
Sebuah mobil sport merah berhenti tepat di samping motor scoopy yang sudah nangkring di area parkir pemakaman itu terlebih dahulu. Ikmal keluar dari dalam mobil itu kemudian melepas kaca mata hitam yang dipakainya, memasukkannya kedalam saku kemeja.
"Betah banget dia di tempat horor begini." Bergeming sendiri, dia bergidig ngeri saat baru saja satu langkah menginjakkan kakinya di tanah pemakaman itu, suasana sore itu terasa sangat mencengkam bagi Ikmal. Hening, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Apalagi saat teringat kembali tentang mimpinya disiang bolong tadi, saat Fajar mengambanginya dalam mimpi itu. Bulu kuduknya mendadak berdirian, membayangkan kalau tiba-tiba saja hantunya Fajar datang sungguhan di hadapannya saat ini. Dia mengusap tengkuknya yang terasa dingin sesaat setelah sekelebat bayangan muncul dibelakangnya.
Ikmal segera menyingkirkan semua kegundahan hatinya, meyakinkan diri sendiri jika semua akan berjalan dengan semestinya. Kembali ke misi awal tujuannya datang ke tempat itu, dengan berkomat kamit membaca do'a yang dia hafal, berharap tidak ada makhluk yang tak kasat mata mengganggu dirinya. Ikmal berjalan melewati barisan makam yang berjejer dengan rapi.
Dari jarak kurang dari 20 meter, Ikmal melihat seorang perempuan berpakaian serba putih sedang duduk sambil bersandar ke sebuah papan nisan.
Ikmal menelan salivanya dengan susah payah, berpikir kalau perempuan itu adalah penghuni salah satu kuburan ditempat ini. Memimpikan orang yang telah tiada membuatnya menjadi laki-laki paling parnoan.
'Astaga! Itu kan Peira, kenapa gue jadi parno begini?' Ikmal membatin.
Mengambil langkah seribu, diapun segera berjalan menghampiri objek yang menurutnya tadi janggal itu. Membuang nafas asal, saat tau kalau perempuan itu tertidur sambil memeluk papan nama Fajar.
Menatapnya nanar, rasa sedih tiba-tiba saja menyelimuti hati Ikmal, menggantikan perasaan gelisahnya ketika melihat wajah polos Peira yang sembab saat tertidur.
"Kamu pasti lelah menangis selama ini Pei, tidurlah! Aku akan menjaga kamu sampai bangun." Ikmal mendaratkan telapak tangannya tepat dipuncak kepala Peira, membelainya perlahan.
Tidak ada pergerakan dari perempuan itu, terlalu lelap dalam indahnya buaian mimpi. Sambil menunggu Peira terbangun, Ikmal memanjatkan do'a terbaiknya untuk sang sahabat.
Ikmal tidak akan pernah lupa bagaimana proses dirinya yang sekarang bisa terbentuk, Fajarlah orang yang berpengaruh besar merubah cara berpikir Ikmal dalam segala hal.
Dia banyak belajar dari sosok Fajar yang tangguh menghadapi kerasnya hidup, Fajar tetap berjalan ditengah besarnya badai yang menerpa dengan harapan badai itu akan segera berakhir.
Kini Ikmal telah kehilangan pedoman dalam hidupnya, tapi kebaikan yang Fajar tanam selama hidupnya akan selalu melekat dalam ingatan Ikmal.
Dia tau kalau sosok Fajar tidak akan ada sepadannya didunia ini, dia tidak akan pernah tertandingi oleh sosok manapun didalam hati Peira, Ikmal sangat tau itu.
"Maafkan aku yang, maaf!" Ikmal terlonjak kaget ketika suara igauan Peira memecahkan keheningan.
Setelah kepergian Fajar, Peira selalu tidak bisa tidur dengan normal, pasti bangunnya perempuan itu karena Fajar selalu datang dalam mimpinya, lalu meninggalkannya begitu saja. Sehingga terjadilah igauan-igauan aneh dari mulutnya.
"Pei, kamu kenapa Pei? Bangun!" Ikmal mengguncang pundak Peira pelan. Perempuan itu tersentak kaget saat merasakan sentuhan tangan asing, sontak membuka mata saking kagetnya.
Menoleh kesamping, mendapati laki-laki yang tidak asing lagi baginya itu ada disana.
"Mal, loe ngapain disini?" Tanya Peira setelah bisa mengendalikan diri.
Ikmal tersenyum melihat wajah linglung Peira yang baru terbangun, apalagi dengan suara seraknya yang khas, sudah lama sekali rasanya dia tidak bertemu dengan Peira, kerinduannya pada perempuan itu bisa sedikit terobati.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu tidur disini?"
Peira menaikkan sebelah alisnya mendengar Ikmal yang memanggilnya dengan sebutan 'kamu', dia jadi geli sendiri, kemudian menarik ujung bibirnya, terkekeh.
Ikmal terperangah, pasalnya ini pertama kalinya dia melihat Peira tersenyum lagi setelah sekian lama, ada perasaan lega dihatinya biasa melihat senyum itu lagi.
"Loe aneh tau nggak bicara seperti itu." Ucap Peira yang baru sadar Ikmal memanggilnya kamu, padahal beberapa kali mereka Ikmal bertemu Ikmal memanggil Peira seperti itu, tapi Peira baru ngeh sekarang.
Ikmal semakin melebarkan tersenyum mendengar perkataan Peira.
"Nggak apa-apa, kan?" Tanya Ikmal.
"Ya terserah loe aja." Jawab Peira.
"Kamu mimpi apa tadi? Sampai teriak-teriak seperti itu?" Tanya Ikmal lagi.
"Teriak?" Ikmal mengangguk.
Kemudian Peira terdiam, dia kembali teringat dengan mimpinya tentang Fajar tadi, air mukanya berubah menjadi sedih. Ikmal sangat menyadari hal itu.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Ikmal.
"Fajar Mal." Jawab Peira sambil menatap nanar gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rumput liar itu.
"Fajar Kenapa?" Tanya Ikmal lagi.
Peira menarik nafas panjang-panjang sebelum akhirnya berkata. Untuk pertama kalinya dia bicara tentang Fajar tanpa menitihkan air mata.
"Gue mimpi Fajar berdarah, dia kesakitan, dia nggak tenang disana Mal." Ucap Peira.
Ikmal mengerutkan kening, kemudian bersiap mendengar perkataan Peira selanjutnya.
"...dia bilang kalau gue yang menyebabkan dia seperti itu, untuk pertama kalinya gue liat dia nangis-nangis sambil marah. Gue nggak tega liat dia menderita seperti itu disana Mal, apa yang harus gue lakukan?" Sambungnya.
Ikmal membuang nafasnya asal, berarti bukan cuma dirinya yang sering diterror Fajar dalam mimpi. Peira juga mengalami hal serupa, kemudian dia berpikir, apa mungkin ini cara Tuhan untuk membukakannya jalan menuju hati perempuan itu.
"Aku pikir hanya aku aja yang didatangi Fajar dalam mimpi." Ucap Ikmal.
Peira mengalihkan pandangannya kearah Ikmal.
"Jadi Fajar juga pernah datang dimimpi loe?" Tanya Peira.
"Bukan cuma pernah, tapi sering. Dia memang belum tenang sebelum kamu mengikhlaskan kepergiannya, kesedihan kamu itu membelenggu jiwa Fajar, sedangkan dia harus pergi kealamnya. Itu yang menyebabkan jiwanya tidak bisa pergi dengan mudah dari dunia ini." Entah kenapa ucapan Ikmal terasa menancap tepat diulu hati Peira.
Pedih, itu yang Peira rasakan. Bagaimana mungkin keegoisannya membuat sang kekasihnya yang telah tiada masih mengalami kesakitan.
Kemudian dia teringat dengan pesan Fajar yang selalu sama ketika datang ke mimpinya.
'Jalan kamu masih terbentang luas dihadapan sana Pei, lanjutkanlah hidupmu. Aku adalah masalalu kamu, masa depan kamu adalah Ikmal, cobalah buka hati kamu untuk dia.'
'Ikmal sangat mencintai kamu Pei, sama seperti aku mencintai kamu. Terimalah dia, dia yang akan mewujudkan impian aku untuk membahagiakan kamu.'
'Kalau kamu rindu, datanglah pada Ikmal, anggap dia adalah aku, peluk dia sepuas hati kamu. Aku yakin lambat laun perasaan cinta untuk Ikmal akan tumbuh dihati kamu.'
Kepergian Fajar yang terlalu cepat dan mendadak itu, membuat Peira sampai saat ini masih menganggapnya seperti mimpi.
Peira harus selalu tertidur agar bisa memeluk Fajar dalam mimpinya, bahkan Peira ingin tertidur untuk selamanya agar dia tidak lagi terpisahkan dengan sang kekasih. Tapi Peira tidak bisa terus terjebak dalam buaian mimpi indahnya itu, dia harus bangun untuk mewujudkan semua mimpi Fajar yang belum sempat terwujud semasa hidupnya.
Peira mencoba berpikir jernih, tidak ingin lagi menabur garam diatas lukanya yang bisa membuat lukanya semakin parah. Dia harus segera sembuh dari rasa sakit hatinya dan membebaskan Fajar dari jeratan cintanya.
"Kita pulang sekarang ya Pei! Kamu udah terlalu lama ada disini." Ajak Ikmal.
Peira yang masih berjibaku dengan pikirannya menoleh kearah Ikmal, terlihat laki-laki itu sedang tersenyum kearahnya.
"Tapi gue belum mau pulang Mal." Jawab Peira.
Sejenak, Ikmal terdiam.
"Kamu mau ikut aku ke suatu tempat?" Tanya Ikmal.
"Kemana?" Peira balik bertanya.
"Rahasia, nanti kamu juga tau sendiri." Ikmal tersenyum misterius, membuat Peira semakin penasaran.
Dengan berat hati, Peira beranjak dari duduknya, dia duduk sembarangan diatas tanah merah itu sampai tunik putihnya jadi kotor. Tidak terasa dia menghabiskan separuh harinya disana. Ikmal mengekor dibelakang Peira.
Setelah melalui perdebatan kecil, akhirnya Ikmal meninggalkan mobilnya disana dan pergi menggunakan motor Peira, karena itu permintaan dari Peira sendiri, dia ingin merasakan hembusan angin sore, siapa tau saja angin bisa menerbangkan sebagian kesedihannya dan mengeringkan sedikit luka di hatinya.
***
Sinar bulan dilangit sana meredup, sebagian sinarnya tertutup oleh awan biru, Ikmal memarkirkan motor Peira ditempat yang seharusnya.
__ADS_1
Deg!
Peira tertegun saat menyadari tempat apa yang mereka kunjungi ini.
"Ayo kita masuk Pei!" Seru Ikmal, dia meraih tangan Peira kemudian melangkah masuk kedalam tempat itu, siap tidak siap Peira mengikuti langkah Ikmal meskipun perasaannya sedikit menolak.
KIARA ARTA PARK.
Tulisan yang menyala warna warni itu menyambut setiap pengunjung yang datang. Setelah membeli dua tiket, Ikmal kembali memarik Peira masuk kedalam.
"Mal, kita pulang aja yuk!" Ucap Peira, menarik-narik kemeja Ikmal seperti anak kecil. Dia tidak ingin air matanya kembali bercucuran saat mengingat kenangannya bersama Fajar ditempat ini.
"Kenapa pulang? Kamu harus liat pertunjukkan air mancur warna-warni disini, itu bagus banget Pei." Ucap Ikmal.
"Gue tau, tapi gue takut nggak akan sanggup." Ucap Peira.
"Memangnya kenapa?" Tanya Ikmal.
"Ditempat ini Fajar melamar gue waktu itu, loe nggak akan tau seberapa bahagianya gue saat itu Mal. Tapi kebahagiaan gue itu direnggut paksa oleh takdir yang memisahkan gue sama Fajar" Ucap Peira, tanpa terasa bulir air mata itu menetes, cepat-cepat Peira menghapusnya.
"Dimalam sebelum dia kecelakaan, dia janji akan bawa gue kesini lagi buat bikin foto pra wedding, tapi semua nggak berjalan seperti apa yang kita rencanakan."
"...malam itu gue merasakan sesuatu yang aneh, gue nggak mengizinkan Fajar untuk pergi narik ojol, tapi dia keras kepala Mal, dia lebih memilih pergi dan sekarang loe tau sendiri, dia nggak akan pernah kembali lagi." bicara dengan menggebu-gebu.
Ikmal meraih tangan Peira, lalu mengenggamnya.
"Nggak ada gunanya menyesali apa yang udah terjadi Pei, sekarang yang terpenting adalah kita membuat Fajar merasa tenang. Kamu maukan Fajar mendapat kedamaian disana?" Ucap Ikmal kemudian.
"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Peira.
"Menikahlah dengan aku Pei, aku akan mencintai kamu seperti Fajar mencintai kamu. Mungkin dengan melihat kamu bisa melanjutkan hidup, Fajar nggak akan muncul lagi dimimpi kita. Karena yang memberatkan Fajar itu adalah melihat kamu terus-terusan menangisi dia." Ucap Ikmal.
Peira terdiam, berusaha mencerna dengan baik setiap perkataan Ikmal, dan semakin keras Peira berpikir, semakin hatinya membenarkan perkataan Ikmal.
Benar, jadi selama ini dirinya yang egois, dia berpikir jika hanya dirinyalah yang paling tersakiti dengan kepergian Fajar, tanpa memikirkan Fajar yang juga terluka setiap kali air matanya menetes.
"Jadi gimana Pei?" Tanya Ikmal membuyarkan lamunan Peira.
"Gimana apanya?" Peira dengan bodohnya balik bertanya.
"Menikahlah sama aku Pei, aku tulus mencintai kamu terlepas dari amanatnya Fajar." Ikmal menatap lekat mata Peira, genggaman tangannya tidak dia lepaskan sedari tadi.
Peira bisa melihat dengan jelas ketulusan dimata Ikmal sekarang, tidak seperti dulu ketika laki-laki itu menyatakan cinta kepadanya, yang Peira lihat seperti sebuah ancaman yang mengancam hubungannya dengan Fajar.
Sebelum kematian Fajarpun, Peira tau jika Ikmal memang tulus mencintainya, kesendirian Ikmal selama bertahun-tahun cukup untuk menguatkan tunduhannya itu benar sampai Ikmal kembali menyatakan cintanya dihari kematian Fajar. Tapi Peira tetap menutup matanya tentang cinta Ikmal dan memilih untuk tetap setia bersama sang kekasih yang sangat dia cintai itu.
"Buat sekarang gue belum bisa Mal, ini terlalu cepat. Tapi kalau loe sanggup, tunggu gue, sampai luka hati gue sedikit mengering dan bisa dengan lapang mengikhlaskan Fajar." Ucap Peira dengan mantap.
Bagai bulan jatuh di pangkuannya, Ikmal mendengar perkataan Peira. pintu harapan untuk memiliki peira seolah terbuka lebar dihadapan matanya. Sebuah senyuman langsung merekah dikedua sudut bibirnya,
"Makasih Pei, aku akan menunggu, sampai hati kamu benar-benar siap untuk menerima cinta baru. Aku yakin saat waktunya nanti tiba, semua akan terasa indah." Ikmal tersenyum hangat, sehangat perasaannya saat ini, perasaan yang telah lama tidak pernah dia rasakan lagi. Peira tidak bisa untuk tidak membalas senyum itu, meskipun hanya senyum yang dipaksakan.
"Pei, sepertinya pertunjukan air mancur warna-warni sebentar lagi dimulai. Ayo kita mendekat!" Ikmal dengan semangatnya menarik tangan Peira.
Peira berusaha untuk menikmati pertunjukan yang disuguhkan dihadapan matanya, Kiara Arta Park memang tempat yang indah menurutnya, sampai Peira bisa sejenak melupakan tentang kesedihannya meskipun disana adalah tempat bersejarah untuk hubungannya bersama Fajar.
Tanpa sadar Peira tersenyum saat melihat air menyembur seperti percikan api, Ikmal melihat senyuman yang terukir diwajah Peira bagaikan bulan sabit dilangit sana.
'Tetaplah seperti ini Pei.'
__ADS_1
Like, komen, rate bintang 5 ya readers, tunggu satu episode terakhirnya....