
Ini kelanjutannya...
Peira menyambar ponselnya yang bergetar di atas meja, ternyata ada sebuah pesan singkat masuk, Peira segera membukanya, nomor tidak dikenal itu lagi.
Kau dan dia bahagia sedangkan aku disini tersiksa...
Dahi Peira mengerut, orang kurang kerjaan mana sih yang selalu mengiriminya pesan singkat seperti itu?
Sudah beberapa minggu ini Peira selalu mendapat pesan kata-kata galau dari nomor yang sama, dia merasa terganggu, setiap kali dia mencoba menghubungi nomor itu, selalu saja tidak pernah diangkat meskipun panggilannya terhubung.
Huft. Menghembuskan nafas berat.
Tapi kenapa Peira merasa kalau orang yang mengiriminya pesan itu seperti dia mengenalnya, atau itu hanya perasaannya saja? Entahlah, Peira tidak pernah menghapus pesan dari orang itu, kemudian dia membaca lagi satu persatu pesan itu.
Senyuman kecil terukir di bibirnya manakala merasa lucu dengan kata-kata galau yang tertulis dilayar ponselnya.
"Pei, ayo bantu siapkan piring-piringnya!" Seruan ibu membuat Peira terlonjak kaget, dia sampai lupa kalau tadi dia sedang membantu ibunya menata kudapan kedalam piring. Terlalu asik menertawakan kekonyolan orang kurang kerjaan yang selalu memenuhi kotak masuknya dengan kata-kata galau.
"Iya bu. Peira ambil dulu piringnya." Sahut Peira. Diapun berjalan menuju dapur.
Acara syukuran kecil-kecilan diadakan bu Leni dikediamannya, sebagai tanda terimakasih kepada Tuhan atas berakhirnya masa tahanan sang suami.
Pak Bayu benar-benar telah berubah, didalam lapaspun dia menjalani hukumannya dengan sangat baik.
Beberapa orang tetangga hadir untuk ikut mendo'akan, tidak lupa bu Leni mengundang ustadz sebagai pemimpin membaca do'a.
Peira berjalan menuju ruang tengah dengan beberapa piring di tangannya, dikejutkan dengan kedatangan dua laki-laki itu, tiba-tiba Peira kembali ingat dengan rentetan pesan masuk itu ketika melihat Ikmal yang juga sedang melihat kedatangannya.
'Apa iya dia orangnya?' Batin Peira.
Tapi diapun tidak begitu yakin mengingat sikap Ikmal yang tidak pernah menunjukkan lagi perasaannya setelah kejadian malam itu. Tentu saja, Ikmal terikat dengan surat perjanjian yang dibuat Fajar, Peira tidak akan pernah tau akan hal itu.
Tapi percayalah, Ikmal tidak pernah sedikitpun melupakanmu Pei.
"Pei." Ucap Fajar dan Ikmal bersamaan.
"Hai yang, loe datang juga Mal, makasih ya." Basa-basi pada Fajar lalu beralih kepada Ikmal.
"Iya Pei, Fajar yang ajak nggak apa-apakan?" Tanya Ikmal.
"Nggak apa-apa, justru lebih banyak yang mendo'akan ayah gue itu semakin baik." Jawab Peira setelah duduk disamping Fajar.
Ketampanan Fajar dan Ikmal bertambah 1000 kali lipat saat balutan sarung, baju koko dan peci melekat pada tubuh mereka, benar-benar calon suami idaman yang sempurna. Tentunya pujian itu Peira tujukan hanya untuk kekasihnya.
Sebenarnya, ada sedikit rasa canggung setiap bersitatap dengan Ikmal, tapi laki-laki selalu bisa membuat suasana mencair menjadikan Peira ikut terbawa suasana.
Meskipun dia berkata kalau sudah bisa memaafkan kesalahan Ikmal dulu, masih tersisa sedikit rasa takut.
Peira berusaha untuk tidak menujukkan perasaannya yang sebenarnya mengingat hubungan mereka yang berjalan dengan sangat baik, apalagi sekarang Fajar dan Ikmal bekerja disatu perusahaan yang sama, membuat ikatan diantara kedua laki-laki itu semakin kuat saja.
Acara berjalan dengan khidmat, lantunan do'a yang dibacakan ustadz terasa menyejukkan hati setiap telinga yang mendengarkan.
__ADS_1
Setelah acara demi acara dan baca do'a selesai, kini waktunya para tamu yang hadir menyicipi tumpeng yang dimasak bu Leni dan Peira pada siang harinya.
Ada yang membawa nasi tumpang nya kerumah untuk dinikmati bersama anak dan istri, ada pula yang langsung dimakan ditempat sambil mengobrol ringan bersama bapak-bapak lain.
Pak Bayu banyak bercerita pengalamannya selama berada ditahanan, rasanya sangat tidak enak, dia sangat menyesali semua yang terjadi di masalalunya.
Para tetangga merasa kasihan dengan pak Bayu yang sekarang, tapi mereka berpikir dia pantas mendapatkan hukuman ini mengingat bagaimana kelakuan buruknya di tengah masyarakat dulu.
Perasaan para tetangga jadi berkecamuk, sedih, terharu, takut. Takut kalau pak Bayu kembali menggila seperti dulu, tak jarang juga mereka mengutuki pak Bayu didalam hati.
Setelah ustadz dan para tamu berpamitan pulang, tinggallah bu Leni, Pak Bayu, Peira, Fajar dan Ikmal. Mereka sengaja ingin mengobrol lebih intim lagi bersama keluarga Peira.
"Jadi, apa rencana ayah kedepannya?" Tanya Fajar menyebut kata ayah dengan tidak canggung lagi, ketika menjenguknya dilapas dulu dia selalu memanggilnya seperti itu.
"Ayah akan mencari pekerjaan nak. Ayah tidak ingin jadi beban untuk Peira dan ibu." Jawab Pak Bayu.
"Apa sudah ada gambaran pekerjaan apa yang cocok dengan kemampuan ayah?" Tanya Fajar.
"Ayah dulu bekerja di proyek pembangunan, ayah rasa tenaga ayah masih kuat. Ayah akan mengunjungi teman ayah yang dulu bekerja bersama ayah, semoga ada rezekinya ya nak." Jawab Pak Bayu.
"Semoga saja ya." Balas Fajar sambil tersenyum.
"Kenapa ayah tidak mencoba melamar pekerjaan di tempat kami?" Ikmal ikut-ikutan memanggil ayah.
"Memangnya ayah mau kerja jadi apa di kantor loe? Ayah udah berumur, ijazahnya juga cuma lulusan SMP." Peira menimpali.
"Kita lagi membutuhkan OB sekarang." Ucap Ikmal yang langsung mendapat tatapan aneh dari semua orang.
Ups, apa Ikmal sudah salah bicara ya. Apa mereka merasa tersinggung dengan rencannya yang akan mempekerjakan pak Bayu sebagai OB?
"Sory, gue nggak bermaksud." Ikmal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa tidak enak hati sudah menyinggung perasaan mereka.
"Tidak, apa yang dibilang nak Ikmal tadi sungguh-sungguh? Apa saya pantas hanya untuk sekedar menginjakkan kaki di kantornya nak Ikmal?" Tanya pak Bayu, dia sangat bahagia sebenarnya kalau bisa bekerja di kantoran meskipun sebagai OB, menurutnya pekerjaan itu bagaikan piala penghargaan berharga untuk dirinya yang hina itu.
"Iya pak, kalau bapak berminat, coba masukan saja lamaran ke perusahaan kami, selanjutnya biar pihak HRD yang menentukan." Jawab Ikmal.
Bu Leni yang akan sangat berbahagia kalau suaminya mendapat pekerjaan itu, mungkin pintu rezeki mulai terbuka dihadapan matanya, semoga masalah ekonomi keluarganya semakin berangsur membaik, begitu yang dipikirkan ibunya Peira itu.
Ikmal adalah seorang pahlawan yang tidak menampakkan wujudnya, sudah berapa banyak ketulusannya yang sama sekali tidak disadari Peira. Mulai dari hutangnya kepada Bos Toni, Ikmal membayarkan sisa hutangnya, dengan syarat bos Toni tidak boleh memberitahu Peira dan keluarganya, Bos Toni harus berkata jika dia memberi diskon untuk hutangnya sehingga hutangnya yang tinggal 20 juta dianggap lunas.
Tidak masuk akal memang alasan yang dia buat, tapi untungnya Peira sama sekali tidak merasa curiga dan menganggapnya sebagai rezeki nomplok.
Lalu naiknya jabatan Fajar dari staff administrasi menjadi kepala divisi, dan baru-baru ini di angkatnya sebagai manager, tapi itupun bukan tanpa alasan, Fajar memang pantas mendapatkan itu semua atas kerja kerasnya selama ini.
Ikmal hanya ingin melihat Peira bahagia, mungkin dengan caranya yang sembunyi-sembunyi seperti ini tidak akan membuat perempuan itu merasa terusik dan terbebani.
***
Minggu berikutnya, Fajar dan Bu Fitri ditemani oleh pamannya Fajar mengunjungi rumah Peira dengan niat terbaik yang pernah Fajar sampaikan. Dia akan segera meminang perempuan yang di cintainya itu.
Hari pernikahanpun telah ditentukan oleh kedua belah pihak perempuan maupun laki-laki, mereka sepakat untuk menggelar acara sakral itu terhitung tiga bulan dari sekarang.
__ADS_1
Ada sebuah kelegaan dihati bu Leni dan pak Bayu, akhirnya hubungan yang telah lama terjalin akan segera berakhir dipelaminan. Tentu saja, orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, apalagi Peira adalah anak semata wayang mereka. Menurut bu Leni dan pak Bayu, Fajar adalah orang yang sangat baik, dia telah banyak sekali merubah sifat kekanakan yang melekat dalam diri Peira.
Percayalah, sebelum mengenal Fajar Peira orangnya sedikit judes dan agak pendendam. Tapi sekarang, lihatlah bagaimana sifatnya, dia sangat ramah dan selalu mau belajar memaafkan kesalahan orang lain. Itu semua berkat sifat baik Fajar terluar kedalam diri peira.
Kesibukan untuk acara resepsi sederhana akan dimulai dari sekarang.
***
Hari minggu yang cerah, secerah sorot mata Fajar yang berbinar-binar saat melihat Peira, ternyata perempuan itu sudah menunggu Fajar diteras kontrakannya dan segera menghampiri kekasihnya itu ketika menyadari kehadirannya.
"Yang." Ucapan Peira menggantung saat melihat Fajar menatapnya dengan tatapan misterius.
Peira menyeringai saat melihat kedua tangan Fajar yang disembunyikan dibalik punggungnya.
"Kenapa sih aneh banget?" Tanya Peira tersenyum penuh kecurigaan.
"Mau coklat?" Fajar langsung menyodorkan coklat diary milk yang tadi dia beli di alfamart saat perjalanan menuju ke kontrakan Peira.
Peira langsung berbinar-beniar, dia langsung menyambar coklat itu dari tangan Fajar, senyum Fajar semakin lebar saja.
"Makasih ya yang, aku seneng banget." Ucap Peira kegirangan.
"Iya, mau dimakan kapan?" Tanya Fajar kemudian.
"Nanti aja ya yang. Oh ya, kita pergi kemana dulu ini yang?" Peira memasukkan coklat itu kedalam tas selempangnya.
"Kita cetak undangan dulu, habis itu kita makan siang buat merayakan naiknya jabatan aku." Jawab Fajar.
"Ahh, iya jadi hari ini ya acara makannya. Kamu ngundang temen-temen kantor kamu juga yang?" Tanya Peira.
"Iya, ayo kita jalan sekarang, nanti keburu siang!" Seru Fajar.
Merekapun berjalan sambil bergandengan kearah motor Fajar yang terparkir dihalaman kontrakan itu setelah sebelumnya berpamitan kepada orang tua Peira.
Biasanya di akhir pekan seperti ini Fajar masih setia menarik pelanggan ojek onlinenya, tapi berhubung ada banyak sekali yang harus dikerjakan untuk acara resepsi, Fajar libur dulu menarik ojolnya.
Peira sampai menangis saat Fajar memberikan kabar kenaikan jabatannya diperusahaan, senang sekali rasanya melihat orang yang kita cintai berhasil meraih suatu pencapaian didalam hidupnya.
"Akhirnya yang, kerja keras kamu selama ini terbayarkan juga, aku bangga sama kamu, aku salut sama kamu, kamu kebanggaan aku yang." Begitu yang Peira katakan waktu itu sambil menangis didalam pelukan Fajar.
"Ini semua berkat do'a dan dukungan dari kamu dan keluarga, aku nggak akan bisa ada dititik ini kalau nggak ada kalian penyemangat aku dalam menjalani semua." Fajar mendekap Peira semakin erat, ikut terharu terbawa suasana hati Peira.
Perkataan Fajar semakin membuat Peira menangis sesegukkan.
Back.
Fajar mengendari motornya dengan kecepatan sedang, Peira sengaja melingkarkan tangannya keperut Fajar, menempelkan wajahnya kepada punggung Fajar, menghirup dalam-dalam aroma parfum yang melekat pada pakaian kekasihnya itu. Bau wangi yang sangat khas, yang selalu Peira rindukan. Sebenar lagi penantiannya akan segera berakhir, tubuh itu akan menjadi miliknya seutuhnya.
Peira sangat mencintai kekasihnya itu, laki-laki sempurna dimatanya. Meskipun terkadang bayangan Ikmal selalu muncul didalam pikirannya. Terbebani dengan Ikmal yang sampai sekarang tidak pernah menjalani hubungan dengan perempuan manapun. Dirinya merasa ikut andil dengan keadaan Ikmal yang menutup hatinya rapat-rapat.
__ADS_1
Part ini lebih panjang lho reader, tega sekali kalau nggak kasih like dan komentarnya buat author...