
Hari-hari yang Peira lewati setelah kepergian Fajar terasa hampa, tidak ada lagi perasaan yang bergejolak dihatinya untuk semangat menjalani kehidupan.
Mencoba untuk merangkai kembali serpihan hati yang terburai, tapi harus merelakan hatinya untuk kembali patah saat mengingat kenangan bersama Fajar.
Jalanan kota yang sering mereka lalui dulu terasa berbeda, hambar tanpa adanya sosok Fajar melangkah bersama di sisinya.
Bahkan hatinya sekarang serapuh dandelion, bunga yang sering digunakan Fajar untuk menghibur dirinya dulu. Sedikit saja hembusan angin menerpa, hatinya pasti akan hancur lebur.
Peira berjalan sendirian, menatap kosong kearah depan, raganya disini tapi hasrat jiwanya telah mati, ikut terkubur bersama jasad sang kekasih.
Tersenyum getir, biasanya mereka akan berjalan disana sambil bergenggaman tangan dipenghujung waktu seperti sekarang ini, tapi kenangan tinggallah kenangan, Peira tidak bisa memutar waktu kembali kemasa dulu atau sekedar menghadirkan sosok yang sangat dia rindukan di sisinya sekarang.
Ditengah pikirannya yang bak benang kusut, sebuah tangan terasa melingkar dipergelangan tangan Peira, sontak dia menoleh, orang kurang ajar mana yang berani-beraninya menyentuh dirinya. Hati, tangan ini adalah milik Fajar, hanya Fajar yang bisa menyentuhnya.
"Kenapa kamu jalan sendirian Pei?" Bersamaan ketika menoleh, Ikmal berujar.
Peira tersentak kaget mengetahui orang itu adalah Ikmal, apa lagi saat dia memanggilnya 'kamu', melepaskan tangannya dari cengkraman Ikmal perlahan. Tanpa menjawab pertanyaannya.
"Kenapa? Motor kamu mogok?" Tanya Ikmal lagi, Peira menggeleng tanpa ingin bersuara.
"Terus kenapa?" Ikmal mendesak agar Peira mau bicara kepadanya.
Akhir-akhir ini Peira selalu menghindari Ikmal, ketika dengan sengaja Ikmal mengunjungi rumahnya tapi Peira malah mengurung diri di kamar dan berkata tidak sedang ingin diganggu. Padahal Ikmal bukan ingin mengganggu, dia hanya ingin menghibur agar Peira tidak berlarut dalam kesedihannya.
"Cuma mau jalan-jalan aja." Akhirnya menjawab datar.
"...loe lagi apa disini?" Peira bertanya.
"Aku liat kamu jalan sendiri disini, jadi aku turun buat temenin kamu." Jawab Ikmal.
Peira manggut-manggut tanda mengerti, tanpa menghentikan langkahnya, Ikmal mensejajari langkah kaki Peira.
"Kita makan yuk Pei!" Ikmal berseru, namun ditanggapi dengan gelengan kepala dari Peira.
"Kenapa?" Tanya Ikmal.
"Gue nggak lapar." Jawab Peira sekenanya.
langkah Ikmal berhenti tepat di depan Peira, membuat langkah kaki Peira ikut terhenti juga. Jawaban Peira, sikap Peira belakangan ini membuat Ikmal merasa tidak bisa menepati janjinya kepada Fajar untuk menjaga perempuan itu.
"Lihat diri kamu, kamu seperti nggak terurus, bahkan kamu juga lebih kurusan sekarang Pei!" Ikmal berkata sembari memegang kedua pundak Peira.
Peira tidak bergeming, karena yang dikatakan Ikmal memang benar. Setelah kepergian Fajar, dia tidak perduli lagi dengan dirinya sendiri, tenggelam dalam lautan duka. Apa yang dia lakukan terasa sia-sia, bahkan makanan yang dia telan semuanya terasa pahit, sebab itu Peira selalu tidak berselera untuk makan.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini terus Pei? Fajar disana pasti sedih melihat kamu." Ucap Ikmal.
"...disini aku merasa jadi orang yang nggak bisa menjalankan amanat dari Fajar." Sambungnya.
"Lupakan apa yang dikatakan Fajar waktu itu, setelah itu loe nggak perlu repot-repot lagi memikirkan gue." Ucap Peira.
"Ini bukan cuma soal amanat dari Fajar Pei, tapi ini udah menjadi janji pada diri aku sendiri buat jaga kamu." Balas Ikmal, Peira menyeringai menanggapinya.
"...Perasaan aku nggak pernah berubah, masih sama seperti dulu. Aku masih sangat mencintai kamu Pei."
"...Aku berharap kamu mau membuka hati buat aku, aku akan membahagiakan kamu, bukan semata-mata karena Fajar, tapi karena aku tulus mencintai kamu dari dalam hati aku."
"Maaf Mal, buat saat ini sepertinya gue belum bisa. Bahkan luka dihati gue belum sepenuhnya kering, melupakan Fajar bukan hal yang mudah, bahkan mungkin waktu yang tersisa dihidup gue nggak akan pernah cukup buat melupakan dia." Bagaimana luka hatimu bisa cepat kering Pei, sementara kamu terus membasahi luka itu dengan air matamu.
"Oke aku paham, aku akan menunggu sampai saatnya kamu bisa terima aku sebagai pengganti Fajar, datanglah kapanpun kamu mau Pei, saat itu tiba nanti aku akan dengan senang hati menyambut kedatangan kamu." Meskipun Ikmal tidak tau kapan waktu itu akan datang, yang penting menunggu dulu saja. Dia yakin penantiannya tidak akan sia-sia.
***
Tersenyumlah saat kau mengingatku..
karena saat itu, aku sangat merindukanmu..
dan menangislah saat kau merindukanku..
karena saat itu, aku tak berada disampingmu..
tetapi pejamkanlah mata indahmu itu karena saat itu, aku akan terasa ada didekatmu..
__ADS_1
karena aku telah berada dihatimu untuk selamanya..
tak ada yang tersisa lagi untukku..
selain kenangan – kenangan yang indah bersamamu..
mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta..
mata indah yang dahulu adalah milikku..
kini semuanya terasa jauh meninggalkanku..
kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu..
hati cinta dan rinduku adalah milikmu..
cintamu takkan pernah membebaskanku, bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain..
saat sayap – sayapku telah patah karenamu..
cintamu akan tetap tinggal bersamaku..
hingga akhir hayatku, dan setelah kematian..
hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi..
betapapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan..
yang tengah menghidupkan sinar redupku..
namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya..
aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu..
karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku..
kau takkan pernah terganti..
bagai pecahan logam mengekalkan..
Hilang semua janji semua mimpi-mimpi indah
hancur hati ini melihat semua
ini
lenyap telah lenyap
kebahagiaan dihati ku hanya bisa menangisi
semua ini
hancur hati ini melihat kau
telah pergi langit menjadi gelap
berkelabu
menyelimuti hatiku
mengubah seluruh hidupku
mengapa semua jadi begini
perpisahan yang terjadi diantara kita berdua
ku akan menanti sebuah
keajaiban
yang membuat kita bisa
__ADS_1
bersama kembali
Sepenggal lirik lagu yang Peira dengarkan melalui headset kembali memancing cairan bening dipelupuk matanya keluar.
Semua kenangan tentang Fajar takan pernah habis dibahas olehnya, disaat sendiri seperti ini dia sangat merindukan kehadiran Fajar, kesepian terasa kental dia rasakan.
Kematian bukanlah salah takdir, hanya saja hatinya yang salah karena terlalu mencintai Fajar, sehingga rasa sakitnya kehilangan membuat dirinya jadi frustasi.
Terlalu nyaman dibuai oleh lantunan musik mellow, Peira mulai memejamkan matanya yang mulai terasa berat. Perlahan namun pasti, kesadarannya berkurang, bersiap pergi menuju kealam lain, yaitu alam mimpi.
Tapi baru saja Peira benar-benar akan terlelap, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Peira kembali terjaga, terganggu dengan suara itu. Dengan langkah sempoyongan menahan kantuk, Peira berjalan menuju kearah pintu.
Dikejutkan dengan sosok tak asing yang ada di hadapannya, rasa kantuk Peira seketika lenyap, berubah menjadi sumringah. seperti baru mendapatkan jackpot, tidak, lebih dari itu.
"Yang, aku kangen banget sama kamu." Berjingkrak kegirangan, dan tanpa ragu lagi langsung berhambur kedalam pelukan kekasihnya itu, wangi melati menyeruak disekitaran, tapi Peira tidak mengindahkannya, terlalu senang akhirnya Fajar mau menemuinya.
"Aku juga kangen sama kamu Pei." Fajar dengan bibir pucatnya berkata, tidak ada senyuman yang mengembang seperti biasanya di wajahnya, hanya memancarkan sinar ketegangan.
"Aku mimpi buruk yang, masa aku mimpi kamu meninggal. Jelas banget itu mimpi, tapi lihat kan kenyataannya sekarang kamu ada hadapan aku." Dengan manjanya Peira berkata, merengek seperti bocah meminta uang jajan pada ibunya.
"Tapi itu kenyataannya Pei, aku memang udah nggak ada, belajarlah untuk mengikhlaskan aku." Air muka Peira seketika berubah, kecewa dengan semua orang termasuk Fajar sendiripun menganggap dirinya sudah tiada.
"Kamu bicara apa sih yang?" Tanya Peira kesal.
Fajar meraih wajah Peira agar menatap kedua matanya, Peira mengikuti arahan sang kekasih, menatap lekat mata indah yang dulu miliknya itu.
"Kamu sayang sama aku Pei?" Tanya Fajar serius, Peira mengangguk mantap.
"...Kamu mau kan aku tenang disana?" Tanyanya lagi, Peira menepis tangan Fajar dari pipinya.
"Pertanyaan macam apa ini yang?" Gusar menjawab.
"Dengarkan aku Pei, aku sedih melihat kamu seperti ini, menangisi aku setiap hari, aku mau liat kamu bahagia seperti sebelum aku mati." Wajah pucat itu terlihat sendu, Peira menunduk dalam, mencoba mencerna setiap perkataan Fajar. Disaat mulai paham, air matanya kembali meleleh, sadar kalau Fajar memang sudah tiada.
"Belajarlah menerima kenyataan Pei, aku nggak mungkin kembali lagi kedunia ini. Cobalah buka hati untuk Ikmal, dia juga sangat mencintai kamu Pei, sama seperti aku mencintai kamu. Aku yakin dia bisa menggantikan aku untuk bisa membahagiakan kamu."
"Kamu mau kemana yang?" Peira mencegah saat melihat Fajar membalikkan badannya.
"Aku harus pergi Pei, waktuku disini sudah habis, aku harap kamu bisa melanjutkan hidup setelah ini. Aku sangat mencintai kamu Pei." Fajar kembali menyentuh pipi Peira, menghapus bulir air mata yang membentuk anakan sungai.
"Aku mau ikut kamu yang, bawa aku bersamamu kemanapun kamu pergi, aku nggak mau sendirian disini." Kembali memeluk Fajar, takut dia akan pergi.
"Jalan kamu disini masih panjang Pei, berjanjilah untuk menerima Ikmal, karena dengan itu bisa membuat jiwa aku tenang."
"Nggak mau yang, aku mau ikut kamu aja." Semakin deras air matanya mengalir, lebih mengeratkan lagi pelukannya.
Berteriak saat menyadari yang dia peluk hanyalah angin. Sosok Fajar seperti tenggelam ke bawah lapisan bumi atau terbang lalu menghilang jauh ke angkasa lepas.
"Yang, dimana kamu?" Mengedarkan pandangan, mencari sosok Fajar.
"Yang, jangan tinggalkan aku lagi!" Semakin frustasi saat tidak menemukan sosok yang dia cari, lagi dan lagi menangis lagi.
"Yang, yang!"
"Pei, Pei, sadar Pei!" Bu Leni menepuk pipi Peira berkali-kali. Khawatir karena sedari tadi Peira terus mengigau sambil berteriak-teriak.
Peira tersadar, matanya yang semula tertutup rapat langsung terbuka lebar, bangun dari tidur dengan cara seperti itu membuatnya sangat pusing. Nafasnya terengah-engah seperti habis lari jarak jauh.
"Kalau mau tidur itu baca do'a dulu biar nggak mimpi buruk!" Bu Leni berujar, sedangkan Peira masih berusaha untuk mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.
"Aku mimpi Fajar tadi bu." Ucap Peira kemudian.
"Oh ya?" Bu Leni meraih pakaian Peira yang berserakan kemudian melipatnya, tanpa ingin bertanya lebih lanjut, dia tidak ingin menyayat kembali luka yang masih belum kering. kalaupun Peira ingin bercerita pasti dia akan bicara tanpa diminta, itu akan jauh lebih baik.
"Fajar meminta aku untuk menerima Ikmal bu" Ucap Peira.
Bu Leni mengalihkan pandangannya dari pakaian kearah Peira.
"Memang seharusnya seperti itu, sudah saatnya kamu untuk melanjutkan hidupmu Pei."
Peira terdiam, mencoba berpikir jernih dan mencerna dengan baik maksud kedatangan Fajar dalam mimpinya.
__ADS_1
Jangan lupa budayakan like, komen dan rate bintang 5 setelah membaca, biar author semangat untuk melanjutkan ceritanya, kritik dan saran juga author perlukan, biar likers sama viewersnya meningkat...