
Peira disambut dengan hangat oleh anggota keluarga Fajar, apa lagi Adel, adik Fajar yang paling kecil itu sangat lengket kepada Peira. Vania sangat antusias dengan kedatangan Peira, dia langsung menggoda pasangan yang terlihat serasi itu.
"cie... Cie... Udah kayak pengantin baru aja nih." goda Vania.
"amiiin." Fajar dan Peira hanya mengamini.
"Debi kemana yang? Kok nggak kelihatan?" tanya Peira.
"kayaknya lagi main dirumah tetangga sebelah." jawab Fajar.
"ohh." Peira hanya ber-oh ria.
"ayo Adel, dihabiskan kuenya!" seru Peira.
Adelpun kembali melahap kue yang tadi sempat Peira beli dijalan sebagai buah tangan.
'malu juga main ke rumah camer nggak bawa apa-apa.' pikir Peira.
"ehh, nak Peira sudah datang. Maaf ya, ibu baru pulang dari warung, beli sayuran." ucap bu Fitri yang baru datang.
Peira cepat-cepat meraih tangan bu Fitri lalu menyalaminya.
"nggak apa-apa bu, Pei juga baru sampai kok." jawab Peira sambil tersenyum.
"oh ya? Ibu mau masak apa? Peira bantu ya!" tanya Peira.
"ibu mau masak semut telur dan sayur lodeh kesukaan anak-anak. Ayo kita masak bersama!" jawab bu Fitri.
Peira dan bu Fitripun pergi ke dapur untuk memasak, sedangkan Fajar menemani kedua adiknya diruang tengah.
Sebagai seorang perempuan, sedikit banyak Peira bisa meracik bumbu masakan, sehingga dia tidak terlalu kaku ketika berada di dapur.
Hampir satu jam setengah mereka berjibaku di dapur, makanan pun siang dihidangkan. Terdengar lantunan suara adzan telah berkumandang, itu menandakan matahari sudah berada tepat diatas kepala kita.
Akhirnya semua memilih untuk menunaikan kewajibannya dulu kepada sang pencipta.
Setelah selesai shalat, merekapun berkumpul di meja makan untuk menyantap makan siang yang tadi dimasak Peira dan bu Fitri. Debipun sudah kembali dari bermainnya.
Tidak ada yang angkat bicara ketika mereka sedang makan, karena begitulah etikanya, hanya terdengar bunyi yang dihasilkan saat sendok dan piring bersentuhan.
Setelah selesai makan, Peira melihat ketiga adik Fajar yang sudah tepar duluan diruang tengah.
'mungkin kekenyangan, jadi ngantuk deh. Hihi.' pikir Peira, dia cekikikan sendiri.
__ADS_1
Peirapun pergi ke dapur, dia melihat bu Fitri yang sedang mencuci piring bekas memasak dan makan tadi.
"bu Peira bantu ya." ucap Peira.
"Kenapa kamu nggak ikut tidur sama anak-anak Pei?" tanya bu Leni.
"nggak bu, Pei mau bantu ibu dulu." Peirapun mulai membilas piring yang sudah diberi sabun oleh bu Fitri tadi.
"terimakasih ya nak Pei, kamu sangat baik dan rajin, cantik pula. Pantas saja Fajar sangat mencintai kamu." ucap bu Fitri.
Peira tersipu malu mendengar pujian dari calon mertuanya itu, wajahnya seketika memerah.
"ahh, ibu ini bisa aja." Peira langsung mengulum senyum.
Mereka terlihat kompak saat melakukan pekerjaan itu, mereka seperti partner yang serasi. Sambil mencuci piring-piring itu, mereka terlibat obrolan ringan seputar Fajar, sesekali Peira tertawa saat bu Fitri bercerita tentang kenakalan Fajar dimasa kecilnya.
Dari ambang pintu dapur, Fajar menyaksikan keharmonisan diantara ibu dan kekasihnya itu, dia tersenyum melihat mereka yang semakin akrab saja.
Fajar merasa beruntung karena memiliki perempuan-perempuan hebat disekitarnya, hanya saja dia belum bisa membahagiakan mereka secara materi.
"Pei, lagi sibuk ya?" ucap Fajar, sontak Peira dan bu Fitri menoleh ke arahnya.
"ehh, iya nih yang. Aku lagi bantu ibu." jawab Peira.
"bisa ikut aku sebentar nggak? Ada yang mau aku bicarakan." ucap Fajar, Peira menoleh kearah bu Fitri meminta persetujuan.
Setelah mencuci tangannya dengan bersih, Peira ikut bersama Fajar. Ternyata Fajar mengajak Peira kedalam kamarnya. Ketika memasuki kamar Fajar, Peira melihat banyak sekali poster karakter di film Avanger tertata dengan rapi di dinding. Seperti Iron Man, Hulk, Captain America, Thor dan lain-lain.
"sejak kapan kamu koleksi poster Avanger yang?" tanya Peira.
"sejak waktu itu." jawab Fajar.
"hah?" Peira terlihat bingung.
"udah lah Pei, itu nggak penting. Yang penting sekarang, kamu tutup mata dulu." jawab Fajar.
"tutup mata? Buat apa?" tanya Peira semakin bingung.
"udah, nurut aja dulu." jawab Fajar.
Tanpa membantah lagi, Peirapun akhirnya memejamkan matanya. Fajar menyibak rambut Peira yang terurai sampai kedepan untuk memudahkan pekerjaannya.
Peira menikmati setiap sentuhan hangat dari tangan Fajar, bahkan dia sampai merinding sendiri saat tangan Fajar menyentuh tengkuknya.
__ADS_1
Peira merasakan suatu benda asing dilehernya, dia tidak bisa lagi menahan diri untuk membuka mata.
"yang, ini..." ucap Peira menggantung, dia menunjuk benda yang kini sudah mengalung di lehernya.
"maaf ya Pei, aku belum bisa kasih kamu kalung emas. Ini hanya imitasi, aku janji kalau aku udah punya uang, aku pasti akan menggantinya dengan yang asli." ucap Fajar sambil memegang kedua tangan Peira.
Sungguh, perkataan Fajar tepat menancap di ulu hati Peira, dia sangat terharu. Matanya kini sudah memerah dan mulai berkaca-kaca. Peira tidak menyangka kalau Fajar akan memberinya kejutan seperti ini.
"waktu itu, aku antar makanan ke toko emas, aku lihat banyak sekali kalung yang indah. Aku jadi teringat sama kamu Pei, aku pengen banget beli kalung itu buat kamu, tapi sayang uang akunya yang nggak ada. Jadinya aku beli aja kalung ini ditoko aksesoris." ucap Fajar.
Peira tidak bisa lagi menahan rasa haru yang ada di hatinya, dia langsung berhamburan kedalam pelukan Fajar, Fajar menyambut pelukan Peira dengan hangat lalu mengelus rambut Peira dengan lembut.
Beberapa saat mereka saling berpelukan, melepaskan seluruh hasrat dan kerinduan yang selama satu minggu ini tidak dapat mereka salurkan. Fajar merasa kaos yang dikenakannya sudah basah sekarang, Fajar melepaskan Peira dari pelukannya, dia menatap wajah Peira lekat-lekat, terlihat kedua pipi Peira sudah basah akibat menangis, Fajar mulai menyentuh pipi Peira.
"hey, kenapa kamu menangis? Kenapa kamu jadi secengeng ini?" tanya Fajar, jarinya menyusuti air mata Peira.
"ih, aku terharu tau." ucap Peira sedikit kesal, dia kembali memeluk Fajar, dia benar-benar terbawa perasaan saat ini, ini kali pertamanya Fajar bersikap sangat romantis kepada Peira.
"Tapi nggak apa-apa kan cuma kalung imitasi?" tanya Fajar.
"mau kalung imitasi kek, mau kalung terbuat dari tali rapia sekalipun aku tetep suka kalau kamu yang kasih." jawab Peira.
Dia sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya, bahkan dia memeluk Fajar lebih erat dari sebelumnya.
"terimakasih ya Pei, kamu udah mau jadi bagian terpenting di hidup aku, semoga kita bisa tetap seperti ini terus. Aku sayang kamu."
***
Ikmal terlihat selalu mengerjakan tugasnya dengan baik, apalagi sekarang dia sedikit-sedikit sudah bisa meracik kopi yang nikmat dan melukis diatas secangkir kopi.
Ikmal sangat bersyukur karena sekarang dia mengerti bagaimana susahnya mencari uang. Tidak seperti saat tinggal dirumah orang tuanya, dia hanya bingung untuk menghabiskan uang dengan cara bagaimana.
Sore ini, kedai terlihat lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena akhir pekan, jadi kebanyakan orang memilih untuk nongkrong di kedai kopi ini menghabiskan hari liburnya.
Ikmal membawa nampan berisikan dua cangkir kopi hasil racikannya sendiri, dia berjalan menuju meja pelanggan yang tadi memesan kopi itu kepada rekan kerjanya.
"silahkan tuan dan nona, selamat menikmati." ucap Ikmal ramah setelah menaruh dua cangkir itu diatas meja.
"terimakasih." sahut laki-laki muda itu. Sedangkan perempuan yang bersamanya sedang sibuk memainkan ponsel.
Perempuan itu mengangkat kepalanya saat merasa suara pelayan itu sangat familiar di telinganya.
Ikmal dan perempuan itu saling menatap dengan tatapan kaget.
__ADS_1
...--------...
...Mmm , kira2 siapa ya perempuan itu?? Tunggu kelanjutannya reader, jangan lupa kasih like sama komentar nya , kritik dan saran juga sangat dibutuhkan biar liker sama viewers nya bertambah......