You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Misi dimulai


__ADS_3

"nah, ini orangnya sudah ada. Gue tinggal dulu ya Mal, lagi goreng tempe takut gosong." ucap Velisa, kakak Ikmal sambil nyelonong pergi.


Tinggallah Peira dan Ikmal disana, Peira bingung harus bersikap bagaimana kepada Ikmal. Ikmal memperhatikan Peira yang terlihat gugup, Peira yang merasa diperhatikan seperti itu semakin merasa gugup saja.


"ini paket loe." akhirnya Peira berani membuka bersuara.


Ikmal dengan senang hati menerimanya.


"dan tandatangan disini!" seru Peira, Ikmalpun menandatangani kertas yang diberikan Peira.


"sia abang-abang yang biasa kemana? Kok sekarang jadi loe yang sering antar paket kesini?" tanya Ikmal.


"kita ngirim paket nggak menentu, kadang kedaerah sini, kadang kedaerah yang lain." jawab Peira. Ikmal hanya manggut-manggut saja.


'kebiasaan ini orang, lama banget kasih uangnya.' gerutu Peira didalam hati.


"oh ya, kok akhir-akhir ini gue nggak pernah liat loe dikampus ya?" tanya Ikmal yang baru ingat tentang itu.


Astaga! Kenapa dia berubah menjadi kepo?


"gue udah berhenti." jawab Peira, sebenarnya dia sangat malas kalau harus membahas soal berhentinya dia kuliah. Terkadang dia merasa sedih saat mengingat itu.


"hah? Loe serius? Sejak kapan?" tanya Ikmal sedikit terkejut.


Ikmal jadi penasaran kepada Peira setelah mendengar dia sudah berhenti kuliah. Seperti ada magnet tersendiri didalam diri Peira sehingga Ikmal tertarik oleh magnet itu.


"udah hampir dua minggu. Ayo berikan uangnya! Gue masih harus antar barang yang lain." jawab Peira dan mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Ikmal terus menanyai perihal dirinya berhenti kuliah.


Fajar saja yang kekasihnya tidak tau apa alasan dibalik keputusannya itu, Peira rasa Ikmal lebih tidak perlu tau.


"sayang banget lho Pei, padahalkan udah masuk semester 3." ucap Ikmal, Peira tidak menanggapinya, dia melihat Ikmal yang merogoh saku celananya.


Peirapun bisa bernafas lega setelah Ikmal memberinya uang pas, dia buru-buru pamit dan langsung ngacir kearah motornya. Sedari tadi dia merasa gugup.


Ikmal menatap dengan aneh kepergian Peira, dia menyayangkan kalau Peira berhenti kuliah karena masalah biaya.


'Ternyata tidak semua orang seberuntung gue, kasihan sekali dia, meskipun sudah bekerja keras tapi masih tidak bisa melanjutkan kuliah.'


***


Malam harinya, setelah selesai membantu ibunya menyetrika, Peira merebahkan tubuhnya diatas kasur yang sudah terlihat usang itu sambil memainkan ponselnya.


Dia melihat-lihat status whatsApp teman sekontaknya. Tiba-tiba ada panggilan video call yang masuk, senyum Peira langsung mengembang saat melihat nama MY SWEETHEART yang tertera dilayar ponselnya. Peirapun menerima panggilan dari kekasihnya itu.


Terlihat wajah tampan Fajar yang sangat Peira rindukan disebrang sana.


"kok belum tidur sih Pei?" tanya Fajar.


"belum yang, aku baru selesai bantu ibu. Kamu sendiri baru pulang?" jawab dan tanya Peira.


"iya nih. Badan aku pegel-pegel semua rasanya." ucap Fajar dengan wajah yang dibuat melas. Peira cekikikan sendiri melihat ekspresi konyol kekasihnya itu.


"sini biar aku pijitin!" seru Peira.


"kan jauh Pei." jawab Fajar.


"makanya cepetan nikahin aku, biar setiap malam bisa aku pijitin." ucap Peira bergurau, tapi Fajar menanggapinya dengan serius.


"kamu yang sabar ya Pei, aku nggak bisa menikahi kamu dalam waktu dekat. Kamu mau kan tunggu aku?" ucap Fajar dengan wajah sendunya.

__ADS_1


Peira kembali cekikikan melihat sang kekasih yang mudah baper.


"kamu ini nanggapinya serius amat sih yang. Aku bercanda tau. Aku akan tunggu kamu kok, asal jangan sampai 10 tahun aja. Hihi." ucap Peira yang terus menggoda Fajar.


"haha, ya nggak lah. Tunggu sampai aku lulus S2 dan mendapat pekerjaan yang layak!" ucap Fajar.


"...kalau 10 tahun lagi mah, pasti kita udah punya tiga anak." sambung Fajar.


Peira terbelakak, bisa-bisanya Fajar berpikir sejauh itu.


"kamu itu mikirnya kejauhan yang." ucap Peira.


"biarin. Kitakan harus berpikir panjang."


Tanpa terasa malam semakin larut, tapi tidak ada tanda-tanda panggilan akan diakhiri. Terlalu rindu sampai-sampai lupa waktu.


***


Airin turun dari mobil kakaknya yang setiap pagi mengantar dirinya kekampus.


Matanya menangkap suatu pemandangan yang janggal, dia melihat kekasihnya baru saja turun dari sebuah angkot dan diikuti oleh beberapa penumpang dibelakangnya yang juga ikut turun.


Airin menghampiri Ikmal dengan seribu pertanyaan dibenaknya.


"yang, mobil kamu mana? Kok kamu naik angkot?" tanya Airin.


'nah, ini dia waktunya gue menjalankan misi.' batin Ikmal.


"emm, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu." jawab Ikmal yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan Airin.


"bicara soal apa yang?" tanya Airin.


"kita cari tempat yang enak buat ngobrol ya!" seru Ikmal. Airin setuju.


"apa kamu masih marah sama aku yang?" tanya Ikmal memulai pembicaraan.


"nggak kok, asal pulang dari kampus kamu temenin aku belanja." jawab Airin.


Ikmal cepat-cepat meraih kedua tangan Airin dan menggenggamnya.


"kita nggak bisa seperti dulu lagi yang." perkataan Ikmal membuat Airin terperangah.


"kenapa? Kamu mau putusin aku?" tanya Airin yang menebak arah pembicaraan Ikmal.


"bukan yang, aku nggak bisa royal seperti dulu lagi. Sekarang keadaannya sudah berubah, keluarga aku bangkrut dan aku jatuh miskin. Aku nggak bisa membayar belanjaan kamu lagi." ucap Ikmal.


Airin tercengang dengan pernyataan Ikmal.


"astaga! Kasihan sekali kamu yang." ucap Airin.


"kamu mau kan, terima aku meskipun aku udah nggak punya apa-apa?" tanya Ikmal.


"tentu saja. Aku sayang kamu." jawab Airin.


Ternyata dugaan Ikmal salah, Airin tetap mau bersamanya meskipun tau dirinya sudah jatuh miskin. Peira bukan satu-satunya perempuan yang mau diajak hidup susah, Ikmal akan membuktikan kepada Fajar kalau dirinya juga memiliki kekasih yang setia kepadanya.


***


Ikmal berjalan malas-malasan dikoridor kampus. Tiba-tiba seorang menepuk pundaknya dari belakang, sontak Ikmal menoleh.

__ADS_1


"ayo teraktir kita makan dikantin!" seru Reza, teman Ikmal.


"iya nih, gue nggak sempet sarapan tadi." sambung Fery, temannya yang lain.


"kalau gue sengaja nggak sarapan." timpal Zian.


'hmm, kayanya gue harus mengetes mereka juga.' batin Ikmal.


"sory guys, sekarang gue nggak punya duit. Malahan gue juga belum sarapan, giliran ya, sekarang kalian yang bayarin gue sarapan!" ucap Ikmal.


"kenapa bisa begitu?" tanya Doni.


"keluarga gue udah bangkrut, dan sekarang gue udah nggak punya apa-apa." jawab Ikmal yang berusaha membuat wajahnya semenyedihkan mungkin.


"apa?" ucap keempat teman Ikmal bersamaan.


"iya, gue juga nggak punya tempat tinggal sekarang. Apa gue boleh numpang nginap dirumah loe?" tanya Ikmal kepada Zian.


"ahh, loe bercanda Mal. Loe tau sendirikan keponakan gue banyak. Loe pasti nggak nyaman tinggal dirumah gue." ucap Zian.


Ikmal beralih menatap Doni, berharap dia mau memberinya tumpangan.


"loe tau sendiri kan, kalau gue juga numpang tinggal dirumah om gue." jawab Doni.


'sudahlah! tidak ada yang bisa diandalkan.' batin Ikmal, dia mendengus kesal.


"kalau gitu, gue mau cari kontrakan aja.Kalian bisa temenin gue, kan?" tanya Ikmal.


"soru Mal, gue udah ada janji sama cewe baru gue. Kalau batal, bisa-bisa gue gagal PDKT." jawab Reza.


"gue juga sory nggak bisa Mal, mak gue baru datang dari Jogja dan minta gue jemput distasiun." jawab Fery.


'Sialan!' Ikmal merasa kesal kepada mereka.


"ya udahlah kalau kalian nggak bisa. Kalau gitu bayarin gue makan aja dikantin sekarang!" ucap Ikmal.


Fery buru-buru merogoh ponsel didalam saku jeansnya.


"ya, halo? Apa? Ehh, bentar ya! Cewe gue telfon." Fery berlalu sambil mengoceh pada ponselnya.


"aduh! Kok tiba-tiba perut gue sakit ya?" Doni terlihat kesakitan sambil memegangi perutnya.


"gue ketoilet dulu ya." Donipun pergi meninggalkan mereka bertiga.


Ikmal menoleh kearah Zian dan Reza bergantian, yang ditatap malah terlihat gemetar, mereka saling mengisyaratkan satu sama lain.


'alasan apa yang akan kita katakan ke Ikmal? Duit aja nggak punya.'


Yang diberi isyarat juga bingung harus memberi alasan apa. Selama ini mereka selalu mengandalkan Ikmal, mereka hanya memanfaatkan Ikmal yang baik hati dan kaya raya. Bahkan mereka sering meminjam uang kepada Ikmal dan belum pernah mengembalikannya.


Ikmal tidak pernah mempersalahkan soal itu dulu, tapi mulai sekarang dia akan mulai perhitungan kepada mereka.


"loe mau kekanti juga? Ayo bareng gue!" ucap Fajar yang menimbrung percakapan mereka.


Zian dan Reza membuang nafas lega, mereka tidak perlu membuat alasan dan berbohong kepada Ikmal. Mereka pikir kalau Fajar adalah seorang penyelamat.


Ternyata sedari tadi Fajar mendengar apa yang mereka bicarakan, bukan maksud Fajar menguping pembicaraan mereka, Fajar tadi hanya sedang lewat, tapi dia mendengar Ikmal meminta dibayarkan makan dikantin dan teman-temannya menolaknya.


Ikmal terperangah, disaat teman-teman dekatnya menolak dirinya, kenapa harus Fajar yang datang menawarkan diri kepadanya?

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya,, satu like dari readers sangat berarti untuk author...


__ADS_2