You Are My Anime

You Are My Anime
Sebuah Firasat


__ADS_3

“Apa kau juga mendengarnya?” tanya Jamie pada Zein, ketika sebuah teriakan yang sangat keras terdengar di telinga mereka.


“Hay, jangan menakutiku!” ujar Zein yang langsung menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Jamie.


“Aish, … Kau ini yang benar saja!” gerutu Jamie akan kelakuan Zein yang masih saja bisa bercanda dalam keadaan seperti ini.


“Hehehee, … Wajahmu yang terlihat sangat tegang begitu lucu,” kata Zein disertai kekehannya yang menertawakan raut wajah Jamie.


“Hay, diamlah! Sepertinya arahnya dari depan sana, jalan yang harus kita lalui untuk kembali ke apartemen,” ujar Jamie dengan wajah seriusnya, sehingga menyadarkan Zein bahwa memang sekarang bukan waktunya untuk bercanda.


“Mau melihatnya? Atau telepon polisi dulu?” tanya Zein memberikan dua pilihan.


“Sebaiknya lihat dulu dan setelahnya baru bersiap menelpon polisi,” jawab Jamie yang langsung menyalakan ponselnya dan memencet nomor polisi yang dia kenal.


“Bagus! Begitu kita berada dalam bahaya langsung tekan panggilan, Okay!” ujar Zein yang juga terlihat serius.


“Okay, kau di depan!” sahut Jamie sembari mendorong Zein untuk berjalan lebih dulu.


“Hay, harus bersama ‘dong! Jangan curang!” Masih saja Zein melakukan protesnya di saat seperti ini.


“Baiklah, ayo bersama!”


Jamie pun langsung setuju, keduanya berjalan mengendap-endap menuju asal teriakan barusan. Betapa terkejutnya Zein dan Jamie ketika melihat tiga orang pria berjubah yang tengah berdiri mengelilingi seseorang yang tengah tergeletak di sana.


Tepat di bawah lampu jalanan yang menyala, Zein dan Jamie jelas melihat apa yang tengah di pegang oleh salah satu laki-laki itu.


Sebuah jantung yang masih berdetak dan berlumuran darah. Mata keduanya kembali tertuju pada seseorang yang tergelatak dengan bersimbah darah.


Hingga ketiga pria berjubah itu berbalik dan menatap keduanya sampai Zein bisa melihat seringai dari pria yang tengah memegang jantung tersebut.


“Ternyata dua mangsa yang tersisa sudah tiba di sini! Haruskah kita mulai bersenang-senang lagi?” ucap pria berjubah yang memegang jantung tersebut.


Zein kembali melihat seringai dari bibir pria itu, tapi dia tidak bisa melihat wajahnya begitu juga dengan Jamie.


“Jamie, cepat hubungi polisi sekarang!” perintah Zein.

__ADS_1


Tanpa buang waktu Jamie segera menekan panggilan pada nomor polisi kenalannya itu. Akan tetapi, belum sempat sambungan telepon itu terhubung keduanya sudah di serang lebih dulu hingga membuat Jamie dan Zein terpental beberapa meter, lalu tubuh keduanya membentur kerasnya aspal jalanan di sana.


DEGH, ….


“Ayana, ada apa?” tanya Ailee yang melihat Ayana tiba-tiba terdiam dan raut wajahnya berubah gelisah.


“Ailee, aku merasakan sebuah firasat buruk pada Zein! Aku rasa sesuatu yang buruk sedang menimpa Zein dan Jamie,” ujar Ayana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Mungkin hanya perasaanmu saja, Ayana! Zein dan Jamie adalah pria dewasa, mereka bisa menjaga diri mereka dengan baik jika sesuatu memang telah terjadi,” terang Ailee berusaha menenangkan Ayana.


“Aku akan menghubungi Jamie dan menanyakan keberadaan mereka di mana sekarang agar kau tidak secemas ini,” imbuh Ailee yang berusaha menelpon Jamie.


DEGH, ….


“Tidak! Kekuatan ini, _....”


“Zein benar-benar dalam bahaya! Aku harus segera menyelamatkannya,” ujar Ayana yang terlihat semakin panik.


Ayana segera beranjak dari tempat duduknya dan meloncat melalui jendela ruang tamu yang memang sejak tadi memang terbuka. Ailee yang sejak tadi berusaha menelpon Jamie, seketika berbalik.


Coba saja kalian bayangkan melihat seseorang loncat dari ketinggian seperti itu tepat di depan mata kalian. Jika tidak pingsan saat itu juga, maka kau akan merasa trauma seumur hidup. Apalagi orang itu adalah kenalan yang sudah di anggap seperti adik kandung sendiri.


Namun yang sebenarnya terjadi adalah Ayana terbang dan melesat untuk mencari keberadaan Zein dengan merasakan energi kegelapan yang sempat rasakan.


Sedangkan keadaan Jamie dan Zein sudah tersudut, meski begitu Zein dan Jamie berusaha untuk tetap saling melindungi satu sama lain.


Dengan menahan rasa sakit pada tubuh mereka, Jamie dan Zein berusaha tetap berdiri tegak dengan kewaspadaan yang lebih dari sebelumnya.


Lalu, terlihat pria yang menyerang mereka memberikan jantung tersebut kepada salah satu orang yang di sampingnya.


“Pergilah, simpan ini di tempat ritual yang sudah di persiapkan! Sisanya akan segera menyusul dan aku akan membawanya sendiri,” ujar pria itu.


“Baik, Tuan!” Setelah menerima jantung itu, pria tadi seketika menghilang hanya dalam kedipan mata saja.


“Si-siapa kalian sebenarnya?” teriak Jamie ketakutan ketika kedua pria yang masih ada di sana berjalan mendekat ke arahnya dan Zein.

__ADS_1


“Apakah kalian orang-orang yang tempo hari menyerang Ayana?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Zein.


“Aaah, … Jadi, kau sudah mengetahui siapa gadis itu sebenarnya?” Bukannya menjawab pria yang tadi menyerangnya itu malah balik bertanya pada Zein.


“Sayang sekali, kalian berdua harus mati hari ini agar aku bisa mendapatkan kekuatan yang gadis itu miliki,” ujar pria itu lagi yang semakin berjalan mendekat ke arah Zein dan Jamie.


“Hahahaa, … Apakah kau pikir kami akan mati semudah itu, padahal kau tahu persis bahwa Ayana berada di pihakku!” Bukannya merasa takut Zein malah tertawa meremehkan pada dua pria berjubah itu.


“Dasar manusia sialan, beraninya kau meremehkan aku!” umpat pria itu yang seketika mengeluarkan pedang dari tangan kanannya dan langsung mengerahkan pada Zein dan Jamie yang sejak tadi sudah ketakutan.


Wosshh, ….


Namun, sebelum pedang tersebut menyentuh Zein sebuah angin kencang tiba-tiba menyerang dua pria berjubah itu hingga terpukul mundur beberapa meter kebelakang. Dapat di lihat angin tersebut berasal dari Ayana yang menemukan keduanya tepat waktu.


“Ayana!” seru Zein yang seketika khawatir melihat kedatangan kekasihnya.


“Zein!” balas Ayana yang segera berlari untuk memeluk Zein.


“Kau tidak apa-apa? kalian berdua tidak terluka, ‘kan?” cecar Ayana dengan raut wajah khawatir.


“AWASS!”


Teriakan Jamie mengingatkan bahwa pria berjubah itu kembali menyerang. Ayana pun segera refleks mengeluarkan kekuatan petirnya, hingga kedua pria berjubah itu membatalkan serangannya.


Sekarang bukan hanya satu pria berjubah saja yang berusaha menyerang Ayana, tetapi keduanya sekaligus hingga membuat Zein dan Jamie khawatir melihatnya.


“Kalian berdua carilah tempat yang aman untuk berlindung! Biar aku yang menghadapi mahluk ini!” seru Ayana di tengah pertarungannya.


Zein yang menyadari bahwa keberadaan mereka di sana hanya mengganggu konsentrasi Ayana, langsung saja dia menarik tangan Jamie untuk mengikutinya bersembunyi.


Mereka berdua pun hanya bisa diam menyaksikan pertarungan Ayana dengan dua pria berjubah itu layaknya dengan menonton film action bergenre fantasi.


Bersambung, ....


__ADS_1


__ADS_2