
Tepat pukul 20.00, Air benar-benar mancur dari kolam besar itu seperti percikan api, lampu-lampu yang sedari tadi tidak berfungsi, sekarang memperlihatkan betapa cantik dirinya, menyala berwarna-warni dan berkedip-kedip.
Teriakan para pengunjung menambah meriahnya suasana malam temaram ini. Merasa takjub dengan pemandangan yang disuguhkan dihadapan mereka.
Peira sampai loncat-loncat kegirangan bak bocah sd yang mendapat hadiah lolipop, Fajar ikut tertawa melihat Peira sebahagia itu, padahal ini hanya destinasi wisata recehan.
"Yang, itu keren banget sumpah." Ucap Peira masih jingkrak-jingkrak tak karuan memegangi lengan Fajar.
"Iya, bagus ya." Sahut Fajar, dia lebih tertarik melihat wajah Peira yang kegirangan ketimbang air berkedok kembang api yang terus meluncur ke udara lalu berjatuhan kedasar kolam.
Tempat ini benar-benar penuh dengan tipu muslihat, semua yang pengunjung lihat bukanlah kenyataan yang sebenarnya.
Pertunjukan air mancur warna-warni itu berlangsung sekitar 15 menit lamanya, semua keindahan yang disuguhkan malam ini cukup sampai disini, jika masih ingin menikmatnya, silahkan kembali lagi besok dijam yang sama. Begitu kira-kira terdengar suara cs dari sebuah speaker yang ada.
***
"Om lagi dong om." Bocah itu terus merengek agar pertunjukan tadi bisa diulang lagi oleh Ikmal.
"Nggak bisa Gio, pertunjukannya udah habis malam ini." Ikmal mencoba untuk menjelaskan kepada keponakannya itu.
"Gio mau liat lagi om, tolong bilang sama yang punya, nyalakan lagi kembang apinya." Gio menganggapnya kembang api raksaksa.
'Bilang kepalamu, memangnya ini tempat punya solmet gue apa?' Ikmal menggerutu didalam hati menghadapi rengekan Gio yang tidak ada habisnya.
"Besok kita kesini lagi ya, sekarang udah malam, ayo kita pulang!" Ikmal menurunkan Gio dari pangkuannya dan membiarkannya berjalan sendiri.
"Gio mau naik kuda itu." Gio menunjuk sebuah kuda bersayap, tentunya bukan kuda sungguhan, itu hanya sebuah patung untuk dijadikan spot foto.
Mata Ikmal ketika terbelalak melihat pasangan kekasih yang sedang berdiri tepat disamping kuda bersayap itu.
'Apa yang sedang mereka lakukan disini?' Batin Ikmal. Mentap dengan nanar.
Apalagi kalau bukan sedang pacaran, jomblo permanen seperti dirinya sudah lama tidak merasakan bagaimana rasanya berpacaran, selama ini dia tidak ingin memberi harapan kepada perempuan manapun.
Ikmal menuntun Gio untuk mendekat kearah Fajar dan Peira meski dengan perasaan gusar, Pertemanan mereka yang cukup berjalan dengan baik membuat Ikmal memutuskan untuk menegur pasangan kekasih itu.
Gio hanya menurut saat melihat wajah pamannya itu berubah semakin kecut.
Sementara itu,
"Pei." Fajar memanggil.
"Apa?" Sahut Peira.
"Boleh peluk?" Tanya Fajar tanpa merasa malu lagi.
__ADS_1
"Boleh kalau kamu nggak punya malu. Hihi." Peira menganggap perkataan serius Fajar hanya sebuah candaan.
Tanpa apa-aba lagi, Fajar langsung meraih tubuh Peira kedalam dekapannya, membuat yang dipeluk merasa kaget, dia tidak berpikir kalau kekasihnya itu benar-benar akan memeluknya di tempat ramai seperti ini.
Deg!
Ikmal menghentikan langkahnya saat melihat Fajar memeluk Peira, padahal jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja. Dia memasang telinga baik-baik saat terdengar gumaman dari mulut Fajar. Bukan kepo, dia hanya penasaran dan ingin tau. Sama saja.
Sakit rasanya melihat kemesraan perempuan yang dia cintai dengan kekasihnya itu, tapi apalah dayanya, ingin menyentuh Peira tapi tangannya tidak sampai.
Isi surat perjanjian itu masih melekat diingatannya, tapi bukan itu alasan sebenarnya, dia tidak ingin melihat Peira semakin menjauh darinya, itu hanya akan semakin membuat luka di hatinya bertambah parah.
Dengan bersahabat seperti sekarang, rasanya jauh lebih baik, perempuan itu masih bisa dia lihat dan dia awasi oleh pandangannya sendiri.
"Pei, mau nggak jadi istri aku?" Tanya Fajar dengan intonasi yang tidak bisa ditebak. Entah dia sedang bercanda atau serius, Peira tidak bisa membaca air muka Fajar ketika mengatakan itu.
Ekspresinya ketika bercanda dan serius sama-sama saja seperti itu.
Duaaaar!
Terasa langit bertaburan bintang di sana sedang bersambaran kilat, kilat itu menyambar tepat dihati Ikmal. Sudah tidak ada harapan lagi baginya, apalagi selama ini dia tidak pernah memperjuangkan perasaanya, hanya bisa memendam saja.
Dia memang pengecut, Ikmal memaki dirinya sendiri, mengutuki kebodohannya yang masih saja mencintai Peira meskipun dia tau sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa memiliki perempuan itu.
Peira melepaskan pelukannya untuk mencari tau melalu sorot mata laki-laki itu, di tatapnya cukup lama, Peira tertawa ketika sadar kalau Fajar sedang menggodanya.
"Kenapa ketawa?" Tanya Fajar.
"Kamu bercanda nggak pada tempatnya." Ucap Peira setelah berhasil mengendalikan diri.
"Aku nggak bercanda Pei, ini udah saatnya. Aku mau mutlak memiliki kamu seutuhnya." Fajar meraih tangan Peira dan mengenggamnya.
Benar, dia benar-benar sedang serius sekarang. Tatapannya yang hangat mampu mencairkan gumpalan kristal dipelupuk mata Peira, terharu.
"Kapan?" Tanya Peira, menahan gejolak di hatinya yang terus meloncat kegirangan dan menunggu jawaban tidak sabar.
"Setelah kamu jawab iya." Jawab Peira.
Akhirnya cairan bening itu meleleh juga, tidak menyangka waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Alih-alih menjawab, Peira malah memeluk Fajar, lebih erat ketimbang pelukan Fajar tadi saking senangnya.
"Jangan nangis, ayo jawab!" Menyadari sifat cengeng Peira ketika mendapat kabar gembira sekalipun pasti menangis, bahagia.
"Coba bilang sekali lagi." Peira merengek, membuat Fajar semakin gemas.
"Pei, apa kamu mau jadi istri aku? Menghabiskan waktu bersama dan menjadi tua bersama-sama?" Tanya Fajar tepat ditelinga Peira.
__ADS_1
"Aku mau yang, aku udah nunggu selama ini." Jawab Peira secepat kilat.
"Maaf ya udah membuat kamu menunggu selama ini." Ucap Fajar.
"Nggak apa-apa, yang penting sekarang aku seneng kamu mau nikahi aku secepatnya." Balas Peira.
Satu kecupan mendarat dipucuk kepala Peira, menambah sensasi luar biasa yang perempuan itu rasa.
Tidak muluk-muluk, hanya sesederhana itu prosesi lamaran Fajar kepada Peira, tapi mampu membuat perempuan itu menangis terharu bahagia.
Tanpa menyadari adanya sebuah hati yang teriris-iris hingga menjadi serpihan kecil, bahkan sampai hancur tak berwujud lagi. Ikmal memutuskan untuk pergi, menjauh dari kenyataan yang tidak dapat dia sangkal, mereka benar-benar bahagia, lalu apa yang masih dia harapkan?
Tidak ada! Hanya kenapa rasanya bisa seperih ini?
Menoleh kembali, mereka masih dalam posisi berpelukan, ingin sekali rasanya dia berlari, tapi untuk apa? Hanya mengejar impian yang tiada pasti.
Flash back off.
***
Pagi menjelang siang itu disebuah perusahhan ternama ibu kota Jawa Barat, tepatnya di ruang meeting, semua petinggi jajaran divisi, sedang mengadakan meeting yang dipimpin langsung oleh Direktur utama perusahaan itu sendiri.
Ikmal berbicara melalui mikrofon dihadapan semua kepala bagian dari masing-masing divisi perusahaannya, menyampaikan untuk apa mereka saat ini duduk ditempat ini.
"Terimakasih saya ucapkan kepada kepala bagian yang sudah hadir disini, atas kerja keras kalian selama ini, membuat prodak perusahaan kita banyak diapresiasi di kalangan masyarakat luas sampai kemanca negara."
Kira-kira seperti itu Ikmal membuka dengan sambutan meeting kali ini, dan terus berlanjut hingga sampai pada titik terpenting alasan mereka dikumpulkan ditempat ini.
"Sehubungan dengan pensiunnya Pak Deddy dari perusahaan, maka saya sudah memutuskan mengangkat manager baru untuk perusahaan kita ini." Ikmal mulai bicara keinti permasalahannya setelah banyak bicara sebelumnya.
Semua kepala divisi tidak terkejut lagi dengan pengangkatan manager baru diperusahaannya, karena beberapa hari terakihir berita tentang ini sudah berseliweran ditelinga semua karyawan termasuk kepala divisi, hanya mereka tidak tau kandidat yang akan menggantikan pak Deddy itu siapa.
Semua kepala divisi hanya bisa berangan-angan, berharap kalau mereka yang nantinya akan ditunjuk, mengingat pak Deddy sebelum menjabat jadi manager juga seorang kepala divisi.
Detakan jantung para kepala divisi seirama dengan jarum jam dinding yang terus berputar, menanti detik-detik Ikmal sang direktur utama menyebutkan nama yang akan menjabat sebagai manager.
Tegang, berharap namanyalah yang akan disebut, siapa yang tidak tergiur dengan jabatan setinggi itu bagi mereka, apalagi lamanya mereka mengabdikan diri diperusahaan itu, membuat mereka memiliki harapan lebih.
Tapi harapan mereka seolah sirna setelah Ikmal angkat bicara.
"Saya persilahan untuk Bapak Fajar sebagai manager baru kita, untuk menyampaika sesuatu barang sepatah atau dua patah kata kepada semua kepala divisi disini."
Semua orang terlonjak kaget, termasuk Fajar, nama yang Ikmal sebut barusan.
^^^Jangan lupa likenya...^^^
__ADS_1