
Lanjuut...
Sore itu, Peira dan Fajar menemui Ikmal dikedai kopi tempatnya bekerja, sekarang ketiganya sudah berada disalah satu meja pengunjung. Ikmal sengaja meminta izin untuk berbicara dengan mereka kepada atasannya.
Fajar belum mengatakan sepatah katapun, sedangkan Peira menatap Ikmal dengan tatapan tajam ala-ala pemburu yang siap menerkam mangsanya.
Ikmal yang mendapat tatapan seperti itu jadi merinding sendiri, dia merasa aneh dengan sikap diamnya mereka. Tidak seperti biasanya.
Diantara ketiganya tidak ada yang berniat untuk membuka suara di susasana yang terasa begitu tegang ini.
Peira mulai muak dengan situasi yang sedang dia hadapi.
BRAK !!
Peira menggebrak meja dihadapannya dengan sangat keras, kalau meja itu bisa bicara, mungkin dia akan meringis kesakitan.
Ikmal dan Fajar tersentak kaget dengan tindakan Peira, bunyi keras yang dihasilkan saat suasana hening bisa saja membuat kedua laki-laki itu mengalami serangan jantung mendadak.
"apa maksud loe bohongin kita?" tanya Peira dengan nada tinggi, terlihat sekali dari sorot matanya kalau dia sangat marah.
Fajar menyentuh pundak Peira dan mengusapnya beberapa kali, dia menggeleng pelan mengingatkan Peira untuk bersikap tenang.
Peira yang memahami kode dari Fajar berusaha untuk mengontrol emosinya.
"maskud loe apa Pei?" alih-alih menjawab, Ikmal malah balik bertanya. Dia terlihat bingung dengan Peira yang tiba-tiba memarahi dirinya.
"udahlah Mal, loe ngaku aja. Kita udah tau kalau sebenarnya keluarga loe nggak bangkrut, kan?" ucap Fajar, dia masih bersikap tenang, tidak seperti Peira yang berlebihan.
Ikmal membulatkan matanya, dia kaget, kenapa mereka harus tau secepat ini? Haruskah Ikmal mengakhiri kebohongan yang terasa begitu indah ini?
"kalian tau dari mana?" tanya Ikmal dengan wajah yang merah menyala, seperti seorang perampok yang dipergoki sedang mencuri.
"nggak penting kita tau dari mana, gue kecewa sama loe Mal, gue pikir loe memang lagi kesusahan. Sungguh, kebohongan yang hakiki.Kenapa gue bisa sebodoh itu?" ucap Peira dengan suara yang lebih pelan, tapi tidak menghilangkan kesan kemarahannya.
"maafin gue Pei, Jar. Selama ini gue udah bohongin kalian. Apa yang kalian bilang memang benar, keluarga gue sebenarnya memang nggak bangkrut." akhirnya Ikmal memilih untuk jujur. Toh untuk berbohong lagipun rasanya sudah tidak berguna.
"tuh kan yang, semua udah jelas, kan?" ucap Peira menatap Fajar, berharap kekasihnya itu juga bereaksi seperti dirinya.
Tapi Fajar sama sekali tidak terpengaruh.
"tapi gue melakukan itu bukan tanpa alasan Pei." ucap Ikmal mencoba membela diri, dia tidak tahan disudutkan terus oleh orang yang dia cintai.
__ADS_1
"jadi apa alasan loe? Bicaralah! Biar nggak ada kesalah pahaman lagi diantara kita." seru Fajar.
"oke, sebenarnya gue hanya mau mengetes orang-orang disekitar gue. Terutama Airin dan teman-teman gue. Gue mau tau, apa mereka care sama gue setelah mereka tau gue jatuh miskin?" ucap Ikmal kemudian, dia menarik nafas panjang sebelum kembali berkata.
"...awalnya gue optimis kalau mereka pasti mau terima gue meskipun gue udah nggak punya apa-apa. Tapi ternyata dugaan gue salah. Temen-temen gue malah menjauh, mereka nggak perduli lagi sama gue. Loe tau sendiri kan Jar, waktu gue minta tinggal dirumah si Zian, dia malah banyak alasan." sambung Ikmal.
"...dan Airin, dia putusin gue karena gue jatuh miskin, dia jalan sama cowo lain dihadapan gue. Mereka jadian sehari setelah putus dari gue."
Peira mencoba untuk tidak percaya dengan penjelasan Ikmal, dia rasa yang diceritakannya itu sungguh tidak masuk akal.
Sedangkan Fajar, dia manggut-manggut sambil mendengarkan dongeng Ikmal.
"...gue nggak ada niatan sama sekali buat bohongin kalian, sumpah. Semua berjalan begitu aja, waktu loe merekomendasikan gue kontrakan, gue bingung harus nolaknya seperti apa. Sedangkan gue tau niat loe baik." Ikmal melirik Fajar.
"...dan dari kebohongan ini, gue sekarang tau, siapa aja orang yang tulus dan siapa aja yang mau berteman sama gue karena ada apa-apanya." ucap Ikmal.
"...gue sadar, gue udah banyak bohongin kalian. Tapi kalau boleh jujur, gue senang bisa kenal kalian, kalian menyadarkan gue tentang kerasnya kehidupan ini."
"oke, apapun alasan loe, sebaiknya loe kembali sama keluarga loe! Mereka mencemaskan keberadaan loe sekarang." ucap Fajar.
Ikmal mengangguk, diliriknya Peira yang malah terdiam setelah Ikmal menjelaskan panjang lebar.
"Pei, loe masih marah sama gue?" tanya Ikmal, tapi Peira malah buang muka tanpa menjawab.
"siapa yang mau jadi sahabat loe? PEMBOHONG!" ucap Peira ketus, dia sengaja menekankan suaranya di satu kata terakhir.
"waktu itu loe bilang kalau gue sahabat loe." balas Ikmal.
"gue RALAT kata-kata gue!" Peira berkata dengan penuh penekanan, membuat telinga yang mendengarnya merasa tidak nyaman.
"udahlah yang, nggak usah diperpanjang lagi masalahnya. Kita bisa memulai semuanya dari awal tanpa harus ada kebohongan." ucap Fajar bijak.
"thanks ya Jar, loe udah mau ngerti gue. Sebenarnya gue terinspirasi dari loe, gue kagum sama sifat pekerja keras loe. Dan gue berpikir apa gue juga bisa jadi seperti loe?" ucap Ikmal.
"nasib orang itu berbeda-beda Mal, nggak ada yang mau terlahir sebagai orang miskin. Tapi, ya inilah takdir gue. Gue coba menjalaninya dengan ikhlas. Gue harap, loe juga bisa menjalani takdir loe dengan sebaik mungkin."
***
Malam semakin larut.
Dengan berat hati, Ikmal pergi meninggalkan kontrakannya yang selama dua bulan terakhir menjadi tempatnya bernaung.
__ADS_1
Langkahnya terasa berat manakala mengingat semua kenangannya bersama Peira disana. Ketika Ikmal sakit, Peira yang merawatnya dengan telaten. Ketika Ikmal menangis, Peira suka rela meminjamkan bahunya dan mendengarkan curhan galaunya.
Ikmal pasti akan sangat merindukan semua tentang Peira ketika dia tidak tinggal lagi disana, diapun tidak yakin bisa dengan mudah bertemu perempuan itu lagi setelah kejadian ini.
Sifat konsisten, tegas dan keras kepala yang Peira miliki mungkin akan sedikit sulit untuk mau memaafkan kesalahan fatal yang Ikmal lakukan.
Seharusnya sejak awal Ikmal tidak melakukan kebodohannya itu, tapi diapun tidak menyangka kalau akhirnya akan serumit ini. Dia harus terjebak dengan perasaan cinta terlarang kepada kekasih orang.
Ikmal menoleh kearah rumah kontrakan peira, lampunya masih menyala, menandakan sang penghuni rumah masih terjaga.
Ikmal tersenyum pahit, dia pasti akan sangat merindukan sarapan bubur disana.
Semua kenangan itu terlalu berharga untuk dilupakan, tapi Ikmal bertekad untuk tidak melupakannya.
***
Hari-haripun berlalu.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tapi Peira sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Bahkan ketika membantu ibunya menyetrika, dia beberapa kali melakukan kesalahan. Untung saja pakaian yang disetrika tidak sampai gosong.
Entahlah!
Peira jadi pusing sendiri memikirkan bagaimana cara mengembalikan uang Ikmal dalam waktu dekat, gengsinya terlalu besar sehingga berambisi untuk cepat-cepat mengembalikannya.
Meskipun Peira yakin kalau Ikmal tidak mempersalahkan uangnya, bagi anak orang kaya seperti Ikmal, uang sebanyak itu pasti dia anggap sebagai receh.
Tempo haripun ketika Peira memberinya 1/ sekian dari uang yang Ikmal berikan kepada bos Toni, tapi Ikmal bersikukuh tidak mau menerimanya.
Alhasil, Peira meletakkan uang itu disembarang tempat. Entah Ikmal mengambilnya atau tidak, Peira tidak tau karena dia langsung pergi meninggalkan Ikmal waktu itu.
Aah! Memikirkan Ikmal membuat Peira semakin pusing, Peira menggaruk-garuk rambutnya asal.
Sementara itu, dirumahnya, Ikmalpun mengalami hal serupa, dia tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan semua tentang Peira, dia pikir seiring berjalannya waktu dia bisa melupakan kenangan bersama perempuan itu.
Nyatanya, semua berbanding terbalik. Bayangan wajah Peira selalu saja muncul dibenaknya. Ketika perempuan itu tersenyum, ketika dia menangis, dan terakhir kali Ikmal melihat Peira marah kepadanya.
Semua ekspresi wajah Peira terus saja menari-nari di pikirannya. Ikmal tidak dapat menepis bayangan itu dengan mudah, semakin Ikmal mencoba untuk menepis, justru bayangan wajah Peira semakin nyata dia rasakan kehadirannya.
Ikmal membuka galeri diponselnya, masih disimpannya foto-foto Peira yang sengaja dia unduh diakun sosmed milik perempuan itu, juga foto yang Ikmal ambil secara diam-diam.
Satu yang lebih menarik perhatian Ikmal, foto Peira yang sedang tersenyum diantara paket-paketnya. Foto pertama yang membuat Ikmal tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang perempuan itu.
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys, like, komentar, tip bintang 5, author nggak minta vote kok, karena kalau pembaca merasa novel ini perlu di vote, pasti pembacan akan vote sendiri tanpa diminta......