You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Ternyata dia


__ADS_3

"hey buka!" ucap seseorang sambil menggedor-gedor kaca mobil Ikmal, Ikmal semakin panik, dia takut kalau pengendara motor yang dia tabrak meninggal, bisa-bisa Ikmal harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dibalik jeruji besi.


Orang itu kembali mengetuk kaca mobil Ikmal karena merasa tidak direspon.


Dengan tangan gemetar Ikmal membuka pintu mobilnya dan keluar.


"anda harus bertanggung jawab!" ucap orang itu. Ikmalpun berjalan menghampiri pengemudi motor yang dia tabrak tadi dengan perasaan was-was.


Ikmal melihat banyak sekali makanan yang berserakan diatas aspal, cukup banyak warga sedang mengerumuni orang yang Ikmal tabrak. Ikmal semakin cemas.


"tolong singkirkan motornya! Arggh." seru seseorang yang diiringi erangan.


Ikmal rasa suara itu adalah milik orang yang dia tabrak, dia bisa sedikit bernafas lega karena ternyata orang itu tidak mati.


Ikmalpun menerobos kerumunan warga dan melihat langsung bagaimana keadaan orang yang dia tabrak, dia berjongkok menyamai posisi orang itu.


"loe!" ucap Ikmal dan orang yang dia tabrak bersamaan.


Fajar's POV


Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang, jalanan terlihat lengang dijam-jam seperi ini, mataharipun bersinar tidak seterik biasanya sehingga aku tidak terlalu merasa kepanasan dibuatnya.


Alhamdulilah siang ini ada banyak sekali pesanan ayam geprek yang harus aku antar langsung kerumah pelangganku. Sepertinya ada acara khusus sehingga mereka memesan makanan berat itu pada kami.


BRAK!!


Kejadian itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat, akupun tidak bisa mengingat bagaimana dan darimana mobil itu datang.


Motor yang aku kendarai seketika hilang keseimbangan akibat hantaman keras dari mobil itu. Sehingga motorku terjatuh keaspal dan menimpa tubuhku sendiri.


Tubuhku terasa kaku, sulit untuk digerakan. Mungkin akibat motor yang ada diatas tubuhku. Aku masih bisa melihat beberapa warga mengerumuniku, mungki setelah menyadari adanya kecelakaan.


Astaga!


Aku melihat semua ayam geprek yang tadinya terbungkus dengan rapi, kini sudah menyatu dengan tanah dijalanan beraspal.


Rasa sedih menyeruak dihatiku, manakala melihat makanan itu berceceran. Itu adalah barang dagangan orang, apa yang harus aku katakan kepada pemiliknya nanti?


Sedangkan aku sendiri tidak mengambil untung banyak dari hasil penjualan ayam geprek itu, ingin sekali rasanya aku menangis.


"tolong singkirkan motornya! Argggh." seruku sambil meringis, aku merasakan sakit diseluruh tubuhku, untung saja aku mengenakan helm sehingga kepalaku masih terlindungi.


Akhirnya beberapa warga menyingkirkan motorku, akupun bisa sedikit bernafas lega.


Tiba-tiba seseorang menghampiriku, aku terkejut saat melihatnya berjongkok menyamai posisiku. Aku mengenal orang itu.


"loe!" ucapku dan Ikmal bersamaan.


***


Awalnya Fajar menolak untuk diajak keklinik, dia tidak punya biaya untuk membayar pengobatannya, sedangkan diapun harus ganti rugi untuk ayam geprek yang sudah diajatuhkannya tadi.


Tapi setelah Ikmal meyakinkan akan menanggung semua biaya pengobatan dan mengganti rugi barang dagangannya, Fajarpun akhirnya setuju untuk dibawa ke klinik.


Fajar masih diperiksa oleh dokter, sedangkan Ikmal menunggunya diluar ruangan, dia terlihat sedang dimarahi seseorang disebrang telfon sana.


"kamu kok nggak sampai-sampai sih yang? Sebenernya kamu niat jalan nggak sih?" semprot Airin pada Ikmal.

__ADS_1


"maaf yang, aku habis nabrak orang barusan. Kita cancel dulu ya acaranya." ucap Ikmal.


"kalau nggak bisa bilang dari tadi! Aku kan bisa jalan sama teman-teman aku." ucap Airin yang langsung memutus sambungan telfonnya.


Airin sudah terlanjur kesal, dia sudah berdandan habis-habisan sedari pagi. Tapi dengan mendadak Ikmal malah membatalkan acaranya. Saking kesalnya, Airin samai menutup mata dengan kejadian Ikmal yang menabrak seseorang.


Ikmal membuang nafas asal, dia tidak bisa membuat kekasihnya itu mengerti.


Seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan Fajar diikuti oleh seorang perawat.


"bagaimana keadaan teman saya dok?" tanya Ikmal pada dokter itu.


"pasien baik-baik saja, tidak ada luka serius. Keadaannya akan membaik dengan membatasi aktivitas fisik dan perbanyak istirahat." ucap dokter itu.


Ikmal merasa puas dengan penuturan dokter itu. Setelah dokter pegi, Ikmal langsung masuk keruangan Fajar.


"Jar, sory ya. Gue beneran nggak sengaja." ucap Ikmal.


Fajar merubah posisinya, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.


"nggak apa-apa Mal, namanya juga musibah. Kita nggak tau akan terjadi kapan dan dimana." ucap Fajar sambil tersenyum.


Dalam keadaan sakitpun Fajar masih bisa tersenyum.


"thanks ya Jar, loe nggak menuntut gue yang macem-macem. Gue udah panik banget tadi, takut loe kenapa-napa dan gue masuk penjara." ucap Ikmal.


Fajar terkekeh mendengar perkataan Ikmal.


"pikiran loe itu kejauhan." ujar Fajar.


"...thanks ya loe udah tanggung semua biaya pengobatan dan ganti rugi barang dagangan gue." sambung Fajar.


"...oh ya, apa loe nggak mau kabarin keluarga loe?" tanya Ikmal.


Fajar sedikit berpikir, kalau ibunya sampai tau keadaan Fajar seperti ini, bisa-bisa penyakitnya kambuh lagi, Fajar tidak ingin hal itu terjadi.


"tolong telfon cewe gue aja!" seru Fajar.


"hah? Loe punya cewe juga?" tanya Ikmal tak yakin.


"loe pikir cuma loe doang yang punya cewe?" tanya Fajar sewot.


"haha, sory, gue nggak bermaksud. Gue cuma nggak tau aja." ucap Ikmal diiringi tawa renyahnya.


Ikmal tidak tau kalau Fajar dan Peira teman satu fakultasnya itu berpacaran. Fajar tidak terlalu akrab dengan Ikmal, dia merasa minder untuk bergaul dengan orang kaya. Mereka akan berbincang kalau ada hal yang penting, itupun seputar materi pembelajaran.


Fajarpun memberi nomor kontak Peira kepada Ikmal, dan Ikmal langsung membuat panggilan telfon kepada Peira.


Fajar bisa membayangkan wajah cemas sang kekasih yang sudah satu minggu ini tidak dia temui. Fajar berharap dirinya akan dimanja oleh Peira dan mendapat perhatian lebih darinya.


Fajar tersenyum geli memikirkan tentang itu.


Sementara itu, ditempat yang berbeda, Peira merasakan getaran ponselnya yang dia simpan disaku jeansnya. Diapun menepikan motornya kepinggir jalan lalu menerima panggilan dari nomor asing itu.


"ya, halo?" ucap Peira setelah panggilannya terhubung.


"halo, apa benar ini dengan pacarnya Fajar?" tanya Ikmal.

__ADS_1


Perasaan Peira berubah menjadi tidak enak, biasanya kalau difilm-film, setelah si penelfon bertanya seperti itu, lalu penelfon itu akan memberi kabar buruk kepada orang yang ditelfon.


Peira berusaha menepis pikiran negatifnya itu.


"iya benar, ini siapa ya?" tanya Peira.


"saya orang yang menabrak Fajar, saat ini Fajar berada di klinik Afiati. Dia meminta anda untuk datang." ucap Ikmal disebrang sana, Peira tidak tau kalau yang menelfonnya adalah Ikmal, begitupun sebaliknya.


Deg!


Kaki Peira mendadak lemas setelah mendapat kabar seperti itu, matanya berkaca-kaca. Dia menyesal sudah berpikiran negatif tadi, dan ternyata pemikirannya itu menjadi kenyataan.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Peira langsung memutuskan panggilan telfon itu.


Peirapun kembali melajukan motornya menuju klinik yang tadi dibilang si penelfon.


Sepanjang perjalanan, Peira merasa gelisah, dia tidak bisa membayangkan kekasihnya sedang merasakan kesakitan disana.


Peira menggerutu pada dirinya sendiri.


Apa-apaan ini? Setelah satu minggu tidak bertemu, tau tau dia malah memberi kabar seperti ini. Awas aja kamu yang! Aku akan marahin kamu gara-gara kamu nggak hati-hati.


***


"apa katanya?" tanya Fajar.


"dia langsung nutup telfonnya." jawab Ikmal.


"kira-kira gimana ya, reaksinya dia waktu denger gue kecelakaan?" tanya Fajar sambil menatap langit-langit ruangan itu


"ya biasa aja, orang nggak ada yang perlu dikhawatirkan juga." jawab Ikmal.


"...atau nggak, dia bakal marahin loe." sambung Ikmal.


"ya nggak mungkinlah, yang ada loe yang bakal dimarahin dia." ucap Fajar.


"terus loe maunya gimana? Loe berharap dia nangis-nangis meratapi keadaan loe ini?" tanya Ikmal.


"ya, dia pasti dia nangis liat gue kaya gini." ucap Fajar.


"ya nggak mungkinlah, cewe gue aja marah denger gue tabrakan. Nggak ada khawatir-khawatirnya sama sekali." ucap Ikmal.


"jadi Airin marahin loe? Ckckck." Fajar berdecak sambil menggeleng pelan.


Ikmal tersenyum getir mendapat ejekan dari Fajar, karena memang itulah faktanya. Akhir-akhir ini Airin sering marah-marah tidak jelas kepadanya, tapi Ikmal berpikir kalau kekasihnya itu sedang PMS.


Langkah Peira terhenti diambang pintu ketika melihat perban yang melekat dikaki dan tangan Fajar, dia sangat tak kuasa melihat kekasih tangguhnya itu sekarang terbujur kaku tidak berdaya diatas kasur klinik itu.


Peira tidak bisa lagi menahan air matanya yang sedari tadi meronta ingin keluar, dia seperti merasakan kesakitan yang Fajar rasakan, dadanya terasa sesak, tanpa Peira disadari, dia sudah menangis sekarang.


"yang!" ucap Peira sambil berlari menghampiri Fajar.


Suara itu, Ikmal seperti familiar dengan suara itu. Dia menoleh kearah sumber suara, dia melihat Peira berlari kearah Fajar.


Ikmal tidak menyangka kalau kekasih yang dimaksud Fajar adalah Peira.


Peira langsung memeluk tubuh Fajar, dia sudah tidak tahan lagi menahan rindu dan haru yang ada dihatinya, dia menangis dalam pelukan Fajar.

__ADS_1


-------


Jangan lupa tinggalkan jejaknya setelah membaca!!


__ADS_2