
"Mal, badan loe panas banget! Apa loe sakit?" tanya Peira, dia mendongakan kepalanya menatap wajah Ikmal, mata laki-laki itu masih terpejam.
"dingin." hanya satu kata yang keluar dari mulut Ikmal.
Astaga!
Ikmal benar-benar sakit, suhu tubuhnya panas tapi dia merasa kedinginan. Peira berusaha melepaskan tangan Ikmal yang melingkar ditubuhnya, dia merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Tapi Ikmal tidak membiarkan itu terjadi, dia semakin mengeratkan dekapannya. Itu cukup membuat Peira kesulitan menghirup oksigen.
"Mal, tolong lepaskan!" seru Peira dengan hati-hati.
Mulut Peira yang berjarak sangat dekat dengan telinga Ikmal, membuat Ikmal bisa dengan jelas mendengar perkataan perempuan itu.
Seketika mata yang semula terpejam, kini sudah terbuka dengan lebar. Ikmal baru sadar jika dirinya yang memeluk Peira bukanlah mimpi, melainkan sebuah kenyataan.
Ikmal melepaskan pelukannya terhadap Peira, perempuan itu terlihat ngos-ngosan seperti habis berlari maraton, saking pengapnya. Diapun mengatur posisinya agar menjadi lebih nyaman.
Ikmal terlihat salah tingkah, sedetik kemudian dia beranjak duduk dan menyamai posisi Peira.
"emm, sorry ya Pei, gue terlalu lancang." ucap Ikmal.
"iya, nggak apa-apa." jawab Peira sambil menunduk tanda menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Keteganganpun tidak dapat terhindarkan, hanya untuk Peira, tapi tidak dengan Ikmal.
Peira hanyalah perempuan biasa, yang hatinya bisa tersentuh manakala sebuah pelukan hangat mendarat di tubuhnya, bohong kalau Peira berkata jika dia tidak apa-apa dipeluk berulang kali oleh laki-laki itu.
Peira takut tidak dapat menahan perasaannya yang tak ayal bisa membuat kesetiaannya terhadap Fajar goyah.
Tidak dapat dipungkiri, kalau Peira memiliki secuil perasaan kepada Ikmal, entah itu perasaan kasihan atau perasaan karena ada beberapa kesamaan antara Ikmal dan Fajar, atau perasaan lain yang belum bisa Peira deskripsikan sendiri artinya.
"badan gue nggak enak semua Pei, kayanya gue nggak kuliah dulu hari ini." ucap Ikmal sambil memijat pelan tengkuknya, mungkin pegal.
Peira menoleh kearah Ikmal, laki-laki itu bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa sebelum ini.
Peira pun segera menepis semua perasaan aneh yang belakangan ini sering muncul di hatinya.
"emm, sebaiknya memang begitu Mal. Ayo gue antar loe ke puskesmas!" seru Peira yang berusaha bersikap seperti biasa.
"nggak usah Pei, nanti juga sembuh sendiri, gue cuma butuh istirahat aja." tolak Ikmal.
"ya udah, kalau gitu hari ini gue mau menemani loe disini." ucap Peira.
"maksudnya?" tanya Ikmal bingung.
"iya, hari ini gue mau merawat loe, biar sakit loe nggak berkepanjangan." jawab Peira.
"terus pekerjaan loe gimana?" tanya Ikmal.
"ini udah lewat banyak dari jam masuk kerja, kalau gue datang terlambat yang ada gue dimarahi habis-habisan, mendingan nggak usah masuk sekalian." jawab Peira.
__ADS_1
"sory ya Pei, gue selalu membuat loe dalam keadaan susah. Gue memang nggak berguna." Ikmal mengumpat.
Peira semakin tidak tega kepada Ikmal yang terlihat menyedihkan seperti itu, ternyata masih ada orang yang lebih susah daripada dirinya dan ibunya, Peira berpikir demikian.
"loe jangan bicara seperti itu Mal, kesuksesan butuh perjuangan. Gue yakin suatu hari nanti loe akan jadi orang yang berhasil, ini hanya sebagian kecil proses untuk loe mencapai kesuksesan itu." Peira memberi motivasi, Ikmal tersenyum mendengar penuturan Peira.
"makasih ya Pei, gue jadi punya alasan untuk tetap bertahan." ucap Ikmal.
"udah lah! Nggak seru tau galau-kegalauan terus, tunggu sebentar ya! Gue mau ambil bubur dulu dirumah." Peiraun beranjak dari duduknya dan melangkah keluar, meninggalkan Ikmal sendirian yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang tidak biasa.
Ikmal kembali tersenyum, senyum yang semakin dia lebarkan, manakala mengingat kelancangannya memeluk kekasih temannya sendiri. Dosa itu terasa sangat indah. Pelukan Peira terasa hangat di tubuhnya.
'apa gue kurang ajar kalau suka sama cewe loe, Jar?' Ikmal bergeming didalam hati.
Tak berselang lama, Peira datang kembali sambil membawa semangkuk bubur ayam favorit Ikmal, uap panaspun masih terlihat mengepul diatasnya.
"loe makan dulu ya! Habis makan minum obat, terus istirahat!" titah Peira.
Ikmalpun menurut tanpa membantah, dia langsung memakan bubur itu sambil sesekali meniupinya.
Hanya butuh waktu kurang dari 15 menit, isi dalam mangkuk itu sudah berpindah tempat kedalam perut Ikmal, tak lupa dia juga meminum obat yang juga dibawa Peira tadi.
"Pei!" ucap Ikmal setelah meneguk habis segelas air mineral.
"ya?" sahut Peira.
"kenapa loe baik banget sama gue?" tanya Ikmal kemudian.
Ikmal nampak tidak puas dengan jawaban Peira.
"apa kalau gue bukan sahabatnya Fajar, loe masih akan tetap bersikap baik sama gue?" tanya Ikmal. pertanyaan yang sangat memancing.
"tentu aja. Selama gue masih punya hati, gue pasti akan bersikap baik sama semua orang." jawab Peira tanpa berpikir panjang.
Ikmal masih tidak puas dengan jawaban Peira, dia menyimpulkan kalau perempuan itu memang tidak memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Hanya saja perkataan Fajar memang benar, Peira memang baik hati.
Ikmal menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, walaupun bibirnya terlihat pucat.
"loe memang bijak Pei, pantesan Fajar cinta banget sama loe." ucap Ikmal.
"Gue? Bijak? Haha, sejak kapan gue bijak?" tawa Peira terdengar begitu renyah ditelinga Ikmal.
Ada ketenangan sendiri saat Ikmal mendengar Peira tertawa seperti itu, Ikmal terus memperhatikan Peira.
"menurut loe?" tanya Ikmal dengan tatapan serius.
"emm, sejak kapan yaa?" ucap Peira sambil meniru gaya orang sedang berpikir.
"...mungkin sejak gue kenal sama Fajar, Fajar orang yang baik, religius, dewasa, bijaksana, dan tampan tentunya. Ha ha." Peira kembali tertawa diakhir kalimatnya.
__ADS_1
Ikmal tersenyum pahit menanggapinya, dia harus mengakui jika Peira dan Fajar adalah pasangan yang benar-benar mengagumkan, mereka saling membanggakan-banggakan satu sama lain.
Ikmal semakin iri saja kepada Fajar, andai saja dirinya yang terlebih dahulu mengenal dekat dengan Peira, pasti dirinyalah yang akan menjadi orang beruntung itu.
"...mungkin gue jadi terbiasa dengan sifat baiknya itu, seperti nular aja kedalam diri gue. Tapi gue bersyukur karena yang nular itu sisi positifnya." sambung Peira.
Ikmal terus memandangi Peira yang membicarakan Fajar dengan menggebu-gebu.
'andai aja yang loe bangga-banggakan itu gue Peira.' batin Ikmal.
"ngomong-ngomong soal Fajar, gue jadi kangen sama dia. Hi hi." ucap Peira sambil cekikikan.
Peira beralih menatap Ikmal ketika menyadari tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya itu.
"loe kenapa Mal? Apa sakit loe tambah parah?" tanya Peira yang melihat Ikmal hanya diam saja sambil memperhatikan dirinya.
Ikmal tersadar, diapun memalingkan pandangannya kearah lain, menghindari Peira yang takut bisa membaca isi pikirannya.
"nggak apa-apa kok." elak Ikmal.
Dihati Peira dan Fajar seperti tumbuh bunga cinta yang bermekaran dengan indahnya. Sedangkan hati Ikmal, hatinya seperti terbengkalai, tandus, tidak ada yang mencintai, karena memang hatinya tidak bertuan.
***
Hari ini Peira benar-benar merawat Ikmal yang demam dengan sangat baik. Setelah mengompresnya dengan air hangat, Peira meninggalkan Ikmal agar bisa tidur tanpa merasa terganggu dengan keberadaannya.
Tepat saat matahari berada diatas kepala, Peira kembali kekontrakan Ikmal dan membangunkannya untuk makan siang.
"loe berbakat jadi seorang perawat Pei." canda Ikmal.
"cuma orang-orang tertentu yang bisa gue rawat." sahut Peira.
"apa orang-orang itu spesial?" tanya Ikmal.
"hmm, bisa jadi." jawab Peira.
Ikmal merasa besar kepala.
"berarti gue spesial dong?" tanya Ikmal. Ikmal berharap jika Peira menjawab 'ya, loe spesial Mal'
"Fajar yang spesial buat gue." jawab Peira.
Ikmal membuang nafas asal, harapannya itu terlalu tinggi, sehingga saat dijatuhkan seperti ini rasanya sangat sakit.
Sejenak, suasana berubah menjadi hening. Sampai akhirnya Peira kembali buka suara.
"oh ya? Orang tua loe dimana?" tanya Peira yang baru ngeh jika orang tua Ikmal tidak pernah muncul.
"hah?" Ikal terlihat kikuk, wajahnya semakin pucat, dia berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat.
__ADS_1
...Jangan lupa likenya, komentarnya, rate bintang 5 juga ditunggu. Jangan jadi pembaca gelap, nanti matanya bintitan lho, hihi...