
Matahari perlahan mulai bergerak turun menuju kearah barat, awan kemerahan nampak bertaburan dilangit menandakan hari mulai senja, bahkan burung-burungpun berbondong-bondong terbang menuju tempat peraduannya untuk menghabiskan malam yang terasa selalu dingin. Terlelap dalam sangkar yang mereka buat sendiri.
Fajar mengantar Peira pulang ke kontrakannya, setelah makan siang bersama Ikmal tadi selesai, Mereka langsung bertemu dengan penyelenggara WO untuk membahas soal acara resepsi. Cukup memakan waktu karena memang banyak yang harus Peira jelaskan secara rinci sesuai yang dia inginkan.
Peira yang terlihat lebih antisias ketimbang Fajar, dia yang memilih dekorasi sesuai dengan apa yang dia inginkan, seperti acara pernikahan impiannya, ya walaupun sederhana, tapi Peira ingin semuanya terlihat sempurna.
Fajar hanya menuruti apa yang diinginkan Peira, karena digelarnya resepsi nanti adalah wujud tanda cinta Fajar kepada kekasihnya itu, asalkan Peira senang, Fajar juga pasti akan merasa senang.
Sudah mampir juga tadi ke masjid terdekat kontrakan Peira untuk menunaikan ibadah shalat magrib, Fajar dan Peira duduk diteras kontrakan, hanya duduk di lantai saja, karena kursi kayu yang biasa nangkring disana sudah habis dimakan rayap seiring dengan waktu yang terus berlalu.
Tadinya Peira akan mengganti dengan kursi kayu yang baru, tapi belum sempat untuk membelinya mengingat banyak sekali yang harus dia siapkan untuk pernikahannya nanti.
"Pei?" Menarik Peira agar lebih merapat kepadanya.
"Apa yang?" Peira semakin menempelkan diri kesamping Fajar, memangkas jarak diantara keduanya.
"Kamu seneng mau menikah sama aku?" Tanya Fajar serius.
"Itu nggak perlu dipertanyakan lagi yang, aku seneng banget." Peira berbicara dengan menggebu-gebu. Fajar menyunggingkan senyum diujung bibirnya.
Menarik kepala Peira agar bersandar di pundaknya, Peira hanya diam saja, karena pundak Fajar adalah tempat ternyaman untuknya bersandar. Memejamkan mata, merasakan moment langka yang sangat jarang terjadi ini, tapi sebentar lagi itu akan berakhir, karena setelah menikah, akan banyak sekali waktu yang bosa mereka habiskan bersama, hanya berdua, tanpa batas waktu.
"Maaf ya Pei, hanya bisa menggelar resepsi sederhana, maaf kalau selama ini aku belum bisa membahagiakan kamu sepenuhnya, tapi percayalah Pei, aku sangat mencintaimu." Kecupan lembut mendarat dikepala Peira, Peira mendongak, menatap wajah kekasihnya itu, pandangan mereka bertemu dititik yang sama.
"Nggak yang, aku udah lebih dari bahagia bersama kamu, berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku."
Fajar merasa sangat rindu kepada kekasihnya itu, meskipun seharian ini mereka habiskan bersama, tapi itu tidak bisa membayar berapa banyak waktu saat mereka tidak bisa bertemu.
Semakin menipis jarak antara mereka, Fajar semakin mendekatkan wajah kearah Peira, terdengar hembusan nafas perempuan itu sangat merdu ditelinga Fajar, Peira sangat hafal betul apa yang akan terjadi setelah ini, sudah bisa menebak apa yang kekasihnya itu inginkan, hanya bisa pasrah dan memejamkan mata, karena Peirapun sangat merindukan sentuhan bibir dari kekasihnya itu.
Cup!
Bibir merekapun menyatu, gerakan lembut yang Fajar berikan membuat Peira terhanyut dalam indahnya buaian cinta, menikmati setiap ******* dari bibir Fajar, terasa ingin waktu berhenti saja.
Tuhan, jangan biarkan keindahan ini berakhir, aku sangat mencintainya, dia yang selalu setia berada di sampingku disaat aku terpuruk sekalipun. Meskipun nanti aku tidak bisa bersamanya lagi, tetaplah berikan dia kebahagiaan meski siapapun yang ada di sampingnya. Fajar.
Terimakasih Tuhan, Engkau telah menciptakan mahluk sesempurna dia, apalagi Engkau menciptakannya untukku, ini sungguh suatu karunia yang terindah Tuhan, akan ku jaga titipan Mu ini dengan nyawaku sendiri, aku sangat mencintainya. Peira.
Peira menarik bibirnya perlahan meskipun ******* Fajar terasa masih menempel dengan kuat, dahi Fajar mengerut ketika Peira mengakhiri ciuman yang terasa begitu nikmat ini.
"Kenapa Pei?" Fajar menyusut bibirnya yang berliur.
"Kamu ini nggak liat tempat banget sih yang, nanti kalau ada yang lewat atau ibu keluar gimana?" Tanya Peira sambil cekikikan.
"Tapi kamu juga menikmatinya, kan?" Fajar menggoda, wajah Peira langsung bersemu merah, memalingkan wajahnya merasa malu.
"Ayo ngaku aja!" Fajar mencolek dagu Peira, membawanya agar kembali menatap kearahnya.
__ADS_1
"Haha, iya, tapi nanti setelah menikahkan kita bisa bebas melakukannya lagi yang." Ucap Peira.
"Iya, nanti kalau udah nikah, habis kamu aku makan." Fajar terkekeh dengan perkataannya sendiri.
"Apa? Memangnya aku martabak?" Dengan polos Peira bertanya, membuat Fajar semakin terpingkal, ternyata kekasihnya itu tidak mengerti apa yang dia maksud.
Fajar melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul 7 malam.
"Pei, kayanya aku harus pergi sekarang deh." Ucap Fajar.
Bibir Peira jadi berkerut saat kekasihnya itu pamitan, pasti dia akan menarik ojek online, pikirnya.
Entahlah, kenapa akhir-akhir ini Peira jadi tidak suka saat mendengar Fajar akan menarik ojek online, padahal dulu Peira selalu memberikan Fajar dukungan untuk menarik ojek online.
Sekarang Fajar sudah memiliki pekerjaan yang layak, bahkan lebih dari cukup untuk membiayai hiduo keluarganya, apalagi sekarang Vania sudah bekerja juga.
Apa pantas Peira memiliki perasaan seperti ini? Dia hanya tidak ingin melihat Fajar terlalu kelelahan bekerja sekarang, sudah cukup selama ini dia bekerja keras mati-matian hanya untuk sekedar bertahan hidup.
"Kamu mau narik ojek online yang?" Tanya Peira tidak suka.
"Iya, bukan narik orang sih, tapi barang, aku mau kerumah Gilang dulu buat ambil barangnya." Jawab Fajar.
"Kemana?" Tanya Peira.
"Ke daerah Andir." Jawab Fajar.
"Itu jauh banget yang, apalagi besok kamu kan kerja." Ucap Peira.
Peira mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Fajar, seperti mengatakan jangan pergi. Rasanya Peira benar-benar tidak rela kalau Fajar harus menarik ojol sekarang, entah dia masih merasa rindu meskipun seharian ini dia bersama Fajar, entah perasaan apa ini namanya. Tapi rasanya lain, Peira tidak ingin Fajar beranjak dari sisinya saat ini dengan alasan yang tidak masuk akal. Sifat manjanya mulai kumat.
"Pokonya kamu jangan pergi, temenin aku aja disini, aku bakal bayar dengan harga yang sama sama barang yang kamu antar itu."
Fajar terkekeh mendengar ocehan Peira, apalagi wajah yang dibuat semelas mungkin itu, membuat Peira terlihat semakin menggemaskan saja.
Fajar melingkarkan tangannya kebelakang pundak Peira merangkulnya lalu memeluknya. Fajar tau kalau diperlakukan seperti ini, hati Peira pasti akan luluh dan membiarkannya pergi.
"Kamu itu kenapa sih? Kaya aku mau pergi kemana aja. Ini cuma narik ojol Pei, aku juga nggak akan lama."
Peira semakin mengeratkan pelukannya, tidak rela kalau Fajar bergeser sedikitpun.
Jangan pergi! Jangan pergi!
"Aku janji besok kita pergi ke Arta Park ya buat ambil foto pra wedding." Cara pertama tidak berhasil Fajar mencari cara lain.
Peira mendongakkan kepala menatap Fajar saat nama Arta Park disebut, melonggarkan sedikit pelukannya.
"Beneran yang?" Tanya Peira meyakinkan.
"Iya, makanya aku boleh ya pergi." Jawab Fajar.
__ADS_1
Menimang-nimang, apa harus Peira mengizinkan Fajar pergi, tapi perasaannya mengatakan 'Jangan izinkan'.
"Kalau aku nggak izinin, apa kamu akan tetap pergi yang?" Tanya Peira.
"Plis Pei, ini bukan soal uang atau apa, cuma kepercayaan pelanggan, kita nggak mau mengecewakan mereka. Kamu pasti mengerti kan, kamu juga sama seorang kurir."
Peira mengembuskan nafas berat, apa yang dikatakan Fajar memang benar, kalau nantinya pelanggan itu komplain dan menuntut yang macam-macam, bisa meluber kemana-mana urusannya. Cukup lama Peira berpikir, bingung dengan hati dan pikirannya yang tidak bisa sejalan dalam mengambil keputusan.
"Tapi janji besok kita pergi ke Arta Park." Akhirnya terucap juga meskipun masih merasa tidak rela sebenarnya.
"Iya, aku janji. Makasih ya Pei, kamu udah mau mengerti." Senyum Fajar tergambar juga di wajahnya, Peira melihat senyum itu, senyum yang agak berbeda.
Entah kenapa dengan hatinya, kenapa dia jadi bersikap seperti ini dan mencemaskan Fajar secara berlebihan, bukankah selama inipun Fajar selalu melakukan yang terbaik untuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
"Janji buat selalu hati-hati." Ucap Peira kemudian.
"Iya, aku janji akan selalu hati-hati demi kamu." Mengusap pucuk kepala Peira lembut sambil tersenyum.
Merekapun beranjak, dengan berat hati Peira melepaskan kepergian Fajar. Aneh memang, biasanya tidak pernah terjadi drama sekonyol ini sepanjang sejarah mereka berpacaran.
Tapi kenapa sekarang rasanya jadi tidak wajar?
Fajar melambaikan tangannya kearah Peira sebelum benar-benar menancap gas dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Rasa sedih mulai menyeruak dihati Peira, wajah Fajar terlihat berbinar-binar saat akan melakukan hal yang dia sukai, tapi kenapa dengan kebodohannya Peira malah menghalang-halangi?
Harusnya yang dia lakukan adalah cukup menjanga kekasihnya dengan lantunan do'a agar selalu diberikan keselamatan kemanapun Fajar melangkah dan akan kembali pulang kedalam pelukannya.
***
Fajar melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi setelah tadi sempat berhenti sejenak di trotoar jalan. Fikirannya melayang entah kemana, sedangkan raganya hanya fokus menatap kosong kearah jalanan yang mungkin tidak ada ujungnya itu.
Fajar tidak sebodoh itu untuk bisa mengartikan tatapan Ikmal kepada
Peira tadi, selama ini diapun bisa melihat kalau dimata Ikmal masih ada cinta untuk kekasihnya itu. Kesendirian Ikmal sampai saat ini, cukup menjadi bukti untuk kecurigaannya.
Kecewa memang, tapi Fajar selalu bisa menahan diri untuk tidak terbawa emosi. Toh Peirapun tidak pernah merespon berlebihan jika sedang bertemu Ikmal, kekasihnya itu tetap setia meskipun godaan menerpanya. Itu bisa dijadikan pegangan agar Fajar percaya sepenuhnya kepada Peira.
Selalu meyakinkan hati kalau semua akan berjalan baik-baik saja, tapi semua bohong, itu hanya kalimat bijak untuk menguatkan hati dan fikirannya saja.
Jauh didalam lubuk hatinya, dia selalu merasa gelisah, takut jika takdir baik tidak berpihak kepadanya, dia sangat takut kehilangan Peira sehingga memutuskan untuk meminang perempuan itu agar benar-benar terikat sepenuhnya bersamanya.
Percakapan antara Peira dan Ikmal di restoran tadi sungguh mencengangkan, rasa takut itu semakin besar Fajar rasakan ketika sekarang Ikmal mulai berani untuk kembali menyatakan cintanya kepada Peira.
Surat perjanjian itu pasti tidak diindahkan Ikmal karena dia pasti tau kalau Fajar hanya menggeretaknya saja.
Tujuannya sekarang berubah, bukan kerumah Gilang, melainkan kerumah Ikmal, dia akan membereskan masalah ini sampai keakar-akarnya. Seperti halnya dulu, Fajar mempunyai ide lain untuk membuat Ikmal menjauh dari Peira secara perlahan tanpa menyakiti hati siapapun termasuk Ikmal sendiri.
__ADS_1
Ayo dong readers like dan komentarnya, biar authornya semangat buat lanjutin ceritanya....