
Lanjut yuk guys...
Ikmal menepikan motor scoopy milik Peira tepat di depan gerbang kampus, kemudian turun setelah menyimpan helm dibagian depan motor itu, Peira bergeser kebagian kemudi mengambil alih posisi Ikmal.
"thanks ya Pei, duit gue nggak jadi keluar dompet deh, hehe." ucap Ikmal sambil cengengesan.
"gue nggak yakin dompet loe ada isinya. Haha." sahut Peira ikut tertawa.
"ada, cuma duit gue gambar angklung semua. Haha." merekapun tertawa beriringan.
"ya udah, gue masuk sekarang ya. Jangan lupa makan siang nanti!" ucap Ikmal.
"siap bos." sahut Peira.
"semangat!" Ikmal mengacungkan jempolnya, Peira tersenyum menyeringai melihat semangat Ikmal yang begitu membara pagi ini.
"semangat!" Peira menirukan gaya Ikmal tadi dengan senyuman aneh yang dia perlihatkan, aneh melihat mood Ikmal yang berubah 180°.
"by!" Ikmal melambaikan tangannya sambil berjalan mundur memasuki gerbang kampus.
"by!" Peira membalasnya dengan lambaian tangan juga.
Tanpa disadari, sepasang mata sedari tadi memperhatikan keakraban mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh, hanya saja Ikmal dan Peira tidak menyadari keberadaan seseorang itu.
Sampai akhirnya orang itu menghampiri Peira setelah merasa yakin Ikmal sudah pergi.
"sejak kapan loe deket sama dia?" ucap orang itu yang tidak lain adalah Airin.
Peira yang hendak menyalakan mesin motornya, kembali menarik kunci dari lubangnya.
Dia melihat Airin yang saat ini ada dihadapannya sambil melipat tangan di dadanya, wajahnya terlihat sangat masam menurut Peira.
"apa loe bicara sama gue?" tanya Peira tidak yakin.
"loe pikir gue lagi bicara sama sandal?" tanya Airin kesal.
"apa maksud loe?" tanya Peira juga ikut kesal, karena secara tidak langsung Airin menganggapnya sandal yang selalu diinjak-injak.
"ternyata dia cepat sekali move on dari gue yaa. Tapi kenapa dia harus lari ke loe? Apa nggak ada perempuan lain yang lebih selevel sama gue? Memalukan sekali." ucap Airin.
'cih! Sombong sekali dia.' batin Peira.
"...tapi ya wajar juga sih, karena sekarang derajat kalian itu sama. Mana mungkin perempuan sekelas gue ada yang mau sama dia. Meskipun dia tampan, tapi nggak ada perempuan yang tahan diajak hidup susah." sambung Airin.
"loe tau nggak sih Rin? Ikmal itu cinta banget sama loe, kemarin aja dia sampai sakit gara-gara loe putusin. Ikmal sampai nangis-nangis, ternyata karena perkataan loe bener-bener menyakiti hati dia." ucap Peira yang sudah tidak tahan mendengar hinaan dari Airin.
"dan apa loe tau? Gue udah dapat laki-laki lain yang lebih dari Ikmal. Gue sarankan loe kalau mau hidup senang, carilah laki-laki yang kaya, jangan Ikmal, dia udah nggak punya apa-apa." ucap Airin.
"sinting loe Rin! Gue nggak menyangka ternyata loe sematre itu." ucap Peira.
__ADS_1
"jangan muna deh loe. Semua perempuan itu pasti menginginkan laki-laki yang tampan dan tajir. Gue yakin loe juga sama seperti gue." ucap Airin.
"sory, gue nggak seperti itu ya. Gue jamin suatu hari nanti, loe akan menyesal Rin udah menyakiti Ikmal yang tulus cinta sama loe." ucap Peira.
Airin tertawa menyeringai mendengar perkataan Peira.
"apanya yang perlu disesali? Kalau gue udah mendapat laki-laki yang lebih segalanya dari dia." ucap Airin.
"terserah apa kata loe deh Rin, tapi yang jelas, Ikmal beruntung bisa cepat terlepas dari belenggu cinta loe. Ikmal orang baik, dia pasti mendapat perempuan yang tentunya lebih baik dari loe!" ucap Peira.
Airin tersenyum sinis.
***
Siangnya, Fajar menemui Peira dikantor pusatnya. Dia menyempatkan diri untuk makan siang bersama kekasihnya itu ditengah kesibukannya, dia sangat merindukan Peira.
"yang, kamu tau nggak kenapa kemarin Ikmal sampai sakit sepeti itu?" tanya Peira.
"nggak tau Pei." jawab Fajar.
"aku nggak tanya sama kamu, tapi aku lagi ngasih tau kamu." ucap peira.
"oh, ya maaf. Memangnya kenapa Ikmal bisa sampai sakit?" tanya Fajar.
"beberapa hari yang lalu, Airin memutuskan hubungan mereka. Ditambah lagi malam hari sebelum dia sakit dia pulang kerja sambil hujan-hujanan." jawab Peira.
"kenapa Ikmal nggak cerita sama aku ya?" tanya Fajar.
"maka dari itu Pei, kita harus berusaha untuk selalu ada untuk dia. Kita harus membuat dia nggak merasa sendirian. Kamu janji sama aku ya, untuk selalu bantu Ikmal." Fajar mulai meraih tangan Peira.
Peira mengangguk tanda setuju.
***
Malam harinya, Ikmal mengunjungi kontrakan Peira, dengan senyum yang mengembang, dia mengetuk pintu dihadapannya.
Tak berselang lama, Peirapun muncul dari balik pintu, alisnya mengerut saat melihat Ikmal berdiri dihadapannya.
"mau apa loe kemari?" tanya Peira bingung.
"mau main, memangnya nggak boleh ya?" jawab dan tanya Ikmal.
"kenapa loe nggak kerja?" tanya Peira seperti mengintimidasi.
"gue izin pulang setengah hari?" jawab Ikmal.
"kenapa? Apa loe sakit lagi?" tanya Peira ketus tapi tidak menghilangkan kesan perhatiannya.
Ikmal tersenyum simpul tanpa menjawab.
__ADS_1
"terus itu apa yang loe bawa?" tanya Peira sambil melirik sinis kearah box kecil yang Ikmal pegang sedaritadi.
"astaga Pei, kenapa hobi mengintrogasi loe harus kambuh sekarang?" tanya Ikmal.
"ada tamu kok nggak diajak masuk sih Pei?" tanya bu Leni yang tiba-tiba datang.
"iya nih bu, saya sampai pegal berdiri disini." ucap Ikmal.
"dasar tukang ngadu!" umpat Peira.
"sebenarnya saya mau ajak Peira sama ibu untuk makan kue lapis ini sama-sama. Nggak enak kalau makan sendirian." ucap Ikmal kemudian.
Skip...
Kini ketiganya sudah duduk berhadapan dilantai beralaskan karpet bulu itu, Ikmal melihat banyak sekali bahan-bahan untuk berjualan besok berserakan disana.
Peira menatap Ikmal dan kue lapis itu bergantian, sedaritadi alisnya terus mengerut. Dia tau kalau harga kue lapis itu lumayan mahal, itu adalah salah satu kue lapis terkenal dikotanya.
"kenapa dilihat aja? Ayo makan!" seru Ikmal.
Merekapun akhirnya memakan kue lapis itu.
"aduh, ibu sampai lupa. Tadi ibu keluar mau beli merica. Sebentar ya nak Ikmal, ibu tinggal dulu. Takut keburu tutup warungnya." ucap bu Leni.
"iya bu." sahut Ikmal.
Bu Lenipun pergi meninggalkan Ikmal dan Peira, pintunya sengaja tidak dia tutup karena masih ada Ikmal disana.
Peira menatap Ikmal penuh curiga, dia masih mencoba mengatur nafas untuk menyerbu Ikmal dengan pertanyaan, sedaritadi dia sudah tidak tahan ingin mengintrogasi Ikmal.
"kenapa loe terus melihat gue seperti itu?" tanya Ikmal yang menyadari tatapan aneh Peira sedari tadi.
"loe punya duit dari mana beli kue semahal ini? Gue tau loe belum gajian" tanya Peira dengan tatapan yang dibuat setajam mungkin.
Ikmal terlihat kikuk, lagi-lagi dia binging harus menjawab apa, Pertanyaan Peira selalu saja menyudutkannya.
"jujur aja Mal, apa ada sesuatu yang loe sembunyikan dari gue?" tanya Peira.
"loe bicara apa sih Pei?" tanya Ikmal.
"gue tau loe nggak punya uang, harusnya loe nggak memaksakan diri untuk membeli kue semahal ini. Lebih baik uangnya loe pakai untuk keperluan yang lain." ucap Peira.
"ya, nggak apa-apa Pei, sekali-kali ini. Gue lagi ada rezeki." jawab Ikmal.
Peira masih curiga, rezeki dari mana?
"udahlah! Ayo makan lagi! nggak usah berpikir yang aneh-aneh!" ucap Ikmal.
Peira masih merasa ada yang janggal. Ah! Tapi ya sudahlah. Mungkin Ikmal memang sedang mendapat rezeki, toh rezeki datangnya tidak pernah terduga.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca guys, berupa likee, komen atau tipp bintang 5....