You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
My sundown (THE LAST PART-ENDING-)


__ADS_3

Tahun berikutnya...


365 hari bukanlah waktu yang cukup untuk Peira bisa menghapus setiap lukisan yang Fajar ukir di hatinya. Meskipun ada 365 hari berikutnya, Peira tidak yakin jika kenangan tentang Fajar bisa menghilang sepenuhnya.


Fajar memang telah tiada, lalu dia bersemayam dan abadi didalam hati Peira, perempuan itu bertekad untuk menyimpan dengan baik setiap kenangan bersama sang kekasih di dalam memori ingatannya.


Peira yang sekarang, adalah Peira dengan pemikirannya yang lebih dewasa, sedikit demi sedikit dia mulai paham apa artinya itu mengikhlaskan. Kepribadiannya yang sekarang terbentuk akibat seringnya Fajar muncul kedalam mimpinya.


Saat terbangun ditengah malam karena memimpikan sang kekasih, Peira mulai menunaikan shalat tahajud 2 rakaat, itu akan membuat hatinya sedikit tenang. Dan sekarang kegiatan itu seakan telah mendarah daging dalam diri Peira.


Setelah lama beristiqarah dan meminta petunjuk dari Allah selama ini, jawabannya selalu mengarahkan dirinya untuk menerima Ikmal.


Dan Peira tidak bisa lagi menghindar dari petunjuk yang dia dapatkan, sejauh mana dia melangkah, Ikmal selalu setia menjadi bayangannya. Begitulah Ikmal hadir dalam mimpinya. Seberapa lama lagi Peira harus mengulur waktu untuk bisa menerima laki-laki itu, nyatanya Peira tidak bisa menepis ketulusan Ikmal yang rela menunggu dirinya selama ini.


Peira tidak ingin kehilangan lagi sosok yang sangat mencintai dirinya dan takut akan menyesal dikemudian hari.


Mengabaikan Ikmal selama ini memang bukan pilihan yang tepat, tapi Peira harus meyakinkan hatinya kalau Ikmal memanglah orang yang dikirimkan Tuhan untuk menggantikan posisi Fajar didalam hatinya, yang akan menjadi perisai dalam hidupnya.


Bukan karena terpaksa, tapi bukan pula karena dirinya telah bisa melupakan Fajar. Peira hanya ingin mengikuti kemana arah mata angin membawa dirinya pergi, mengikuti alur cerita yang sudah Tuhan siapkan untuk dirinya. Mungkin dengan ikhlas menjalani takdirnya, hidup Peira akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Itu harapan sederhana seorang perempuan yang sedang mencoba merangkai kembali mimpinya.


***


Ikmal mengulurkan tangannya pada seorang perempuan di hadapannya, dengan senyuman yang mengembang, perempuan itu menyambut uluran tangan Ikmal, merekapun saling melempar senyum. Kemudian keduanya mulai berjalan diatas karpet merah yang membentang menuju pelaminan sambil bergenggaman tangan. Mereka terlihat sangat serasi, membuat semua mata yang melihatnya merasa iri.


Kelopak bunga mawar dan melati bertaburan mengiringi langkah mereka. Wangi semaraknya membuat kesan mewah di acara resepsi sederhana itu.


Ikmal melihat senyum yang mengembang di bibir perempuan yang baru saja di nikahinya itu sepanjang jalan menuju pelaminan. Entah itu senyum tulus dari dalam hatinya atau sekedar senyum yang dipaksakan untuk menutupi sedih dihati nya. Meskipun dua kemungkinan itu sama besar adanya, tapi Ikmal yakin jika seiring berjalannya waktu, perempuan itu lambat laun akan bisa menerima Ikmal sepenuh hatinya.


"Terimakasih Pei, kamu sudah memberi aku kesempatan untuk memenuhi semua janji aku selama ini." Ucap Ikmal tepat di telinga Peira. Perempuan yang mendapat bisikan itu hanya mengulum senyum.


Peira membiarkan ekor gaun pengantinnya menjuntai ke lantai tanpa ada orang yang memegangi, dengan hati-hati Ikmal membantunya duduk di kursi pelaminan.


Konsep resepsi pernikahan yang sederhana, seperti mimpi Peira dan Fajar dulu. Tentunya ini adalah salah satu syarat dari Peira jika Ikmal benar-benar ingin mempersuntingnya. Dengan senang hati Ikmal mengabulkan syarat yang Peira berikan.


Kini keduanya pun tengah duduk diatas pelaminan, menikmati lantunan lagu yang dibawakan oleh artis panggung.


Ikmal merasa sangat bahagia melihat senyum Peira yang sedari tadi tidak meluntur. Semoga ini memang awal yang baik untuk membahagiakan perempuan itu, Ikmal berpikir seperti itu.


Peira yang melihat Ikmal dengan ekor matanya, menyadari jika sedari tadi laki-laki yang baru saja mengucapkan ijab kabul untuknya itu terus memperhatikannya.


"Kenapa kamu lihat aku seperti itu? Dandanannya aneh ya? Atau terlalu menor dan berlebihan?" Tanya Peira kalang kabut. Ikmal semakin melebarkan senyumnya melihat kepanikan Peira yang tidak beralasan. Mana ada dandanannya terlalu menor, sedangkan Ikmal telah menunjuk perias pengantin terbaik di kotanya.


"Nggak kok Pei, aku cuma seneng aja, ini semua seperti mimpi. Aku nggak menyangka sekarang kita duduk disini sebagai pasangan pengantin." Ikmal menjawab.


Peira membuang nafas asal, jawaban Ikmal menghilangkan kecemasan dihati Peira.


Satu persatu tamu undangan menghampiri mereka untuk memberi ucapan selamat, pasangan pengantin baru itupun bengkit dari duduknya kemudian menyambut uluran tangan para tamu.


Mereka benar-benar dibanjiri ucapan selamat, ada yang mendo'akan semoga langgeng sampai kakek nenek, ada yang mendoa'akan supaya mereka selalu diberi kebahagiaan didalam pernikahannya, ada juga yang mendo'akan agar mereka cepat diberikan momongan. Peira dan Ikmal hanya mengamini setiap do'a yang diberikan untuk mereka.


Merekapun mempersilahkan kepada tamu undangan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.


"Kamu udah lapar Pei?" Tanya Ikmal.


"Belum terlalu, aku mau yang seger-seger." Peira menjawab.


"Aku bawakan salad buah ya." Peira mengangguk.


Ikmalpun turun dari pelaminan, kemudian tak berselang lama kembali membawa semangkuk kecil salad buah yang dia ambil dari meja prasmanan.


"Kamu curang nggak ngantri dulu." Ucap Peira sambil cekikikan. Ikmal ikut tertawa mengingat kelakuannya sendiri saat menerobos antrian mengambil salad buah.


"Biarin, disini kan aku rajanya." Ucap Ikmal tanpa merasa bersalah.


"Iya, iya raja sehari." Balas Peira.


"Coba buka mulutnya!" Ikmal menyodorkan sendok plastik ke dekat mulut Peira.


"Biar aku aja, malu dilihat orang-orang." Peira menjauhkan wajahnya dari sendok itu.


"Nggak apa-apa, biar mereka iri sama ratuku ini." Ikmal menyediakan sebelah matanya manja, Peira menganga tak percaya melihat Ikmal yang dalam waktu singkat berubah menjadi tengil, sebelumnya dimata Peira Ikmal adalah sosok laki-laki yang cool. Sebelas dua belas dengan Fajar, hanya saja cintanya kepada Ikmal tidak sebesar cintanya kepada Fajar.


Kendati demikian, Peira berusaha untuk tidak menyinggung Ikmal dengan menunjukkan kesedihannya dihadapan laki-laki itu. Bagaimanapun juga Peira harus menghargai Ikmal sebagai imam di hidupnya.

__ADS_1


Bahkan akhir-akhir ini Peira sudah mulai jarang menumpahkan curahan hatinya tentang Fajar terhadap Ikmal, bukan karena Peira melupakan kekasihnya itu, Fajar sudah kekal abadi didalam hatinya. Tapi kini Ikmalpun memiliki ruang tersendiri dihati Peira.


Akhirnya drama suap-suapan itupun terjadi, Ikmal terus menyuapi salad buah kedalam mulut Peira meskipun mulut Pelita masih belum selesai mengunyah.


"Tunggu dulu, ini juga belum habis! Kamu sengaja mau bunuh aku ya supaya bisa nikah lagi." Peira bicara dengan mulut yang penuh dengan buah, mendorong sendok di hadapannya pelan, Ikmal terkekeh melihat Peira yang kewalahan mengunyah sambil bicara, apalagi bicaranya itu sangat ngelantur, tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Ya ampun Pei, gimana aku mau nikah lagi, sedangkan yang ini aja belum aku apa-apain."


Peira menatap Ikmal dengan kesal, belum juga satu jam dia dinikahi Ikmal, tapi laki-laki itu sudah berani menyiksanya. Apa ini yang dia bilang ingin membahagiakan Peira, apa begini caranya. Atau dia sengaja ingin balas dendam karena selama ini Peira sudah membuatnya menunggu lama.


Ikmal yang melihat ekspresi Peira mulai tidak bersahabat, mencoba untuk kembali memperbaiki mood istrinya itu.


"Iya maaf Pei, aku nggak sengaja, aku cuma mau kamu makan yang banyak supaya nanti malam kamu punya tenaga lebih." Ucap Ikmal tanpa merasa canggung sedikitpun. Itu bukannya membuat mood Peira membaik, justru memunculkan dua tanduk di kepalanya diiringi dengan kepulan asap tebal.


Ikmal kembali tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Peira, lupa dengan tujuan awalnya untuk memperbaiki mood istrinya itu.


"Kemari!" Dengan kesalnya Peira mengambil paksa salad buah dari tangan Ikmal. Hampir saja salad buah itu terjatuh karena Ikmal tidak siap memberikannya kepada Peira.


"Aku balas kamu ya! Aaaa!" Peira mendobrak paksa mulut Ikmal yang tertutup dengan sendok yang dipenuhi gundukan besar salad buah, Ikmal menjauhkan wajahnya agar terhindar dari ajang balas dendam yang Peira melancarkan.


"Ampun Pei!" Ikmal mengangkat kedua tangannya memohon ampun.


Peira semakin nekat, dia semakin gencar mendekat kearah Ikmal. Ikmal sudah gemetar memikirkan gundukan salad buah itu saat berpindah tempat ke mulut kecilnya, pasti tidak akan muat.


"Hei pengantin baru! Kalian lagi apa?" Terdengar suara perempuan menegur Ikmal dan Peira, itu membuat aksi balas dendam Peira jadi terhenti.


Pasangan pengantin baru itupun sontak menoleh, Ikmal akhirnya bisa bernafas lega, kedatangan kakaknya itu membebaskan dirinya dari serangan sang istri. Ikmal berpikir jika Velisa yang hanya tau cara menjahilinya saja itu ternyata memiliki bakat sebagai penyelamat.


Terlihat Velisa dengan wajah penuh selidiknya, di belakangnya berdiri suaminya yang sedang menggendong jagoan kecil mereka, Gio.


"Ahh, nggak kok kak, ini tadi dia bilang lapar, pas aku mau suapi malah nggak mau." Peira menjawab sambil tersenyum, tidak ingin meninggalkan kesan jelek dimata kakak iparnya itu.


"Hati-hati lho Mal, jangan sampai jadi suami-suami takut istri." Evan cekikikan sambil meledek Ikmal, sedari tadi dia memperhatikan gelagat Ikmal saat berusaha menghindari Peira.


Ikmal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia tidak takut kepada Peira, dia hanya ingin menghindari istrinya itu tadi tanpa menyinggung atau menyakiti hati sang istri.


"Bukannya takut kak, cuma itu bentuk kita menghormati dan menyayangi istri kita tanpa menyakiti perasaannya." Ikmal bersabda, membuat Velisa menganga tidak percaya. Adiknya yang menyebalkan bisa bicara dewasa itu.


Evan jadi kalah telak, sekarang giliran dia yang menggaruk tengkuknya.


"Emm, ngomong-ngomong, selamat ya buat kalian berdua, akhirnya kalian bisa naik pelaminan juga. Saya do'akan agar cepat memberi sepupu untuk Gio." Ucap Evan mengalihkan pembicaraan.


"Amiiin. Terimakasih kak, kita do'akan juga biar Gio cepat punya adik." Jawab Peira.


Ikmal menggeleng cepat, jangan sampai do'a Peira terkabul dalam waktu dekat ini, satu keponakan saja sudah membuatnya kalang kabut setiap hari, apalagi kalau menambah satu lagi keponakan pasti itu sangat merepotkan.


Lebih baik Ikmal direpotkan oleh darah dagingnya sendiri, hitung-hitung untuk investasi masa depannya.


Velisa menyadari gelagat tidak suka Ikmal saat Peira bicara.


"Tenang saja Pei, setelah ini kita akan jadi partner terbaik untuk menjahili dia." Velisa melirik Ikmal dengan ekor matanya.


"Haha, siap kak, kita susun rencana yang matang biar semuanya berjalan dengan mulus." Peira terlihat antusias dengan penawaran Velisa, sepertinya menarik, begitu yang dipikirkan Peira.


Ikmal menelan salivanya kasar, membayangkan bagaimana dua mahluk itu bekerja sama untuk menjahilinya, akan seperti apa nanti jadinya Ikmal. Perkedel kah atau pepes tahu kah?


Peira dan Velisa cekikikan bersama, Evanpun ikut-ikutan. Sedangkan Ikmal disana sendiri yang merasa hidupnya berada dalam bahaya dan sangat terancam.


***


Deburan ombak di samudra lepas membuat suasana tenang di sore itu terasa lebih hangat, suara ombak yang saling berkejaran ke bibir pantai seiring dengan tawa Peira yang terus menggema, dia berlarian diatas pasir putih itu berusaha untuk menghindari Ikmal yang terus berusaha menggelitikinya.


Ikmal yang sedari tadi dijahili terus oleh Peira sudah sangat gemas, kini gilirannya untuk membuat perhitungan pada istrinya itu.


"Lari yang jauh Pei! Jangan sampai aku berhasil mengejar kamu, kalau sampai aku menangkap kamu, aku nggak yakin kamu bisa pulang dalam keadaan utuh."


Seketika kaki Peira jadi lemas mendengar ucapan Ikmal, apa yang bisa laki-laki itu perbuat kepada istri yang baru dinikahinya ini, apa dia ingin menduda sehari setelah acara pernikahannya.


Tentu saja maksud Ikmal berbeda dengan yang ada didalam otak datarnya Peira.


"Ampun Mal, plis berhenti. Aku udah cape banget." Ikmal tidak berhenti mengejar Peira.


Peira sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berlari, energinya terkuras habis untuk tertawa dan berlari. Peira menjatuhkan dirinya diatas pasir putih, kakinya dibiarkan selonjoran, nafasnya terdengar tidak beraturan, menandakan betapa lelahnya perempuan itu.

__ADS_1


Ikmal yang melihat Peira sepasrah itu, segera melupakan aksi balas dendamnya. Diapun ikut duduk selonjoran disamping Peira, mengabaikan pasir yang akan mengotori baju mereka.


Peira menarik nafas dalam-dalam, membiarkan udara pantai yang masih asri itu masuk kedalam paru-parunya. Sejuk, itu yang perempuan itu rasakan saat ini, udara yang sangat jarang dia dapat ditengah polusi ibu kota. Menatap kedepan, kearah laut lepas yang entah dimana ujungnya itu sambil tersenyum.


"Kenapa?" Tanya Ikmal saat melihat Peira tersenyum-senyum sendiri.


"Pemandangannya indah banget ya Mal." Peira berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari panorama alam yang disuguhkan dihadapan matanya.


Sinar Matahari mulai redup, tidak semenyilaukan saat dia merajai langit saat siang hari. Awan kemerahan mengiringi sang Fajar yang bergerak lambat menuju peraduannya, burung-burung beterbangan melalui pohon palem yang berjejer rapi di pinggiran pantai seberang sana.


Peira melihat matahari itu tersenyum hangat kearahnya, membentuk wajah sang kekasih yang sangat dia rindukan kehadirannya.


Tanpa sadar Peira membalas senyum itu, seolah melambangkan senyum perpisahan. Dengan ini, Peira semakin yakin jika sekarang Fajar sudah merasa damai di alam sana.


Beristirahatlah dengan tenang yang, disini aku selalu mendo'akanmu. Semoga kelak tangan Tuhan akan menyatukan kita kembali. Terimakasih atas cahayamu yang telah menyinari hari-hari gelapku selama 4 tahun lebih. Itu sangat berkesan untukku, hingga aku lupa cara bagaimana menghilangkan kamu dalam hatiku.


Ikmal seakan mengerti apa yang sedang dihalusinasikan istrinya itu, dia ikut tersenyum, merasa jika takdir mempertemukan mereka dalam keadaan yang sangat sulit, Fajar harus tersingkir dalam kisah percintaan mereka dan membuatnya bisa memiliki Peira seutuhnya. Entah takdir macam apa yang dia jalani, dia merasa senang tapi juga merasa bersalah. Bersalah karena seolah merebut kebahagiaan yang seharusnya dirasakan oleh Fajar.


Terimakasih Jar, loe sudah memberikan amanat terindah di hidup gue. Gue berjanji akan menjaga dia melebihi gue menjaga nyawa gue sendiri, kebahagiaan Peira adalah prioritas untuk gue. Semoga setelah ini loe bisa tenang di alam sana tanpa memikul beban apapun.


Ikmal dan Peira tersenyum bersamaan sebelum matahari benar-benar menenggelamkan dirinya, seakan benar-benar telah ikhlas melepas kepergian Fajar. Sayup-sayup awan merah berubah menghitam, sang raja malam bersiap menggantikan sang Fajar yang telah pergi menuju pembaringannya. Taburan bintang akan setia menemani sang rembulan sampai pagi menjelang.


"Kamu seneng Pei?" Tanya Ikmal.


Peira mengangguk mantap.


"Makasih ya Mal, berkat pertolongan kamu, aku bisa keluar dari labirin yang menyesatkan." Ucap Peira.


"Labirin yang menyesatkan?" Tanya Ikmal tidak mengerti.


"Iya, keterpurukan. Aku baru sadar kalau keterpurukan ternyata menjauhkan kita dari kebahagiaan. Aku sangat berterimakasih kepada Fajar, dia sudah menunjukkan aku jalan yang benar sehingga aku sampai di tempat yang indah sekarang."


Ikmal kembali tersenyum, menyadari jika yang disebut Peira tempat yang indah adalah dirinya, jiwanya terasa terbang tertiup angin malam.


"Aku sayang kamu Pei!" Bisik Ikmal tepat di telinga Peira, membuat bulu kuduk perempuan itu merinding.


Peira menyandarkan kepalanya di pundak Ikmal, memejamkan matanya, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, menikmati senyum Fajar yang selalu muncul saat matanya terpejam.



*Kau adalah matahari terbenamku...


Yang memberikan kedamaian setelah aku lelah menyongsong hari-hariku....


Kau adalah matahari terbenamku...


Meskipun begitu, esok hari sinarmu akan kembali menerangi...


Tapi kini aku telah kehilangan matahariku...


Matahariku telah pergi, dan esok pagi tidak akan bersinar lagi...


Siangku terasa gelap, bahkan bunga cinta di hatiku tak lagi bermekaran....


Karena aku telah kehilangan sinar hangatmu...


Sehingga bunga cinta itu layu, lalu mati dengan sendirinya...


Kau adalah matahari terbenamku...


Cinta sejatiku...


Meski cahayamu tak lagi menyinari hidupku, tapi cahayamu akan tetap bersinar di hatiku untuk selamanya...


Jikapun ada secerca cahaya lain yang menerangi jiwaku, itu adalah salah satu kebaikkan Tuhan agar aku bisa bertahan hidup di dunia ini*...



________


***THE END.....


Karena peminat ceritanya sedikit jadi saya tamatkan saja ceritanya....

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk pembaca.yang setia dari awal sampai akhir cerita ini, yang memberikan like dan komentar disetiap episodenya, saya ucapkan terimakasih banyak sekali lagi...


Salam manis dari author***...


__ADS_2