You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
kecewa


__ADS_3

Part ini lebih panjang lho guys, tega banget kalau nggak kasih like buat author.....


"jadi, berapa cicilan setiap bulannya?" tanya Ikmal.


"3 juta, dikali 2 bulan. Jadi kau pasti tau berapa jumblahnya." jawab bos Toni.


"oke!" Ikmal memungut tas punggungnya yang tadi dia lempar kesembarang arah, lalu dia melempar beberapa gepok uang berwarna merah kerah bos Toni. Dengan sigap, bos Toni menangkapnya.


"jangan ganggu mereka lagi!" seru Ikmal.


"eits, tapi ini belum berakhir. Untuk sekarang mungkin kita belum berjodoh, tapi siapa tau bulan depan kalian tidak bisa membayarnya dan saat itulah saya akan menikahimu. Hahaha." bos Tonipun akhirnya pergi diikuti ketiga anak buahnya.


Ikmal menatap kepergian mereka dengan emosi. Sedangkan bu Leni akhirnya bisa bernafas lega karena masalahnya untuk saat ini bisa teratasi.


Sementara itu, Peira masih gemetar diposisinya, Ikmal berjongkok menyamai posisi Peira yang sedari tadi ingin sekali dipeluknya.


"jangan nangis!" ucap Ikmal, Peira mengangkat wajahnya, anakan sungai terlihat dengan jelas dikedua pipinya.


Reflek Peira memeluk Ikmal, dia masih ketakutan, dia tidak tau apa yang akan terjadi kepada dirinya kalau Ikmal tidak ada tadi.


Ikmal mengusap lembut pundak Peira, berharap perempuan itu bisa sedikit tenang.


'kenapa pelukan ini membuat gue gemetar? Kenapa air matanya jadi kelemahan gue? Kenapa gue jadi seperti ini?' batin Ikmal.


Sedetik kemudian, Peira melepaskan pelukannya, Ikmal merasa kecewa karena pelukan itu hanya dia rasakan sebentar saja.


Peira melihat wajah Ikmal yang memar, banyak jejak tanda kebiru-biruan disana. Bahkan sisa darah dibawah lubang hidungnya mulai mengering.


"Mal, loe terluka parah." ucap Peira sambil menyentuh hidung Ikmal yang berdarah. Ikmal menyusut asal area hidungnya.


"nggak apa-apa. Yang penting loe baik-baik aja." balas Ikmal, senyuman sengaja dia kembangkan agar Peira tidak semakin merasa khawatir kepada dirinya.


***


Peira mencelupkan handuk kecil kedalam wadah berisikan air hangat, lalu meremasnya. Perlahan dia mulai menempelkan handuk basah itu ke bagian wajah Ikmal yang memar.


Ikmal hanya diam saja saat melihat wajah Peira yang semakin dekat dengan wajahnya. Sial! Kenapa baru sekarang dia menyadari kalau perempuan itu sangatlah cantik, meskipun wajahnya terlihat sembab akibat menagis.


Sudut bibirnya tersungging manakala memikirkan itu. Senyumnya memudar dan berubah menjadi erangan saat Peira menekan lukanya terlalu kencang.


"aww, Pei pelan-pelan!" seru Ikmal sambil menarik wajahnya menjauhi handuk yang Peira pegang.


"ehh, sory sory, kekencengan yaa?" tanya Peira.


"lain kali kalau ada masalah cerita sama gue, selama ini loe selalu nolong gue. Dan waktu gue sakit, loe yang rawat gue." ucap Ikmal.


Peira menaruh handuk kecil itu kedalam wadah, dia menarik nafas panjang sebelum berkata.


"entahlah Mal, gue juga nggak nyangka kenapa ibu bisa menghianati kepercayaan gue." ucap Peira lesu.


"...tapi loe harus janji Mal, loe jangan beritahu Fajar tentang masalah ini." sambung Peira.


"jadi Fajar nggak tau tentang masalah ini?" tanya Ikmal.


Peira menggeleng.

__ADS_1


"...gue nggak janji Pei, gue rasa Fajar berhak tau. Dalam satu hubungan, nggak seharusnya ada yang ditutup-tutupi." ucap Ikmal.


"gue mohon Mal, gue nggak mau Fajar sampai kepikiran. Masalah dia aja udah banyak, gue nggak mau jadi beban buat dia." ucap Peira.


"tapi, gue rasa kalian bisa menghadapi masalah ini sama-sama." ucap Ikmal.


"entahlah Mal, biar semua berjalan bagaimana semestinya." ucap Peira.


Beberapa saat suasana berubah menjadi hening, sampai akhirnya Ikmal kembali buka suara.


"apa ini penyebab loe sampai berhenti kuliah?" tanya Ikmal.


"iya, selama ini gue berusaha menyembunyikannya dari Fajar. Tapi akhirnya ketauan juga." Peira tersenyum getir.


Astaga! Peira melupakan sesuatu. Kemudian dia menyoroti Ikmal dengan tatapan mengintrogasi, membuat orang yang ditatap menaikkan sebelah alisnya.


"apa?" tanya Ikmal yang tidak nyaman dengan tatapan Peira.


"dari mana loe dapat uang sebanyak itu? Sedangkan gaji loe nggak sampai segitu. Gue tau." tanya Peira, kecurigaannya terhadap Ikmal kembali dia rasakan.


Sedangkan Ikmal, dia terlihat kikuk, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Peira semakin merapatkan kedua alisnya menunggu jawaban Ikmal.


"itu, tempo hari temen gue titipin uang gajiannya ke gue, katanya takut kepakai kalau uangnya dia simpan sendiri. Digabung sama gaji gue, masih ada sisanya sedikit." jawab Ikmal.


"astaga! Gue pasti ganti uang itu Mal, sory banget yaa gue udah merepotkan loe." ucap Peira.


Ikmal menghembuskan nafas lega karena Peira mau percaya, padahal itu adalah uang sakunya yang selama ini dia simpan jika sewaktu-waktu ada keperluan mendesak. Dan benar saja, waktu itu adalah sekarang.


"nggak usah terburu-buru, yang penting loe baik-baik aja sekarang." ucap Ikmal.


***


"kenapa ibu kasih uangnya ke dia?" tanya Peira yang mencoba mengontrol emosinya.


"maafkan ibu Pei, ayahmu menderita didalam sana. Ibu harus membayar sejumlah uang untuk mengurangi sedikit hukumannya." ucap bu Leni penuh penyesalan.


"biarkan dia membusuk didalam sana, ibu tidak perlu mengasihinya. Dia pantas menerima itu." ucap Peira dengan menggebu-gebu.


Perkataan Peira bagai goresan yang menyayat dihati bu Leni, bagaimanapun juga bu Leni masih sangat mencintai ayahnya Peira meski apa yang sudah dia perbuatnya dulu.


Bu Leni masih berharap kalau ayahnya Peira benar-benar berubah dan mereka bisa kembali menjadi keluarga yang utuh.


"tapi Pei, bagaimanapun juga dia tetap ayahmu." ucap bu Leni.


"mana ada ayah yang tega menjadikan anaknya sebagai jaminan hutangnya? Apa ibu lupa apa yang sudah dia perbuat kepada kita dulu? Kita menderita selama ini karena dia bu, seharusnya ibu sadar akan hal itu!" ucap Peira semakin menggebu.


Bu Leni kembali terisak, dia tidak bisa membatah perkataan Peira, karena Peira memang benar. Tapi diapun tidak bisa mengabaikan seruan hatinya yang berkata kalau suaminya itu telah berubah dan mau menerimanya kembali.


Tanpa mereka sadari, sepasang telinga sedari tadi mendengar apa yang mereka bicarakan. Sepasang telinga itu adalah milik Ikmal.


Dia menyandarkan punggungnya di tembok penghalang antara kontrakan Peira dan tetangganya.


Sebenarnya, Ikmal hanya berniat untuk melihat keadaan Peira disana. Niatnya dia urungkan saat melihat dari jendela ibu dan anak itu sedang bersitegang. Ikmalpun memutuskan untuk menunggu diuar.


Sesekali dia melihat kearah dalam, suara Peira yang keras membuat Ikmal tidak bisa menghindari untuk mendengar apa yang perempuan itu katakan.

__ADS_1


Ikmal sampai harus berpikir keras.


'dimana ayahnya Peira berada? Kenapa dia tega menjual anaknya secara tidak langsung?'


***


Hari-hari yang Peira jalani terasa lebih berat, pasalnya dia harus memutar otak agar mendapat uang tambahan untuk mengembalikan uang temannya Ikmal. Dia harus bekerja lebih keras 2x lipat. Bahkan beberapa hari ini Peira sampai harus lembur dan pulang malam.


Itu semakin membuat jarak diantara Peira dan Fajar semakin menjauh, bahkan mereka sudah jarang sekali bertemu. Hanya sesekali bervideo call untuk sekedar melepas rindu disela kesibukan masing-masing.


Peira berusaha untuk bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya saat bertatap muka secara daring dengan Fajar, dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya kepada Fajar.


Fajarpun tidak terlihat curiga sama sekali, Peira terlalu pandai menyembunyikan rahasianya.


Sementara itu, pagi tadi Ikmal bertemu dengan tante Dewi, kakak dari ibunya. Tante Dewi bercerita kalau Denis (sepupu Ikmal, anak tante Dewi) kemarin malam digrebeg polisi saat berada diapartemennya.


Denis diciduki polisi tengah pesta narkoba bersama teman-temannya. Tante Dewi bercerita sambil menangis-nangis, Ikmal selalu tidak tega saat melihat orang lain menangis di hadapannya.


Tante Dewi meminta Ikmal untuk menjenguk Denis sebelum dia dipindahkan kekantor penjara pusat dan menjalani rehabilitasi.


Ikmal berencana akan menjenguk Denis sepulang kuliah sebelum masuk bekerja.


***


Ikmal sangat tidak menyangka, Denis yang dikenalnya baik dan rajin beribadah bisa terjerumus kedalam lubang hitam seperti ini.


Ikmal sangat menyayangkan, masa depan salah satu orang terdekatnya menjadi suram karena barang haram tersebut.


Denis banyak bercerita kepada Ikmal bagaimana awal mulanya dia mengenal barang haram itu, bahkan Denis yang pada dasarnya sangat dekat dengan Ikmal tidak sungkan-sungkan bercerita tentang dirinya yang suka bermain dengan perempuan.


Denis berpesan agar Ikmal tidak salah dalam bergaul dan akhirnya akan menyesal seperti dirinya.


Denis sangat menyesali semuanya sekarang.


"nggak ada gunanya menyesal, yang terpenting sekarang adalah loe jalani hukuman loe dengan baik dulu. Setelah masa hukuman loe selesai, loe bisa memulai hidup baru dan belajar dari pengalaman." nasihat Ikmal kepada Denis.


Entah darimana Ikmal mendapat kata-kata bijak seperti itu, Ikmal jadi teringat dengan perkatakan Peira, kalau perempuan itu tertular bijak dari Fajar. Apa mungkin Ikmalpun sekarang sudah mulai tertular dengan sifat bijaknya Fajar karena terbiasa bergaul dengannya?


Entahlah!


Yang jelas, Ikmal bersyukur bisa mengenal Fajar dan peira, mereka membawa pengaruh baik kepada diri Ikmal. Tidak seperti teman-temannya Denis yang malah menjerumuskannya.


***


Waktu berkunjung sudah habis, Ikmal pulang dengan perasaannya yang campur aduk.


Tapi ketika melewati ruang besuk sebelah, Ikmal menciduki bu Leni sedang berbincang dengan salah satu tahanan disana. Ikmal tau itu karena lawan bicara bu Leni mengenakan kaos yang sama dengan Denis.


Bu Leni terlihat menangis sambil bercerita.


"aku bingung harus bagaimana lagi mas." samar-samar terdengar suara serak bu Leni disela tangisnya.


 


Kritik dan saran sangat dibutuhkan, jadi author tau dimana letak kesalahan author sehingga ada yang minat untuk membaca karya author ini...

__ADS_1


__ADS_2