You Are My Anime

You Are My Anime
34. Masih Belum Terbiasa


__ADS_3

Selesai dengan urusan perbelanjaan, hingga tanpa terasa ternyata hari sudah mulai menjelang malam. Zein dan Ayana pun memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen mereka dengan melalui jalan yang sama saat mereka datang.


Seperti biasa Ayana menikmati kelopak bunga sakura yang berjatuhan kerena hembusan angin. Sementara Zein yang harus mendorong troli barang belanjaan mereka sembari mengawasi Ayana yang terkadang lupa bahwa dia sedang berada di jalan umum.


Beruntungnya saat itu jalanan sudah mulai sepi, sehingga Zein tidak perlu terlalu khawatir dengan Ayana. Namun, sesekali Zein tetap mengingatkan Ayana untuk berjalan dengan benar. Sebab beberapa kali Ayan tersandung sepatunya sendiri, setelah tidak ada orang yang menabraknya.


“Ay, berjalanlah dengan benar! Lihatlah ke arah depan, jangan terus melihat ke atas,” ujar Zein mengingatkan.


“Baiklah, tapi bunga sakura yang ada di atas pohon terlihat sangat indah,” sahut Ayana.


Meskipun mengiyakan tetap saja tatapan mata terus tertuju ke pohon bunga sakura yang di laluinya. Melihat Ayana yang terkesan tidak mau mendengarkan perkataannya, Zein pun terlihat sedikit frustasi untuk mengatasi gadis animasinya.


“Seharusnya aku tidak membuat karakter sepolos dan selugu ini. Setelah melihatnya secara langsung, aku jadi merasa telah menciptakan karakter seorang anak bukan seoarang gadis,” gumam Zein yang hanya bisa menghela napas panjang berharap kesabarannya masih memiliki banyak persediaan di dalam dirinya.


“Zein, ada apa? Kenapa kau berhenti? Apakah itu sangat berat? Mau aku bantu mendorongnya?” cecar Ayana seraya menawarkan bantuan.


“Tidak perlu, lebih baik kau perhatikan cara jalanmu sendiri saja. Jangan sampai jatuh, karena aku tidak bisa menangkap mu seperti sebelumnya.”


Zein menolak tawaran Ayana secara halus. Ayana pun langsung tersenyum manis mengetahui bahwa Zein begitu perhatian kepadanya. Ayana terus menatap Zein dengan penuh cinta, hingga terlintas sebuat ide bagus di kepalanya.


“Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Zein yang merasa serba salah dengan tatapan Ayana yang begitu intens padanya.


“Aku punya hadiah untukmu,” jawab Ayana masih dnegan senyuman manisnya.


“Hadiah apa?” tanya Zein lagi yang menjadi penasaran dengan hadiah yang di persiapkan Ayana untuknya.


“Kemarilah!” ujar Ayana menyuruh Zein untuk mendekat padanya.


Tanpa banyak berpikir lagi Zein pun mulai melangkahkan kakinya. Di saat yang bersamaan, Ayana juga menjentikan jari jemarinya perlahan. Tak lama kemudian, tiba-tiba ada yang yang menerpa pohon sakura itu. Hingga membuat kelompak bunga sakuranya berjatuhan setiap kali Zein melangkahkan kedua kakinya.


“Bagaimana? Apa kau menyukainya, Zein!” tanya Ayana begitu mereka sudah saling berhadapan.


“Apa bunga-bunga ini perbuatanmu?” tanya Zein balik untuk memastikan.


“Lebih tepatnya hadiah dariku,” jawab Ayana dengan percaya diri.

__ADS_1


“Aku menyukai hadiahnya, tapi aku juga merasa kasihan pada petugas pembersih jalanan ini nantinya,” ujar Zein yang membuat Ayana menjadi merasa bersalah dengan petugas kebersihan yang di maksud Zein.


“Benar juga! Haruskah aku membatalkan sihirnya?” gumam Ayana dengan raut wajah sedih dan bersalah yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan di mata Zein.


“Tidak apa-apa! Ini hadiah pertama yang kau berikan padaku. Terima kasih, aku snagat menyukainya, Ayana!” ucap Zein dengan setulus hatinya.


“Lalu bagaimana dengan orang yang nantinya membersihkan jalanan ini? Bukankah kasihan?” ujar Ayana yang masih merasa bersalah.


“Nanti aku kan memberikan bonus untuknya. Jadi, jangan batalkan hadiahnya. Okay?” jelas Zein.


“Emmm, …” sahut Ayana sembari menganggukan kepalanya sebagai tanda dia setuju dengan perkataan Zein.


Kini mereka pun berjalan berdampingan, di setiap langkah mereka pasti akan ada kelopak bunga sakura yang berjatuhan akibat sihir dari Ayana. Sesampainya di apartemen, Ayana pun membantu Zein menata barang belanjaan mereka.


“Zein, tempatnya tidak cukup! Lalu aku harus menaruhnya dimana lagi?” tanya Ayana yang sedang menyimpan berbagai jenis camilan.


“Bukankah aku tadi sudah mengingatkan, kalau mau ambil yang paling kau inginkan saja. jangan semua yang kau lihat langsung di ambil.” Zein pun akhirnya kembali mengomeli Ayana, seperti ayah yang sedang memarahi sekaligus menasehati anak gadisnya.


“Tapi aku memang mengambil yang benar-benar aku inginkan,” sahut Ayana dengan wajah cemberutnya.


“Sebanyak ini?” tanya Zein tak percaya.


“Astaga, …Ya sudah! Letakan saja di atas sana,” ujar Zein sembari menunjuk ruang kosong yang terletak di sudut dapurnya.


“Baiklah,” sahut Ayana yang langsung tersenyum manis begitu Zein mengalah lagi padanya.


Dengan cepat Ayana pun membawa semua camilannya dan meletakannya dengan sangat rapi di tempat yang di tunjukan oleh Zein. Sementara Zein sendiri ternyata tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


Selesai merapikan camilannya, Ayana pun langsung menghampiri Zein. Awalnya Ayana hanya memperhatikan Zein saja yang sedang memotong daging, hingga akhirnya dia pun kembali menawarkan bantuan kepada Zein.


“Bolehkah aku membantumu memasak?” tanya Ayana dengan penuh antusias.


“Memangnya kau bisa memasak?” tanya Zein balik dengan tatapan penuh curiga.


“Emmm, … Sepertinya tidak, tapi aku ingin membantumu,” jawab Ayana lirih.

__ADS_1


“Baiklah, apa kau bisa memotong dagingnya seperti ini?” ujar Zein sembari menunjukan cara memotong daging yang dia butuhkan.


“Tentu saja, aku bisa melakukannya,” sahut Ayana dengan penuh semangat.


“Okay, aku percayakan dagingnya padamu,” ujar Zein yang sebenarnya masih belum bisa mempercayai Ayana.


Meski dengan sangat berat hati, akhirnya Zein menyerahkan masalah pemotongan daging itu kepada Ayana. Sedangkan Zein beralih mengambil beberapa sayuran yang akan dia makan malam itu. Hingga dia teringat bahwa dia lupa membeli daun bawang dan tomatnya pun tersisa hanya satu buah.


“Astaga, … Bagaimana ini? Aku lupa membeli daun bawang dan juga tomat, hanya tersisa satu tomat lagi,” gumam Zein yang tak sengaja di dengar oleh Ayana.


“Tenang saja! Aku bisa mengatasinya,” ujar Ayana yang langsung mengambil bawang merah dan juga tomat itu.


Kemudian, Ayana pun mengambil sebuah pot bunga yang berada di dapur. Lalu, Ayana langsung saja memasukan tomat dan bawang merah ke dalam tanah yang ada di dalam pot tersebut. Kemudian Ayana menyiramkan sedikit air di atasnya dan dengan permainan jari jemari Ayana tomat dan bawang itu pun perlahan mulai tumbuh, bahkan tomatnya sampai berbuah dengan lebatnya.


Zein pun seketika tercengang melihat Ayana yang berhasil menumbuhkan tomat sampai berbuah dalam waktu singkat. Meskipun Zein memang sejak awal mengetahui bahwa Ayana adalah tokoh animasi buatan yang memiliki kekuatan elemen bumi yang tiba-tiba muncul di dunianya.


“Zein, ambilah sesukamu! Bukankah kau biulang membutuhkannya,” ujar Ayana dnegan penuh rasa bangga.


“Apakah itu bisa di makan oleh manusia sepertiku?” tanya Zein memastikan, sebab dia benar-benar merasa ragu sekarang.


^^^^^^Bersambung, .... ^^^^^^


...****************...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari ‘yah!😍😍...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...

__ADS_1


...Agar tidak ketinggalan kisah seru antara Zein si Ceo tampan dengan tokoh animasi ciptaannya yang berubah menjadi manusia. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2