You Are My Anime

You Are My Anime
Suatu hari yang ditunggu, ...


__ADS_3

“Kau mau kemana, Zein?” tanya Jamie ketika Zein berjalan pergi meninggalkan rumahnya.


“Aku masih ada janji untuk mengisi mata kuliah di kampus kita dulu!” jawab Zein dengan menunjukan senyuman tipisnya.


Setelah itu, dia langsung berjalan masuk ke dalam mobilnya. Jamie pun tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia hanya bisa menghela napas panjang akan kehidupan yang Zein jalani saat ini.


Ailee yang mendengar suara mobil Zein pergi segera menemui Jamie untuk menanyakan apa yang terjadi. Ailee baru saja selesai menidurkan anaknya yang lelah bermain bersama Zein sebelumnya.


“Babe, apa yang kalian bicarakan? Mengapa Zein pergi begitu saja?” tanya Ailee menuntut penjelasan dari suaminya.


“Biasa, aku hanya menyarankan Zein untuk membuka lembaran baru dan melupakan Ayana. Mungkin aku bicara cukup keterlaluan sampai menyinggungnya seperti itu,” jelas Zein yang tidak menutupi kesalahannya sendiri.


“Lagi pula ini sudah berlalu tiga tahun! Meski sangat sulit, seharusnya Zein perlahan harus membuka lembaran barunya,” ujar Ailee yang tidak menyalahkan suaminya.


Bagaimanapun juga Jamie mengatakan hal itu demi kebaikan Zein sendiri, dia pun menginginkan yang terbaik juga dalam hidup Zein selaku mereka sebagai sahabat baiknya. Namun keduanya juga tidak bisa memaksa Zein, mengingat betapa keras kepalanya sahabat mereka yang satu itu.


Memiliki wajah yang tampan rupawan, perusahaan besar dan uang serta kekuasaan yang berlimpah. Akan tetapi, semua itu sama sekali tidak membuat Zein merasa bahagianya karena memiliki semua itu.


Sumber kebahagiaannya hanya satu yaitu sosok Ayana, karakter animasi ciptaannya sekaligus kekasih yang sangat dia cintai dan rindukan.


Kini Zein tengah berdiri di depan kelas memberikan mata kuliah yang sesuai dengan posisinya sebagai seorang Ceo dalam bidang film animasi. Dia memberikan pelajaran penting yang bisa menciptakan kesuksesan seseorang dalam membuat sebuah film animasi.


“Sampai di sini apakah ada yang memiliki pertanyaan?” tanya Zein setelah selesai memberikan materinya.


“Saya, Pak!” seru salah satu mahasiswi sembari mengangkat tangannya dengan antusias.

__ADS_1


“Baiklah, apa pertanyaanmu?” tanya Zein memberikan ijin untuk mahasiswi itu mengutarakan pertanyaannya.


“Salah satu film animasi anda yang berjudul Ayana the Adventure mengalami sukses besar selama beberapa tahun belakang ini! Bagaimana anda menciptakan karakter Ayana yang begitu kuat dan menawan?”


“Emm, … Mungkin karena aku sangat mencintai sosok Ayana! Kalian pasti sudah mendengar tentang apa yang terjadi dengan kekasihku, Ayana! Jadi, sepertinya jawaban hanya satu karena aku mencintai karakter Ayana. Sehingga tokoh itu terlihat sangat kuat dan menawan, seperti cara aku melihat kekasihku,” terang Zein yang membuat para mahasiswi merasa sangat iri dengan Ayana.


“Waah, … Saya merasa iri sekali dengan kekasih anda! Pantas saja Nona Ayana mendapatkan kekasih yang sempurna seperti anda, dia bagaikan malaikat tak bersayap,” puji salah satu mahasiswi yang ada di sana dan yang lainnya ikut membenarkan.


“Seperti yang Jamie katakan, Ayana benar-benar menjadi pahlawan di dunia animasi maupun di dunia nyata!” batin Zein yang sedikit terharu atas antusias para mahasiswanya terhadap sosok kekasihnya.


Kemudian pertanyaan lain terus bermunculan dan Zein bisa menjawabnya dengan baik. Hingga beberapa mahasiswi tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampirinya dengan membawa sebuah buket bunga berwarna ungu dengan ukuran yang cukup besar dan beberapa buket bunga kecil dari berbagai macam bunga.


“Pak, kami adalah para gadis yang saat itu di selamatkan oleh kekasih anda! Kami ingin sekali mengunjungi makamnya, tetapi karena itu tempat pemakaman pribadi maka kami tidak di ijinkan untuk masuk ke dalamnya. Bisakah anda menyampaikan rasa terima kasih ini kepada kekasih anda?” ujar salah satu mahasiswi sembari menyerahkan buket bunga pemberiannya.


“Kami juga, tolong sampaikan rasa terima kasih kami pada Nona Ayana!” ujar gadis yang lainnya dan yang lainnya pun bertepuk tangan meriah.


“Terima kasih! Aku pasti akan menyampaikannya,” ucap Zein yang tak bisa menahan tangisan harunya.


“Tidak, seharusnya kami yang sangat berterima kasih! Karena berkat pengorbanan Nona Ayana, kami pasti tidak bisa berdiri di sini,” ujar salah satu mahasiswi itu mewakili yang lainnya.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Setelah selesai mengajar, Zein tidak langsung pulang ke rumahnya maupun ke perusahaan.


Dia memilih untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar universitas tempat dia, Ailee dan Jamie menimba ilmunya dulu, sebelum menjadi Zein yang sekarang. Zein bahkan masih membawa buket bunga pemberian para penggemar Ayana.


“Tidak banyak yang berubah di sini!” gumam Zein sembari terus memperhatikan apapun yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Hingga pandangan mata Zein tertuju pada sebuah bangku taman yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia pun mendudukkan tubuhnya di sana, meletakkan dengan sangat hati-hati buket bunga yang di tunjukan untuk Ayana.


“Apa yang harus aku lakukan dengan semua buket bunga ini? Karena aku tidak mungkin meletakan ini di tempat pemakaman yang entah itu milik siap."


Zein kembali bergumam sembari memikirkan apa yang harus dia perbuat dengan semua buket bunga itu.


“Andai saja kau tiba-tiba muncul kembali di hadapanku seperti pertemuan pertama kita, Ayana! Mungkin aku tidak akan merasa kebingungan seperti sekarang,” sambungnya sembari membelai lembut buket bunga yang berwarna ungu.


“Bunga ini seperti dirimu, Ayana! Indah, cantik, lembut dan sangat harum benar-benar seperti dirimu!” ujar Zein sedikit menyunggingkan senyuman manisnya.


...****************...


Di lokasi yang sama, terlihat seorang gadis tengah berjalan dengan langkah kakinya yang lembut mendekati tempat Zein tengah duduk di sana. Senyuman gadis itu sungguh menawan, matanya indah dan rambutnya yang panjang sedikit tertiup angin yang melintas.


Matanya semakin berbinar begitu melihat sosok pria yang sangat dia rindukan tengah duduk menatap bunga kesukaannya. Perlahan gadis itu semakin mendekatkan langkahnya pada sosok pria yang masih terpaku dengan buket bunga yang ada di sampingnya.


“Apakah bunga itu untukku?” tanya gadis itu di sertai senyuman indah nan menawan yang sangat di rindukan oleh Zein.


“Ayana, …”


“Iya, Zein! Bagaimana kabarmu selama ini? Apakah kau merindukanku?” tanya Ayana dengan senyuman yang tidak pernah luntur di bibirnya.


Seketika Zein pun langsung bangkit dan memeluk tubuh wanita yang sangat dia rindukan selama beberapa tahun ini. Zein menangis bahagia, karena penantiannya tidak sia-sia. Ayana, kekasihnya benar-benar kembali dan bahkan kini dia bisa memeluknya dengan erat.


“Jangan tinggalkan aku lagi! Aku sangat mencintaimu, Ayana!” ungkap Zein di sela isak tangisnya.

__ADS_1


“Iya, aku tidak akan pergi kemanapun lagi! Karena aku juga sangat mencintaimu, Zein!” balas Ayana dengan pelukan yang tidak kalah hangatnya dengan pelukan yang Zein lakukan.


...***** End *****...


__ADS_2