
Di hari minggu kemarin dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa menemui Ikmal, pagi ini Fajar mengirimi Ikmal pesan agar Ikmal menemuinya dihalaman belakang kampus.
Fajar menghampiri Ikmal yang ternyata sudah terlebih dahulu sampai di halaman belakang kampus, tempat itu jarang sekali dijamah oleh mahasiwa karena tempatnya yang terpencil dan sedikit tidak terawat. Sangat cocok untuk dijadikan tempat perbincangan rahasia mereka yang tidak ingin dikerahui oleh orang lain.
Ikmal menelan salivanya ketika melihat Fajar semakin mendekat kearahnya dengan air muka yang sulit dibaca, apa yang harus Ikmal katakan sekarang, gelisah, merasa tidak enak hati dan takut Fajar marah terhadapnya atau bahkan dia akan menghajar Ikmal habis-habisan.
Dan yang lebih parahnya lagi Ikmal membayangkan Fajar akan menggorok lehernya ditempat ini, meninggalkan mayatnya dan dia akan membusuk tanpa ada orang yang tau.
Pikiran Ikmal melayang kemana-mana, mencemaskan hal tidak masuk akal yang akan dilakukan Fajar.
"Oke, gue mau to the point aja. Apa maksud loe cium Peira kemarin?" Tanya Fajar tanpa basa-basi.
Ikmal terdiam, memilah-milih kata yang tepat agar Fajar tidak sampai tersinggung dan memancing amarahnya. Meskipun dia tau Fajar bukan orang pemarah, tapi hati orang siapa yang tau, bisa saja Fajar sedang mempersiapkan bom amarahnya yang bisa dia ledakkan kapan saja.
"Sory Jar, gue memang lancang. Tapi gue nggak bisa bohongi perasaan gue sendiri." Jawab Fajar sambil menunduk, dia masih punya ruang untuk menyembunyikan wajahnya disana.
"Jadi bener apa yang dibilang Peira, loe bjlang cinta ke dia dan dia nolak loe?" tanya Fajar dengan sorot mata tajam menatap Ikmal, Ikmal sedikit mengangkat kepalanya, ingin melihat air muka Fajar apa sudah ada tanda-tanda dia akan marah, tapi sepertinya tidak, Ikmal semakin tinggi mengangkat kepalanya.
"Iya Jar, tapi sumpah, gue nggak berharap bisa memiliki dia. Karena gue tau cinta dia ke loe itu terlalu besar, begitupun sebaliknya." Jawab Ikmal.
"Tapi gue nggak percaya, gimana kalau seandainya nanti loe melakukan hal itu lagi ke dia?" Tanya Fajar.
"Gue cukup tau diri kok Jar, gue akan berusaha melupakan dia, gue nggak mau jadi orang yang tau terimakasih." ucap Ikmal.
"Apa kata-kata loe bisa dipercaya? Apa jaminannya?" Tanya Fajar.
Ikmal mengerutkan keningnya bingung. 'memangnya dia pikir gue mau menggadaikan barang apa? Pakai harus ada jaminannya segala.' Batin Ikmal.
"...gue nggak mau ambil resiko sekecil apapun." Fajar merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan secarik kertas, menyerahkannya kepada Ikmal.
Ikmal menerimanya dengan gusar, mulai membuka kertas itu yang dilipat menjadi lebih kecil, memecah kepenasaranan yang baru saja menyeruak di pikirannya.
Mata Ikmal mebulat dengan sempurna saat membaca lampiran disecarik kertas itu. SURAT PERJANJIAN UNTUK TIDAK BERHARAP MEMILIKI PEIRA. Begitu.
Ikmal menoleh kearah Fajar, terlihat laki-laki itu sedang menahan tawanya melihat reaksi terkejut Ikmal. Ikmal mengalihakan pandangannya kepada surat perjanjian gila berkedok kertas itu.
SAYA YANG BERTANDATANGAN DIBAWAH INI...
NAMA : IKMAL FAUZI
TEMPAT DAN TANGGAL LAHIR : BANDUNG, 14 APRIL 1999.
MEMBUAT SURAT PERJANJIAN INI DALAM KEADAAN SEHAT WALAFIAT.
SAYA BERSUMPAH TIDAK AKAN PERNAH MENGUSIK LAGI HUBUNGAN PERCINTAAN ANTARA TEMAN SAYA, YAITU FAJAR MUHARON DAN PEIRA ALMAHIRA. JUGA BERSUMPAH TIDAK AKAN MENGULANGI PERBUATAN SAYA MENYATAKAN CINTA KEPADA PEIRA DAN TIDAK AKAN BERHARAP UNTUK MEMILIKINYA.
SAYA TIDAK AKAN MENGUNGKIT LAGI TENTANG PERASAAN SAYA KEPADA PEIRA SEHINGGA MEMBUAT PEIRA DAN FAJAR MERASA TERGANGGU DAN TIDAK NYAMAN DENGAN TINDAKAN SAYA ITU.
JIKA SAYA MELANGGAR SUMPAH SAYA, MAKA FAJAR MUHAROM SELAKU KEKASIH PEIRA ALMAHIRA BERHAK MEMBAWA MASALAH INI KERANA HUKUM DAN MENJEBLOSKAN IKMAL FAUZI KEDALAM SEL TAHANAN.
__ADS_1
DEMIKIAN SURAT PERJANJIAN INI SAYA AKHIRI DALAM KEADAAN SEHAT WALAFIAT DAN SESADAR SADARNYA TANPA ADA PIHAK MANAPUN YANG MEMAKSA ATAU MENGANCAM SAYA.
Bandung, 15 Oktober 2020.
Tertanda
IKMAL FAUZI
Saksi
FAJAR MUHAROM.
Fajar terkekeh geli melihat reaksi syok yang Ikmal perlihatkan, sangat lucu menurut Fajar.
Ikmal tidak habis fikir dengan jalan pikiran laki-laki tangguh yang ada di hadapannya saat ini, bisa-bisanya dia berpikir untuk membuat surat perjanjin macam itu.
Apalagi surat itu dilengkapi dengan materai 6000 yang artinya sah dimata hukum. Ikmal benar-benar sudah kalah telak sebelum mengibarkan bendera peperangan.
"Ini, tandatanganlah!" Fajar menaruh sebuah pena diatas kertas perjanjian itu, membuat Ikmal tidak mempunyai pilih lain selain mengikuti permainan Fajar.
Goresan pena di kertas itu bagai sebuah goresan yang menyayat di hatinya, dengan itu dia berarti harus melupakan seseorang yang di cintainya secara paksa.
Tapi biarkanlah, dengan begitu mungkin bisa membuat hati Fajar lebih tenang dan sedikit mengurangi rasa bersalah dihati Ikmal.
Fajar buru-buru mengambil surat yang baru saja ditandatangani Ikmal itu.
"Itu ide kreatif gue sendiri." Jawab Fajar sambil kembali melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam saku jaket.
"Ide kreatif dari Wuhan." Sahut Ikmal.
'Apa iya gue harus benar-benar melupakan loe Pei? Tapi cinta loe sama Fajar udah nggak bisa diragukan lagi.'
"Mulai sekarang loe jangan ganggu Peira lagi, biarkan dia hidup dengan tenang." Ucap Fajar.
"Tapi berjanjilah untuk tetap jadi sahabat gue, gue nggak mau kehilangan orang-orang baik seperti loe dan Peira." ucap Ikmal penuh harap.
Tentu saja dengan kebesaran hati Fajar, dia mengabulkan keinginan Ikmal itu. Tidak ada alasan untuk tidak menjalin hubungan yang lebih baik lagi untuk kedepannya.
Ya, begitulah Fajar. Dia akan mencari solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang sedang dia hadapi, sehingga tidak ada orang yang merasa tersakiti.
Tidak, Fajar tau kalau hati Ikmal tidak baik-baik saja dengan keputusan yang di ambilnya, hatinya pasti tersakiti. Tapi Fajar yakin jika lambat laun Ikmal bisa sembuh dari sakit hatinya seiring dengan berjalannya waktu, Fajar tau kalau Ikmal adalah laki-laki yang kuat, dia pasti akan mampu melewati masa-masa sulitnya ini.
***
Hari-haripun terus bergulir, meninggalkan arti tersendiri ketika terjadi hal berkesan di dalamnya.
Peira memantapkan hatinya untuk menceritakan semua masalah yang terjadi kepada keluarganya kepada Fajar, dia pikir kalau Ikmal saja sudah tau seluk beluk tentang kehidupannya, kenapa Fajar yang kekasihnya belum mengetahuinya?
Peira tidak memiliki alasan lagi untuk menyembunyikan semuanya, Peira yakin kalau Fajar mau menerima masalalunya.
__ADS_1
Saat jam makan siang, Peira menemui Fajar di tempat biasa dia mangkal bersama komunitasnya. Sebelumnya dia tidak mengabari Fajar karena ingin memberi sedikit kejutan, hihi.
Sepertinya berhasil, fajar yang sedang bergurau bersama temannya sangat terkejut dengan kedatangan Peira yang mendadak ini.
"Pei, kamu ada disini?" Fajar beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Peira.
"Iya yang, aku kangen sama kamu." Balas Peira, sengaja mengecilkan volume suaranya, malu kalau sampai didengar teman-temannya Fajar.
Fajar hanya tersenyum menanggapinya, sedangkan teman-temannya sudah terbiasa melihat pemandangan itu dan tidak menganggap orang berpacaran itu aneh.
"Aku bawa makanan nih yang, kita makan disana yuk!" Ucap Peira sambil menunjuk ke arah bawah pohon rindang yang waktu itu akarnya mereka duduki.
"Oh, ya udah. Ayo!" Fajar merangkul pinggang Peira dan berjalan beriringan.
Mereka terlihat menikmati makanan yang Peira masak tadi sebelum berangkat bekerja, rasa kantukpun menyerang manakala perut sudah terisi penuh dan merasa kenyang.
Hembusan angin sepoi-sepoi dibawah pohon rindang bagaikan membelai rambut Peira dan menyuruhnya terbuai dalam balutan mimpi.
Fajar terkekeh geli saat melihat Peira yang merem melek mempertahankan tubuhnya bersandar pada pohon.
"Kalau mau tidur, sini!" Ucap Fajar sambil menepuk pahanya.
Peira terperangah, dia langsung tersadar dari buaian angin yang menina-bobo dirinya.
"ehh, memangnya nggak apa-apa?" Tanya Peira ragu.
"Nggak apa-apa, sini!" Fajare membantu Peira untuk mendekat.
Akhirnya Peira menjatuhkan kepalanya dipaha Fajar.
Sial! Ini terlalu nyaman, apalagi saat tangan Fajar dengan lembutnya membelai rambut Peira. Hingga tanpa sadar Peira benar-benar terlelap.
Fajarpun mengalami hal yang sama, dia jadi terbawa suasana dan ikut terlelap, saking nyamannya.
Peira sampai lupa tujuan sebenarnya dia datang kemari untuk apa.
-----
***Sambil nunggu up, baca juga novelku yang sudah tamat yuk, judulnya TAKDIR MEMBAWA CINTA menceritakan tentang VABILLA AHSYANIZA, seorang perempuan baik hati yang selalu mendapatkan perlakuan tidak pantas dari ibu tirinya.
Ibu tirinya sangat membenci Billa karena dia adalah anak dari hasil hubungan gelap suaminya dengan perempuan lain.
Pertemuannya dengan laki-laki bernama Bisma membuat dia semakin gencar dihina ibu tirinya.
Sedangkan Bisma terus berusaha untuk masuk dalam kehidupan Billa tanpa tau apa yang akan di hadapi perempuan itu nantinya...
jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate bintang 5, kritik dan saran juga sangat dibutuhkan***...
__ADS_1