
“Meski kita berdua berbeda, tapi percayalah kalau cinta kita itu sama bahwa aku sangat mencintaimu! Terima kasih atas cintamu selama ini,” ungkap Ayana dengan deraian air mata yang terus mengiringi ucapannya.
“Tidak Ayana, _....”
“Selamat tinggal, cintaku! Hiks, …” ucap Ayana penuh kepedihan.
“Aya, _....”
“Semoga kau menemukan cinta yang baru dan selalu bahagia, meski bukan bersama denganku! Hiks, … Hiks, …”
Ayana semakin melepaskan kekuatannya, hingga Zuko tidak bisa menahan lagi ledakan kekuatan yang ada dalam tubuhnya. Seketika tubuh Zuko meledak menjadi asap hitam, bersamaan dengan tubuh Ayana yang perlahan ikut menghilang di antara asap hitam tersebut. Tepat ketika gerhana bulan merah itu berakhir.
“Tidak! Ayana, ….”
Zein berteriak frustasi ketika melihat sosok Ayana yang benar-benar menghilang tepat di depan matanya. Dia bahkan memaksakan diri bergerak agar bisa meraih sosok Ayana yang kini benar-benar menghilang dengan meninggalkan senyumannya saja yang masih terngiang di mata Zein dan yang lainnya.
“ZEIN!”
Ailee dan Jamie langsung berlari menghampiri tubuh Zein, keduanya terkejut ketika tiba-tiba Zein tidak sadarkan diri. Bukan hanya terkejut karena menghilangnya sosok Ayana, tetapi Zein juga sudah kehilangan banyak darah akibat tusukan Cade sebelumnya.
“Zein, sadarlah!” Jamie berulang kali mengguncang tubuh Zein untuk membuatnya kembali sadar.
“Yakh, … Apa yang kau lakukan? Cepat bawa Zein ke rumah sakit, dia tadi tusuk oleh seseorang,” terang Ailee masih menangis panik akan keadaan sahabatnya.
“Apa yang telah terjadi di sini?” tanya Devan yang baru saja masuk ke dalam Gedung itu setelah memastikan anak buahnya menangani para pria berjubah di luar.
“Dia di tusuk seseorang, cepat bawa dia ke rumah sakit sekarang!” teriak Ailee yang benar-benar sangar terpukul akan kejadian itu.
Alhasil, Ailee pun ikut jatuh pingsan dann tubuhnya langsung di tangkap oleh Jamie yang saat itu memang berada di sampingnya. Tanpa buang waktu Devan langsung membawa tubuh Zein ke dalam mobil ambulance yang dia sudah panggil sebelumnya begitu juga dengan Jamie yang menggendong Ailee.
__ADS_1
Keduanya pun langsung di larikan ke rumah sakit terdekat, begitu juga dengan ketiga bayi dan para gadis remaja yang berhasil di selamatkan berkat pengorbanan Ayana.
Sedangkan untuk jantungnya, Devan memerintahkan untuk melakukan otopsi dann keputusan akhirnya akan di bicarakan dnegan keluarga masing-masing korban.
...****************...
Setibanya di rumah sakit, Zein langsung di bawa ke ruangan operasi ketika mendengar keterangan bahwa pasien mengalami luka tusukan pisau yang cukup dalam pada bagian perutnya. Sedangkan Ailee di tangani oleh dokter umum biasa, sebelum di alihkan pada dokter kandungan.
Betapa terkejutnya Jamie ketika mengetahui bahwa selama ini Ailee tengah mengandung anaknya. Meski usianya baru beberapa minggu, tetapi bagi Jamie hal itu adalah kabar gembira di tengah kejadian buruk yang tengah mereka hadapi saat ini.
Sedangkan pada sisi lain, Zein harus di hadapkan operasi yang cukup serius akan luka tusukannya. Beruntung operasinya berjalan dengan lancar, sehingga membuat Jamie cukup lega saat mendengarnya.
Karena Jamie hanya seorang diri menjaga dua orang sekaligus, akhirnya dia meminta pihak rumah sakit untuk menjadikan satu saja kamar Zein dan Ailee menjadi satu ruangan.
Sembari menunggu Ailee dan Zein tersadar dari efek obatnya, Jamie pun memberikan keterangannya sebagai saksi dari kejadian mengerikan itu. Berkat Zein juga Devan kembali di tugaskan sebagai polisi yang menangani kasus tersebut, tapi tidak memojokkan baik Zein maupun Jamie seperti sebelumnya.
“Bagaimana keadaan para gadis remaja itu dan ketiga bayinya?” tanya Jamie yang jujur saja juga mengkhawatirkan keadaan para korban.
“Bagaimana keadaan teman-temanmu?” Kini Devan bertanya balik tentang keadaan Zein dan Ailee.
“Ailee dan bayi kami baik-baik saja! Keadaan Zein juga sudah berhasil melewati masa kritisnya,” terang Jamie.
“Maaf, mungkin aku menanyakan ini di saat yang tidak tepat, _....”
“Jika kau memang ingin menanyakan siapa dan dimana pelakunya, maka akan aku perjelas! Tumpukan abu di sana dan kerangka keringa manusia yang memakai jubah dengan mantra aneh, merekalah pelakunya,”
“Bahkan demi menyelamatkan semuanya kekasih Zein, … Ayana, dia rela ikut terbakar bersama para bajingan itu,” jelas Jamie sembari menitikkan air matanya.
Padahal yang sebenarnya terjadi Zuko berubah menjadi asap dan debu hitam, sedangkan Ayana menghilang tepat di depan matanya. Namun, Jamie selamanya tidak akan mengatakan yang sesungguhnya termasuk tentang Ayana yang bukan manusia biasa seperti mereka.
__ADS_1
“Aku pun tidak apa yang harus aku katakan ketika Zein bangun nanti? Dia pasti akan sangat syok ketika mendengar kematian kekasihnya,” ujar Jamie yang kini berubah menjadi isakan.
“Maafkan aku! Aku akan memberikan laporannya seperti yang kau katakan dan terima kasih karena sudah menyelamatkan para gadis itu beserta ketiga bayinya,” ucap Devan dengan begitu tulus.
“Emm, … tolong serahkan abu jenazah Ayana jika kalian sudah selesai melakukan penyelidikannya, karena kami akan memakamkannya sesegera mungkin,” pinta Jamie dengan wajah memelas.
“Tentu saja! Kalau begitu saya permisi agar bisa mempercepat kepulangan abu jenazahnya,” pamit Devan yang merasa tidak enak hati jika berlama-lama berada di dalam ruangan itu.
“Emm, … Mohon bantuannya juga,” balas Jamie.
Selepas Devan keluar dari ruangan itu, di saat itu juga Zein dan Ailee perlahan mulai membuka matanya. Sebenarnya baik Zein maupun Ailee sudah siuman sejak Devan berbicara dengan Jamie, tapi keduanya malas untuk membuat penyataan lagi.
“Kenapa kau berbohong seperti itu, Jamie?” Suara Ailee sedikit mengejutkan Jamie.
“Ailee, kau sudah sadar, Sayang?” ujar Jamie yang segera menghampiri Ailee yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
“Bukankah kita melihatnya sendiri bahwa dia telah menghilang,” imbuh Zein mengatakan yang sebenarnya terjadi.
“Zein, kau juga sudah sadar! Kalau begitu aku akan memberitahu Dokter lebih dulu kalau kalian berdua sudah sadar,” ujar Jamie yang berniat memanggil dokter.
“Kenapa kau mengatakan bahwa Ayana mati terbakar bersama bajingan itu? Kenapa kau tidak mengatakan saja kalau Ayana menghilang begitu saja tepat di depan mata kita!” cecar Zein dengan deraian air matanya.
“Zein, ini yang terbaik untuk semuanya! Lagi pula memang benarkan? Kalau Ayana kita mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan mereka para gadis itu, ketiga bayi yang tidak berdosa, menyelamatkan Ailee dan bayi di dalam kandungan dan menyelamatkan kita semua,” jelas Jamie menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
“Ba-bayi? Ailee hamil anakmu?” Perhatian Zein sedikit teralihkan pada Ailee, sedangkan Ailee sendiri juga terkejut akan berita kehamilannya.
“Ya, benar! Ailee sedang hamil anakku!” Jamie mengakuinya dengan penuh percaya diri.
Bersambung, ....
__ADS_1