You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Mimpi


__ADS_3

Pekerjaan sebagai kurir sekarang menjadi tidak cocok lagi untuk Peira, dia memutuskan untuk tidak pernah datang lagi kekantor pusat untuk mengantarkan paket.


Waktu yang dia habiskan selama lebih dari dua bulan ini hanya termenung di kamarnya, menangis dan menangis. Seperti matanya memiliki sumber air yang tidak ada habisnya.


Bahkan Ikmal yang sering mengunjungi rumahnya selalu dia abaikan, beberapa hari ini Ikmal tidak pernah datang lagi, mungkin laki-laki sudah mulai bosan dan menyerah menghadapi Peira yang tidak mau membuka hatinya.


Tapi kenyataannya adalah, Ikmal sedang disibukkan dengan pekerjaan kantor yang menggunung, dia kadang harus bolak-balik keluar kota untuk meninjau langsung proyek baru yang sedang dalam tahap pembangunan, atau menghadiri meeting penting bersama kliennya.


Kendati demikian, Ikmal selalu menanyakan kabar Peira kepada pak Bayu setiap kali berpapasan dikantor.


Ikmal sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Peira, takut-takut kalau perempuan itu nekat lalu melakukan hal yang tidak-tidak, itu akan membuat Ikmal menyesal. Tapi Ikmalpun percaya kalau Peira tidak selemah itu, dia adalah perempuan tangguh, meskipun hatinya sedang rapuh, dia pasti tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa menyakiti dirinya sendiri.


Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia untuk Peira dan Fajar, tepat hari ini seharusnya acara pernikahan mereka dilangsungkan, tapi kini semua hanya tinggallah igauan, Fajar telah pergi untuk selamanya, meninggalkan luka sayatan dihati perempuan itu yang mungkin tidak akan sembuh dalam waktu yang singkat.


Peira memeluk erat cendramata yang hari itu dia beli bersama Fajar, hari dimana kejadian naas itu menimpa sang kekasih dan merenggut seluruh hidupnya, kebahagiaannya.


Peira memutuskan untuk mengunjungi makam Fajar hari ini, semenjak jasad Fajar dimasukan kedalam liang lahad, Peira tidak pernah lagi menginjakkan kaki diatas sekitaran tanah kuburan Fajar.


Dia takut kalau hatinya tidak sanggup menerima kenyataan kalau yang ada dibawah sana adalah kekasih yang sangat dia cintai.


Setelah mandi dan berdandan alakadarnya, dan pamitan kepada sang ibu, Peira pergi mengendarai motor scoopy kesayangannya, motor yang menjadi saksi bisu perjalanan cintanya bersama Fajar.


Awalnya bu Leni merasa khawatir putrinya itu akan pergi sendirian, takut Peira tidak konsen menyetir dan terjadi hal buruk, tapi Peira meyakinkan ibunya itu kalau dirinya akan baik-baik saja.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, Peira akhirnya tiba di sebuah pemakaman umum, memarkirkan motor ditempat seharusnya.


Dengan langkah kaki gemetar, Peira mencari-cari dimana letak makam sang kekasih, pasalnya dihari itu Peira tidak mengingat dengan baik karena pikirannya yang semrawut.


Matanya terus memperhatikan setiap tulisan yang tercantum diatas batu nisan, menyusuri setiap makam satu persatu, berharap tidak menemukan nama kekasihnya ada disalah satu makam itu, masih berharap jika semua ini hanyalah mimpi buruk dan dia akan segera terbangun dari tidur panjangnya itu.


Harapannya untuk bersama sang kekasih masih tetamat besar, hingga menutup mata dan telinga dari orang-orang yang mendesaknya untuk melupakan Fajar lalu memulai merintis kembali kehidupannya yang baru.


Lututnya terasa lemas seketika, kakinya bagaikan tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya, Peira ambruk tepat dihadapan pusara yang bertuliskan nama kekasihnya itu, cairan bening itu kembali mengalir dengan bebas.


Memeluk papan nisan nama Fajar sambil sesegukan, hatinya berdenyut manakala berpikir jika Fajar kedinginan dan kesepian didalam sana.


Rasa penyesalan mulai menggerogoti hatinya, dia rasa dialah yang menyebabkan Fajar mengalami kejadian naas malam itu. Andai saja Peira tetap menahan Fajar agar tetap bersamanya, mungkin saat ini wajah teduh Fajar masih bisa Peira pandangi.


"Andai kamu mau menurut sedikiiit aja perkataan aku yang, mungkin hari ini kita sedang duduk dipelaminan dan mendapat banyak ucapan selamat dari mereka." Sambil berkata lirih, Peira menyusut sudut matanya.


"Kalau aja kamu berhenti menarik ojek online, pasti sekarang kamu sedang menikmati hasil kerja kerasmu selama ini yang. Tapi kenapa takdir setega itu merebut kamu dari pelukan aku. Bahkan takdir begitu kejam merenggut seorang tulang punggung bagi keluarganya. Aku benci perpisahan, kenapa harus ada kata itu didunia ini? Aku mau kamu kembali yang, tapi itu nggak mungkin, jadi aku minta Tuhan unruk mengirim aku kepadamu dan kita bisa hidup bersama di keabadian."


Peira terus meluapkan seluruh isi hatinya, seolah Fajar sedang berada di hadapannya saat ini.


Hingga matahari sudah berada tepat diatas kepala, Peira masih enggan meninggalkan tempat itu, masih memeluk papan nisan, menggenggam erat gumpalan tanah yang mulai mengering. Teriknya sinar matahari yang menyorot tubuhnya tanpa pembatas, terasa tidak membakar kulitnya, angin berhembus cukup kencang, menerbangkan rambut Peira kekanan lalu kekiri, menggugurkan dedaunan kering yang sudah tidak kokoh lagi menempel pada dahannya lalu berjatuhan kepermukaan tanah.

__ADS_1


Peira terbuai oleh hembusan angin sejuk yang menerpa tubuhnya, matanya mengerjap untuk mempertahankan kesadarannya, namun pertahanannya harus dia relakan runtuh, dia tidak sanggup lagi menahan buaian lembut itu sehingga tanpa sadar dirinya mulai terlelap masih dengan memeluk papan nisan Fajar.


***


Ikmal tidak tahu dirinya sedang ada dimana sekarang, sejauh mata memandang, hanya warna putih yang dia lihat.


Ditengah kebingungannya, tiba-tiba muncul sosok Fajar yang mengenakan pakaian serba putih, wajahnyapun terlihat putih pucat.


Ikmal menelan salivanya kasar melihat kemunculan Fajar.


'Bukankan Fajar sudah tiada' Batin Ikmal.


"Tega loe Mal!" Ucap Fajar dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak. Ada sebuah kecemasan, kemarahan, kesedihan, kekecewaan dan harapan diwajahnya bercampur aduk menjadi satu.


"Gue salah apa Jar?" Ikmal memberanikan diri bertanya meskipun dengan bibir gemetar.


"Loe tega Mal, apa loe nggak lihat, Peira terus-terusan menangis disana. Mana janji loe buat selalu menjaga dia? Gue pikir loe bisa dipercaya!" Ucap Fajar dengan kemarahannya, seperti bukan Fajar yang Ikmal kenal, Fajar yang Ikmal ketahui tidak pernah marah meskipun saat dirinya menyatakan cinta kepada Peira, kekasih Fajar sendiri.


"Gue selalu berusaha menghiburnya Jar, tapi Peira terus menutup hatinya buat gue, dia selalu menghindari gue." Jawab Ikmal menegaskan.


"Gue nggak mau tau Mal, loe harus selalu ada buat dia, jangan buat dia nangis lagi, bahagiakanlah dia. Gue bakalan kejar loe sampai keujung dunia sekalipun kalau loe tinggalin Peira." Ucap Fajar dengan emosinya.


Ikmal semakin ketakutan, apa dia akan terus digentayangi oleh hantunya Fajar yang masih penasaran?


"Guepun maunya seperti itu Jar, tapi Peiranya yang seperti nggak nyaman gue ada dihadapannya." Ucap Ikmal.


"Gue nggak janji Jar, gue nggak yakin Peira mau terima gue." Ucap Ikmal sambil menunduk, dia tidak sanggup jika harus melihat lagi kemarahan diwajah pucat Fajar.


Tanpa diduga, Fajar malah menangis dihadapan Ikmal.


"Loe beneran tega Mal, loe bilang kalau gue sahabat loe, tapi loe nggak mau mengabulkan permintaan tetakhir sahabat loe ini, atau loe seneng melihat gue nggak tenang dialam sana?" Tanya Fajar, Ikmal yang melihat Fajar menangis jadi sangat tidak tega, bagaimana mungkin Fajar yang tangguh bisa menangis seperti itu?


Apa mungkin dia benar-benar merasa tidak tenang setelah kematiannya?


"Okelah Jar, gue akan berusaha. Loe nggak usah khawatirin Peira lagi, dia aman bersama gue. Gue akan terus berusaha sampai dia mau buka hatinya buat gue." Ucap Ikmal akhirnya.


"Gue pegang janji loe. Tapi jangan harap loe bisa lepas dari gue kalau loe sampai ingkar janji dan meninggalkan Peira." Ucap Fajar.


Ikmal membuka matanya yang terasa berat, dia menatap kesekililing, ternyata dia ketiduran disofa saat sedang menonton televisi. Untung saja Fajar menemuinya tadi hanyalah mimpi.


Tapi, mimpi itu terasa nyata. Fajar berkata seolah dirinya masih hidup, belum mati.


Ikmal berpikir kalau Fajar memberinya amanat melalui mimpi itu untuk menjaga Peira.


Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha menjernihkan fikirannya setelah didatangi arwah Fajar didalam mimpinya.

__ADS_1


"Gue harus memperjuangkan Peira." Gumam-gumam pelan.


Kemudian matanya beralih kepada benda pipih yang dia letakkan diatas meja, mencoba untuk menghubungi Peira.


Panggilannya terhubung, tapi tidak ada jawaban dari seberang sana. Selalu saja seperti ini, dia selalu menghindari berkomunikasi dengan Ikmal. Tapi Ikmal tidak menyerah, dia kembali menghubungi nomor itu hingga berkali-kali.


Ternyata ponsel Peira tertinggal dirumah, semenjak kepergian Fajar, dia tidak terlalu perduli dengan hal disekitarnya, termasuk ponselnya yang sebelumnya adalah benda kesayangan yang wajib dibawa kemanapun dia pergi.


Bu Leni yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melewati kamar Peira mendengar nada dering ponsel dari dalam sana. Dia membuka lebar-lebar pintu kamar Peira yang tadinya sedikit terbuka, bersamaan dengan itu, nada dering dari ponsel Peira berhenti, bu Lenipun mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam sana.


Tapi saat hendak kembali menutup pintu, ponsel Peira kembali berbunyi. Bu Lenipun memantapkan diri untuk mengangkat telfon itu, diambilnya ponsel Peira dari atas nakas.


Ikmal.


Begitu yang tertulis dilayar ponsel itu. Dengan alis mengerut, bu Leni llmenggeser tanda hijau, sesaat panggilanpun langsung terhubung.


"Akhirnya Pei kamu angkat juga telfonnya. Kita harus bicara serius sekarang juga!" Terdengar Ikmal berkata dengan tidak sabaran.


"Ini ibu nak Ikmal, ada apa?" Tanya bu Leni kemudian.


Ikmal jadi malu sendiri saat tau jika yang mengangkat telfonnya adalah bu Leni.


"Ehh, ibu. Saya pikir tadi Peira. Peiranya ada bu? Boleh saya bicara sebentar?" Ikmal malah balik bertanya untuk menutupi ke gugupannya.


"Pagi tadi Peira pergi, tapi sampai sekarang belum juga kembali." Jawab bu Leni, ada perasaan cemas yang dia rasakan karena putrinya itu belum juga pulang.


"Kalau boleh tau Peira pergi kemana ya bu?" Tanya Ikmal.


"Katanya dia mau berziarah ke makam Fajar, entah kemana lagi dia pergi, apalagi hari sudah hampir sore." ucap bu Leni.


"Ibu tenang tenang saja, saya akan susul Peira kesana, siapa tau saja Peira masih ada disana." Ucap Ikmal, bu Leni bisa sedikit bernafas lega.


"Benarkah? Terimakasih ya nak Ikmal, ibu percayakan Peira kepadamu." Ucap bu Leni.


Ikmal tersenyum penuh arti, bahkan ibunya Peira itu sudah memberinya lampu hijau, hanya saja tinggal menunggu hati Peira sedikit melunak.


 


--------


***Maaf upnya lama ya readers...


Ini Menuju final episode, siap-siap happy ending ya...


Jangan lupa like, komen, rate, kritik dan saran silahkan coret-coret kolom komentarnya yaa...

__ADS_1


Love you all** :


__ADS_2