
Ini kelanjutannya...
"Pei, akhirnya loe datang juga." ucap Ikmal kegirangan saat melihat kedatangan Peira.
"to the point aja! Loe mau bicara apa?" tanya Peira berusaha bersikap biasa saja, menyembunyikan rasa kecewanya.
"plis Pei, jangan bersikap seperti ini. Gue nggak tahan lagi loe musuhi gue." ucap Ikmal.
Peira terdiam.
"...rasanya hampa ketika kita dijauhi oleh orang yang kita sayang Pei." sambung Ikmal dengan sendunya.
"maksud loe apa?" tanya Peira.
"gue sayang sama loe setelah waktu yang kita lewati selama dua bulan kemarin. Plis jangan hindari gue lagi pei." Jawab Ikmal.
"itu bukan sayang, tapi rasa kasihan." ucap Peira.
"bukan, bahkan perasaan ini lebih dari sayang. Gue cinta loe Pei." ucap Ikmal dengan mantap.
Peira tercengang, benar-benar tercengang.
"loe gila! Gue cewenya Fajar, teman loe sendiri." Peira menyoroti Ikmal dengan tatapan tajam.
"gue tau Pei, tapi gue nggak bisa bohongin perasaan gue. Gue tertekan dengan perasaan cinta ini." ucap Ikmal, ditatapnya lekat-lekat mata Peira meskipun Ikmal tidak sanggup melihat kemarahan dimata perempuan itu.
"gue nggak menyangka loe tega menghianati Fajar. Oh, gue tau sekarang, jadi selama ini loe temenan sama Fajar karena mau menikung dia dari belakang? Iya kan?" tanya Peira menggebu-gebu.
Bukannya dia terharu setelah Ikmal menyatakan cinta kepadanya, dia malah marah-marah tanpa sebab.
"gue tulus temenan sama Fajar, cuma cinta itu datang tanpa gue sadari. Mungkin apa yang dikatakan pepatah memang benar, cinta ada karena biasa bersama." ucap Ikmal dengan tidak tau malunya.
Rasa malunya sudah dia buang jauh-jauh sehingga dia sudah tidak memiliki rasa malu lagi.
Peira geleng-geleng kepala tak percaya.
"loe bener-bener nggak waras." ucap Peira.
"oke, gue paham kalau gue nggak bisa miliki loe Pei, gue cuma mau mengungkapkan perasaan gue aja sama loe. Dan gue mau tau, apa loe juga punya perasaan yang sama seperti gue?" tanya Ikmal.
"gue nggak mungkin menghianati Fajar." jawaban Peira terdengar ambigu di telinga Ikmal.
"itu nggak menjawab pertanyaan gue Pei, tapi dari jawaban loe tadi, gue menyimpulkan kalau loe juga cinta sama gue." ucap Ikmal.
Peira terperangah, kenapa Ikmal bisa menyimpulkan seperti itu? Kenapa juga Peira tidak menyangkal pertanyaan Ikmal tadi?
Bodoh, bodoh!
Peira merutuki dirinya sendiri.
"ayo bilang Pei!" seru Ikmal, tatapannya berubah menjadi tajam, seperti tatapan Peira tadi kepadanya.
Semuanya berbanding terbalik, sekarang Peira yang merasa ketakutan dengan tatapan Ikmal ketika laki-laki itu mendesaknya untuk berbicara.
__ADS_1
"bilang apa?" Peira perlahan mundur saat Ikmal maju satu langkah mendekatinya.
"bilang kalau loe juga cinta sama gue!" jawab Ikmal.
Peira semakin gugup saat Ikmal semakin mendekat kearahnya, lagi-lagi Peira harus mundur untuk menghindari tubuh Ikmal.
"gue nggak cinta sama loe!" ucap Peira.
Ikmal menyeringai, wajahnya berubah menjadi mengerikkan ketika Peira melihatnya. Peira semakin merasa ketakutan.
Ikmal kembali melangkah mendekat kerah Peira, semakin dekat, Peira semakin menghindar, dia terus berusha mundur.
Sial! Sekarang dibelakangnya sudah tidak tersedia lagi ruang, punggungnya sudah menyentuh tembok sehingga tidak bisa lagi mundur dan menghindari Ikmal.
Peira menelan salivanya manakala Ikmal yang terus mendekat, bahkan sampai Ikmal memangkas jarak diantara mereka. Pergerakan Peira terkunci diantara tembok dan tubuh Ikmal.
Ikmal menempelkan telapak tangannya di tembok, di kedua sisi kanan dan kiri kepala Peira, membuat Peira semakin tidak bisa berkutik.
Jantung Peira berdebar dengan sangat cepat saat melihat wajah Ikmal dalam jarak sedekat itu, sampai Ikmal bisa dengan jelas mendengar debaran itu.
Peira menutup matanya rapat-rapat, dia sudah tidak sanggup melihat sorotan mata Ikmal yang tajam itu.
"oke kalau loe nggak mau mengakuinya. Dan gue bisa terima kalau loe nggak bisa gue miliki selamanya, tapi plis Pei, izinkan gue memiliki loe sebentar aja." ucap Ikmal.
Peira bisa dengan jelas mendengar kalimat Ikmal meskipun matanya tertutup. Ya karena yang mendengar adalah telinganya, bukan matanya.
Peira merasakan sesuatu menyentuh keningnya, itu adalah kening Ikmal yang sengaja dia satukan.
Ikmal semakin nekat, tanpa mendapat persetujuan dari Peira, dia mendaratkan bibirnya pada bibir Peira yang gemetar.
Entah apa yang membuat Peira menangis, mungkin ketika dia merasa menjadi perempuan yang tidak memiliki pendirian, dia tidak bisa menjaga hati untuk kekasihnya.
Ikmal ******* habis bibir Peira yang terasa begitu manis, Ikmal benar-benar tidak dapat menahan hastarnya kepada perempuan yang dia cintai saat itu.
Sedangkan Peira hanya diam saja, semua ini seperti nyata tidak nyata dia rasakan.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menyaksikan pemandangan yang menyesakan dada si pemilik mata itu sendiri. Ya, dia adalah Fajar.
"Pei!" ucap Fajar lirih. Suaranya terdengar lemah, sangat memilukan.
Fajar ingin sekali tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya sekarang, tapi betapa bodohnya Fajar jika masih saja mau mempercayai kalau mereka tidak berselingkuh di belakangnya.
Sungguh, saat itu hati Fajar patah sepatah-patahnya.
Peira tersadar saat mendengar seruan kekasihnya itu, dia membuka matanya lebar-lebar, bahkan bibir Ikmal masih menempel kuat dibibirnya.
Dengan cepat Peira mendorong tubuh Ikmal hingga hampir saja Ikmal tersungkur, beruntung Ikmal bisa menyeimbangkan pertahanan tubuhnya sehingga tidak terjatuh.
Ikmal tidak mendengar Fajar karena terlalu khusyu melakukan ******* pada bibir Peira, dia sangat kaget ketika Peira mendorongnya dengan kencang. Ikmal kecewa momen indah menurutnya itu harus berakhir dengan cepat.
"yang!" ucap Peira panik, air matanya kembali meleleh. Entah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi sangat cengeng.
Ikmal mengikuti arah pandangan Peira, terlihat Fajar berdiri mematung sambil menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Sedetik kemudan, sebuah senyuman terukir dibibir Fajar, senyum kekecewaan untuk kekasih dan sahabatnya itu.
Fajar merasa sudah tidak memiliki harapan lagi ketika melihat mereka berciuman, ciuman akan terjadi atas kehendak kedua belah pihak, berarti Peira juga menghendaki Ikmal menciumnya.
Fajar menyimpulkan kalau mereka saling memiliki perasaan satu sama lain, berarti untuk apa sekarang dia berada disana? Hanya mengganggu kesenangan mereka saja.
Ditengah kekecewaannya, Fajar masih bisa untuk menahan emosinya. Dia memilih untuk pergi tanpa ingin mendengar penjelasan dari Peira dan Ikmal.
"yang, tunggu!" seru Peira saat melihat Fajar berlalu.
Peira yakin kalau hati kekasihnya itu hancur, sama seperti hatinya. Dia mengejar Fajar yang semakin menjauh untuk memberinya penjelasan.
Ikmal hanya dia saja saat melihat Fajar pergi dan Peira yang mengejarnya. Dia tau kalau Fajar patah hati karena perbuatannya.
Terbesit rasa bersalah di hatinya.
"yang tunggu aku! Plis." Peira sedikit berteriak, Fajar tidak perduli, dia semakin mempercepat langkahnya.
Peira semakin gelisah, dia berlari kecil agar bisa mengimbangi langkah Fajar.
Dan...
Hap!
Peira meraih tubuh Fajar dari belakang, langkah Fajar terhenti saat itu juga.
Fajar memejamkan matanya untuk menikmati pelukan dari Peira, rasanya masih sama, hangat. Karena Fajar masih sangat mencintai perempuan itu. Hanya saja kenapa Peira tega berciuman dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuannya?
Punggung Fajar sekarang sudah basah akibat tangisan Peira, dia bisa dengan jelas merasakan itu.
"yang, kamu jangan pergi!" ucap Peira disela tangisannya.
"udahlah Pei! Balik lagi aja sama dia! Aku nggak apa-apa kok." ucapan Fajar semakin menyayat hati Peira.
Fajar berusaha untuk tetap bersikap lembut kepada Peira meskipun dalam kekecewaan.
"nggak mau yang, aku mau sama.kamu." ucap Peira, tangisnya semakin menjadi-jadi.
"pergilah Pei!" seru Fajar penuh penegasan, dia melepaskan tangan Peira dari perutnya, tapi tidak bisa. Peira malah mempererat pelukannya.
"aku nggak mau, aku cinta sama kamu." ucap Peira histeris.
Fajar menarik nafas panjang, dia harus membuat keputusan sekarang, meskipun hatinya harus tersakiti. Dia memantapkan hatinya, keputusan yang dia ambil sangatlah berat.
Di lepaskannya tangan Peira dengan paksa, sehingga pelukan itu terlepas begitu saja. Peira terperangan.
Tanpa sedikitpun menoleh kebelakang, Fajar melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Peira.
Peira menangis sejadi-jadinya ketika melihat punggung Fajar yang menjauh. Dia tidak terima kalau kisah cinta idahnya bersama Fajar harus berakhir secepat ini.
"yang, jangan tinggalin aku." tangisan Peira terdengar begitu memilukan setiap telinga yang mendengarnya.
----------
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan coretan-coretan kalian dikolom komentar yaa readers...