
*Ini kelanjutann**ya*...
Peira yang sedang galau benar-benar tidak mood untuk melakukan aktifitasnya hari ini, wajahnya terlihat murung tidak seperti biasanya.
Masalah yang sedang dia hadapi tak ayal membuatnya kurang bersemangat, kendati demikian dia tidak bisa menghindari pekerjaan untuk mengantarkan paket kerumah pelanggan-pelanggannya.
Dia tidak bisa menuruti keinginan hatinya untuk sekedar berdiam diri dirumah karena moodnya yang kurang baik, bisa-bisa pekerjaannya jadi terbengkalai.
Peira berencana untuk menemui Fajar sepulangnya bekerja, pasti Fajar bisa dengan mudah merubah mood Peira jadi lebih baik. Juga rasa rindu terasa begitu membelenggu.
Peira agak terkejut ketika melihat paketan selanjutnya yang harus dia antar kealamat rumah Ikmal dulu, tapi mungkin rumah itu sudah berpindah tangan menjadi milik orang lain, karena nama yang tertera dipaketpun bukan atas nama Ikmal, tetapi Velisa.
Peira berpikir kalau Velisa adalah pemilik rumah baru itu, karena sebelumnya dia tidak tau kalau nama kakaknya Ikmal adalah Velisa.
Ting... Nong...
Peira menekan bel rumah itu dengan malas, tak berselang lama seseorang membukakan pintu untuk Peira.
Peira dan orang yang baru saja muncul dari balik pintu itu saling menatap satu sama lain, merasa sudah tidak asing dengan wajah yang ada dihadapan masing-masing.
Cukup lama Peira menatap Velisa tanpa berpikir untuk memulai percakapan, dia terlalu kaget dengan kenyataan kalau ternyata kakaknya Ikmal masih tinggal dirumah itu. Ikmal pernah bercerita kalau rumahnya sudah dijual untuk menutupi hutang keluarganya.
Berarti selama ini Ikmal berbohong?
Tapi Peira tidak bisa menyimpulkan kalau pemikirannya itu memang benar, sementara belum ada bukti yang menguatkan tuduhannya itu.
Velisa merasa bingung dengan tatapan Peira yang begitu aneh menurutnya, Velisa yang sedikit pelupa merasa tidak asing lagi dengan wajah orang yang berada di hadapannya.
"ada perlu apa ya?" tanya Velisa membuyarkan semua pemikiran Peira tentang Ikmal.
"ohh, ini saya mengantar paket untuk mbak Velisa." jawab Peira gugup.
"waah, akhirnya yang saya tunggu-tunggu datang juga. Terimakasih yaa." Velisa kegirangan.
Diapun mengambil alih paketan yang ada ditangan Peira sebelum Peira menyodorkannya.
Peira hanya bereaksi biasa saja. Sedangkan Velisa terlihat membolak-balik paketan itu dengan senyumnya yang mengembang.
"...ehh tapi kok sepertinya wajah kamu nggak asing lagi yaa?" ucap Velisa kemudian.
Kenapa Velisa bisa dengan mudah melupakan Peira, padahal mereka sudah beberapa kali bertemu, bahkan ketika dikafe ramenpun Velisa berkata kalau wajah Peira tidak asing. Sedangkan Peira, dia masih hafal betul kalau dia jelas-jelas kakaknya Ikmal.
"saya memang kurir yang biasa mengantar paket didaerah ini. Saya juga temannya Ikmal." jawab Peira yang memecahkan pemikiran Velisa sedari tadi.
"ohh, iya saya baru ingat. Kamu yang waktu itu sama Ikmal dikafe ramen, kan? Ahh, kenapa semenjak hamil saya jadi orang pelupa." tanya Velisa si ibu hamil itu.
Peira hanya tersenyum sambil menaik turunkan kepalanya dua kali menandakan kalau yang dikatakan Velisa memang benar.
"...kebetulan sekali, apa kamu tau dia tinggal dimana sekarang?" tanya Velisa kemudian.
"dia tinggal didekat kontrakan saya mbak" jawab Peira.
__ADS_1
"bagus! Kalau begitu, apa kamu bisa bantu saya?" tanya Velisa.
"bantu apa ya?" tanya Peira bingung.
"suruh dia pulang secepatnya! Bilang kalau kepulangan mama sama papanya dipercepat. Heran saya, setiap kali menghubungi, nomornya selalu berada diluar jangkauan." Velisa mengoceh.
"mama sama papa? Tapi Ikmal bilang kalau orang tuanya masih di Jerman." tanya Peira semakin bingung.
"iya, sebentar lagi mereka akan pulang. Lalu apa yang harus saya katakan kalau mereka bertanya keberadaan Ikmal?"
Peira mencoba mencerna setiap perkataan yang dilontarkan Velisa, arah pembicaraan mereka semakin mengarah ke kecugigaan Peira yang bisa jadi benar.
"...dia bilang dia akan pulang kalau misinya sudah selesai. Apa kamu tau, misi apa yang sebenarnya dia maksud?" tanya Velisa.
"hah? Misi?" Peira semakin pusing dengan arah percakapan mereka.
Tunggu!
Apa jangan-jangan Ikmal adalah seorang penjahat yang menyamar sebagai temannya Fajar, padahal sebenarnya dia memiliki misi dan rencana jahat untuk mencelakai kekasihnya itu, apalagi keakraban mereka memang diawali sejak tertabraknya Fajar oleh Ikmal.
Astaga! Astaga!
Kenapa Peira jadi memiliki pemikiran buruk terhadap Ikmal? Peira pasti tidak akan sanggup jika kenyataannya memang seperti itu, kalaupun benar, berarti saat ini Fajar sedang berada dalam bahaya.
Tidak tidak! Tidak mungkin Ikmal yang memiliki tatapan tulus seperti itu bisa memiliki rencana jahat. Peira dengan cepat menepis semua pikiran negatifnya tentang Ikmal.
Ditengah ke panikannya itu, Peira berusaha untuk menenangkan pikirannya dan bersikap biasa.
"Ikmal nggak cerita masalah itu. Dia hanya cerita kalau keluarganya bangkrut dan rumahnya terpaksa harus dijual untuk menutupi hutang orang tuanya. Makanya dia tinggal dikontrakan dan bekerja di kedai kopi." ucap Peira.
***
Entah kenapa Peira merasa sangat kecewa ketika mengetahui semua kebohongan Ikmal, apa sebenarnya tujuan Ikmal sampai-sampai dia harus berbohong kepada Fajar dan Peira?
Ditambah lagi dengan masalah yang belakangan harus Peira hadapi, hati Peira benar-benar kacau saat ini.
Peira tidak menunggu sampai jam pulang bekerja, dia langsung melajukan motornya ketempat dimana kekasihnya sering mangkal bersama komunitas ojek onlinenya. Dia sudah tidak perduli lagi paketan yang harus dia kirim ke pemiliknya.
Mungkin dengan bertemu Fajar, perasaannya bisa sedikit lebih tenang.
Fajar menyipitkan matanya saat melihat motor Peira terparkir tidak jauh dari pangkalan, dia sedikit bingung dengan kedatangan Peira yang tiba-tiba, tidak seperti biasanya.
"Pei!" ucap Fajar ketika Peira berjalan menghampirinya.
Fajarpun beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan Peira.
Peira langsung berhambur kepelukan Fajar saat itu juga. Saat mendengar suara Fajar menyebut namanya, Peira benar-benar tak kuasa, tangisnya tumpah seketika.
Fajar merasa bingung dengan sikap kekasihnya yang tiba-tiba saja datang lalu memeluknya sambil menangis. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikir Fajar.
Teman-teman satu komunitas Fajar memperhatikan Fajar dan Peira sambil berbisik-bisik membicarakan tentang mereka.
__ADS_1
Fajar yang menyadari hal itu hanya mengabaikan teman-temannya, biar Fajar akan mengurus mereka nanti. Yang terpenting sekarang adalah Peira.
"yang!" ucap Peira terus menangis, perasaannya sangat tidak beraturan sekarang, disatu sisi dia sangat merindukan Fajar, disatu sisinya lagi dia kecewa terhadap Ikmal, dan disisi lainnya dia marah kepada dirinya sendiri atas semua masalah yang dia hadapi.
"hey, kamu kenapa nangis? Tenang dulu ya! Kita duduk disana!" ucap Fajar, Peira mengangguk dan mengikuti langkah kaki Fajar menuju bawah pohon yang rindang.
"gimana? Udah bisa tenang?" tanya Fajar saat keduanya sudah duduk sembarangan diakar pohon yang menonjol itu.
Peira mengangguk pelan, sesekali mengusap pipinya, Fajar juga ikut membantu Peira menyusut pipinya.
"kalau udah tenang, cerita! Ada apa?" tanya Fajar dengan nada yang dibuat sehalus mungkin.
"Ikmal yang!" ucap Peira dengan bibir yang gemetar.
"Ikmal kenapa?" tanya Fajar.
"Ikmal udah bohongin kita selama ini, keluarganya nggak bangkrut yang. Dia masih punya semua hartanya." jawab Peira.
"kamu tau dari mana?" tanya Fajar.
"aku *** semua dari kakaknya." jawab Peira.
"ya udahlah Pei, harusnya kita bersyukur karena Ikmal nggak bener-bener susah seperti kita." ucap Fajar dengan entengnya.
"kamu kok masih bisa bicara seperti itu sih yang? Harusnya kamu marah karena dia udah bohongin kita." ucap Peira.
"astaga Pei, kenapa harus marah? Mungkin dia punya alasan sendiri kenapa dia sampai bohongin kita." ucap Fajar.
"alasan apa? Buat apa dia bohongin kita? Apa untungnya buat dia?" tanya Peira menggebu-gebu.
"kamu yang tenang dulu, jangan berpikir kalau apa yang menurut kita benar itu memang benar. Lebih baik kita bicarkan langsung masalah ini sama dia, baru kita akan tau apa sebenarnya alasan Ikmal bohongin kita."
Peira mengangguk, karena memang pada dasarnya dia selalu tidak bisa membantah perkataan Fajar.
Meskipun sudah sepakat, tapi Peira masih terlihat sedih. Fajar harus sedikit memutar otak untuk membuat Peira tersenyum.
Fajar mengedarkan pandangannya kesekeliling, dipetiknya bunga dandelion yang tumbuh liar dekat akar pohon itu, kemudian meniupnya tepat di depan wajah Peira.
Dandelion itupun seketika berhamburan, terlihat seperti salju yang berjatuha
n, sebagian mendarat dirambut Peira.
"yang?" ucap Peira sambil memperhatikan setiap helai kelopak dandelion yang berterbangan. Mulutnya sampai terbuka, merasa takjub dengan keindahan dandelion.
Peira lupa kapan terakhir kali melakukan hal itu dengan dandelion, waktu kecil mungkin. Karena waktu Peira kecil dia sering sekali meniup bunga dandelion seperti yang dilakukan Fajar tadi.
"maaf ya, jadi kena rambut kamu deh." ucap Fajar, dia memunguti kelopak dandelion yang jatuh di rambut Peira sambil tersenyum.
Peira tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak ikut tersenyum, perbuatan Fajar sangatlah manis baginya. Peira sampai bisa melupakan semua permasalahannya untuk sementara waktu.
---------
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....