You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Kontrakan baru


__ADS_3

Fajar benar-benar membayarkan Ikmal makan di kantin. Sebenarnya Ikmal tidak tega membuat Fajar membayarkan makanannya, Ikmal tau kalau Fajar pasti tidak punya uang, tapi dia terpaksa menerimanya.


"Gue dengar, loe lagi cari kontrakan ya?" tanya Fajar memulai pembicaraan.


"iya nih. Tapi gue nggak tau harus cari dimana." jawab Ikmal.


"memangnya ada masalah apa sampai loe mau tinggal di kontrakan?" tanya Fajar.


Ikmal terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Nama Fajar tidak ada dalam list orang yang dia curigai. Apa dia juga harus berbohong kepada Fajar?


"sorry kalau gue lancang dan membuat loe tersinggung. Lupakan aja!" ucap Fajar.


"ehh, nggak kok. Sebenarnya orang tua gue bangkrut dan sekarang gue nggak punya apa-apa. Duit gocengpun gue nggak punya." ucap Ikmal dengan wajahnya yang dia buat semelas mungkin.


Ikmal berharap kalau malaikat tidak mencatat perkataannya, kalau tidak, semua apa yang dikatakannya akan jadi kenyataan.


'amit-amit. Jangan sampai.' batin Ikmal.


'maafkan aku ya Allah.'


Fajar terkejut dengan cerita Ikmal, rasanya baru saja kemarin Ikmal memberinya banyak sekali uang untuk ganti rugi. Tapi sekarang justru dia sangat membutuhkan uang. Fajar berpikir kalau roda kehidupan benar-benar berputar dengan cepat.


"loe yang sabar ya Mal, nggak ada masalah yang diberikan tanpa solusi. Kalau loe butuh apa-apa, cari aja gue. Kalau gue bisa bantu, pasti gue bantu." ucap Fajar.


"thanks ya Jar, gue pasti bakal butuh loe. Siap-siap aja buat gue repotin. Haha" ucap Ikmal yang diiringi tawanya.


"loe lagi susah, tapi kok kaya orang bahagia gitu?" tanya Fajar.


"biar nggak stres." sahut Ikmal.


Fajar merasa kasihan, bagaimana bisa orang kaya seperti Ikmal dapat menjalani hari-hari barunya sebagai orang miskin. Pasti Ikmal tidak akan terbiasa dengan kehidupan yang susah, Fajarpun yang sudah terbiasa hidup susah terkadang merasa lelah menjalaninya.


'semoga dia nggak frustasi.' batin Fajar sambil memperhatikan Ikmal.


"oh ya, soal kontrakan, gue bisa rekomendasikan loe tempat yang murah." ucap Fajar.


"loe serius? Gue mau, dimana tempatnya?"


***


'Pei, aku lagi di kontrakan kamu sekarang. Kamu pulang sebentar ya! Aku tunggu.'


Sepenggal pesan WhatsApp dari Fajar, Peira yang tadinya akan kembali ke kantor pusat, terpaksa harus memutar arah menuju kerumah kontrakannya.


Dalam waktu kurang dari 15 menit, Peira sudah tiba di kontrakannya. Keningnya mengerut ketika melihat dua orang laki-laki yang sedang duduk dikursi kayu terasnya.


Terlihat Fajar sedang melambaikan tangannya kearah Peira, Peira turun dari motornya lalu menghampiri mereka.


Ikmal baru tau kalau ternyata itu adalah rumah kontrakannya Peira.


"ada apa sih yang?" tanya Peira yang bingung melihat kedatangan kekasihnya bersama Ikmal.


"ini lho Pei, Ikmal lagi butuh rumah kontrakan. Ya aku kepikiran aja kalau kontrakan di sekitaran sini banyak yang masih kosong." ucap Fajar.


"he he, iya Pei." ucap Ikmal sambil cengengesan.

__ADS_1


"memangnya loe yakin mau tinggal dirumah kontrakan yang sempit Mal?" tanya Peira sedikit ragu.


Peira tidak yakin kalau Ikmal si anak orang kaya bisa tinggal di tempat seperti itu.


"memangnya ada apa sih ini sebenernya? Kok tiba-tiba loe mau cari kontrakan?" tanya Peira.


"udah lah Pei, nanti aja aku jelaskan. Waktunya mepet, apa bisa kita sekarang temui dulu pemilik kontrakannya?"


***


"oke, saya ambil kontrakan yang ini." ucap Ikmal.


"loe yakin?" tanya Peira ragu.


"yakin banget." sahut Ikmal.


"ya nggak apa-apa Pei, jadi kontrakan kalian dekat, kalau Ikmal butuh apa-apa tinggal sebut nama kamu tiga kali, dan kamu harus segera datang." ucap Fajar ngawur.


"kamu bicara apa sih yang, memangnya aku apaan?" balas Peira kesal.


"ya sudah, ini kuncinya. Dan untuk uang mukanya, paling lambat besok kamu antar kerumah saya." ucap ibu pemilik kontrakan, dia memberikan kuncinya kepada Ikmal.


"iya bu." ucap Ikmal.


"Ya sudah, saya pergi dulu. Jangan lupa dibersihkan! Banyak debunya." serunya lalu kemudian pergi.


"Siap bu!" ucap Ikmal.


"sorry ya Mal, gue nggak bisa bantu loe membersihkan kontrakan ini." ucap Fajar.


Peira menarik paksa lengan Fajar sehingga dia terpaksa mengikuti langkah Peira.


Ikmal mengerutkan keningnya melihat sikap sepasang kekasih itu.


Ikal tertawa setelah merasa yakin Fajar dan Peira sudah pergi.


"Gue memang aktor yang hebat. Harusnya gue mendapat piala penghargaan atas bakat yang gue punya ini. Ha ha." Ikmal bergeming sendiri.


***


Peira ternyata membawa Fajar kembali ke kontrakannya.


"ibu kemana ya?" tanya Peira saat melihat pintu kontrakannya digembok.


"nggak tau, dari tadi aku disini ibu kamu nggak ada." jawab Fajar.


"eeh, aku mau bicara serius sama kamu yang!" ucap Peira penuh penekanan.


"bicara apa?" tanya Fajar.


"sejak kapan kamu jadi akrab banget sama dia? Perasaan waktu aku masih kuliah, kalian jarang berinteraksi." tanya peira penuh kecurigaan.


"sejak... Entah." jawab Fajar sekenanya.


Peira mencubit pinggang Fajar cukup keras, sehingga yang punya pinggang meringis kesakitan.

__ADS_1


"aww, sakit Pei!" ucap Fajar sambil mengelus pinggangnya yang sakit.


"kamu ini malah bercanda, aku serius tau. Buat apa dia mengontrak? Padahal aku tau rumahnya itu besar banget." ucap Peira.


"oh, jadi kamu sering main kerumah Ikmal?" tanya Fajar balik mencurigai Peira.


"iya, pernah dua kali. Itupun aku mengantar paket. Eeh, tapi kok ya jadi aku yang kamu tanya-tanya?" Fajar tertawa ketika melihat Peira mengoceh seperti emak-emak.


"oke, gini ya Pei. Kamu tenang dulu biar aku jelaskan." ucap Fajar.


Fajar menceritakan tentang Ikmal yang bangkrut, Peira hanya manggut-manggut saja.


"itu namanya karma, itu balasan karena dia menabrak kamu waktu itu." ucap Peira dengan sumpah serapahnya.


"ehh, kamu nggak boleh bicara seperti itu. Itu bukan karma, itu namanya takdir. Mulai sekarang, kamu harus bantu Ikmal, dia teman aku, otomatis dia juga teman kamu." ucap Fajar.


"iya. Aku minta maaf." ucap Peira pasrah. Karena dia pasti akan menurut semua perkataan Fajar.


"Pei, gue boleh pinjam sapu sama kain pelnya?" ucap Ikmal yang tiba-tiba datang.


Fajar dan Peira sontak menoleh ke arahnya.


***


10 box nasi beserta lauknya siap untuk Fajar antar kerumah pelanggannya. Fajar bersyukur, karena setiap hari pasti ada saja rezekinya, apa lagi di jam-jam rawan lapar seperti ini.


Tapi ternyata bukan rumah yang Fajar datangi, melainkan sebuah toko emas. Mungkin penjaga toko emas itu yang memesannya.


"mas ini yang mengantar makanan pesanan kami ya?" tegur seorang saat Fajar baru saja tiba disana.


"iya benar." sahut Fajar sambil tersenyum ramah.


"sebentar ya, saya ambil dulu uangnya!" ucap orang itu sambil berlalu pergi.


Saat menunggu orang itu kembali, Fajar melihat benda-benda berkilauan dari balik etalase transparan. Tiba-tiba dia ingat tentang rencananya untuk membelikan Peira kalung emas.


"maaf mba, berapa harga per garamnya?" tanya Fajar pada pelayan toko.


"620.000 mas." jawab si penjaga toko.


Fajar membulatkan matanya.


'620.000 kalau di kali lima gram, berarti... Astaga! Itu terlalu banyak. Darimana gue bisa dapat duit sebanyak itu?' gumam Fajar didalam hati.


"permisi." seorang ibu-ibu sepertinya juga ingin membeli kalung, Fajar sedikit bergeser memberi ibu-ibu itu kesempatan untuk melihat-lihat terlebih dahulu.


Fajar tersenyum getir menghadapi kenyataan kalau dirinya tidak bisa membelikan Peira kalung emas.


"mas, ini uangnya!"


 


***


Jangan lupa tinggalkan jejaknya setelah membaca readers...

__ADS_1


satu like kalian sangat berarti buat author...


__ADS_2