada Ailee.


“Aku memang khawatir, tapi aku percaya bahwa kau akan segera kembali seperti yang kau katakan sebelumnya. Maka dari itu, aku tidak ingin menangis karena aku yakin kau akan menepati ucapanmu,” jelas Ayana yang kembali memeluk Zein melepaskan rasa rindunya.


“Aku juga tidak menyangka akan bisa bebas secepat ini!” ujar Zein yang dengan senang hati membalas pelukan Ayana.


“Ouhya, … Aku bebas karena adanya jatuh korban pembunuhan berantai lagi! Seperti mayat sebelumnya, orang itu di bunuh karena di ambil jantungnya. Hal itu mematahkan tuduhan yang di arahkan padaku dan Jamie sejak awal,” sambung Zein menjelaskan apa yang terjadi.

__ADS_1


“Kita harus segera menangkap orang itu, Zein!” ujar Ayana menatap lekat kedua mata kekasihnya itu.


“Bukankah itu sangat berbahaya untukmu?” tanya Zein memastikan.


“Memang, tapi sejak awal ini bukanlah duniaku! Keberadaan ku di dunia ini malah aku membahayakan manusia lain yang tidak tahu apapun,” jawab Ayana dengan tatapan sedihnya.


“Apa kau akan meninggalkan aku dan pergi begitu saja?” tanya Zein yang entah mengapa Ayana seperti ingin meninggalkan dirinya.


“Tidak! Aku akan selalu berada di sini, di hatimu!” jawab Ayana sembari menunjuk dada Zein tempat hati dan jantungnya berada.


“Apapun rencanamu, apapun yang ingin kau lakukan tolong libatkan aku di dalamnya, Ayana! Kita harus melalui semua ini bersama! Ingatlah, kau tidak sendirian di dunia,” ujar Zein dengan raut wajahnya yang sangat memohon agar Ayana mau berjanji akan hal itu.


“Ya, mari kita tangkap para bajingan gila itu bersama-sama!” sahut Ayana menyetujuinya.


“Lalu apa rencana kita untuk menangkap mereka? Kalian berdua tidak melupakan kami, bukan?” Tiba-tiba suara Jamie mengalihkan keduanya.


“Hay, kekasihmu yang cengeng itu sudah baik-baik saja?” goda Zein yang masih saja mengajak perang Ailee di saat seperti itu.


“Sialan kau, Zein!” umpat Ailee sembari mendengus kesal menatap Zein.


“Ayana, sebaiknya kau tinggalkan saja manusia menyebalkan seperti Zein ini!” ujar Ailee yang sontak membuat Ayana dan Jamie hanya tersenyum tipis, berbeda dengan Zein yang langsung melontarkan serangan balik.


“Kalian berdua sudah hentikan!” seru Jamie menengahi perdebatan Ailee dan Zein.


“Benar, sebaiknya kita mulai mencari beberapa orang. Sebab aku mereka juga membentuk suatu kelompok besar di suatu tempat. Dan perihal pembunuhan dan penculikan yang mereka lakukan seperti bertujuan untuk mengambil kekuatanku secara paksa,” terang Ayana yang membuat Zein dan yang lainnya mendengarkan dengan serius.


“Baiklah, aku akan menggunakan koneksiku!” ujar Zein.


Bersambung, .....


__ADS_1


__ADS_2