
Di part ini kita harus kehilangan Fajar, ya guys, huhu... RIF Fajar...
"Apaa? Fajar kecelakaan?" Gusar menjawab saat mendapat kabar buruk tentang kekasihnya.
Seketika ponsel terlepas dari genggaman tangannya, merasa pertahanan diri sudah runtuh, bahkan tenaga untuk menopang dirinya sendiripun seolah tidak ada lagi.
Lututnya bergetar hebat, dadanya terasa sesak, nafasnya tersengal. Matanya mulai memerah, cairan kristal itu mendesak untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Bukankah tadi mereka baru saja bertemu? Kenapa Peira harus mendapat kabar buruk seperti ini? Bagaimana keadaan Fajar sekarang? Pasti dia sangat merasa kesakitan disana.
Peira harus cepat-cepat pergi menemui kekasihnya itu dan memastikan kalau Fajar baik-baik saja. Terlihat seperti orang linglung, dia mencari kunci motor sambil marah-marah sendiri saat tidak menemukannya, marah kepada dirinya sendiri atas musibah yang dialami kekasihnya.
"Dimana sih?" Peira mencari kunci motornya dengan tidak sabaran, mengobrak-abrik isi nakas sambil menangis, kesal.
Bu Leni yang melihat Peira seperti itu nampak bingung, diapun menegur Peira yang terlihat kesal.
"Kamu kenapa Pei?" Tanya bu Leni khawatir.
"Kunci motor aku mana bu? Aku harus pergi sekarang." Ucap Peira sambil menggoncang bahu ibunya itu.
"Motor kamu kan sedang di pakai ayah Pei." Jawab bu Leni.
"Argh." Peira menjambak rambutnya sendiri frustasi, saking paniknya dia sampai lupa kalau motornya sedang dipinjam ayahnya.
"Suruh ayah cepet pulang sekarang." Menjawab gusar, bu Leni semakin cemas, apa yang terjadi sampai Peira bersikap tidak sabaran seperti ini?
"Kamu kenapa sih Pei, tenangkan diri kamu dulu, cerita ada apa sebenarnya?" Bu Leni mengelus Pundak Peira agar putrinya itu bisa sedikit tenang.
Peira mengusap wajahnya yang basah akibat menangis.
"Fajar kecelakaan bu, keadaannya keritis sekarang." Meleleh lagi air matanya yang tadi di hapus. Mengguncang lengan bu Leni sambil menangis.
"Apa? Fajar kecelakaan?" Bu Leni dan pak Bayu yang baru datang berujar bersamaan. Perhatiannya teralih kepada ayahnya, melakukan hal yang sama, mengguncang lengan pria baruh baya itu.
"Ayah, mana kuncinya? Aku harus pergi sekarang."
"Sebaiknya ayah antar ya Pei, kamu nggak mungkin bawa motor dalam keadaan panik seperti ini." Ucap pak Bayu.
"Ayahmu benar Pei, bahaya kalau kamu bawa motor sekarang." Ucap bu Leni.
Peira mengangguk cepat tanda setuju.
Sepanjang perjalanan, Peira terus saja mengutuk dirinya sendiri. Ternyata perasaan aneh yang dia rasakan sedari tadi adalah firasat buruk, kenapa dia sampai terlambat menyadari hal itu.
Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Fajar, karena bagaimanapun juga dia yang tadi mengizinkan Fajar untuk Pergi.
'Awas aja kamu yang, aku akan marahi kamu habis-habisan nanti, jangan harap kamu bisa lepas dari kemarahan aku.' Mengancam namun hatinya sangat gelisah.
"Lebih cepat lagi yah!" Seru Peira menepuk-nepuk pundak ayahnya.
Pak Bayu tidak menggubris perkataan Peira karena kecepatan motornya sulah melebihi batas maximum, dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan calon menantunya dan ingin segera sampai dirumah sakit.
***
Sementara itu, disebuah ruang IGD rumah sakit ternama dikota Bandung, tubuh Fajar terbujur kaku diatas kasur, otaknya masih bisa berpikir, rasa sakit yang teramat sangat membuat tubuhnya mati rasa, tidak bisa untuk sekedar membuka mata.
Namun air matanya terlihat menetes meskipun matanya terpejam, keadaan seperti ini sangat menyiksa baginya.
__ADS_1
Apa sekarang waktunya aku untuk pergi? Aku rela Tuhan, asal jangan beri lagi aku rasa sakit seperti ini, aku sudah tidak sanggup menanggungnya.
Tapi izinkan aku bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi sekalii lagi saja, aku ingin memastikan mereka bahagia setelah aku tiada, Tuhan.
Peira berlari diikuti Ikmal di belakangnya menuju ruang IGD setelah sebelumnya Ikmal menunggu Peira di lobi rumah sakit, sedangkan pak Bayu tidak sanggup mengejar mereka sehingga tertinggal.
Dari kejauhan, Peira melihat bu Fitri sedang menangis histeris dipelukan Vania, perasaannya semakin tidak menentu saat mendengar tangisan bu Fitri yang terasa menyayat hati.
Bu Fitri yang menyadari kedatangan Peira, langsung beralih memeluk calon menantunya itu.
"Fajar Pei." Hanya dua kata yang keluar dari mulutnya, air matanya yang lebih banyak berkata.
"Fajar baik-baik aja kan bu?" Tanya Peira meyakinkan dirinya sendiri. Bu Fitri semakin histeris, karena dia tau sendiri kalau keadaan Fajar sangat tidak baik-baik saja.
"Fajar pasti baik-baik aja Pei!" Ikmal menenangkan karena dia tidak melihat saat Fajar dibawa masuk kedalam ruang IGD, sedangkan Vania dan bu Fitri melihat dengan jelas kondisi mengenaskan yang dialami Fajar sehingga mereka hanya memiliki sedikit harapan untuk kesembuhan Fajar. Dan kalaupun nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mungkin bu Fitri Ikhlas menerimanya, karena dia lebih tidak tega saat melihat Fajar menderita sepanjang sisa hidupnya.
Dalam suasana tegang seperti itu, seorang dokter keluar dari ruang IGD diikuti oleh seorang perawat. Mereka langsung mengerumuni dokter itu, menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
"Dokter bagaimana keadaan Fajar, dia baik-baik saja, kan?" Tanya Peira penuh harap.
"Fajar akan sembuh kan, Dok?" Tanya Ikmal, bahkan dia harus meninggalkan Gio bersama pembantu tadi untuk bisa datang ke tempat ini, dia sangat cemas saat Peira menelfonnya sambil menangis-nangis memberitahu kondisi Fajar yang keitis.
Sedangkan bu Fitri dan Vania saling menggenggam tangan satu sama lain, pasrah dengan apa yang akan dikatakan dokter. Bahkan mereka sudah mendapat informasi sebelumnya mengenai kondosi Fajar yang semakin down.
Dokter itu menggeleng lesu, enggan menyampaikan namun harus tetap dia lakukan. Ikmal dan Peira berharap cemas menanti perkataan yang akan keluar dari mulut sang Dokter.
"Keadaan pasien sangat kritis, kemungkinan bertahan sangat tipis. Jika keluarga pasien ingin melihatnya untuk yang terakhir kali silahkan, mungkin ini yang terbaik. Juga lantunkan kalimat syahadat di telinganya agar mempermudah jalannya."
Duar!
Bagai disambar petir dimalam hari, rernyataan dokter itu membuat Peira, Ikmal, pak Bayu, bu Fitri dan Vania tercengang, bagaimana mungkin dia bisa bicara seperti itu sedangkan dia bukan Tuhan yang tau kapan nyawa seseorang akan dicabut.
Ikmal sekuat hati menahan perasaan sedih yang menyeruak di hatinya, sedih dengan kondisi Fajar, sedih juga melihat Peira seperti orang kesetanan menangis-nangis meratapi nasib kekasihnya.
Jika bisa, dia ingin memeluk Peira agar mereka bisa menangis bersama, tapi dia tidak bisa selemah itu, dia harus belajar kuat agar dia sendiri bisa menguatkan hati Peira yang rapuh.
"Udahlah Pei, lebih baik kita lihat kondisi Fajar didalam!" Ikmal menarik tangan Peira agar ikut masuk.
Merekapun masuk kedalam ruangan IGD, diikuti Dokter dan perawat tadi.
Hawa tidak enak langsung terasa kental memenuhi ruangan itu, Peira melihat tubuh kekasihnya terbaring lemah diatas kasur dengan banyak sekali selang yang menempel di tubuhnya. Matanya tertutup dengan rapat.
"Yang!" Tak kuasa, tangisnya pecah seketika, berlari menghampiri tubuh kaku itu dan memeluknya erat, tidak bisa membayangkan betapa besar rasa sakit yang Fajar rasakan, Peira juga seperti bisa merasakan kesakitan itu.
Terdengar suara yang tidak asing lagi ditelinga Fajar, lalu diikuti dengan suara langkah kaki beberapa orang yang semakin mendekat.
Isak tangis kemudian terdengar memenuhi seisi ruangan.
"Bangun yang, ini aku." Meraung-raung tak karuan, sentuhannya terasa hangat, bukan, itu adalah hangatnya air mata Peira yang menetes mengenai wajah Fajar.
'Jangan nangis!' Fajar berseru didalam hati.
Seperti mendapar kekuatan, mata Fajar perlahan terbuka, samar-samar melihat orang-orang yang dia sayangi berada di hadapannya. Fokusnya lalu tertuju pada sang kekasih yang memeluknya erat.
"Jangan nangis." Ucapnya, dengan susah payah dia menghapus pipi Peira yang basah dengan jarinya, bahkan perkataannya hanya bisa didengan oleh dia dan Peira saja.
"Kamu nggak bisa seperti ini yang, kamu jahat." Tangis Peira semakin pecah.
__ADS_1
"...Kamu harus sembuh yang, kita sebenar lagi akan menikah, kan?"
"Maaf aku ingkar janji Pei, tapi waktuku sudah habis, aku nggak sanggup lagi untuk bertahan." Suaranya semakin melemah.
"...Mal!" Matanya beralih mencari sosok sahabat yang selalu membuat hidupnya tidak tenang.
Ikmal mendekat, berusaha untuk tetap menunjukkan sikap tegarnya.
"Loe pasti sembuh Jar, loe orang yang tangguh, loe nggak bisa menyerah begitu aja. Dalam hidup loe, selalu loe habiskan dengan perjuangan, kan?" Ikmal memberi dukungan untuk Fajar agar bisa bertahan.
"Nggak Mal, ini waktunya gue buat pergi. Tolong jaga Peira, gantikan gue untuk nikahi dia, bahagiakanlah dia." Ucap Fajar.
"Nggak Jar, loe pasti sembuh. Kita bahagiakan Peira sama-sama." Akhirnya kristal bening itu meleleh juga, tidak sanggup lagi menahannya untuk tidak keluar.
"Nggak mau yang, aku maunya kamu." Peira terus menangis.
"Itu nggak mungkin Pei, Ikmal juga sangat mencintai kamu. Aku tau itu." Ucap Fajar.
"...Berjanjilah Mal!" Fajar mendesak, Ikmal nampak kebingungan, disatu sisi dia ingin melihat Fajar sembuh, tapi disisi lain itu seperti permintaan terakhir Fajar, tidak bisa untuk tidak menerimanya.
"Gue janji Jar, gue akan bahagiakan Peira buat loe."
Tangan kiri Fajar meraih tangan Peira, sedangkan tangan kanannya meraih tangan Ikmal, kemudian mempersatukan kedua tangan itu, Peira tidak terima akan hal itu, dia masih berharap akan kesembuhan Fajar.
"Ini nggak lucu yang, kamu pasti akan sembuh." Peira melepaskan tangannya dari Ikmal dan Fajar.
"Menikahlah dengan Ikmal Pei, maka aku akan tenang."
"...Nia." Beralih mencari adiknya, ternyata dia sedang menangis dipelukkan ibunya, tidak kuasa melihat kondisi sang kakak.
Vania dengan ragu mendekat.
"Berjanjilah akan menggantikan kakak untuk menjaga ibu dan adik-adik. Bu, jangan menangis, Fajar sayang ibu." Tangis Bu Fitri semakin pecah, bibirnya kelu hanya untuk sekedar berkata, hanya air mata yang menggambarkan isi di hatinya.
"Pasti sembuh, pasti." Peira berbisik ditelinga Fajar, mengelus kepala kekasihnya itu perlahan, Fajar tersenyum mendapat perlakuan lembut dari Peira, sentuhan yang selalu Fajar rindukan.
Terbuai, terlalu nyaman dimanja seperti itu, terhanyut ke alam yang lain, rasa sakitnya perlahan menghilang, bersamaan dengan jiwa yang terpisah dari raganya.
"Jangan tidur yang!" Peira mengguncang tubuh Fajar, namun tidak ada respon.
"Mal, bangunkan Fajar Mal!" Peira mendesak Ikmal.
Ikmal menelan salivanya kasar, menempelkan jari telunjuknya didepan lubang hidung Fajar, tapi tidak merasakan hembusan nafas. Menggeleng, menyadari jika Fajar telah tiada.
"Kenapa Fajar nggak bangun Mal?" Tanya Peira panik.
Dokter yang menangani Fajar tadi mendekat, memeriksa denyut nadi, nihil, Fajar memang sudah tiada.
"Inalillahi, pasien sudah meninggal." Dokter berujar, membuat semua orang histeris terutama Peira.
"Nggak mungkin, kita sebentar lagi akan menikah, nggak mungkin Fajar meninggalkan aku." Peira terus mengguncang tubuh kaku Fajar, memeluknya lalu menciumnya, berharap Fajar akan kembali bangun dan balas memeluknya.
"Kamu jahat yang, kan aku udah bilang sama kamu jangan narik ojek online lagi. Seperti ini kan jadinya, kamu ngeyel, kamu susah dibilangin yang, kamu jahat!" Lelehan air mata Peira membasahi jasad Fajar. Seperti orang tidak waras berteriak-teriak memanggil orang yang telah mati.
__ADS_1
Ayo like, komen,rate bintang 5 nya guys, saran dan kritik juga author perlukan...