
Lanjut yuk reader....
"apa sememalukan itu gue sekarang? Kenapa semua orang malah meninggalkan gue disaat gue nggak punya apa-apa?" Ikmal terlihat sangat sedih, entah kenapa rasanya seperti nyata dia rasakan.
"loe jangan berpikir seperti itu, loe pantas kok untuk dicintai. Dan loe juga jangan berpikir kalau loe sendirian, loe punya gue sama Fajar yang akan selalu support loe, loe sahabat gue Mal." Ucap Peira.
Ikmal masih enggan melepaskan Peira.
"udahlah Mal, perempuan seperti Airin nggak perlu ditangisi, mungkin dia bukan jodoh loe. Loe orang baik, pasti Allah udah menyiapkan jodoh yang baik juga buat loe." ucap Peira.
Ikmal semakin memperkuat pelukanya terhadap Peira, sampai-sampai perempuan itu merasa sesak nafas dibuat Ikmal.
Entah kenapa Ikmal semakin terguncang saat mendengar kalimat Peira, dia sama sekali tidak merasa sedih diputuskan oleh Airin, tapi kenapa dia justru mencemaskan Peira yang dimiliki Fajar?
'iya kalau ada Pei, setelah kejadian ini, gue nggak yakin akan ada perempuan seperti loe lagi didunia ini, yang mau menerima pasangan loe apa adanya.' ucap Ikmal didalam hati.
"...loe yang sabar ya Mal, anggap aja ini semua pengalaman dan pembelajaran, hidup nggak akan seru kalau berjalanan lurus-lurus aja. Jadikan pengalaman loe ini agar hidup loe jauh lebih baik lagi." ucap Peira, Ikmal melepaskan pelukannya, ditatapnya Peira dengan serius.
"Pei, apa akan ada perempuan lain yang mau diajak hidup susah?" tanya Ikmal.
Peira yang melihat reaksi Ikmal mengerutkan keningnya.
"barangkali ada, nggak semua perempuan memandang pasangannya dari segi materi, beberapa dari mereka akan tetap bertahan bersama pasangannya karena mereka merasa nyaman ketika pasangannya memperlakukan mereka dengan istimewa." ucap Peira sambil tersenyum saat memikirkan Fajar.
"apa loe lagi membicarakan loe sama Fajar?" tanya Ikmal yang seperti bisa membaca pikiran Peira.
"ehh, nggak sory. Udahlah Mal, loe jangan sedih-sedih lagi, loe harus membuktikan kalau hidup loe akan jauh lebih baik lagi setelah ditinggal Airin." ucap Peira sambil tersenyum.
Ikmal ikut tersenyum, tapi senyum getir, mengutuki dirinya yang berharap akan adanya Peira lain yang diciptakan untuk dirinya.
"makasih ya Pei, loe udah mau dengerin gue. Gue nggak tau kenapa gue jadi secengeng ini." ucap Ikmal.
Peira kembali tersenyum. Senyum yang membuat kegelisahan dihati Ikmal perlahan memudar.
Kini Ikmal sedik demi sedikit sudah menemukan jati dirinya dari perjalanan yang penuh dengan kebohongan ini. Tapi dari kebohongan ini, Ikmal dapat merasakan ketulusan hati dari orang yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
***
Malam berikutnya, hujan turun dengan sangat derasnya ditengah gelapnya malam ini. Hawa dingin menyeruak seolah jauh menembus kedalam tulang belulang siapapun yang masih beraktifitas diluar rumah.
Ikmal misalnya, dia sedang dalam perjalanan pulang kekontrakannya, didalam angkot itu hanya ada 3 orang penumpang, Ikmal semakin mengeratkan tangannya untuk mendekap dirinya sendiri manakala hawa dingin menerpa tubuhnya.
Saat keluar dari kedai tadi, hujan tidak sederas sekarang. Perjalanan singkat itupun berakhir.
__ADS_1
"kiri mang!" seru Ikmal, angkotpun berhenti tepat di gang menuju kontrakannya.
Setelah membayar ongkosnya, Ikmal berlari kecil, menerobos rinai hujan yang mengguyur tubuhnya. Jarak antara jalan raya dengan kontrakannya yang cukup jauh, membuat Ikmal menjadi basah kuyup.
Tapi Ikmal tidak memperdulikan hal itu, yang dia pikirkan hanya ingin cepat-cepat sampai di kontrakannya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur dan berbalutkan selimut.
Sejak sore tadi, dia merasa tidak enak badan, kepalanya juga terasa agak pusing.
Sementara itu, sepasang mata milik Peira memperhatikan Ikmal yang pulang bekerja sambil hujan-hujanan, tadinya dia hanya sekedar mencari angin karena merasa kegerahan setelah menyetrika banyak sekali pakaian.
Tapi Ikmal tidak menyadari keberadaan Peira disana.
'kenapa dia sampai hujan-hujanan begitu?' tanya Peira dalam hati. Dia terus memperhatikan Ikmal sampai laki-laki itu tidak terlihat lagi dari pandangannya.
Peira berpikir untuk mengirimi pesan kepada Ikmal, diapun segera masuk kedalam kontrakannya, dia merasa cuaca sudah mulai tidak bersahabat. Berada sebentar saja diluar, rasa gerahnya sudah berubah menjadi sangat dingin.
***
'loe kenapa hujan-hujanan? Loe nggak punya payung?'
Begitulah isi pesan WhatsApp yang Peira kirimkan kepada Ikmal.
Sementara itu, Ikmal yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, segera meraih ponselnya setelah terdengar nada tanda chat masuk.
'iya nih, gue nggak punya. Haha.'
Ikmal mentertawakan kebolehannya sendiri karena sudah menerobos hujan seperti yang pernah dilakukannya waktu kecil dulu.
'makanya beli! Loe punya makanan nggak?'
Ikmal semakin melebarkan senyumnya, ternyata pacar Fajar itu sangat perhatian kepadanya.
'ada mie instan, loe nggak usah khawatir ya!'
Apa iya Peira mengkhawatirkan Ikmal? Memang, semenjak kejadian Ikmal yang nangis-nangis saat diputuskan Airin, Peira menjadi merasa selalu mengkhawatirkan Ikmal.
Dia takut kalau laki-laki itu galau berkelanjutan karena tidak bisa move on dan nekat melakukan hal yang tidak-tidak.
'ya udah, kalau gitu makan terus istirahat'
'hahaha, siap bu bos'
Entah kenapa Peira jadi begini, dia tidak bisa membayangkan jika dirinya menjadi Ikmal, yang tadinya hidup mewah sekarang harus bekerja keras demi menyambung hidup, apalagi ditinggalkan oleh orang-orang terdekat nya.
__ADS_1
Pasti sangat berat menghadapi kenyataan seperti itu.
***
Keesokan paginya, matahari terlihat masih malu-malu menampakkan sinarnya, tanahpun masih basah akibat hujan semalam.
Peira keluar dari kontrakannya, terlihat beberapa orang datang untuk membeli bubur ayam ibunya, panasnya bubur itu pasti bisa menghangatkan tubuh orang-orang yang memakannya. Makan bubur memang sangat cocok dengan udara dingin di pagi ini.
Liriknya kursi kayu yang ada diteras itu, seperti ada yang kurang, biasanya setiap pagi Ikmal sudah nangkring disana untuk sarapan bubur dan menyapa Peira dengan senyuman hangatnya.
"bu, Ikmal udah kesini tadi?" tanya Peira pada ibunya yang sibuk melayani pembeli.
"belum Pei, sepertinya dia belum keluar dari kontrakannya." jawab bu Leni tanpa sedikitpun menoleh.
Peira memutuskan untuk menunggunya, mungkin saja sebentar lagi Ikmal akan keluar.
Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, sampai 15 menit, laki-laki itu masih juga belum menampakkan batang hidungnya.
Padahal Peira hanya ingin menawarkan tumpangan untuk Ikmal. Peira memutuskan menemui Ikmal langsung di kontrakannya, takut-takut dia ketiduran dan tidak ada yang membangunkannya.
Diliriknya kaca jendela yang masih tertutup gorden, Peira tidak bisa melihat apa yang terjadi didalam sana.
Peira dikejutkan ketika memutar handle pintu itu, ternyata tidak dikunci. Dengan ragu, Peira mendorong pintu itu perlahan sehingga terbuka, cukup untuk dia melihat keadaan didalam sana.
Terlihat Ikmal yang masih tidur dibalik selimut tipisnya beralaskan kasur lipat pinjaman dari dirinya.
Peira berpikir kalau Ikmal kesiangan. Dengan langkah mantap, Peira mulai mendekati Ikmal.
"Mal, loe nggak kuliah? Ini udah siang lho." ucap Peira sambil menggoyangkan tubuh Ikmal.
"eemmmhh." Ikmal hanya menggeliat, tubuhnya terasa sangat dingin, selimut tipis tidak membantunya merasa hangat.
Peira kembali mengguncang lengan Ikmal, Ikmal merasakan sebuah kehangatan saat tangan Peira menyentuh kulitnya. Ikmal dengan sigap menarik tangan itu sehingga tubuh si pemilik tangan itu terjatuh kedalam pelukannya.
Ikmal mendekap tubuh itu untuk mencari sebuah kehangatan. Sementara itu, Peira terperangah, dia sangat kaget ketika Ikmal kembali memeluknya.
Dia merasakan hawa panas saat berada didalam pelukan Ikmal.
"Mal, badan loe panas banget! Apa loe sakit?" tanya Peira, dia mendongakan kepalanya menatap wajah Ikmal, mata laki-laki itu masih terpejam.
...Nggak bosan-bosan author mengingatkan pembaca untuk memberikan like , komentar, saran, dan kritik....
__ADS_1