You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Obat nyamuk


__ADS_3

"oh ya? Orang tua loe dimana?" tanya Peira yang baru ngeh jika orang tua Ikmal tidak pernah muncul.


"hah?" Ikmal terlihat kikuk, wajahnya semakin pucat, dia berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat.


"orang tua gue masih di Jerman, mereka nggak bisa balik ke Indonesia karena nggak punya ongkos buat pulang." jawab Ikmal asal. Dia berpikir apa alasannya itu masuk akal? Ah, entahlah!


"ohh, terus kakak loe?" tanya Peira lagi.


"kakak gue kan udah berumah tangga." jawab Ikmal.


"kenapa loe nggak tinggal sama dia aja?" tanya Peira.


"ya... Gue nggak mau aja jadi beban buat dia, apa lagi sekarang dia lagi hamil besar." jawab Ikmal.


Peira hanya manggut-manggut saja.


"sekarang giliran gue yang interogasi loe!" ucap Ikmal.


"hah?" Peira sedikit terkejut.


"kenapa loe lebih memilih untuk berhenti kuliah?" tanya Ikmal serius.


Peira menatap Ikmal dengan tatapan yang sulit diartikan, 'kenapa harus itu yang dipertanyakan?' batin Peira.


Ikmal memperhatikan Peira yang menatapnya dengan aneh, dia jadi bingung, tadinya perempuan itu banyak bicara, tapi kenapa tiba-tiba jadi terdiam seribu bahasa?


"Pei, loe kenapa?" pertanyaan Ikmal membuyarkan lamunan Peira, entahlah apa yang ada di pikirkannya.


"ha? Iya sebentar ya! Sepertinya ibu memanggil." ucap Peira, sebenarnya itu hanya alasannya untuk menghindari pertanyaan Ikmal. Peira berlalu meninggalkan kontrakan Ikmal dengan tergesa-gesa.


Ikmal semakin bingung, pasalnya tadi dia tidak mendengar bu Leni memanggil Peira, dan kenapa wajah Peira berubah menjadi tegang ketika Ikmal membahas masalah kuliahnya?


***


Fajar mendapat pesan dari Ikmal kalau dia sedang tidak enak badan dan tidak bisa masuk kuliah hari ini. Fajar tidak tau kalau yang mengetik pesan itu adalah Peira, kekasihnya sendiri.


Fajar berinisiatif untuk menjenguk Ikmal sore nanti setelah pulang menarik ojek online. Dia merasa khawatir, pasti Ikmal tidak ada yang memperhatikan dan menjaganya. Padahal kekasihnya sendiri yang merawat Ikmal dengan sangat baik.


'Kasihan sekali dia, disaat keadaannya yang susah seperti ini, orang-orang terdekatnya seolah hilang ditelan bumi.' pikir Fajar.


Waktu berlalu dengan cepat, Fajar segera meluncur kontrakan Ikmal, sekalian dia juga ingin menemui Peira yang beberapa hari ini tidak dijumpainya. Fajar sudah sangat merindukan Peira.


"assalamualaikum." Fajar mengucap salam sambil mengetuk pintu.


"waalaikumsalam, masuk aja nggak dikunci!" Ikmal menyahut dari dalam.


Dengan cepat Fajar memutar handle pintu, yang ternyata memang tidak dikunci.


"ehh, loe Jar." ucap Ikmal, dia membetulkan posisi duduknya.


"gimana keadaan loe? Mendingan?" tanya Fajar setelah duduk dihadapan Ikmal.

__ADS_1


"ya... Beginilah, badan gue sakit semua eyy, gila." jawab Ikmal dengan wajah yang dibuat memelas.


"ya, terkadang gue yang udah terbiasa kuliah sambil cari uang juga sering merasa seperti itu. Apalagi loe yang nggak terbiasa." jawab Fajar.


"kerja apa ya yang enak dan nggak cape tapi menghasilkan uang yang banyak?" ucap Ikmal terlihat sambil berpikir keras.


"ngepet aja sana! tapi resikonya besar, kalau ketangkap loe nggak bisa balik kewujud loe yang semula. Ha ha." ucap Fajar sambil tertawa.


"sialan loe! Loe aja yang keliling, gue yang jaga lilinnya, jadi kalau ketangkap, gue mah aman. Ha ha." Ikmal ikut tertawa.


Sedang asik-asiknya tertawa, Peira tiba-tiba datang karena pintunya terbuka lebar dan dia langsung masuk saja.


"yang, kok kamu ada disini? Kenapa nggak kontrakan aku dulu?" tanya Peira sedikit kesal, karena sekarang kekasihnya itu lebih mendahulukan sahabatnya ketimbang dirinya.


"ehh Pei, aku pikir kamu belum pulang tadi. Jadi aku langsung kesini deh." jawab Fajar, Peira tidak menyahuti, dia memajukan sedikit bibirnya.


"...maaf ya, jangan cemburu sama Ikmal." ucap Fajar sambil merangkul pinggang Peira, Fajar tau cara ini cukup ampuh untuk membujuk Peira yang merajuk.


Darah Ikmal terasa mendidih menyaksikan drama dari sepasang kekasih itu.


"siapa juga yang cemburu sama dia." jawab Peira.


'disini gue yang cemburu.' batin Ikmal.


"ya udah, jangan ngambek lagi ya!" Fajar mengusap pucuk kepala Peira dengan lembut sambil tersenyum, Peira sangat senang ketika diperlakukan seperti itu, sehingga dia melupakan cemburunya yang tidak beralasan.


Leher Ikmal terasa dicekik oleh tangan tak kasat mata, hal sederhana yang Fajar lakukan kepada Peira sangat menyesakkan dada.


"loe kenapa Mal? Minum gih!" seru Peira.


"nggak kok Pei." sahut Ikmal.


"...oh ya, kamu baru pulang? Maaf ya aku nggak sempet jemput kamu." tanya Fajar kemudian.


"ehh, itu, iya yang nggak apa-apa." jawab Peira gelagapan.


Ikmal menyadari sikap Peira yang gugup, karena dia tau kalau perempuan itu sedang berbohong.


Sedangkan Fajar, dia sama sekali tidak mencium bau-bau kebohongan disana, dia tidak curiga sedikitpun.


"aku bawa kue nih. Ayo kita makan sama-sama!" seru Fajar.


Merekapun mencicipi kudapan manis yang tadi sempat Fajar beli dijalan, rasa kue yang manis seperti tidak Peira rasakan, dia hanya merasa bersalah karena telah berbohong kepada kekasihnya itu.


'maafkan aku yang.' batin Peira, dia melirik kearah Fajar yang sedang berbincang dengan Ikmal sambil sesekali memasukan kue kedalam mulutnya.


Skip...


Entah sejak kapan Peira dan Fajar sudah berpindah posisi duduk menjadi di pojokan, mereka terlihat sedang melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.


Telapak tangan Fajar mulai dia satukan dengan telapak tangan Peira, tangan yang satunya lagi dia gunakan untuk memainkan jari Peira. Peira menyandarkan kepalanya ke pundak Fajar, nyaman sekali rasanya.

__ADS_1


"udah lama ya kita nggak seperti ini." ucap Fajar.


"iya, habisnya kamu sibuk kerja setiap hari. Aku jadi kangen banget tau." nada Peira dibuat semanja mungkin. Itu membuat Fajar semakin gemas kepada kekasihnya itu.


"terus, kamu pikir kamu nggak sibuk?" tanya Fajar.


"hehe, iya juga sih. Jadi kita sama-sama sibuk yaa." ucap Peira.


Ikmal seperti sebuah obat nyamuk disana, dia sama sekali tidak dipedulikan oleh pasangan kekasih yang sedang melepas rindu itu.


Ikmal meraih ponselnya dan pura-pura memainkannya, sesekali dia melirik kearah Peira dan Fajar yang semakin rapat tidak memiliki jarak. Ikmal semakin memanas manakala Fajar menyentuh wajah Peira dan perempuan itu tersenyum kepada Fajar.


"**** banget sih loe! Kenapa loe nggak hajar aja!" Ikmal terlihat memaki dan uring-uringan sendiri kepada ponselnya.


Fajar dan Peira sontak menoleh ke arahnya.


"loe kenapa Mal? Salah hp loe apa? Sampai loe marahi begitu?" tanya Fajar.


"hehe, nggak. Gue cuma lagi main game online." jawab Ikmal.


***


Pagi ini terasa sangat hangat, sinar matahari mengintip melalui celah-celah dedaunan, hingga menembus jendela kamar kontrakan Peira dan membuat dia silau ketika bercermin.


Peira sudah siap untuk pergi bekerja, dia melangkah keluar kontrakan setelah sempat menyambar kunci motor diatas nakas.


"hei Pei, loe udah mau berangkat yaa?"


Peira menoleh kearah sumber suara. Terlihat Ikmal sedang terseryum hangat kepadanya. Peira menyeringai tak percaya melihat Ikmal yang bersemangat di pagi ini, padahal kemarin malam Ikmal masih terlihat pucat.


"loe udah sembuh Mal?" alih-alih menjawab, Peira malah balik melontarkan pertanyaan.


"gue kan udah bilang, gue sakit itu nggak akan lama." jawab Ikmal.


"memangnya loe udah ada rencana kalau mau sakit satu hari aja? Ha ha ada-ada aja loe." ucap Peira.


"hahaha." Ikmal ikut tertawa.


"...oke lah, ayo kita berangkat! Hari ini biar gue yang bawa motor loe." ucap Ikmal sambil menyambar kunci dari tangan Peira.


"eih." ucap Peira reflek karena kaget.


Peira merasa bingung sekaligus aneh terhadap Ikmal, yang dalam waktu singkat bisa kembali ceria. Tapi Peira pun bersyukur, ternyata Ikmal tidak berlarut-larut dalam kesedihannya dan menjalani kegiatannya seperti semula.


Tanpa sadar, Peira tersenyum sambil mengekor dibelakang Ikmal. Setelah berpamitan kepada bu Leni, Ikmal menyelah motor Peira terlebih dahulu sebelum akhirnya tancap gas.


"loe semangat banget sih Mal hari ini?" tanya Peira.


"kata siapa? Gue selalu semangat setiap hari." jawab Ikmal.


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar dan tip bintang 5 setelah membacanya, biar author semangat melanjutkan bab selanjutnya...


__ADS_2