You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Harus Ikhlas


__ADS_3

Hati Ikmal terguncang saat menyaksikan air mata Peira yang terus tumpah membasahi jasad Fajar, dia juga ingin menangis seperti Peira untuk menumpahkan semua kesedihan di hatinya. Tapi apa daya, dia tidak bisa melakukannya, hanya menahan sakit didalam hati. Ini jauh lebih menyiksa ketimbang air mata kesedihan tercurahkan, membuat batinnya semakin tertekan.


Ikmal Pergi meninggalkan ruang IGD itu dengan perasaan yang berkecamuk, tidak sanggup lagi berada disituasi menyedihkan seperti ini.


Tidak ingin menunjukkan air matanya dihadapan orang lain terutama Peira, untuk bisa menguatkan perempuan itu, dia sendiri harus belajar kuat, bukan?


BUKK !!


BUKK !!


Ikmal memukul tembok di hadapannya, melampiaskan seluruh kekecewaannya kepada takdir. Dia sangat frustasi, meskipun dia sangat mencintai Peira, tapi dia sama sekali tidak pernah berpikir ataupun mendo'akan agar Fajar cepat mati dan bisa memiliki Peira.


Dia sangat mengagumi Fajar, kehilangan sosok inspirasi didalam hidupnya. Menangis sendiri tanpa ada seorangpun yang tau akan air matanya.


"Bangun yang, jangan tinggalkan aku!" Suara tangisan Peira didalam ruangan IGD masih bisa Ikmal dengar dari luar, terdengar sangat memilukan, terasa sangat menyayat hati.


"Ini semua nggak adil, ayo bangun! Bangun yang!"


***


Suasana duka begitu terasa kental di prosesi pemakaman Fajar, sepanjang malam Peira tidak beranjak sedikitpun dari sisi jasad Fajar, hanya menangis yang bisa dia lakukan. Bahkan pagi ini matanya terlihat membengkak akibat menangis semalaman.


Bu Leni, pak Bayu dan Ikmal terus berusaha untuk membujuk Peira agar mengikhlaskan kepergian Fajar dan tidak berlarut dalam kesedihannya. Tapi bagaimana mungkin perempuan itu bisa dengan mudah mengikhlaskan kekasih yang sangat di cintainya itu pergi untuk selamanya.


Semua tentang Fajar tidak bisa semudah itu untuk ditepis, sedangkan Fajar mengukir dengan indah kenangan dihati Peira selama bertahun-tahun.


Kehilangan adalah suatu keadaan yang tidak pernah diinginkan oleh siapapun, apalagi kehilangan orang yang sangat kita cintai.


Tangis Peira semakin histeris saat jasad Fajar hendak dimasukan kedalam liang lahad, bu Leni dan bu Fitri sampai kewalahan ketika memegangi Peira agar dia tidak mendekati jenazah.


"Jangan, jangan kubur Fajar, dia masih hidup, sebentar lagi dia akan bangun. Tolong jangan kubur Fajar!" Peira berteriak-teriak agar jasad Fajar tidak dimasukkan ke liang kubur.


Ikmal dan pak Bayu yang sedang membantu prosesi pemakaman sampai turun tangan untuk memegangi Peira.


"Lanjutkan saja tidak apa-apa!" Pak Bayu berseru kepada petugas yang mengurus pemakaman Fajar.


Merekapun kembali melakukan prosedur yang sudah ditetapkan untuk memakamkan jenazah.


Peira semakin tidak bisa dikendalikan, meronta-ronta minta dilepaskan.


"Jangan, Fajar!" Tangisnya semakin memilukan hati setiap orang yang mendengar, semua orang menatap Peira dengan perasaan iba, merasa kasihan, saat akan melangsungkan pernikahan perempuan itu malah ditinggal mati oleh kekasihnya.


"Istighfar Pei, Fajar nggak akan kembali lagi, dia udah tenang disana." Ucap Ikmal mencoba menenangkan Peira meskipun hatinya sama rapuhnya seperti Peira.


"Nggak Mal, Fajar nggak mungkin meninggalkan gue." Tangisnya kembali pecah saat jenazah Fajar mulai ditimbun dengan tanah.


"Fajar, Fajar!" Meraung-raung memanggil nama kekasih yang sangat di cintainya itu.


"Fajar!" Suaranya melemah, pak Bayu dan Ikmal tidak merasakan lagi perlawanan dari Peira, sampai akhirnya perempuan itu tumbang, Ikmal yang berada disampingnya dengan sigap menahan tubuh Peira.


"Pei, Pei, sadar Pei!" Ikmal menepuk pipi Peira berkali-kali. Tapi tidak ada respon, saking syoknya Peira sampai tidak sadarkan diri, tidak ikhlas kalau raga Fajar ditimbun tanah.


"Bawa Peira pulang saja Bu!" Bu Fitri yang tidak tega melihat keadaan Peira berujar kepada bu Leni.

__ADS_1


Ikmal langsung membopong Peira menuju mobilnya yang terparkir agak jauh, berat memang, tapi itu tidak dia rasakan karena terlalu khawatir dengan kondisi mental Peira yang terguncang.


"Tapi acara pemakaman nya belum selesai, kami merasa tidak enak." Ucap bu Leni.


"Tidak apa-apa bu, sebentar lagi juga selesai." Ucap Bu Fitri menyusut ujung matanya.


"Ya sudah kalau begitu, ibu yang ikhlas ya, ini pasti berat untuk ibu, tapi ibu pasti kuat menghadapi cobaan ini. Fajar anak yang sangat baik, saya yakin Allah menempatkannya ditempat terbaik." Bu Leni menepuk pundak Bu Fitri menguatkan.


"Terimakasih bu, semoga ke keluargaan kita tidak terputus setelah kepergian Fajar." Balas Bu Fitri, Ikhlas tidak ikhlas dia tetap harus mengikhlaskan kepergian putra kesayangannya itu agar Fajar tidak merasa berat dialam sana.


"Kalau begitu saya permisi bu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Pak Bayu dan Bu Lenipun menyusul Peira yang dibopong Ikmal menuju parkiran, merasa cemas takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap putrinya.


Sedangkan Bu Leni, Vania, Debi dan Adel merapatkan diri saling menggenggam tangan satu sama lain, menguatkan hati masing-masing atas kepergian tulang punggung mereka selama ini.


Tidak menyangka jika Fajar harus pergi secepat ini.


'Nia janji kak, Nia akan jadi orang yang sukses untuk membahagiakan ibu dan adik-adik seperti yang kakak cita-citakan selama ini' Batin Vania.


'Beristirahatlah dengan tenang nak, sudah cukup selama ini kamu bekerja keras untuk kita semua. Jemput ibu kelak agar bisa bahagia bersamamu disana.' Bu Fitri.


'Kakak, jangan tinggalkan Debi, nanti siapa yang kasih Debi uang jajan. Hiks.' Menatap nanar gundukan tanan yang mulai terlihat.


'......' Entah apa yang dipikirkan Adel saat melihat makam Fajar, dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu artinya kematian.


***


Kemudian Pak Bayu dan Bu Leni menghampirinya dengan wajah panik.


"Bagaimana ini nak Ikmal?" Tanya pak Bayu yang kepalanya sedikit masuk kedalam mobil untuk melihat kondisi putrinya.


"Bapak tolong bawa mobil, ini kuncinya. Kita bawa Peira ke rumah sakit ya, takut dia kenapa-napa." Ikmal menyerahkan kunci mobil kepada pak Bayu, dengan sigap pak Bayu menerimanya.


Diapun masuk kedalam mobil bagian kemudi, bu Leni mengikutinya duduk dibangku depan.


Mobilpun melaju meninggalkan area pemakaman, Ikmal terlihat sangat panik, di sandarkannya kepala Peira keatas pahanya. Menyingkirkan kerudung yang berantakan dan merapikan anakan rambut yang menutupi wajah sembabnya.


"Pei." Sesekali mengguncang pipinya, memancing agar perempuan itu tersadar.


'Gue tau Pei gimana perasaan loe sekarang, tapi gue janji nggak akan membiarkan loe menangis sendirian, gue akan selalu disamping loe seperti janji gue ke Fajar.' Batin Ikmal, menggosok-gosok telapak tangan Peira dengan kedua tangannya lalu menempelkan kepipinya sendiri.


Tangan Peira terasa dingin.


Bu Leni melihat adegan itu melalui kaca spion bagian depan, melihat kecemasan Ikmal yang dia rasa berlebihan.


Apa benar Ikmal mencintai putrinya itu seperti yang dia pikirkan selama ini? Kalaupun iya, bu Leni akan merasa sangat senang. Mungkin Ikmal bisa menjadi penyembuh luka dihati Peira setelah kepergian Fajar. Sehingga putrinya itu tidak berlarut-larut dalam kesedihannya, apalagi jika sampai Peira mengalami depresi.


Semoga saja begitu.


***

__ADS_1


Seluruh media masa digemparkan dengan berita tentang tabrakan beruntun yang terjadi tadi malam dipersimpangan jalan pusat kota Bandung.


Saluran televisi, surat kabar, radio, bahkan di media online berita ini menjadi trending topik nomor 1, banyak video amatir yang beredar menggambarkan bagaimana detik-detik terjadinya tabrakan beruntun itu.


Tentunya itu didapat dari hasil rekaman cctv yang terdapat di persimpangan jalan sana.


Beberapa wartawan hadir diacara pemakaman korban jiwa dalam kecelakaan ini untuk disiarkan dalam acara saluran televisi mereka.


Kejadian ini masih hangat dibicarakn oleh masyarakat sekitar tempat kejadian, menjadi buah bibir dimana-mana. Pagi ini jalanan pusat kota sudah bisa dilalui oleh kendaraan umun setelah semalam penuh dititup untuk penyelidikan oleh pihak kepolisian, penyelidikan dipercepat mengingat ini adalah jalur utama yang banyak dijadikan keluar masuknya perekonomian masyarakat luas.


Ikmal mematikan ponselnya sesaat setelah melihat video amatir yang di share orang diakun instagram miliknya.


Tragis, Ikmal sangat menyesali kejadian naas itu bisa menimpa orang terdekatnya. Hatinya bergemuruh, memikirkan bagaimana perasaan Fajar saat itu, pasti teramat sakit.


"Yang!" Terdengan suara lirih Peira, Ikmal memalingkan pandangannya kearah Peira, terlihat perempuan itu masih memejamkan matanya, ternyata dia hanya mengigau.


"Pei!" Ikmal menepuk pipi Peira pelan, matanya mengerjap, terasa berat untuk dibuka, perlahan namun pasti Peira membuka mata, samar-samar terlihat wajah Fajar berada tepat di hadapannya.


Senyuman seketika mengembang di bibirnya, dia yakin jika Fajar tidak akan meninggalkannya semudah itu setelah apa yang mereka lalui bersama.


"Yang!" Reflek memeluk Ikmal yang dia sangka adalah Fajar. Ikmal tertegun, bagaimana mungkin Peira menganggapnya sebagai Fajar?


"Benerkan apa yang aku bilang, kamu nggak meninggal yang, mereka salah. Kamu masih hidup, buktinya sekarang kamu ada disini kan untuk menemui aku." Ucap Peira, mendekap lebih erat.


Dengan ragu Ikmal mengusap pundak perempuan itu, apa yang akan terjadi kalau dia sadar siapa yang sedang dipeluknya ini? Apa Peira akan kembali histeris seperti di pemakaman tadi? Ikmal tidak akan sanggup jika harus melihat lelehan air mata itu keluar lagi.


"Kamu cuma tidur kan tadi, aku tau kamu nggak akan meninggalkan aku yang, apalagi sebentar lagi kita akan menikah kan?" Ucap Peira.


Ikmal mulai muak, Peira tidak bisa menerima kenyataan. Dia melepaskan pelukan Peira dan menyentuh kedua bahunya.


"Sadar Pei, Fajar udah nggak ada, loe harus bisa mengikhlaskan dia biar dia juga bisa tenang disana." Ucap Ikmal penuh penekanan agar Peira bisa sedikit mengerti.


"Mal, loe kok bisa ada disini? Fajar mana?" Tanya Peira mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan mencari sosok kekasihnya.


"Fajar udah nggak ada Pei, loe harus bisa menerima kenyataan." Ucal Ikmal menegaskan.


"Nggak mungkin Mal, tadi Fajar ada disini, gue liat sendiri, gue juga meluk dia tadi." Ucap Peira, air matanya meleleh lagi menyadari kalau yang dia peluk tadi ternyata Ikmal.


Ikmal bingung harus menjelaskan seperti apa lagi kepada perempuan itu, kemudian kedua tangannya mulai meraih pipi Peira, menyentuhnya dengan lembut agar dia menatap kearah Ikmal.


"Liat gue Pei!" Perlahan Peira menatap kearahnya, sorot mata Ikmal mengunci tatapan Peira.


"Loe nggak sendirian pei, ada gue disini, gue nggak akan membiarkan loe nangis sendirian. Menangislah kalau itu bisa membuat loe merasa lebih baik, meskipun gue nggak suka saat melihat loe nangis." Ucap Ikmal, isakan langsung terdengar dari mulut Peira, kembali memeluk Ikmal dan menumpahkan air matanya disana. Dengan senang hati Ikmal menyambutnya.


"Kenapa Fajar meninggalkan gue secepat ini Mal? Huhu." Air matanya membanjiri baju koko Ikmal.


"Semua udah takdir Pei, gue juga nggak menyangka Fajar akan pergi dengan cara seperti ini." Ucap Ikmal.


"...Fajar orang baik Pei, dia pasti mendapat tempat yang paling layak disana." Keduanya pun terhayut kedalam suasana sendu, Peira mengenang setiap sedik yang dia habiskan bersama Fajar, air matanya semakin deras saja mengalir mengingat semua kenangan tentang Fajar. Fajar yang selalu membuatnya merasa istimewa, sekarang tidak akan ada lagi sosok yang mengayomi dirinya, mengingatkan dirinya saat melakukan kesalahan dan tidak akan ada lagi sosok Fajar yang selalu membantu memenyelesaikan masalah yang sedang di hadapinya.


Tangisan Peira terus berlanjut, entah sampai kapan air mata itu akan terus berjatuhan, mungkin sampai air matanya mengering dengan sendirinya.


 

__ADS_1


Budayakan like, komentar dan rate bintang 5 nya, yang punya poin dan koin boleh disumbangin.. hehe


__ADS_2