You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Kiara Arta Park


__ADS_3

"Bu, Peira berangkat ya!" Dengan tergesa-gesa, perempuan berumur 23 tahun itu menghampiri ibunya yang sedang melayani pelanggan membeli buburnya.


Ya, siapa lagi kalau bukan Peira, umur yang semakin bertambah banyak, semakin bertambah pula semangatnya untuk mendapat uang agar impiannya selama ini bisa segera tercapai.


Apa lagi kalau bukan menikah dengan Fajar. Itu prioritasnya sekarang, berhubung hutangnya pada bos Toni sudah lunas, jadi tujuan hidupnya mencari uang adalah demi bisa mengadakan resepsi pernikahan sederhana sesuai bajed yang mereka punya.


Sesederhana itu impian Fajar dan Peira, mereka sepakat kalau yang paling penting adalah bagaimana mereka menjalani biduk rumah tangga pasca menikah, bukan mengadakan resepsi mewah tapi membuat pusing setelahnya, lagipula mereka sadar betul kalau seberapa keras apapun mereka bekerja tidak akan bisa mengadakan resepsi mewah.


Bu Leni tersenyum hangat, sehangat matahari dipagi hari ini, sehangat semangkuk bubur yang dia buat, ehh! Melihat putri semata wayangnya yang selalu bersemangat mengawali hari.


"Iya Pei, hati-hati bawa motornya jangan ngebut-ngebut!" Bu Leni menyahuti, Peira mengecup pipi kakan dan pipi kiri ibunya beberapa kali. Membuat yang dicium jadi merinding sendiri, tidak biasanya anak ini bersemangat sampai-sampai menciuminya seperti itu.


"Ada apa sih Pei?" Tanya bu Leni bingung.


"Nggak kenapa-napa, lagi pengen aja cium sama peluk ibu." Setelah mencium, dia memeluk erat ibu favoritnya itu.


"Hah?" Bu Leni sampai terbengong.


"Ibu kok gemesin sih hari iniiiii." Peira beralih mencubit gemas kedua pipi ibunya yang tadi dia cium, membuat bu Leni semakin heran kepadanya.


"Udah Pei, sakit ini." Bu Leni mencoba menyingkirkan tangan Peira.


Akhirnya tangan Peira berhasil dia lepaskan, senyum yang semakin mengembang dibibir Peira. Bu Leni mengusap-ngusap pipinya yang terasa sedikit sakit.


"Kamu kenapa sih? Ayo cerita sama ibu!" Tanya bu Leni kemudian.


"Nggak kenapa-napa, Pei berangkat ya bu. Assalamualaikum." Masih dengan senyum yang mengembang Peira meninggalkan ibunya, melambaikan tangan.


Senyum yang tidak bisa diartikan oleh bu Leni, tapi bu Leni yakin kalau putrinya itu sedang bahagia sekarang. Hanya tidak tau apa alasannya.


Bu Leni menggeleng-gelengkan kepalanya melihat motor Peira yang semakin menjauh.


"Semoga kerja kerasmu selama ini akan segera terbayarkan nak."


***


Peira mengendarai motor scoopy kesayangannya dengan wajah berseri-seri, sungguh momen yang tidak disangka terjadi kemarin.


Bayangan wajah kekasihnya sampai terbawa kealam mimpi semalam. Setiap inci apa yang dikatakan oleh Fajar kemarin akan selalu melekat dalam ingatannya, dijadikan kenangan terindah dalam sejarah perjalanan cinta mereka.


FlashBack kemarin sore...


Fajar mengajak Peira kedestinasi wisata keluarga yang baru dibuka didaerahnya sepulang mereka bekerja. Peira sangat senang hingga lupa dengan rasa lelahnya setelah seharian bekerja.


"Yang, tempatnya keren banget." Ucap Peira saat motor Fajar berhenti diparkiran khusus yang disediakan untuk wisatawan.


Peira turun terlebih dahulu dan melihat sekitar, sedangkan Fajar membuka helm yang sedari tadi melekat di kepalanya.

__ADS_1


"Ini baru diparkiran, belum masuk kedalam. Apalagi kalau hari sudah gelap, air macur warna warni akan dinyalakan. Lampu-lampunya keren banget." Fajar ikut turun menyusul Peira.


"Oh ya? Sebentar lagi juga akan gelap kan yang. Aku nggak sabar mau lihat." Peira terlihat antusias.


Fajar hanya tersenyum melihat Peira kegirangan.


"...kok kamu tau sih yang, apa kamu pernah kesini sebelumnya?" Tanya Peira penuh selidik.


"Belum sih, hehe. Tapi banyak teman aku yang posting lagi disini. Tempat ini lagi viral lho." Jawab Fajar.


Peira dan Fajarpun berjalan beriringan masuk kearea pembelian tiket, Fajar selalu merangkul pinggang Peira ketika sedang jalan bersama, itu yang selalu Peira senangi dari kekasihnya. Merasa dilindungi. Hihi.


KIARA ARTA PARK.


Kira-kira begitu tulisan yang terpampang didepan pembelian tiket, hari yang mulai gelap membuat tulisan itu menyala warna-warni dengan cahaya lampu disetiap sudutnya. Belum apa-apa Peira sudah senang luar biasa. Apalagi kalau Fajar mengajaknya mengobrak-abrik tempat wisata itu.


Fajar sengaja memilih hari biasa untuk menghindari lonjakan pengunjung, tapi nyatanya ketika memasuki area wisata, keadaan sudah cukup sesak.


Ternyata tempat ini banyak sekali peminatnya, mungkin karena harga masuknya yang terjagkau oleh kalangan rakyat jelata, juga pemandangan yang disuguhkan bisa dijadikan tempat cuci mata.


Saat masuk, pemandangan pertama yang menarik perhatian adalah sebuah kolam bulat berukuran sangat besar yang ada ditengah-tengah taman itu. Tapi tidak terlalu banyak orang yang mendekat.


"Yang, ayo kita ambil foto disana!" Peira menunjuk sebuah spot foto yang digandrungi banyak pengunjung.


Mereka harus antri untuk bisa mengambil foto disana, tapi itu tidak jadi masalah, kekesalan saat mengantri akan terbayar dengan hasil jepretan berbaground indah itu.


"Iya, ayo!" Fajar menarik tangan Peira menuju tempat yang dimaksud.


Fajar hanya menurut, dia ikut senang melihat Peira senang. Meskipun wajah tampannya harus dia buat sejelek-jeleknya.


Kalau pada dasarnya tampan, mau dibuat sejelek apapun, pasti akan tetap terlihat tampan, kan. Begitu pikir Fajar dengan pd-nya.


Peira harus rela pergi dari spot foto itu mengingat antrian yang semakin panjang disebelahnya. Tapi tidak usah khawatir, masih banyak spot foto lain yang setia menanti untuk mereka pijaki.


Tempat ini memang out door, semacam taman yang didesain untuk santai keluarga, menyuguhkan pemandangan alam yang menyejukkan mata, disiang hari banyak pengunjung yang sekedar menikmati suasana sejuk disana.


Banyak spot foto yang memang sengaja dibuat untuk menunjang fasilitas disana, alasannya karena spot foto semacam ini sedang ngehits dikalangan anak muda, istilahnya kekinian.


Peira baru tau kalau ada tempat semenyejukkan ini ditengah hiruk pikuk kehidupan tengah kota.


"Aku shalat dulu ya, kamu tunggu disini!" Seru Fajar.


"Iya yang."


Sambil menunggu Fajar selesai shalat magrib, Peira memakan cakwe yang di belinya tadi dijalan. Dia tidak ikut shalat karena sedang menstruasi.


***

__ADS_1


"Om, ayo kita naik perahu itu." Bocah laki-laki berumur 4 tahun merengek sambil menarik kemeja laki-laki dewasa di sampingnya.


Dia menunjuk kearah perahu lumayan besar yang ada didaratan, tapi disulap seolah-olah perahu itu berada ditengah danau, sedang digandrungi remaja tanggung untuk mengambil foto.


"Ibu bukan perahu beneran Gio, itu nggak bisa maju." Ikmal berusaha membujuk keponakannya yang merengek sedaritadi.


"Biarin, Gio mau naik om." Bocah bernama Gio itu semakin keras merengek.


Ikmal membuang nafas asal, kok ada ya bocah sengeyel ini. Turunan siapa sih.


Apalagi saat melihat antrian yang memanjang seperti rel kereta, mungkin tidak akan ada ujungnya. Membayangkannya saja sudah membuat Ikmal bergidig ngeri.


Ikmal berharap kalau Velisa dan suaminya segera datang dan menyelamatkan dirinya dari rengekan keponakan yang menggemaskan ini. Saking gemasnya Ikmal ingin sekali menggigit pipi bak bakpau milik Gio.


***


"Udah selesai yang?" Tanya Peira saat melihat Fajar mendekat ke arahnya.


"Udah, ayo kita mau foto dimana lagi?" Ucap Fajar.


"Kok ada ya cowo senarsis ini. Haha." Peira mentertawakan Fajar yang lebih gila berekspresi ketimbang dirinya yang pelit ekspresi.


"Ya nggak gitu juga." Balas Fajar.


Akhirnya spot foto berlatar belakang ketinggian menjadi target mereka selanjutnya. Dua buah ayunan yang seolah-olah mengapung diudara, membuat Peira penasaran, meskipun dia tau yang mengantri tidak sedikit, Peira tetap dengan sabarnya menunggu.


Dan setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa menyentuh spot foto itu. Benar-benar keren, siapa sih arsitek yang sudah merancang tempat ini, Peira akan jadi penggemar setianya saking kagum dengan hasil rancangnnya.


Sebuah gambar diambil oleh jasa tukang photo, saat Peira dan Fajar saling menatap dan tertawa lebar ketika ayunan bergerak maju dan mundur.


Karena antrian yang masih terlihat memanjang, mereka tidak bisa berlama-lama merasakan ayunan itu. Lebih lama ngantrinya daripada berfotonya. Seperti bocah memang, tapi rasanya itu sangat menyenangkan, apalagi bersama orang yang kita sayang.


Penerangan ditempat ini sangat baik, sehingga foto yang diambil terlihat jernih. Cukup keren untuk nangkring dilinimasa akun facebook Peira. Hihi.


Waktu sampai tak terasa karena lamanya mengantri. Fajar melirik jam yang melingkar ditangannya, sudah waktunya. Pantas saja orang-orang mulai mengerumuni kolam yang sedaritadi mereka kesampingkan, tentunya masih bedara dijarak aman, petugas keamanan berjada disekitar area kolam air macur.


"Mereka pada mau ngapain sih yang?" Tanya Peira.


"Pertunjukannya mau dimulai, ayo kita kesana!" Seru Fajat.


"Pertunjukan?" Tanya Peira bingung tapi tetap mengikuti langkah Fajar.


Menyalip beberapa pengunjung lain, akhirnya Peira dan Fajar bisa melihat pertunjukan dipaling depan.


Tepat pukul 20.00, Air benar-benar mancur dari kolam besar itu seperti semburan api, lampu-lampu yang sedari tadi tidak berfungsi, sekarang memperlihatkan betapa cantik dirinya, menyala berwarna-warni dan berkedip-kedip.


Teriakan para pengunjung menambah meriahnya suasana malam temaram ini. Merasa takjub dengan pemandangan yang disuguhkan dihadapan mereka.

__ADS_1


------------


Jangan lupa likenya yaa readers...


__ADS_2