
Peira sudah siap untuk memulai harinya, dia mengucapkan Bismillah sebelum keluar dari rumah kontrakannya.
'semoga hari ini lebih baik dari kemarin.' pintanya didalam hati.
Peira mulai melangkahkan kakinya keluar rumah. Tapi baru saja dia sampai diambang pintu, langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya menyipit manakala melihat seseorang yang dia kenal sedang duduk di kursi kayu terasnya.
"hai Pei, udah mau berangkat kerja ya?" tegur Ikmal sambil tersenyum, senyum termanis yang pernah dia tunjukkan.
Tapi yang ditegur malah membalasnya dengan senyum yang dipaksakan, Peira menunjukkan deretan giginya tanpa menjawab.
'pagi-pagi gini udah nangkring aja dia.' batin Peira.
Bu Leni datang sambil membawa semangkuk bubur dan meletakkannya diatas meja.
"silahkan nak Ikmal." ucap bu Leni dengan ramahnya.
"terimakasih bu, saya makan sekarang." sahut Ikmal yang langsung mengambil mangkuk buburnya.
"ya sudah, ibu tinggal dulu ya. Mau melayani pembeli yang lain." ucap bu Leni kemudian pergi.
Peira menatap dengan heran kearah Ikmal yang sedang meniupi buburnya.
"loe nggak sarapan Pei? Bubur ibu loe ternyata enak banget." tanya Ikmal setelah menghabiskan beberapa suap bubur itu.
"nggak deh, gue udah makan nasi tadi." jawab Peira.
"oh, ya udah." ucap Ikmal.
Peira menghembuskan nafasnya, apa setiap pagi dia akan melihat Ikmal berada dikontrakkannya hanya untuk sekedar sarapan bubur? Entahlah!
Peira berjalan menghampiri ibunya yang sedang melayani pembeli.
"kok ibu tau sih kalau namanya Ikmal?" tanya Peira.
"tadi kami sempat berbincang sedikit, dia tinggal di kontrakan sebelah. Dan dia juga kuliah ditempat kamu kuliah dulu, ibu sangat menyukainya Pei, dia sangat baik, ramah, sopan dan cepat akrab, ganteng pula. Hihi." jawab bu Leni sambil terkekeh.
Peira terdiam, kenapa ibunya bisa menyimpulkan seperti itu tentang Ikmal? Bahkan mereka baru pertama kali ini bertemu.
"bu, ini uangnya. Sepertinya saya akan sarapan disini setiap hari, bubur ibu membuat saya kecanduan." ucap Ikmal, Peira menganggapnya sebagai bualan saja.
"nak Ikmal ini mau pergi ke kampus ya? Bareng sama Peira saja. Kalian searah kan?" ucap bu Leni.
"apaan sih ibu? Biarin aja dia naik angkot." ucap Peira sambil berbisik ke telinga ibunya itu.
Sebenarnya, Peira masih merasa canggung kepada Ikmal.
"saya rasa itu bukan tawaran yang buruk." ucap Ikmal.
"ya sudah, cepatlah berangkat! Nanti keburu siang." ucap bu Leni.
Peirapun menurut, ini semua dia lakukan karena dia teringat akan perkataan Fajar tempo hari.
'mulai sekarang, kamu harus bantu Ikmal, dia teman aku, otomatis dia juga teman kamu.'
Peira harus bersikap baik kepada Ikmal demi menghargai permintaan sang kekasih.
"ya udah, ayo berangkat!" seru Peira lalu melangkahkan kakinya.
Ikmal tersenyum lebar karena mendapat tumpangan pagi ini, diapun mengekor dibelakang Peira.
__ADS_1
***
Aneh rasanya dibonceng oleh perempuan, Ikmal merasa tidak nyaman dengan itu, berulangkali dia merubah posisi duduknya. Peira merasa geram karena Ikmal tidak mau diam, dia sedikit tidak bisa menyeimbangkan motornya.
Jika bukan karena Fajar, mungkin Peira sudah menyuruhnya turun.
"bisa diem nggak sih loe?" tanya Peira sedikit kesal.
"nggak pw gue Pei." jawab Ikmal.
Peira menambah laju kecepatan motornya, dia merasa kesal dan ingin cepat sampai di kampusnya Ikmal.
Ikmal merasa kaget karena Peira menambah kecepatan motornya secara mendadak. Ikmal bingung harus berpegangan kemana, dia takut akan terjatuh dari atas motor.
Diapun berpegangan ke pundak Peira, Peira menepis-menipiskan pundaknya agar Ikmal menyingkirkan tangannya dari sana, dia jadi risih sendiri.
Peira mendengus kesal manakala tangan Ikmal tidak juga menyingkir dari pundaknya.
Perjalanan singkat itupun berakhir tepat di depan gerbang kampus, Ikmal langsung turun, dia terlihat ngos-ngosan setelah diajak kebut-kebutan oleh Peira.
Peira tertegun saat memperhatikan bagian depan kampus itu, dia jadi rindu saat berkuliah disana, tempat itu yang menjadi saksi pertemuan dirinya dengan Fajar.
Saat Peira masih kuliah disana, setiap hari dia pasti akan bertemu dengan kekasihnya, tapi sekarang untuk sekedar bertatap mukapun sangat sulit rasanya.
Peira terlihat sedih dan menundukkan kepalanya.
Ikmal yang menyadari perubahan sikap Peira sedikit bingung, Ikmal berusaha mencairkan suasana agar mood perempuan itu kembali membaik.
"skor jantung gue dibonceng sama loe." ucap Ikmal.
Seketika Peira tersadar dari lamunannya.
"makanya kalau dibonceng itu jangan kaya ikan lagi di daratan. Menggelepar-gelepar." ucap Peira.
"ya udah, gue pergi sekarang. Pulangnya loe bisa sendiri kan?" tanya Peira.
"bisa kok. Thanks ya tumpangannya." jawab Ikmal.
"sama-sama." balas Peira.
"hati-hati bawa motornya, jangan lupa makan siang dan semangat kerjanya!" ucap Ikmal sambil memasang senyum terbaiknya.
Deg!
Kenapa perkataan laki-laki itu jadi sama persis seperti yang sering Fajar katakan kepadanya?
Peira tersenyum hangat saat membayangkan kalau Ikmal adalah Fajar.
Ikmal menyadari kalau tatapan Peira kali ini padanya agak berbeda, dia menjentrikkan jarinya tepat didepan wajah Peira.
"loe kenapa?" tanya Ikmal.
"ehh, gue nggak apa-apa. Gue cabut sekarang." ucap Peira yang baru tersadar kalau Fajar sedang tidak ada di hadapannya.
Peirapun menyalakan mesin motornya kemudian cepat-cepat tancap gas. Sedangkan Ikmal menatap kepergian Peira dengan perasaan kasihan.
Ikmal bisa melihat dengan jelas kesedihan diwajah Peira tadi, pasti perempuan itu tadi sempat bersedih karena dia sudah tidak bisa lagi kuliah disana.
Ikmal berpikir apa dirinya bisa membantu Peira untuk kembali kuliah disana? Entahlah.
__ADS_1
"yang!" ucap seseorang sambil menepuk pundak Ikmal dari belakang, Ikmal kaget dengan teguran yang mendadak itu, sontak Ikmal menoleh.
"ehh, yang. Kamu baru sampai?" tanya Ikmal saat menyadari kalau yang ada di hadapannya adalah Airin.
"iya nih yang. Oh iya yang, malam minggu nanti temenin aku ke acara ulang tahunnya Amel ya!" ucap Airin sambil menggelayut manja di lengan Ikmal.
Ikmal tersenyum, ternyata Airin masih setia meskipun Ikmal sekarang sudah tidak kaya lagi, diapun tidak malu untuk mengajak Ikmal pergi ke acara temannya.
"aku nggak janji ya yang. Aku nggak tau malam minggu nanti aku udah dapat kerjaan atau belum." jawab Ikmal.
"apa? Kamu mau cari kerja yang?" tanya Airin.
"iya, apa kamu mau temenin aku cari kerja pulang kuliah nanti?" tanya Ikmal.
"aku nggak bisa yang, aku udah janji sama Amel mau bantuin dia mempersiapkan acara ulang tahunnya." jawab Airin.
Ikmal merasa tidak puas dengan penolakan Airin, entahlah, dia merasa kecewa atau tidak kepada kekasihnya itu. Tapi Ikmalpun tidak akan memaksa orang yang jelas-jelas tidak mau.
***
Setelah jam pelajaran terakhir berakhir, Fajar berniat menghampiri Ikmal yang terlihat masih membereskan buku-bukunya. Fajar menunda niatnya saat melihat Airin menegur Ikmal.
"yang, aku duluan ya..." ucap Airin sambil melambaikan tangannya kearah Ikmal. Belum sempat Ikmal menjawab, Airin sudah ngacir duluan.
Sedangkan teman sepermainannya Doni, Reza, Fery, dan Zian nyelonong pergi begitu saja tanpa sedikitpun menegur Ikmal. Jangankan menegur, menoleh saja tidak.
Mereka takut kalau Ikmal akan menagih hutangnya mengingat sekarang Ikmal sudah jatuh miskin.
'sialan loe, giliran gue kere aja loe pada kacangin gue.' gerutu Ikmal didalam hati.
Fajar menghampiri Ikmal saat dirasa situasinya cukup memungkinkan.
"Mal, gimana kontrakannya? Loe betah? Apa loe bisa tidur nyenyak semalam?" tanya Fajar, Ikmal yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi itu menganggap Fajar seperti emak-emak.
"gue betah kok, gue nyaman tinggal disana. Dan tidur gue cukup nyenyak, ya meskipun cuma beralaskan tikar. Haha." jawab Ikmal sambil tertawa membayangkan betapa sakit badannya ketika bangun tidur.
"kalau nggak salah, Peira punya kasur yang nggak kepake, coba loe minta sama dia, pasti dikasih." ucap Fajar.
"hah? Nggak ahh, malu gue." ucap Ikmal.
"nggak apa-apa, Peira sama ibunya baik kok." ucap Fajar.
"justru karena mereka baik, gue jadi malu." jawab Ikmal.
"nanti biar gue yang bicara sama Peira." ucap Fajar.
"ehh, nggak usah. Gue mau cari kerja aja biar bisa beli kasur, haha." jawab Ikmal yang lagi-lagi mentertawakan dirinya sendiri.
"loe mau kerja apaan?" tanya Fajar.
"gue juga nggak tau, apa ditempat loe kerja ada lowongan?" tanya Ikmal.
"kayanya belum ada." jawab Fajar.
Ikmal hanya manggut-manggut saja.
"ehh, tapi kayanya kemarin Peira bilang kalau di tempatnya kerja lagi dibuka loker." ucap Fajar.
"oh ya? Kalau gitu gue mau." Ikmal terlihat antusias.
__ADS_1
Jangan lupa like, dan komentar dan ratenya ya reader....