
“Zein tengah menghadiri meeting penting dengan beberapa kliennya,” jelas Jamie singkat.
“Bisa kita bicara sebentar?” pinta Jamie kemudian.
“Ba-baiklah!”
Meski ragu Ayana tetap menyetujuinya, dia pun keluar dari kamar tersebut dan duduk di sofa yang ada di ruangan Ceo milik Zein. Keduanya duduk saling berseberangan, bisa terlihat jelas bahwa Jamie tengah memperlihatkan wajah seriusnya kepada Ayana.
“A-apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Ayana ragu, sebab Jamie sudah beberapa menit diam menatapnya.
“Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan selama di apartemen! Namun, ini berkaitan dengan keselamatan Zein, bisakah kau mendengarkan aku untuk menginap di apartemenku sementara waktu!” terang Jamie masih dengan raut wajah seriusnya.
“Jujur saja, aku percaya Zein bisa melindungi dirinya sendiri! Tapi mengingat sudah ada dua belas korban sekaligus dalam satu malam, sebesar apapun kepercayaanku tetap saja perasaan khawatir akan keselamatan kalian berdua tetap memenuhi hati dan pikiranku,” sambungnya dengan penuh penekanan.
“Tolong untuk kali ini saja, menginaplah kalian di tempatku! Jika kalian tidak nyaman hanya karena aku sendirian, maka aku akan memanggil Ailee untuk menginap bersama,” lanjut Jamie yang kali ini menampilkan raut wajah memohonnya kepada Ayana.
Ayana menjadi bingung sendiri, apa yang harus dia perbuat sekarang. Sebab dia tahu dua pria yang sebelumnya menyerang dirinya saat ini pasti selalu mengawasinya di suatu tempat. Kemana pun Ayana akan pergi, dia yakin pasti akan muncul korban selanjutnya.
“Sebenarnya aku memiliki sebuah alasan mengapa kami harus tetap berada di apartemen itu! Namun, aku tidak bisa mengatakannya padamu untuk sekarang,” ujar Ayana begitu lirih, tapi masih bisa di dengar dengan baik oleh Jamie.
“Apa Zein sudah mengetahuinya, maka dari itu dia lebih memilih keinginanmu daripada keselamatannya sendiri?” desak Jamie yang menganggap Ayana bersikap egois kepada Zein sahabatnya.
“I-iya, ….”
“Tidak bisakah kau tidak egois? Aku sahabat baiknya selama ini. Aku yang selalu berada di sampingnya, menjaganya dan merawatnya sebelum kau masuk ke dalam kehidupan Zein.” Jamie sedikit meninggikan nada bicaranya.
“Aku tidak mau tahu! Kalian berdua mulai malam ini harus menginap di tempatku, tidak ada penolakan lagi dan kau harus menyakinkan Zein untuk setuju!” imbuhnya tanpa ingin mendengar adanya penolakan lagi.
Ayana hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah, dia sungguh tidak menyangka bahwa manusia bisa lebih menyeramkan ketika marah atau mengkhawatirkan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka menampilkan sosok Zein yang baru kembali dari pertemuannya. Zein menatap bingung pada Jamie dan Ayana yang terlihat kecanggungan di antara keduanya.
“Apa yang tengah kalian berdua bicarakan sampai suasana terasa canggung begini?” tanya Zein dengan tatapan menyelidik kepada keduanya.
“Tidak ada! Aku hanya menanyakan pada Ayana bagaimana kondisi mayat itu ketika kalian melihatnya, sebab aku lupa menanyakannya padamu bukan?” jelas Jamie yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa dia habis memberi peringatan keras pada kekasih dari sahabatnya itu.
“Benarkah?” Zein tampak tidak mempercayai penjelasan Jamie, sehingga dia meminta kepastian dari Ayana.
“Emmm, ….” Ayana menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan pelan.
“Ouhya, … Aku membawakan makan siang untuk kita bertiga! Bagaimana kalau kita makan bersama,” ujar Zein yang tidak mempermasalahkan lagi pembicaraan pribadi di antara keduanya, sebab Zein percaya kalau Jami tidak akan pernah mengkhianatinya.
“Tentu, aku juga sudah lapar sejak tadi!” sahut Jamie yang langsung meraih makanan kesukaannya.
Ketiganya pun makan dengan tenang, hingga tiba-tiba Ayana berkata, “Zein, bisakah kita malam ini menginap di tempat Jamie! Soalnya Ailee sudah berjanji akan menunjukan sebuah film terbaru yang katanya sangat bagus! Kita bisa menonton film itu bersama seperti sebelumnya.”
“Kenapa tiba-tiba sekali? Bukankah kau bilang, _....”
“Hemm, … Baiklah! Sepertinya tawaran Jamie untuk kita menginap di rumahnya juga masih berlaku,” ujar Zein yang tidak begitu mempermasalahkan.
“Tentu saja! Kehadiran kalian malah membuat apartemenku semakin ramai,” sahut Jamie yang tersenyum bahagia, memang benar dugaannya hanya Ayana yang bisa mengubah keputusan seorang Zein.
“Terima kasih, Zein! Terima kasih juga untukmu, Jamie!” ucap Ayana dengan senyuman manisnya yang berhasil membuat Jamie merasa bersalah karena mendesaknya berbohong seperti itu.
Jam sudah menunjukan waktu kerja telah habis. Satu persatu karyawan perusahaan tersebut mulai berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Begitu juga dengan Zein, Jamie dan Ayana yang sepakat menggunakan satu mobil saja yaitu mobil Jamie. Sedangkan mobil Zein dibiarkan terparkir di perusahaan begitu saja.
Sepanjang perjalanan, diam-diam Jamie menghubungi Ailee untuk datang dan menginap di apartemennya. Tidak lupa, Jamie juga memberitahu Ailee untuk membawakan film yang bagus menurutnya yang belum pernah di tonton oleh Ayana dan Zein.
__ADS_1
Ailee sempat bingung dengan apa yang terjadi, tetapi karena Jamie berjanji akan menjelaskannya nanti makanya dia tidak menanyakan lebih jauh lagi melalui pesan singkat mereka.
Dan kebetulan sekali, ternyata Ailee sampai terlebih dahulu di apartemen Jamie. Sehingga tidak membuat Zein curiga, Ayana pun tampak sangat senang bertemu Dengan Ailee lagi yang mengajarinya banyak hal.
“Ailee, apa kau membawa filmnya?” tanya Ayana dengan penuh antusias.
“Tentu saja! Kali ini aku membawakan cukup banyak agar kita puas menontonnya sampai pagi,” jawab Ailee yang tak kalah antusiasnya.
“Lihatlah, aku juga membawa banyak buah dan camilan yang sangat kau suka!” imbuhnya yang membuat Ayana semakin bersemangat.
“Waaah, … Kau memang yang terbaik, Ailee!” puji Ayana dengan setulus hatinya.
“Jamie cepat buka pintu apartemenmu, aku sudah tidak sabar untuk segera menonton filmnya!”
Lalu menyuruh Jamie untuk segera membuka apartemennya. Hingga berhasil membuat Jamie mendengus kesal dengan kelakuan Ayana, berbeda dengan Zein yang tersenyum ketika melihat tingkah Ayana yang menggemaskan di matanya.
Benar saja, begitu pintu apartemen itu terbuka Ayana langsung saja menyeret Ailee masuk ke dalam apartemen tersebut dan meninggalkan Jamie serta Zein yang masih berdiri di depan pintu masuk.
Ayana dan Ailee segera mendudukkan dirinya di depan televisi besar sembari memilah film apa yang pertama akan mereka saksikan.
“Waah, … Banyak sekali! Kita mau menonton yang mana dulu?” tanya Ayana yang semakin antusias.
“Bagaimana kalau yang ini saja?” Ailee menyarankan sebuah film yang menurutnya sangat bagus.
“Boleh, cepat putar filmnya!” Tanpa banyak bertanya Ayana langsung setuju dengan pilihan Ailee.
“Aku akan menyiapkan camilannya dulu,” ujar Zein yang mengambil alih camilan di samping Ayana dan Ailee.
“Terima kasih, Zein!” ucap Ayana tidak lupa dengan senyuman manisnya yang menawan.
__ADS_1
Bersambung, .....