You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Fajar memang baik


__ADS_3

Ikmal merebahkan tubuhnya diatas sehelai tikar yang menjadi satu-satunya fasilitas di kontrakan itu. Kontrakan itu terlihat kosong melompong tanpa ada satupun perabotan didalamnya.


Dia tersenyum geli mengingat kelakuan konyol yang dia buat sendiri.


'kok bisa ya, gue terjebak ditempat ini?' Ikmal membatin.


Sedikit banyak Ikmal sudah mulai paham dengan apa yang dikatakan Fajar waktu itu.


'seribu teman akan datang disaat loe bahagia dan punya segalanya, tapi entah akan orang atau nggak yang datang saat loe berderai air mata dan nggak punya apa-apa?'


Sekarang Ikmal bisa membedakan yang mana teman dan mana yang bukan, dia tidak ingin terlambat menyadari hal itu, itu sebabnya Ikmal berpura-pura menjadi miskin untuk mengetahui siapa saja yang tulus ingin berteman dengannya dan siapa saja yang ingin berteman dengannya karena ada apa-apanya.


Krbkk... Krbkk...


Itu suara perut Ikmal yang berbunyi, dia memegangi perutnya supaya perutnya itu bungkam. Tapi cara itu tidak berhasil, perutnya akan bungkam kalau diisi dengan makan.


Diapun beranjak dan hendak pergi keluar untuk mencari makanan. saat Ikmal membuka pintu, saat itu juga bu Leni muncul dihadapannya.


"ehh, nak Ikmal mau pergi keluar ya?" tanya bu Leni kemudian.


"iya bu, saya mau cari makan diluar nih." jawab Ikmal sambil tersenyum ramah.


"kebetulan sekali, ini ibu bawa nasi sama lauknya. Nggak usah beli diluar ya, lebih baik uangnya dipakai untuk keperluan lain." ucap bu Leni.


Ikmal menjadi semakin tidak enak hati, dia banyak merepotkan orang lain. Dosanya pasti sekarang sudah sangat besar karena membohongi banyak orang. Dengan ragu, Ikmal menerima box nasi yang disodorkan bu Leni.


"terimakasih ya bu, saya jadi merepotkan ibu terus." ucap Ikmal.


"tidak merepotkan kok, Peira yang wa ibu tadi untuk memberikan makanan ini sama kamu." ucap bu Leni.


"jadi, ini Peira yang..." ucap Ikmal menggantung, dia tidak menyangka kalau Peira ternyata sangat perhatian.


"iya, ya sudah. Kamu makanlah! Ibu harus pergi menghantar pakaian." ucap bu Leni.


Setelah kepergian bu Leni, Ikmal masuk kedalam kontrakannya, tidak lupa dia menutup pintunya.


Ikmal memperhatikan box nasi itu sambil tersenyum sendiri, dia memikirkan Peira yang ternyata sangat perhatian kepadanya.


Pantas saja Fajar sangat mencintainya dan selalu membanggakan-banggakan perempuan itu, ternyata Peira sangat baik.


Ikmal teringat akan nomor kontak Peira yang waktu itu Fajar berikan kepadanya, dia sama sekali tidak menghapus nomor itu.


Tidak ada salahnya kalau Ikmal berterimakasih kepada perempuan itu. Ikmal sengaja memotret dirinya yang sedang memegangi box nasi sambil tersenyum, dia juga mengetik sebuah pesan untuk Peira.


'makasih ya Pei atas makanannya, loe baik banget ternyata.' Ikmal me-send pesannya, tidak lupa dia juga membubuhkan foto dirinya yang diambil tadi.

__ADS_1


Sementara itu, ditempat yang berbeda, Peira mendapat pesan chat dari nomor yang belum sempat dia save waktu itu. Tanpa sadar Peira tertawa sendiri melihat isi chat di ponselnya itu.


"buat apa dia kirim fotonya segala, mau pamer wajah glowingnya apa? Haha." Peira bergeming sendiri, dia berpikir untuk membalas perbuatan Ikmal yang menurutnya sangat konyol.


Dia memotret dirinya sendiri diantara setumpuk paketan yang akan dia antarkan kerumah tuannya masing-masing.


Ikmal segera menggeser layar ponselnya kebawah saat mendapat pesan balasan dari Peira.


'ini makan siang gue.'


Senyum Ikmal langsung mengembang ketika melihat foto yang dikirim Peira bersamaan dengan pesan itu.


Ikal cepat-cepat membalasnya.


'iya, iya. Gue tau loe sibuk. Tetep semangat ya!'


Peira tersenyum saat Ikmal memberikan semangat kepadanya, ternyata Ikmal tidak seburuk yang Peira pikirkan. Mungkin Fajar benar, Peira tidak boleh menyimpan dendam kepada Ikmal.


Di dua tempat yang berbeda, dua orang itu saling berjibaku dengan pikirannya masing-masing, mereka saling tersenyum satu sama lain sambil terus memandangi foto yang tadi mereka kirimkan.


***


Jam menunjukkan pukul 17.15, Peira baru saja pulang setelah seharian penuh mengobrak-abrik sebagian isi kota Bandung. Lelah rasanya, tapi lelahnya seolah hilang saat Fajar menelponnya.


"... .... .... .... ..... ... .... ..... ..." ucap Fajar diserang sana.


"Kamu telfon aku cuma mau membicarakan dia yang? Bukannya tanya kabar aku atau bilang kangen atau apa kek." Peira pura-pura merajuk.


"... ..... ... .... .... ... ... .... .." balas Fajar.


"ha ha, iya iya. Aku cuma bercanda." sahut Peira.


".... .... .. ... ... ...."


"iya, iya. Iya udah iya. Daah." Peira mengakhiri panggilan itu, diapun beranjak dari duduknya, dia harus melakukan apa yang Fajar perintahkan tadi, sebagai calon istri yang baik, Peira harus menurut apa kata calon suaminya, bukan?


Dan ini yang membuat Peira semakin mencintai Fajar, dia sangat baik terhadap semua orang dan selalu perhatian dengan hal-hal kecil disekitarnya.


***


"permisi!" Peira berteriak didepan kontrakan Ikmal, tangannya tidak bisa mengetuk pintu karena memegangi benda yang besar dan berat.


Peira dengan terpaksa harus mengulang teriakannya beberapa kali karena tidak ada respon dari dalam sana.


Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya keluar juga si penghuni kontrakan itu.

__ADS_1


"astaga! Jam segini loe baru bangun tidur? Ckck." Peira berdecak saat melihat Ikmal keluar sambil meregangkan otot-ototnya sambil menguap, wajahnya juga terlihat kusut.


"ehh, Pei. Sory, gue ketiduran habis makan makanan dari loe tadi." ucap Ikmal sambil cengengesan.


" ini ambil, berat tau!" Peira memberikan kasur lipat yang sedari tadi dia bawa, Ikmalpun dengan cepat mengambilnya.


"ini kasur buat gue?" tanya Ikmal.


"loe bisa mengembalikannya kalau loe udah bisa membeli kasur sendiri." jawab Peira.


"pasti Fajar yang menyuruh loe." ucap Ikmal.


"Ya, loe benar." sahut Peira.


"kok loe bisa nurut banget sih sama dia?" tanya Ikmal penasaran.


"Ya karena dia adalah calon suami gue. Jadi gue harus nurut sama semua apa yang dia bilang." jawab Peira.


Ikmal tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Peira.


"kenapa loe tertawa? Memangnya ada yang lucu?" tanya Peira.


Ikmal berusaha mengendalikan diri untuk berhenti tertawa.


"nggak nggak, sory. Malahan tu ya, gue berterimakasih banget sama Fajar, sama loe juga. Kalian mau membantu gue pas gue lagi susah seperti ini. Padahal sebelum ini kita nggak pernah akrab, kan?" wajah Ikmal berubah menjadi serius, Peirapun berusaha menyamainya.


"Fajar orangnya memang baik, dia mau membantu orang yang lagi kesusahan. Ya, walaupun hidupnya sendiripun susah." Pelita tersenyum getir.


"loe jangan sedih Pei, Fajar itu pekerja keras, pasti kalau udah tiba saatnya nanti, dia akan menuai hasil dari kebaikan yang dia tanam." ucap Ikmal sambil tersenyum.


Astaga!


Peira menatap Ikmal dengan tatapan yang sulit diartikan. Kenapa semakin lama Peira berbincang dengan Ikmal, laki-laki itu justru semakin mirip dengan Fajar. Kata-katanya, sikapnya, bahkan senyumnya.


"hey!" Ikmal menjentrikkan jarinya tepat didepan wajah Peira yang tertegun sambil menatapnya. Peira tersadar dari lamunannya.


"emm, sory." ucap Peira gelagapan sambil buang muka ke sembarang arah.


"loe kenapa melamun Pei?" tanya Ikmal.


"gue nggak melamun kok, ya udah, kalau perlu apa-apa, loe bisa bilang sama gue atau ibu gue." jawab Peira.


***


...Tinggalkan jejaknya yaa readers, berupa like, komentar atau rete bintang 5, jangan jadi pembaca gelap, author nggak bisa lihat kalian. Hihihi...

__ADS_1


__ADS_2