
Ok, lanjut yuk guys....
Waktu berkunjung sudah habis, Ikmal pulang dengan perasaannya yang campur aduk.
Tapi ketika melewati ruang besuk sebelah, Ikmal menciduki bu Leni sedang berbincang dengan salah satu tahanan disana. Ikmal tau itu karena lawan bicara bu Leni mengenakan kaos yang sama dengan Denis.
Bu Leni terlihat menangis sambil bercerita.
"aku bingung harus bagaimana lagi mas." samar-samar terdengar suara serak bu Leni disela tangisnya.
"maafkan saya bu, Peira memang benar, ini semua terjadi karena kesalahanku." ucap pria paruh baya itu sambil menggenggam erat jemari bu Leni.
Ikmal jadi penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, apalagi ketika dia mendengar nama Peira disebut oleh pria itu.
Dia tidak dapat lagi menahan hasrat dihatinya untuk menimbung percakapan antara bu Leni dan pria itu, Ikmalpun berjalan menghampiri mereka.
"nak Ikmal, kenapa ada disini?" tanya bu Leni panik ketika melihat Ikmal tiba-tiba muncul. Tangannya dengan sigap dia tarik dari genggaman pria itu.
"saya menjenguk sepupu saya yang ditahan disini." jawab Ikmal apa adanya.
"...dia siapa bu?" Ikmal bertanya kali ini.
"dia adalah suami ibu, ayahnya Peira." jawab bu Leni.
Srrr!
Terasa darah didalam tubuh Ikmal berhenti mengalir saat itu juga. Dia ingin sekali tidak percaya dengan fakta yang dia ketahui tentang kehidupan Peira.
Ikmal sangat tidak menyangka, Peira, si perempuan tangguh dan mandiri itu ternyata memiliki banyak sekali rahasia didalam hidupnya.
'jadi, selama ini ayahnya Peira mendekam dibalik jeruji besi ini?'
"siapa anak ini bu?" pak Bayu, ayah Peira itu bertanya.
"dia adalah Ikmal, teman Peira yang membantu kami kemarin. Yang tadi aku ceritakan." jawab bu Leni.
'jadi sedari tadi mereka sedang membicarakan masalah tempo hari?'
Ikmal pasti tidak akan tau tentang semua seluk beluk permasalahan Peira kalau dia tidak bertemu dengan bu Leni disini. Dia berpikir kalau dunia ini begitu sempit, atau mungkin ini memang jalannya untuk Ikmal tau keseluruhan tentang hidup Peira, perempuan yang belakangan ini selalu mencabik-cabik hatinya.
Pak Bayu, ayahnya Peira bercerita bagaimana mulanya dia bisa berada disel tahanan ini. Mulai dari dirinya yang suka mabuk-mabukan dan berjudi, sampai melakukan KDRT kepada bu Leni dan Peira saat bu Leni tidak memberikan uang hasil jualan buburnya untuk berjudi.
Lama kelamaan, judi semakin mendarah daging didalam dirinya, dia akan melakukan apa saja untuk bisa berjudi.
Disaat dia sudah buntu untuk mendapatkan uang untuk berjudi, bos Toni datang menawarinya pinjaman.
Tanpa mencium bau-bau kecurigaan, pak Bayu terus mengandalkan pinjaman dari bos Toni untuk berjudi.
Saat hutangnya sudah berada dititik tertinggi, yaitu 100 juta, bos Toni meminta kepada pak Bayu untuk melunasinya saat itu juga.
__ADS_1
Pak Bayu bingung, darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat?
Hingga telintas dipikirannya untuk membegal orang yang baru saja keluar dari sebuah bank.
Namun sayang, rencananya tidaklah berjalan dengan mulus, ternyata orang yang hendak pak Bayu begal adalah seorang pelarih seni bela diri disalah satu sanggar yang ada dikotanya.
Sehingga orang itu dapat dengan mudahnya menghajar pak Bayu saat pak Bayu hendak berbuat jahat terhadapnya. Pak Bayu yang notabenya sudah tua, melawanpun tidak mampu, tentu saja kalah sebelum dia berhasil menyentuh uang itu.
Sesaat setelah pak Bayu bersimpuh dijalanan beraspal sambil mengerang kesakitan, pihak berwajib terlihat turun dari mobil patroli mereka. Mungkin sipemilik uang menelfon mereka tadi.
Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, pak Bayu berusaha untuk melarikan diri. Dia tidak ingin kalau hidupnya harus berakhir dibalik jeruji besi.
DOR !!
Satu peluru berhasil menembus kaki sebelah kanan pak Bayu, polisi dengan sigap menarik pelatuk pistolnya saat pak Bayu hendak melarikan diri.
Darah berceceran diatas aspal.
Polisipun memborgol kedua tangan pak Bayu, dan membawanya kerutan Kebon Waru menggunakan mobil patrolinya tadi.
"Dan saya sangat menyesalinya sekaranng." pak Bayu mengakhiri kisahnya sambil meneteskan air mata.
Ikmal bisa melihat penyesalan yang sangat dalam dimata pak Bayu.
"tapi bos Toni bilang kalau hutangnya 200 juta." ucap Ikmal.
"beberapa hari setelah kaki saya sedikit membaik, bos Toni datang menemui saya. Dia berkata kalau hutangnya akan terus berbunga kalau kami tidak segera membayar. Disaat itupula kami meminta keringanan, bos Tonipun memberi kami toleransi untuk bisa mencicil hutang kami. Tapi dengan bunga 100 %, kamipun menyetujuinya. Dan bos Toni memberi pilihan, kalau kami mau menikahkannya dengan Peira, maka dia akan menganggap hutang kami lunas." ucap pak Bayu panjang lebar.
"...tapi istri saya menolak, dia lebih baik bekerja keras seumur hidup untuk melunasi hutang kami daripada harus menyerahkan Peira kepada bos Toni. Akhirnya terjadilah kesepakatan yang sama sekali tidak Peira ketahui, kalau kami tidak bisa mencicil hutang kami setiap bulannya, maka Peiralah yang akan menjadi jaminannya. Tentu itu sangat menguntungkan untuk bos Toni." sambung pak Bayu.
Ikmal mendengarkan setiap cerita pak bayu dengan penuh penyesalan, entah apa yang dia sesali, mungkin dia menyesal karena terlambat mengetahui semua tentang Peira.
Dia bertekad untuk selalu ada untuk Peira dan membuat agar perempuan itu tidak berada didalam keadaan yang sulit lagi.
***
Malam harinya, sepulang Ikmal bekerja, Ikmal meminta Peira untuk menemuinya dihalaman belakang kontrakan.
Peira yang sudah merasa ngantuk terpaksa memenuhi permintaan Ikmal, takut kalau ada sesuatu yang penting atau malah Ikmal galau lagi seperti waktu itu.
Kini keduanya duduk diatas rumput yang tumbuh liar dihalaman itu.
"Pei, mulai sekarang jangan ada yang loe tutup-tutupi lagi dari gue." ucap Ikmal memulai pembicaraan.
"maksud loe apa Mal?" tanya Peira bingung.
"gue udah tau semuanya Pei, gue tau dimana ayah loe berada sekarang." ucap Ikmal.
Terlihat sangat jelas perubahan raut wajah Peira saat Ikmal menyebut kata 'ayah loe'.
__ADS_1
"tolong loe jangan sebut kata itu di hadapan gue!" ucap Peira menegaskan.
"tapi kenapa Pei? Ayah loe sangat merindukan loe." ucap Ikmal.
"plis Mal, berhenti sebut dia ayah gue. Gue benci sama dia, dia laki-laki berengs*k, gue udah menganggap dia mati." ucap Peira dengan sorot matanya yang terlihat tajam.
Tanpa terasa matanya mulai memerah manakala mengingat setiap perlakuan kasar dari ayahnya dulu.
"nggak Pei, loe nggak benci sama dia. Buktinya loe mau bekerja keras demi untuk melunasi hutangnya." ucap Ikmal.
"UDAH, STOP MAL! Gue bilang jangan bahas soal dia lagi!" ucap Peira dengan nada tinggi diawal kalimatnya, nadanya berubah menjadi lemah saat diakhir kalimat.
Peira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dia harap bisa memasukkan lagi cairan bening kedalam pelupuk matanya, tapi tidak bisa.
Dia tidak ingin membuang-buang lagi air matanya untuk laki-laki berengs*k itu.
Ikmal tercengang saat mendapat bentakan dari Peira, tapi dipun seperti merasakan sayatan dihatinya saat menyadari Peira mulai menangis.
"oke Pei, gue minta maaf. Nggak seharusnya gue terlalu mencampuri urusan pribadi loe. Tapi sebagai sahabat loe, gue mau loe menyadari penyesalan pak Bayu dan mulai memaafkannya." ucap Ikmal sambil tertunduk, dia tidak sanggup kalau harus mendapat bentakan lagi dari Peira, tapi Ikmalpun harus siap, ini semua demi kebaikan Peira juga.
Peira terdiam, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara desahan dari mulutnya. Ikmal hanya membiarkan Peira untuk menenangkan dirinya.
Cukup lama mereka saling terdiam, sampai akhirnya Peira benar-benar sudah bisa mengendalikan emosinya.
"sory Mal, gue nggak bermaksud bentak loe tadi. Gue cuma selalu emosi ketika mendengar kata itu." ucap Peira kemudian.
"oke nggak apa-apa, gue paham kok Pei. Pasti berat buat loe menerima kembali orang yang udah melakukan kesalahan fatal." ucap Ikmal.
Ikmal merangkul pundak Peira dengan tangan kanannya, mengusapnya sampai berkali-kali.
"...loe perempuan yang kuat Pei, gue yakin loe pasti bisa menuntaskan semuanya. Dan gue harap gue bisa loe libatkan dalam masalah loe ini, temui gue kalau loe perlu bantuan, atau sekedar butuh teman curhat." ucap Ikmal.
Peira menatap Ikmal, dia tidak dapat menyangkal, mata laki-laki itu memancarkan ketulusan.
Tapi Peira melihat Ikmal sebagai sosok Fajat saat itu, kata-kata Ikmal sangat menenangkan seperti kata-kata Fajar. Perkataan yang selalu bisa membuat pendirian Peira goyah.
Reflek Peira memeluk Ikmal, karena dia merasakan kehadiran Fajar didalam diri Ikmal. Peira jadi merasa sangat rindu kepada kekasihnya itu, apalagi akhir-akhir ini mereka sangat sulit sekali untuk bertemu.
Nyaman rasanya, seperti sedang berada dipelukan Fajar. Tanpa sadar, acara tangisan Peira kembali berlanjut setelah tadi sempat terhenti. Peira menumpahkan air matanya didalam dekapan Ikmal, berharap rindu akan kehadiran sosok kekasihnya bisa sedikit terobati.
Sesekali Ikmal mengelus rambut panjang Peira yang dibiarkan terurai, hidungnya tidak bisa menghindari aroma wangi yang dikeluakan rambut perempuan itu, Ikmal menghirupnya dalam-dalam hingga masuk kedalam rongga hidungnya.
Ikmal hanya membiarkan Peira menangis sambil memeluk dirinya, karena itu juga yang dia inginkan meskipun dia tidak suka saat melihat Peira menangis.
Pelukan Peira terasa selalu hangat ditubuhnya, Ikmal semakin mengeratkan pelukannya, menikmati setiap detik yang berlalu dan berharap jika waktu ini tidak akan pernah ada ujungnya.
__ADS_1
Di episode selanjutnya kebohongan Ikmal akan terbongkar ya guys, dan juga akan ada pertemuan mengharukan sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu, siapa lagi kalau bukan Peira dan Fajar... Hihi