You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Pro dan kontra


__ADS_3

Bukan hal yang mudah bagi Fajar untuk berdiri dititik ini, kalian pasti tau bagaimana perjuangan Fajar dalam mengais rezeki untuk membahagiakan keluarganya. Apa kata pepatah memang benar, jika menanam kebaikan pasti akan menuai hasil dari kebaikan itu sendiri.


Berkat menanam benih kesabaran dan kerja kerasnya selama ini, akhirnya berbuah dengan manis. Setelah meraih gelar S2nya, Fajar mengajukan proposal di perusahaan tempatnya dulu magang. Dan langsung mendapat panggilan interview dalam waktu yang singkat, mengingat nilai tinggi yang selalu Fajar dapatkan semasa kuliahnya.


Dan setelahnya Fajar benar-benar diterima sebagai karyawan tetap diperusahaan itu, Fajar merasa sangat senang, akhirnya dia bisa mendapat pekerjaan yang layak untuk bisa dibanggakan kepada keluarga dan kekasihnya.


Saat itu, Peira yang lebih bahagia daripada Fajar, dia sampai memeluk dan menciumi Fajar sebagai ucapan selamatnya.


Fajar bekerja sebagai staff administrasi disana, dua bulan kemudian setelahnya bekerja, Presiden Dikertur merekrut anaknya sebagai Direktur utama perusahaannya.


Fajar terlonjak kaget ketika mengetahui kalau anak presdir yang sekaligus akan menjabat sebagai Direktur utama adalah seseorang yang sangat dia kenal.


Ikmal, ya, dia adalah Ikmal. Ikmal dengan mudahnya mendapat posisi tinggi diperusahaan ayahnya, itu wajar saja, karena Ikmal adalah pewaris dan penerus perusahaan.


Kelak, pasti perusahaan sebesar ini akan beralih nama menjadi nama Ikmal, begitu fikir semua karyawan disana termasuk Fajar.


Ikmal tau kalau Fajar bekerja diperusahaan cabang milik ayahnya ini, sehingga dia lebih memilih untuk berkerja disana dari pada di perusahaan pusat.


Entah perasaan apa yang mendorongnya untuk terus menguntiti Fajar dan Peira, Ikmal seperti ingin mengikat diri diantara mereka meskipun tau rasanya sesak.


Rasanya tidak rela untuk menjauh dari orang-orang sebaik Peira dan Fajar, ketika dia melakukan kesalahan fatal sekalipun, mereka masih mau menganggapnya sebagai sahabat. Untuk itu Ikmal memaksakan diri agar selalu berada ditengah-tengah mereka, bukan sebagai penganggu, melainkan seorang sahabat yang mendukung keduanya untuk selalu bahagia, mungkin dengan itu bisa menebus dosanya dimasalalu.


Meskipun hatinya selalu berteriak minta ampun saat melihat kemesraan Fajar dan Peira ketika bersama-sama, keromantisan sederhana sebenarnya, tapi mampu membuat hati Ikmal jadi compang-camping dan terus memikirkannya sepanjang malam.


Bodoh memang, entah peribahasa apa yang pantas untuk ditunjukan kepada Ikmal sekarang, Ikmal tidak perduli, dia masih setia dengan kesendiriannya selama ini.


***


Semua mata kepala divisi langsung tertuju kepada Fajar, menatapnya tidak suka. Bagaimana mungkin anak kemarin sore sudah bisa naik jabatan sebanyak dua kali. Begitu isi kepala mereka kira-kira.


Setelah sebelumnya menuai pro dan kontra atas naiknya jabatan Fajar sebagai kepala divisi administrasi, apa sekarang harus dia naik pangkat lagi menjadi seorang manager?


Iri, sebenarnya yang mereka rasakan. Membayangkan uang bonus jabatan dan fasilitas perusahaan untuk sang manager berlarian meninggalkan mereka yang menangis meraung-raung mengejarnya.


"Maaf pak, sepertinya bapak salah bicara." Ucap Fajar saat Ikmal mempersilahkannya bicara.


"Tidak, saya sama sekali tidak salah bicara." Bahasa formal yang selalu mereka tunjukkan ketika berada diarea perusahaan.


"Benar pak, bagaimana mungkin Fajar yang baru bekerja selama satu tahun disini sudah bisa naik jabatan sebanyak dua kali?" Tanya salah satu kepala divisi.


"Iya, kepala divisi disini rata-rata sudah mengabdikan diri lebih dari 10 tahun disini, kenapa tidak mengangkat salah satu dari mereka yang lebih senior. Kepala divisi lain menyambar, seperti mengatakan kalau Fajar tidak pantas.

__ADS_1


Merasa kecewa dan menganggap sang manager utama pilih kasih, mentang-mentang Fajar sangat dekat dengannya. Atau jangan-jangan Fajar sengaja mendekati Ikmal untuk ini, begitu pikiran kotor manusia yang tamak akan jabatan.


"Saya hanya menyampaikan keputusan mutlak dari Presiden Direktur, karena beliau sedang mengadakan meeting dengan klien dari Hongkong diperusahaan pusat sehingga tidak bisa menyampaikannya secara langsung." Pernyataan Ikmal membuat bungkam mulut semua orang, kalau sudah bicara mutlak, berarti tidak bisa dibantah lagi.


Berbagi sumpah serapah mereka tujukan untuk Fajar.


"Baik kalau sudah tidak ada lagi pertanyaan, sampaikan kepada staff masing-masing mengenai manager baru perusahaan kita." Ucap Ikmal.


Fajar merasa hawa diruangan ber-ac ini mendadak gersang, melihat orang-orang yang menatapnya dengan sorot mata tidak bersahabat, membuatnya bergidig ngeri membayangkan mereka yang tiba-tiba mengerumuninya dan menghisap darahnya dengan gigi bertaring bak seorang pampir.


Fajarpun tau dimana letak kesalahannya, hanya saja dia juga tidak menyangka dengan rezeki nomplok yang dia dapatkan hari ini, semua benar-benar diluar kendalinya.


Jadi, apa yang harus Fajar lakukan? Menerima tidak enak, menolakpun enggan. Bukankah kesempatan seperti ini tidak datang dua kali? Apa Fajar terlalu serakah jika menerima jabatan barunya ini?


"Silahkan pak Fajar, saya beri anda kesempatan untuk bicara." Ikmal menggeser mikrofonnya kearah Fajar, membuat Fajar mau tidak mau menerimanya.


Dengan perasaan yang campur aduk antara suka dengan jabatan barunya dan tidak suka dengan tatapan membunuh rekan-rekannya, Fajar mulai angkat suara.


"Terimakasih sebelumnya saya ucapkan kepada Presiden Direktur yang tidak bisa hadir disini dan bapak Direktur utama yang terhormat, terimakasih atas semua kepercayaan yang telah diberikan kepada saya selama ini. Insyaallah kedepannya saya akan bekerja keras dan lebih baik lagi, dan untuk rekan-rekan semua, mari bekerja samalah dengan saya untuk memajukan lagi perusahaan tercinta kita ini. Terimakasih." Senyuman singkat diakhir kalimat.


Tidak ada yang bergeming, Fajar kembali menggeser mikrofon kearah Ikmal.


"Saya rasa meeting kali ini berakhir sampai disini, semua bisa kembali ke divisi masing-masing. Terimakasih." Dan akhirnya meeting itu benar-benar berakhir, semua beranjak dari kursi masing-masing dengan perasaan tidak rela.


"Ini tidak masuk akal, dia hanya anak bawang, tapi kenapa sudah bisa menduduki kursi jabatan sebagai manager?" Kepala divisi memaki Fajar kepada kepala divisi lain.


"Saya juga tidak habis fikir, kenapa dengan mudahnya dia naiknya jabatan."


"Tapi Fajar memang bekerja dengan sangat baik selama ini, dia pekerja keras, Pak Presdir saja mengakui itu dengan mengangkatnya sebagai manager, dia memang pantas mendapat posisi itu." Ada yang pro, tapi banyak yang kontra.


"Kau bicara apa sih? Saya heran,pelet apa yang dia pakai untuk memikat Pak Direktur." Timpal yang lain.


"Hus, jangan bicara sembarangan! Kalian memiliki sifat yang dibenci Allah, iri hati, dengki, suudzon dan ghibah. Itu tidak baik, cepat kalian istighfar." Lerai kepala divisi yang paling alim, juga bekerja paling lama disana, yang paling disegani oleh semua karyawan.


Kepala divisi yang tadi berbicara tidak-tidak tentang Fajar langsung bucap.


"Astagfirllohalazim. Inalihahi wa inailaihiroziun." Lalu dengan cepat lari terbirit-birit untuk menghindari ceramahan yang lebih rumit lagi.


"Kenapa mereka bicara inalilahi? Memangnya siapa yang mati? Apa mereka sedang menyumpahi saya? Astagfirulloh." Geleng-geleng kepala sambil bertolak pinggang melihat kaburnya mereka.


***

__ADS_1


"Mal, ini terlalu berlebihan." Ucap Fajar ketika semua kepala divisi sudah keluar dan hanya tersisa dirinya dan Ikmal diruang meeting.


"Berlebihan apanya?" Ikmal menjatuhkan punggungnya kesandaran kursi.


"Loe nggak lihat apa tadi, mereka nggak terima gue melangkahi jabatan mereka."


Ikmal tertawa menyeringai melihat reaksi Fajar.


"Jangan perdulikan mereka, bekerjalan dengan keras seperti yang loe bilang tadi. Bokap gue udah mempercayakan semuanya sama loe, jangan kecewakan dia. Dan anggap aja ini rezeki buat keluarga loe." Ucap Ikmal.


Fajar kalah telak kalau Ikmal sudah membawa-bawa nama sang Presdir dan keluarganya, Ikmal memang benar, ini semua rezeki mereka, terima saja itu pasti yang terbaik.


Peira pasti akan sangat senang dengan kabar ini, bagaimana reaksinya nanti ya? Fajar jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya.


Ikmal menyadari Fajar yang senyum-senyum sendiri.


"Gue tunggu teraktiran atas naiknya jabatan loe."


Memang itu alasan Ikmal mengajukan Fajar kepada ayahnya sebagai manager baru, selain karena ide-ide brilian yang selalu dibuat oleh Fajar untuk kemajun perusahaan, Ikmal ingin melihat Peira hidup dengan layak bersama Fajar nantinya.


Entahlah, Ikmal bertekad untuk membuka hatinya untuk perempuan lain setelah melihat Peira dan Fajar benar-benar bahagia dalam ikatan pernikahan mereka nantinya.


Membuat orang yang kita cintai benar-benar bahagia itu adalah suatu keharusan, bukan? Meski melihatnya bersama orang lain sekalipun, tapi kenapa rasanya bak tersengat oleh aliran listrik bertegangan tinggi?


***


Seorang pria paruh baya baru saja melangkahkan kakinya keluar dari lapas penjara, di hirupnya dalam-dalam udara segar yang selama 5 tahun terakhir tidak bisa dia dapatkan dibalik jeruji beai.


Peira dan bu Leni meyambut kebebasan pak Bayu dengan suka cita, sedari tadi mereka sudah menunggu dihalaman lapas.


"Mas!" Bu Leni langsung berhambur menghampiri pak Bayu, begitupun Peira.


"Terimakasih sudah mau menerima ayah kembali, ayah tidak akan pernah mengulang kesalahan yang akan membuat kalian menderita lagi."


Acara peluk-pelukanpun terjadi, Peira melihat gumpalan kristal sudah berada dipelupuk mata ibunya, dia pasti yang merasa paling bahagia disini karena cinta sejatinya sudah kembali.


Fajar hanya menyaksikan mereka dari tempatnya tadi menunggu bersama bu Leni dan Peira, tidak ingin merusak momen kebersamaan sebuah keluarga yang utuh.


Fajar jadi merindukan sosok ayahnya, andai saja ayahnya masih hidup, dia pasti tidak akan melewati hari-hari beratnya sendirian untuk mencari uang, tapi Fajarpun sangat ikhlas melakukan semua pekerjaannya untuk keluarga yang dicintainya.


 

__ADS_1


Jangan lupa likenya yaa...


__ADS_2