
Peira menangis sejadi-jadinya ketika melihat punggung Fajar yang menjauh. Dia tidak terima kalau kisah cinta idahnya bersama Fajar harus berakhir secepat ini.
"yang, jangan tinggalin aku." tangisan Peira terdengar begitu memilukan setiap telinga yang mendengarnya.
Ikmal menatap Peira yang menangis histeris dengan tatapan sendu, lagi-lagi Ikmal membuat perempuan itu bersedih. Karena keegoisan dirinya, dua hati yang saling mencintai jadi terluka.
Ikmal tidak menyangka kalau Fajar akan datang ketika dirinya mencium Peira, tadinya Ikmal akan bertekad melupakan Peira setelah mengungkapkan isi hatinya dan membiarkan mereka hidup bahagia.
Tapi kenyataannya berlawanan, semuanya berubah menjadi hancur seketika. Setangguh-tangguhnya Fajar, hatinya pasti akan rapuh jika melihat kekasih yang sangat dicintainya bersama laki-laki lain apalagi sampai berciuman.
Ikmal semakin merasa bersalah terhadap Fajar atas kelakun bejadnya.
Di hampirinya Peira yang terkulai lemas ditanah, Ikmal sangat tidak tega melihat Peira bersedih seperti itu.
Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Peira berdiri. Tapi, satu tangan lain juga ikut terulur tepat dihadapan Peira.
Ikmal tersentak kaget saat menoleh kearah si pemilik tangan itu. Sedangkan si pemilik tangan hanya mengabaikan Ikmal dan fokus kearah Peira.
Peira yang tertunduk lesu seketika mendongakan kepala menatap kearah dua laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
Sejenak dia tertegun, beberapa detik setelahnya dia menghapus anakan sungai yang terbentuk di pipinya, sebuah senyumanpun reflek terukir dibibir mungilnya itu.
Peira menerima uluran tangan Fajar dan langsung berhambur kepelukan kekasihnya itu, mengabaikan tangan Ikmal yang masih setia tetulur.
Fajar menyambut pelukan Peira dengan hangat, Peira kembali histeris didalam pelukan Fajar.
"maafkan aku udah berpikir untuk meninggalkan kamu Pei." ucap Fajar. Dia mengusap-usap pucuk kepala Peira. Matanya sengaja dipejamkan untuk merasakan setiap cabikan yang melukai hatinya ketika mendengar tangisan Peira.
Sungguh, perkataan Fajar itu sangat menancap tepat diulu hati Peira juga Ikmal.
Bagaimana mungkin dia masih bisa berkata maaf setelah hatinya disakiti. Seharusnya dia marah, bukan? Tapi kenapa? Kenapa Fajar tetap bersikap lembut seperti itu? Terbuat dari apa hati laki-laki itu?
Ikmal semakin tidak bisa berkutik, dia mengutuki dirinya sendiri dan semua kebodohannya. Kenapa harus seperti ini akhirnya?
"jangan tinggalkan aku yang, aku sayang kamu. Huhu." ucap Peira sambil sesegukkan, pelukannya sengaja dia eratkan, takut-takut Fajar akan pergi lagi seperti tadi.
"nggak akan Pei, aku nggak akan tinggalkan kamu lagi, aku janji." balas Fajar.
"...jangan nangis lagi ya!" seru Fajar, dia mengusap pundak Peira agar perempuan itu bisa sedikit tenang.
Bukannya berhenti menangis, Peira justru semakin kencang saja menangis. Dia sangat menyesal, kenapa dia tidak bisa menghindari Ikmal tadi? Dan kenapa Peira hanya diam saja ketika Ikmal berbuat kurang ajar kepadanya?
Ikmal tertunduk lesu melihat keharuan diantara mereka, betapa bodohnya dia berharap kalau hubungan mereka akan berakhir dan Ikmal bisa memiliki Peira seutuhnya.
Sedangkan cinta yang mereka miliki sangatlah besar, ketika datangnya penggoda seperti Ikmal, mereka masih bisa membuktikan kalau mereka tidak bisa terpisahkan.
"aku bisa jelaskan semua yang, semua yang kamu lihat nggak seperti yang kamu pikirkan." ucap Peira.
Fajar menoleh kearah Ikmal, entah apa yang dia pikirkan tentang teman yang menusuknya dari belakang itu, hanya Fajar dan Tuhan yang tau.
__ADS_1
Fajar sama sekali tidak marah, matanya menatap Ikmal datar, hanya saja dia merasa kecewa.
"ya udah, kita bicara disana yaa!" ucap Fajar, Peira mengangguk setuju.
Diapun mengikuti langkah Fajar dan berjalan beriringan, di lingkarkannya tangan Fajar pada pinggang Peira, meninggalkan Ikmal yang masih berjibaku dengan semua penyesalannya.
***
Peira terus saja nempel pada Fajar, dia enggan melepaskan Fajar barang sedetik saja, dia sangat takut kalau Fajar akan pergi lagi.
Dengan bibir yang gemetar, Peira berusaha menceritakan semua yang Ikmal lakukan terhadapnya tadi.
Dari mulai Ikmal yang menyatakan cinta kepadanya, lalu Peira menolaknya, sampai Ikmal yang dengan lancang menciumnya.
"maafkan aku yang, aku nggak bisa menghindari dia tadi. Aku memang bodoh!" Peira mengakhiri kisahnya dengan penyesalan.
"ya, aku percaya Pei. Tapi, jangan diulangi lagi ya!" ucap Fajar.
"iya yang, aku janji. Mulai sekarang aku nggak akan temui dia lagi." balas Peira.
"nggak seperti itu juga, silaturahmi tetap harus dijaga." ucap Fajar.
Peira semakin mengeratkan pelukannya, rasanya sangat nyaman dan hangat, beruntung sekali Peira tidak jadi kehilangan sosok sempurna seperti Fajar.
Dia sedikit mengangkat wajahnya untuk menatap Fajar.
"kamu pikir aku nggak cemburu? Aku cemburu. Makanya tadi aku sempat berpikir untuk pergi. Kalau soal marah, kamu tau sendiri kan, aku paling nggak bisa marah orangnya." jawab Fajar.
"terus, apa yang membuat kamu berubah pikiran dan kembali lagi?" tanya Peira.
"karena aku sayang kamu, aku nggak tega lihat kamu nangis apalagi gara-gara aku. Maafkan aku ya." ucap Fajar.
Peira semakin menyesal, dia berjanji tidak akan pernah menyakiti lagi hati tulus milik Fajar.
Menurut Fajar, Ikmal hanya sebuah ujian didalam percintaannya bersama Peira. Dia tidak akan membirkan siapapun merusak hubungannya, Fajar akan membuktikan kepada Ikmal kalau dia bisa melewati ujian berat ini.
***
Hari minggu seperti ini, Peira masih saja harus berjibaku dengan pekerjaan mengantar paketnya.
Matanya terlihat membengkak akibat menangis semalam, tapi air matanya tidak sia-sia, Fajar tetap mau menerimanya setelah kesalahan fatal yang dia lakukan.
Tidak, ralat! Kesalahan fatal yang Ikmal lakukan kepadanya.
Peira jadi sangat benci terhadap Ikmal, dia hampir saja menghancurkan hubungannya dengan Fajar, beruntung Fajar memiliki cinta yang besar terhadap Peira sehingga kisah cinta mereka tidak sampai kandas ditengah jalan.
Tapi, Peira jadi senyum-senyum sendiri saat membayangkan Fajar mengganti bekas ciuman Ikmal di bibirnya kemarin malam. Hihi.
Sementara itu...
__ADS_1
Tak pernah aku bermaksud mengusikmu
Mengganggu setiap ketentrakam hidupmu
Hanya tak mudah bagiku lupakanmu
Dan pergi menjauh
Beri sedikit waktu agar ku terbiasa bernafas tanpamu
Sepenggal lirik lagu yang Ikmal putar melalui mp3 di ponselnya, bagaikan seruan isi hatinya saat ini.
Ikmal tersenyum getir menghadapi kenyataan kalau dirinya tidak bisa melupakan kekasih Fajar dengan mudah.
Semakin Ikmal coba untuk melupakan, semakin bayangan perempuan itu datang menghantuinya.
Sebenarnya, diapun tidak ingin melukai hati dua orang yang sangat berkesan dalam hidupnya itu. Tapi Ikmalpu tidak bisa mengabaikan seruan hatinya untuk tetap mengagumi sosok Peira, bahkan lebih dari rasa kagum.
Kalau bisa memilih, Ikmal lebih baik menjadi orang miskin seperti Fajar tapi memiliki kekasih yang tulus mencintainya. Daripada bergelimangan harta tapi hatinya hampa. Terbengkalai.
Ikmal selalu saja iri terhadap keberuntungan Fajar.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, itu membuat lamunan Ikmal membuyar. Ikmal baru ingat kalau bel rumahnya rusak kemarin dan belum sempat diperbaiki.
Ikmal mematikan m3 diponselnya dan berjalan menuju pintu utama rumahnya itu.
Krek!
Pintu yang semula tertutup rapat, kini sudah terbuka lebar.
Kedua pasang mata itu kembali dipertemukan.
----------
***Ini Fajar...
***Ini Ikmal...
Ini Peira***....
__ADS_1