
"silahkan tuan dan nona, selamat menikmati." ucap Ikmal ramah setelah menaruh dua cangkir itu diatas meja.
"terimakasih." sahut laki-laki muda itu. Sedangkan perempuan yang bersamanya sedang sibuk memainkan ponsel.
Perempuan itu mengangkat kepalanya saat merasa suara pelayan itu sangat familiar di telinganya.
Ikmal dan perempuan itu saling menatap dengan tatapan kaget, yang Ikmal kagetkan adalah perempuan itu ternyata sedang jalan bersama laki-laki lain.
"yang, jadi kamu kerja disini?" tanya perempuan itu yang ternyata adalah Airin, dia sangat tidak menyangka Ikmal ada di hadapannya sekarang.
"kenapa kamu jalan sama laki-laki lain yang?" tanya Ikmal kecewa.
Reno, si laki-laki yang bersama Airin itu mencium bau-bau ketidak beresan, dia jadi merasa tidak enak hati.
"dia teman aku yang, iya kan Ren?" jawab Airin lalu menoleh kearah Reno meminta persetujuan.
"ehh, iya." jawab Reno sedikit canggung.
Ikmal terdiam sambil menunduk, dia sangat kecewa Airin jalan bersama laki-laki lain, padahal dia masih berstatus sebagai kekasihnya, Ikmal merasa tidak dihargai.
"kenapa kamu lakukan ini yang?" tanya Ikmal yang sudah bisa mengendalikan diri dan meminta penjelasan.
"oke, kalau boleh jujur, aku kesepian selama ini. Akhir-akhir ini kamu selalu sibuk sendiri tanpa mau ketika aku ajak jalan. Aku itu perempuan yang, aku butuh teman sekaligus pacar yang selalu ada untuk aku." Ucap Airin yang akhirnya mengeluarkan uneg-uneg didalam hatinya.
Airinpun tidak menyangka kalau Ikmal yang dulu di kejar-kejarnya sekarang malah dia abaikan, itu karena jarangnya komunikasi dan tidak ada waktu untuk mereka habiskan bersama.
"iya, memang seperti itu, aku sadar, akhir-akhir ini aku memang sibuk bekerja, karena kamu tau kan bagaimana kondisi aku sekarang? Aku harus bekerja demi bisa bertahan hidup. Meskipun kita nggak bisa royal seperti dulu, setidaknya kamu bisa tetap setia." Ucap Ikmal.
"maaf, sepertinya mas ini salah paham, kita memang hanya berteman biasa. Kita nggak ada hubungan apa-apa kok, mas nya harus percaya ya sama Airin." Ucap Reno.
Ikmal terdiam, dia ingin sekali percaya, tapi perkataan Airin tadi seolah mematahkan kepercayaannya.
"sudahlah Ren, kalaupun dia nggak percaya juga nggak apa-apa. Aku nggak mau memaksa, dan kamu benar, hubungan kita memang nggak bisa berjalan seperti dulu lagi." Ucap Airin.
"maksudnya apa yang?" tanya Ikmal.
"Kita putus aja lah Mal, mulai sekarang kita jalani hidup kita masing-masing." ucap Airin.
Bagai disambar petir saat itu juga, Airin memutuskan Ikmal dihadapan laki-laki lain. Ikmal merasa harga dirinya sudah tidak ada lagi.
"kamu nggak serius, kan?" tanya Ikmal lirih.
__ADS_1
"aku serius, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Ayo Ren, kita pergi dari sini!" ucap Airin, dia beranjak dari duduknya, Reno mengikutinya dari belakang, setelah Reno membayar tagihan di kasir, merekapun pergi meninggalkan kedai itu.
Ikmal masih tertegun, dia masih belum bisa mencerna dengan baik kejadian yang singkat itu, bahkan dia belum menyetujui keinginan Airin tadi.
Ikmal benar-benar kecewa, Airin yang dulu mengejar-ngejarnya sekarang malah dia yang memutuskanya. Ikmal pikir kalau perempuan itu sangat mencintai dirinya dan akan tetap bersamanya meskipun hidup susah. Tapi kepercaanya sudah terpatahkan.
Ikmal cukup memahami hal itu, dia harus melakukan ini semua agar dia siap dengan keadaan terburuk sekalipun. Ikmal harus melakukannya sedini mungkin agar rasa kecewanya kelak tidak terlalu besar dia rasakan.
Ikmal rasa Airin bukan sosok yang bisa diajak hidup susah seperti Peira. Tapi, apa kah akan ada sosok Peira lain yang diciptakan untuk dirinya?
Entahlah!
Kenapa Ikmal tiba-tiba teringat akan sosok Peira yang mau menerima kekasihnya meskipun dia tau Fajar orang miskin dan juga tidak punya banyak waktu luang untuk bersamanya.
***
Sisa waktu yang Ikmal habiskan setelah kejadian itu terasa sangat lama, walaupun begitu, dia bisa melewatinya dengan baik.
Ikmal duduk diatas rerumputan yang tumbuh liar di halaman belakang kontrakannya, tempat itu sering digunakan oleh anak-anak bermain pada siang hari.
Waktu menunjukkan pukul 23.17, Ikmal masih enggan kembali kekontrakannya, dia ingin merapihkan pikirannya yang berantakkan.
Wajahnya terlihat sangat kusut, dia merasa seperti benar-benar tidak memiliki apapun sekarang, bagaimana jika hal seperti ini benar-benar terjadi didalam hidupnya, apa dia akan sanggup untuk tetap bertahan?
Ikmal benar-benar gelisah jika memikirkan semua ini nyata terjadi kepada dirinya.
Ditengah kegalauannya, tiba-tiba Ikmal mengingat Peira, mungkin perempuan itu mau mendengarkan curahan hatinya saat ini, diapun membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Peira.
Sementara itu, dirumah kontrakan Peira. Dia masih sibuk menyetrika baju pelanggan, untung saja pekerjaannya hampir rampung. Tiba-tiba, ponselnya berdering, dia langsung membuka pesan itu yang dia pikir dari Fajar.
'Pei, gue sekarang lagi di halaman belakang kontrakan, loe kesini ya. Gue butuh teman curhat. Plis.'
Peira mengerutkan keningnya.
'sedang apa dia tengah malam gini disana? Apa dia baik-baik aja?' tanya Peira didalam hati.
Perasaan Peira berubah menjadi tidak enak.
"bu, Peira kedepan sebentar ya. Ada teman." Ucap Peira sambil mencabut colokan setrika.
"siapa Pei? Suruh masuk saja, ini sudah malam lho." sahut bu Leni.
__ADS_1
"sebentar kok bu!" Peira langsung ngacir sebelum ibunya itu kembali bertanya.
Bu Lebih hanya geleng-geleng kepala melihat kepergian anak gadisnya itu, diapun kembali fokus pada pekerjaannya.
***
Ditengah remangnya halaman belakang kontrakan itu, Peira masih bisa melihat Ikmal yang sedang duduk sambil membenamkan wajahnya diantara lutut.
Peira berjalan menghampirinya.
"Mal, loe kenapa?" tanya Peira, Ikmal mengangkat wajahnya, matanya terlihat memerah seperti habis menangis.
"Pei." Ucap Ikmal, dia reflek memeluk Peira yang berada dihadapannya.
Peira tertegun, dia sangat kaget mendapat pelukan mendadak seperti itu. Dia juga bingung harus bagaimana, apalagi Peira tau kalau saat ini Ikmal sedang menangis dipundaknya.
"loe kenapa Mal? Ada masalah apa?" tanya Peira.
"...tenanglah!" Peira menepuk-nepuk pundak Ikmal beberapa kali, mungkin cara itu bisa sedikit memenangkannya.
Ikmal masih terdiam, hanya sesekali terdengar suara isakan dari mulutnya. Peira semakin bingung, dia belum pernah dihadapkan dalam situasi seperti ini, Fajar sekalipun belum pernah sampai menangis-nangis di hadapannya ketika menghadapi masalah.
Peira terus menepuk-nepuk pundak Ikmal, memberi waktu agar laki-laki itu bisa mengendalikan dirinya.
"Airin putusin gue Pei." Ucap Ikmal.
Itu bukan alasan sebenarnya Ikmal sampai menangis, dia menangis karena memikirkan nasibnya yang ditinggalkan orang terdekat ketika jatuh miskin.
Peira akhirnya mengerti asalan Ikmal sampai menangis dan cengeng seperti ini, semua orang yang baru putus cinta pasti akan melakukan hal yang sama, apalagi kalau orang itu masih sangat kita cintai.
"loe yang sabar ya Mal! Loe pasti kuat meskipun rasanya berat. Jangan nangis lagi ya!" ucap Peira, dia masih setia meminjamkan bahunya.
'Astaga! Kenapa dia harus peluk gue sih?' ucap Peira didalam hati, tapi dia juga tidak tega untuk melepaskan pelukan Ikmal.
"apa sememalukan itu gue sekarang? Kenapa semua orang malah meninggalkan gue disaat gue nggak punya apa-apa?" Ikmal terlihat sangat sedih, entah kenapa rasanya seperti nyata dia rasakan.
"loe jangan berpikir seperti itu, loe pantas kok untuk dicintai. Dan loe juga jangan berpikir kalau loe sendirian, loe punya gue sama Fajar yang akan selalu support loe, loe sahabat gue Mal." Ucap Peira.
Jangan lupa likenya ya readers, komentar nya juga, Kritik dan saran sangat diperlukan biar author tau dimana letak kekurangannya...
__ADS_1