
Kehidupan Ikmal benar-benar berubah setelah kembali dari rumah kontrakan, dia tidak suka lagi berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang. Dia sadar betul bagaimana sulitnya mencari uang, dia jadi sangat menghargai yang namanya uang sekarang. Ikmal akan menggunakan uang pemberian orang tuanya jika dirasa memang harus menggunakannya.
Hari ini Ikmal kembali ke kampus dengan menggunakan mobil sport merah kesayangannya. Hampir dua bulan lamanya mobil itu selalu nangkring digarasi, alhasil kendaraan roda empat itu kemarin harus mendapat service khusus.
Semua mata menatap kearah Ikmal yang baru saja keluar dari dalam mobilnya. Mereka merasa heran, yang mereka tau keluarga Ikmal sudah bangkrut dan jatuh miskin. Tapi kenapa dengan cepat laki-laki itu bisa mendapatkan lagi kekayaannya?
Beberapa mahasiswa itu terlihat berbisik-bisik kepada mahasiswa lainnya, tentu saja Ikmal yang menjadi bahan gibahan mereka.
Ikmal berjalan melewati mahasiswa-mahasiswa itu dengan santai, mencoba untuk tidak memperdulikan bisik-bisik tetangga yang menembus gendang telinganya.
Ikmal membetulkan letak kacata hitamnya, dia melihat Fajar yang sedang berdiri didepan mading dan Ikmalpun memantapkan langkahnya untuk menghampiri Fajar.
Sebelum sampai dihadapan Fajar, sesorang menghadang Ikmal sehingga langkahnya terhenti.
"kok kamu miskinnya cuma sebentar sih?" tanya orang itu yang ternyata adalah Airin.
"bukan urusan loe!" jawab Ikmal dingin.
"sejak kapan kamu bilang 'loe' kalau lagi bicara sama aku?" tanya Airin lagi.
"sejak sekarang dan seterusnya." jawab Ikmal.
"jadi selama ini kamu hanya pura-pura miskin Mal? Kenapa?" tanya Airin, dia menunduk, merasa sedih dengan sikap dingin Ikmal terhadapnya.
Ikmal membuka kacamata hitam yang tadi di pakainya.
"kenapa loe tanya? Gue pikir loe akan tetap setia dan mau menerima gue meskipun gue udah nggak punya apa-apa, tapi ternyata, loe malah jalan dan jadian sama cowo lain. Begitupun sama empat cecunguk itu, mereka malah menghindari gue setelah tau gue miskin." jawab Ikmal.
"oke, aku memang salah soal itu. Aku minta maaf. Kita bisa mulai semua dari awal, aku akan setia meski kamu jatuh miskin sungguhan sekalipun." ucap Airin.
"loe menyumpahi gue buat beneran jatuh miskin?" tanya Ikmal dengan sorot matanya yang tajam menatap Airin.
Airin jadi gelagapan, dia tidak bermaksud untuk menyinggung Ikmal seperti itu. Tapi Ikmal terlanjur kesal terhadap Airin, perempuan matre menurutnya.
"sory Mal, aku nggak bermaksud." ucap Airin sambil menunduk, dia tidak mau melihat Ikmal yang menatapnya penuh kekesalan.
Terakhir kali Airin melihat sorot mata Ikmal yang seperti itu ketika dulu dia mengejar-ngejar cinta Ikmal, saat itu Airin seperti seorang pengemis yang mengharap belas kasihan dari Ikmal dengan menunjukkan air matanya.
Mungkin sekarang, cara seperti itu bisa membuat Ikmal kembali kepadanya, Airin tertunduk semakin dalam.
Ikmal yang menyadari perubahan Airin, sedikit kasihan kepadanya.
"lagipula sekarang loe udah punya cowo yang perhatian sama loe, punya banyak waktu luang, dan pastinya lebih kaya daripada gue. Gue doa'akan biar hubungan kalian langgeng." ucap Ikmal yang nada bicaranya mulai bersahabat.
__ADS_1
Airin mengangkat wajahnya menatap Ikmal, Ikmal bisa dengan jelas melihat mata Airin yang memerah dan berkaca-kaca.
"dia udah bohongin aku Mal, dia sebenarnya bukan orang kaya. Dia hanya memanfaatkan aku, setiap kali kita pergi belanja, aku yang selalu membayar barang belanjaannya." ucap Airin emosi ketika membayangkan kebodohannya mempercayai kebohongan Reno.
Ikmal terdiam, dalam hati tersenyum mengetahui Airin mendapatkan karmanya.
"...aku menyesal Mal, aku mau kembali lagi sama kamu." ucap Airin, dia menyusut cairan bening yang mulai jatuh sari pelupuk matanya.
Ikmal menghembuskan nafasnya yang terasa berat, dia tidak ingin kembali terjebak dengan cinta palsu Airin, sedangkan hatinya sudah benar-benar terpikat oleh sosok sederhana yang mampu merubah cara berpikirnya. Ya, Peira.
Ikmal memegang pundak Airin, menatap serius mata yang ada di hadapannya. Airin tersenyum kegirangan didalam hati, dia berpikir kalau caranya cukup ampuh untuk membuat hati Ikmal kembali luluh.
"dengarkan gue Rin, kita nggak bisa kembali seperti dulu lagi. Kita masih bisa jadi teman biasa. Anggap aja hubungan kita dulu sebagai pembelajaran, biar kedepannya loe nggak melihat laki-laki hanya dari materi. Atau loe bisa menganggap gue sebagai koleksi mantan." ucap Ikmal kemudian.
Kepercayaan diri Airin seketika runtuh, dia berpikir kalau Ikmal mau menerimanya kembali. Tapi yang lebih menyayat hati, Ikmal secara tidak langsung berkata bahwa Airin adalah perempuan matre.
Wajah Airin seketika merah menyala menahan malu dan juga kesal.
"satu yang bikin gue salut sama loe, loe selalu optimis untuk mendapat apa yang loe inginkan, berusahalah mendapatkan laki-laki yang tampan dan mapan! Yang pasti bukan gue orangnya." Ikmal menepuk pundak Airin sebanyak dua kali, dia tersenyum sebelum akhirnya pergi meninggalkan Airin yang tertegun dengan perkataannya.
Tidak lupa Ikmal kembali memakai kacamata hitam miliknya.
Airin masih mencerna dengan baik setiap perkataan Ikmal, semakin dia berpikir, semakin jelas kalau Ikmal tadi bukan sedang memujinya.
Entahlah!
Ikmal menghampiri Fajar yang ternyata sedari tadi memperhatikan mereka dengan wajahnya yang ditekuk, Fajar menyimpulkan kalau percakapan antara Ikmal dan Airin tadi kurang mengenakan.
Fajarpun berusaha merubah suasana menjadi lebih mencair.
"orang kaya mah beda, banyak dikerumuni lalat hijau. Hihi." ucap Fajar, dia tadi melihat Airin yang menggunakan dress berwarna hijau.
"sialan! Loe pikir gue bangkai." Ikmal dan Fajarpun tertawa bersama.
"tapi selain jadi lalat hijau, dia juga berbakat jadi ulat bulu. Bikin gue geli haha." tawa mereka semakin meledak.
***
Semenjak kejadian itu, Ikmal benar-benar sulit untuk bertemu dengan Peira.
Bagaimana kabarnya perempuan itu sekarang?
Bahkan ketika Ikmal mengirimi Peira pesan WA, perempuan itu hanya me-readnya saja.
__ADS_1
Seperti ada yang kurang didalam diri Ikmal, rasa rindu membuat hatinya gelisah tak menentu. Siang dan malam hanya memikirkan bagaimana cara agar bisa bertemu perempuan itu.
Ikmal tidak bisa lagi menahan beban berat yang ada didalam hatinya, dia harus menuntaskan persoalan cintanya dengan Peira malam ini juga. Jika menunggu sampai besok, dia tidak yakin malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak.
Malam semakin larut, tapi tak menyurutkan niat Ikmal untuk pergi menemui Peira di kontrakannya, di belahnya jalanan kota Bandung ditengah gelapnya malam ini.
Dia tidak akan menunda lagi untuk mengutarakan isi hatinya kepada Peira, sekarang atau tidak selamanya. Meskipun Ikmal tau kalau Peira sangat mencintai Fajar, begitu pula sebaliknya.
Ikmal siap menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun, dia pasrah dengan apapun yang akan terjadi setelah dia menyatakan cintanya kepada Peira. Asalkan dia tidak lagi merasa tertekan dengan perasaan cinta yang dia miliki.
'Pei, tolong temui gue sekali ini aja! Ada hal penting yang mau gue bicarakan. Gue ada dihalaman belakang kontrakan sekarang, gue akan tunggu loe sampai datang.'
Ikmalpun mengirin pesan chat itu kepada Peira.
Disisi lain, Peira yang menerima pesan dari Ikmal merasa ragu untuk menemui laki-laki itu. Rasa kecewa masih tersimpan dihati Peira.
Diabaikannya pesan dari Ikmal, Peira kembali mengiris seledri untuk digunakan ibunya berjualan besok. Diliriknya kembali ponsel yang dia geletkkan disampingnya.
Peira menggeleng pelan, dia tidak akan terpengaruh lagi dengan perkataan Ikmal.
30 menit kemudian.
'plis Pei, ini penting. Gue masih nunggu loe disini.'
Pesan dari Ikmal kembali masuk.
'gimana kalau beneran ada sesuatu yang penting?' batin Peira, dia mulai gelisah. Cukup lama Peira menimang-nimang untuk memenuhi permintaan Ikmal.
Akhirnya pendirian Peira goyah juga, diapun memutuskan untuk menemui Ikmal sebentar.
***
"Pei, akhirnya loe datang juga." ucap Ikmal kegirangan saat melihat kedatangan Peira.
"to the point aja! Loe mau bicara apa?" tanya Peira berusaha bersikap biasa saja, menyembunyikan rasa kecewanya.
"plis Pei, jangan bersikap seperti ini. Gue nggak tahan lagi loe musuhi gue." ucap Ikmal.
Peira terdiam.
"...rasanya hampa ketika kita dijauhi oleh orang yang kita sayang Pei." sambung Ikmal dengan sendunya.
"maksud loe apa?" tanya Peira.
__ADS_1
Ayo berikan like, komen dan tip bintang buat author,