You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Benarkah dia?


__ADS_3

Menunggu sesuatu yang tidak pasti selalu terasa menyayat hati, bagai pungguk merindukan bulan menanti kau menyambut cinta ini.


Aku rela menjadi daun kering yang terinjak saat kau melangkah bersamanya, asal bisa melihat kau bahagia tanpa terusik oleh bayanganku.


Berapa banyak sajak yang telah ku tulis untuk menjelaskan bahwa aku mencintaimu, tapi semua percuma saja, sampai dua terbalik sekalipun kau tetap takkan pernah bisa menjadi milikku.


Biarlah, cinta ini akan selamanya tersimpan dalam dada, bicara tidak ada gunanya, bertindak tidak berarti adanya, tidak akan bisa menentang garis takdir yang memang sudah terukir sejak lama.


Hanya saja, hati ini hampa rasanya, terlalu lama tidak dijamahi oleh manusia, bahkan sayapku telah kau patahkan sejak dulu, membuatku sulit terbang untuk mencari cinta yang lain.


Merajut kembali asa bagaikan menyatukan kepingan kaca yang telah pecah terburai, bahkan tangan ini harus tergores untuk berusaha melakukan semua itu. Begitupun aku mencintaimu.


Kegalauan Ikmal masih berlanjut, sambil menunggu sambil mengenang setiap momen yang telah lalu dalam hidupnya. Waktu singkat yang tidak bisa dia lupakan dalam waktu selama ini.


Kembali meneguk moccacino yang dia pesan tadi, melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Ini terlalu awal dia datang, masih ada waktu kurang lebih satu jam dari yang mereka janjikan sebelumnya.


Ikmal sengaja datang lebih awal untuk sekedar melepas penat diakhir pekan ini, kemudian beralih kepada ponsel yang di letakkannya diatas meja.


Bersajak tentang perempuan tangguh yang tidak bisa dia miliki.


Kadang Ikmal berpikir untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada perempuan itu, sebab rasa cinta yang dia miliki terasa berat untuk dipikul sendiri.


Tapi, surat perjanjian itu kembali menghantui Ikmal, apa surat itu masih berlaku juga untuk sekarang setelah sekian lama?


Jika dirinya egois dan hanya memikirkan perasaannya sendiri, mungkin sedari dulu Ikmal bisa memiliki perempuan itu. Tapi kenyataannya, Ikmal tidak memiliki keberanian sebanyak itu, dia terlalu takut menyakiti perasaan Fajar.


Sementara itu, di sebuah mall ternama diibu kota ini, Peira dan Fajar bersemangat memilih souvenir setelah sebelumnya mengunjungi tempat percetakan dan memilih sendiri undangan, dan akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah undangan berwarna abu-abu yang desainnya simple namun terkesan unik.


"Yang, ini lucu banget. Ini juga, ini lagi." Peira menunjuk berbagai benda yang menarik perhatiannya, terlihat antusias.


"Iya, semuanya memang bagus, gimana kalau kita campur aja Pei." Fajar memberi saran.


"Apa iya bisa mbak?" Tanya Peira pada pelayan toko itu.


"Tentu saja bisa mbak, silahkan butuh berapa?" Pelayan itu menyahuti.


Fajar dan Peirapun disibukkan dengan memilih souvenir sebagai cendra mata diacara resepsi pernikahannya nanti, terlalu awal memang, tapi semangat keduanya untuk mempersiapkan segalanya dengan baik, membuat mereka melakukan segala hal dimulai dari sekarang.


Tiba-tiba ponsel Peira bergetar, dia merogoh saku celananya dan mendapati benda kecil itu, menghentikan sejenak aktifitas menyenangkan memilih souvenir. Di bukanya pesan yang masuk, dahinya mengerut ketika lagi-lagi nomor itu mengiriminya pesan galau.

__ADS_1


'Sebenarnya siapa sih orang ini? Apa coba maksudnya ngirim gue sms-sms beginian?' Peira menggerutu didalam hati. (isi pesannya yang diawal chapter).


Peira semakin penasaran, dia menekan tombol hijau membuat panggilan kepada si pengirim pesan, dia ingin bertanya sejelas-jelasnya apa tujuan orang itu mengiriminya pesan seperti itu.


Namun nihil, meskipun terdengar nada dering, tapi panggilan itu terputus dengan sendirinya karena tidak ada tanggapan dari orang disebrang sana.


"Ada apa Pei?" Fajar yang melihat perubahan air muka Peira.


Peira yang mendapat teguran terlihat gelagapan, Fajar jangan sampai tau kalau ada orang yang selalu menerornya dengan sajak-sajak galunya. Lalu apa yang harus Peira jelaskan kepadanya, sedangkan dia sendiripun tidak tau menau tentang orang yang mengiriminya pesan seperti itu.


Peira berpikir keras mencari alasan yang tepat untuk dikatakan kepada Fajar.


"Ehh, ini yang, ibu katanya titip sabun kalau aku pulang nanti, pas aku telfon tapi nggak diangkat." Peira menggigit bibir bawahnya, bodoh! Apa alasannya itu masuk akal tidak ya? Apa Fajar percaya? Peira mengikuti ke bodohannya di dalam hati.


Fajar terkekeh geli sambil geleng-geleng kepala.


"Ya udah, nanti kita mampir ke alfamart aja." Ucap Fajar yang membuat Peira bisa bernafas lega. Fajar sama sekali tidak merasa curiga.


Apa salah ya Peira merahasiakan masalah ini dari kekasihnya itu? Tapi dia tidak ingin membuat beban baru untuk Fajar, apalagi sekarang mereka sedang disibukkan dengan segala persiapan resepsi, Peira tidak ingin masalah ini menjadi penganggu ditengah kebahagiaan mereka.


***


Ikmal mempersiapkan hati untuk melihat setiap adegan yang mereka ciptakan, meskipun keduanya selalu menjaga sikap ketika didepan Ikmal, hanya untuk menjaga perasaannya.


Tapi Ikmal tidak bisa menutup mata, setiap gerak-gerik mereka meskipun saat bertatap mata membuat hatinya merasa dicambuki ikat pinggang. Hihi.


"Mal, loe udah lama sampai?" Fajar menegur Ikmal dimeja yang sudah mereka pesan sebelumnya.


"Ahh nggak juga, baru habis dua gelas cappucino ini." Ikmal menunjuk dua gelas kosong dihadapannya sambil terkekeh.


Ikmal sangat pintar menyembunyikan kesediaannya dihadapan Fajar dan Peira, dia melakukan ini semua demi persahabatan yang telah lama terjalin.


Peira kembali mengingat si pengirim sms itu saat melihat Ikmal, feelingnya terlalu kuat menuduh Ikmal yang sudah menerornya selama ini. Tapi Peira berusaha untuk bersikap biasa saja sebelum dia menemukan bukti yang kuat.


"Yang, katanya ngajak teman-teman kamu juga, kok cuma ada Ikmal aja sih? Apa yang lain belum pada datang?" Tanya Peira kemudian.


"Inikan teraktiran khusus Direktur Utama Pei, nggak bisa dicampur adukkan sama karyawan biasa. Iya nggak Mal?" Fajar meminta persetujuan sahabatnya itu.


"Iya dong, jadi gue harus diteraktir.secara spesial, nggak boleh asal-asalan, gue kan Direktur Utama." Ikmal membanggakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Haha, iya gue tau loe itu Direktur utama yang sebentar lagi diangkat jadi Presiden Direktur." Peira menimpali, mengusir rasa canggung yang selalu muncul diawal pertemuan.


Fajar menarik kursi untuk Peira, Peirapun duduk diatasnya sambil tersenyum hangat kepada kekasihnya.


"Makasih yang." Fajar membalas senyum kekasihnya itu.


Ikmal menelan salivanya melihat perhatian kecil yang Fajar lakukan kepada Peira, membuat hatinya meronta ingin memberi perhatian yang sama, tapi apa daya, hanya bisa menangis didalam hati.


Berusaha untuk bisa menahan diri, tidak terpancing dengan adegan singkat yang membuat hati menjadi iri. Fajar duduk dikursi sebelah Peira, tepat berhadapan dengan Ikmal.


"Bokap gue masih lama kali pensiunnya, gue nggak akan bisa jadi Presdir dalam waktu dekat ini, huaa." Ikmal mulai mengoceh kemana-mana.


"Tenang aja, loe masih muda ini, masih ada banyak waktu buat cari pengalaman. Menurut gue Pak Danu orang hebat, gue rasa dia nggak akan pensiun meskipun umurnya udah cukup buat pensiun." Ucap Fajar.


Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan merekapun memilih menu yang mereka inginkan.


Sambil menunggu pesanan datang, Ikmal dan Fajar terus terlibat perbincangan seputar pekerjaan, Peira hanya jadi pendengar saja. Tiba-tiba dia teringat kembali dengan orang yang selalu mengiriminya pesan galau, dia berinisiatif menelfon nomor itu, dan memastikan kalau orang itu bukanlah Ikmal.


Dia memainkan ponselnya dibawah kolong meja, agar Ikmal tidak bisa melihat apa yang dia lakukan.


Tanpa diduga, dering ponsel terdengar saat panggilan Peira terhubung.


Ikmak merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan ponsel didalamnya, dia terlihat gelagapan saat melihat nomor yang tertera dilayar ponselnya, dia tidak menyangka kalau Peira menelfonnya saat ini, diliriknya perempuan yang ada di hadapannya itu, tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, dahi yang mengerut, raut wajahnya tidak bisa terbaca dia sedang memikirkan apa.


Suara nada dering ponsel Ikmal seketika mati saat Peira mengakhiri panggilannya.


'Apa bener dia orangnya?' Masih yakin tidak yakin dengan fakta yang baru dia dapatkan, bisa sajakan ini hanya kebetulan.


"Siapa Mal? Kok nggak diangkat?" Tanya Fajar yang menyadari kalau ocehannya tidak lagi digubris Ikmal.


"Ini si Velisa." Jawab Ikmal dengan cepat, berusaha menutupi kegugupannya.


Tapi Fajar melihat ada sesuatu yang janggal saat pandangan kekasih dan sahabatnya itu bertemu pada titik yang sama.


 


Berikan like dan komentarnya ya readers....


Author mau curhat dikit ya, kalian tau nggak apa yang bikin nyesek? Waktu author udah ngetik panjang, ehh catatan authornya malah kehapus sama anak. Itu nyesek banget lho guys...

__ADS_1


__ADS_2