
"yang!" ucap Peira sambil berlari menghampiri Fajar.
Suara itu, Ikmal seperti familiar dengan suara itu. Dia menoleh kearah sumber suara, dia melihat Peira berlari kearah Fajar.
Ikmal tidak menyangka kalau kekasih yang dimaksud Fajar adalah Peira.
Peira langsung memeluk tubuh Fajar, dia sudah tidak tahan lagi menahan rindu dan haru yang ada dihatinya, dia menangis dalam pelukan Fajar.
Fajar yang melihat Peira menangis langsung membalas pelukannya dan membelai rambut Peira yang terurai.
"hey, kenapa kamu nangis?" tanya Fajar lembut.
"aku khawatir yang, kamu jahat! Kenapa kamu nggak hati-hati?" tanya Peira sambil terisak.
"maaf udah bikin kamu khawatir, sekarang aku udah nggak apa-apa kok." ucap Fajar.
"kamu nggak boleh sakit yang!" ucap Peira, dia sangat sedih melihat kondisi Fajar.
Fajar semakin mengeratkan pelukannya agar Peira sedikit tenang.
Ikmal memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan, kenapa perempuan itu sampai menangis meratapi keadaan Fajar? Sebegitu cemaskah Peira kepada Fajar?
Ikmal terpaku melihat adegan yang disuguhkan dihadapannya, dia tidak menyangka Peira akan bereaksi berlebihan seperti itu. Sedangkan kekasihnya sendiri, Airin, dia malah seolah tidak perduli dengan keadaan Ikmal sekarang.
Entah perasaan aneh apa yang muncul dihati Ikmal ketika melihat pasangan kekasih itu, Ikmal merasa iri karena dirinya dan Airin tidak bisa seperti mereka.
"siapa yang nabrak kamu yang?" tanya Peira yang langsung melepaskan pelukannya.
Belum sempat Fajar menjawab.
"itu gue." ucap Ikmal yang akhirnya buka suara.
Peira menoleh kearah Ikmal, sosok yang sedari tadi tidak dia sadari keberadaannya karena saking cemasnya kepada Fajar, Peira menghapus air matanya lalu melangkah kearah Ikmal dengan tatapan tajam, seolah dia ingin memangsa orang dihadapannya itu.
Deg!
Ikmal yang ditatap seperti itu oleh mata sayu Peira jadi merasa gugup, dia bisa melihat dengan jelas kesedihan dan kemarahan dimata Peira.
"loe jahat! Loe udah menyakiti Fajar!" ucap Peira dengan nada yang ditekan, membuat Ikmal sampai merinding mendengarnya, walau baru satu kalimat yang Peira ucapkan.
"loe tau, Fajar nggak boleh sakit. Dia harapan satu-satunya bagi keluarganya." ucap Peira dengan nada yang sedikit tinggi.
Ikmal hanya terdiam dan menunduk, dia tidak tega melihat Peira yang menangis sambil memarah-marahi dirinya.
"Pei, sudahlah!" seru Fajar yang tidak diindahkan Peira.
"loe nggak tau berapa banyak perut yang akan kelaparan kalau Fajar sakit dan nggak bisa kerja. hiks hiks." ucap Peira dengan nada yang semakin meninggi, diapun kembali menangis sesegukkan setelah mengucapkan kalimat itu.
Perkataan Peira terasa menacap tepat di ulu hati Ikmal.
Sungguh hati Peira rasanya sakit, dia merasa Tuhan tidak adil, membiarkan Ikmal yang kaya raya tidak mengalami luka, tapi Fajar yang harus bekerja keras harus merasakan kesakitan.
Peira juga membayangkan Vania yang tempo hari ditemuinya, hatinya semakin sakit kalau anak itu sampai berhenti sekolah karena masalah biaya.
Mulut Ikmal seolah terbungkam oleh perkataan Peira, dia tidak tahan lagi melihat lelehan air mata Peira yang semakin deras saja mengalir.
'sial, kenapa dia harus menangis?' batin Ikmal.
__ADS_1
"sudahlah Pei, ini musibah, kamu jangan menyalahkan Ikmal." seru Fajar.
"dia memang benar Jar, gue udah salah nabrak orang. Sory." ucap Ikmal, diapun langsung berlalu setelah mengucapkan hal itu.
Ikmal sama sekali tidak merasa tersinggung dengan semua bentakan Peira, karena dia tau yang dikatakan Peira semuanya benar. Hanya saja dia ingin menghindari air mata Peira yang sedari tadi terasa menyayat hatinya.
***
Ikmal menutup pintu ruangan Fajar, dia menyenderkan punggungnya kedinding dan mengangkat kepalanya sehingga menatap langit-langit klinik itu.
'astaga! Kenapa dia harus nangis?' batin Ikmal, lelehan air mata Peira terus saja terbayang diingatannya.
Ikmal mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha melupakan semua yang Peira ucapkan tadi.
Sementara itu, didalam ruangan pengobatan Fajar.
"Ikmal nggak sepenuhnya bersalah Pei, dia mau menghindari orang gila yang mau nyebrang, ehh malah aku yang kena tabrak." ucap Fajar.
"ya tapi aku kesel yang, dia udah sakitin kamu." ucap Peira, matanya masih terlihat sembab tapi dia sudah tidak menangis lagi karena sedari tadi Fajar meyakinkannya kalau dia tidak apa-apa.
"kamu harus bisa memaafkan Ikmal, aku aja udah memaafkan dia. Ikmal kelihatannya merasa bersalah banget, dia juga ganti rugi barang dagangan aku." ucap Fajar,
Peira hanya terdiam.
"ya udah, jangan diperpanjang. Nanti kamu minta maaf sama Ikmal ya!" seru Fajar. Peira tidak bisa membantah perkataan Fajar, dia hanya menurut dan menganggukkan kepalanya.
Fajar tertenyum lega, untung saja dia bisa membuat kekasihnya itu mengerti.
***
Keesokan harinya, dikampus.
Diliriknya Fajar yang duduk dikursi pojok depan, laki-laki itu terlihat biasa saja dan fokus memperhatikan apa yang dosen jelaskan, seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Padahal kemarin Ikmal melihat dengan jelas Fajar meringis kesakitan beberapa saat setelah dia tabrak.
Ikmal merasa salut kepada Fajar, entah dari mana asalnya perasaan kagum yang menyeruak dihati Ikmal itu. Dia mengagumi sifat pekerja keras Fajar, Fajar juga memiliki hati yang besar. Ikmal baru menyadari semua itu setelah kejadian kemarin.
Ikmal merasa iri kepada Fajar, dia sangat beruntung memiliki kekasih yang sangat mencemaskan keadaannya.
Peira sampai memaki-maki dirinya hanya untuk membela Fajar kemarin, dia tersenyum pahit, kenapa Airin tidak bersikap sama dengan Peira terhadapnya, bahkan pagi ini Airin masih enggan bicara kepadanya.
Andai saja Airin itu adalah Peira, betapa bahagianya hati Ikmal saat dikhawatiri dan ditangisi seperti yang Peira lakukan kepada Fajar.
Ikmal mengedarkan pandangannya kesetiap penjuru kelas, dia mencari sosok Peira yang kemarin memarahinya, dia ingin melihat bagaimana ekspresinya sekarang.
Tapi sosok yang dia cari tidak dia temukan.
'kenapa dia nggak ada? Fajar yang sakit, kok malah dia yang nggak masuk?' tanya Ikmal didalam hati, tapi kenapa Ikmal jadi memikirkan Peira? ahh, Ikmal jadi bingung sendiri ketika memikirkan tentang Fajar dan Peira.
***
Akhirnya kelaspun berakhir, Ikmal bisa bernafas lega karena sedari tadi dia tidak mood untuk mengikuti materi pembelajaran.
Dia melihat Airin bersama Dea dan Amel melewati mejanya tanpa sedikitpun menoleh kearahnya.
'mungkin dia masih marah.' pikir Ikmal.
Diapun cepat-cepat mengejar Airin sebelum semakin menjauh, dia ingin menjelaskan tentang kejadian kemarin agar tidak ada kesalah pahaman lagi diantara mereka.
__ADS_1
Ikmal menghalau jalan Airin sehingga langkah perempuan itu terhenti.
"yang, kita bicara sebentar ya!" ucap Ikmal.
"kalian duluan ya! Nanti gue nyusul." ucap Airin pada Dea dan Amel.
"oke!" seru keduanya lalu nyelonong pergi.
"ada apa?" tanya Airin kemudian.
"kamu masih marah sama aku?" tanya Ikmal.
"nggak." jawab Airin acuh tak acuh.
"apa kamu nggak khawatir kemarin aku habis nabrak orang?" tanya Ikmal lagi.
"memangnya siapa yang kamu tabrak?" alih-alih menjawab, Airin malah balik bertanya.
"Fajar." Jawab Ikmal.
"Fajar teman satu kelas kita?" tanya Airin tidak percaya.
"iya." jawab Ikmal.
"hahaha." Airin malah tertawa garing, Ikmal mengerutkan keningnya ketika melihat reaksi Airin.
"kenapa kamu tertawa? Kamu benar-benar nggak merasa cemas?" tanya Ikmal sedikit kecewa.
"kamu kalau mau bohong yang bener aja dong. Aku lihat sendiri kalau Fajar baik-baik aja, nggak ada tanda-tanda dia habis kecelakan." ucap Airin setelah berhenti tertawa.
Ahh, Airin memang benar. Fajar terlalu pintar menyembunyikan luka-lukanya dibalik jaket tebal dan celana jeansnya. Fajar juga pandai menyembunyikan kesakitannya sehingga nampak tak terjadi apa-apa pada tubuhnya.
Ikmal seperti kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Airin
"...kalau Fajar habis kecelakaan, mungkin sekarang dia ada dirumah sakit. Itu cuma alasan kamu aja buat nggak jadi jalan sama aku." ucap Airin.
Ikmal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ikmal nggak bohong kok, dia memang nabrak gue kemarin." ucap Fajar menimbrung karena tadi dia mendengar namanya disebut-sebut.
"Jar, kenapa loe masuk hari ini? Harusnya loe istrirahat dulu!" tanya Ikmal.
"gue udah baikan kok Mal, kemarin malam aja gue langsung kerja di kafe." balas Fajar.
Astaga!
Ikmal semakin kagum terhadap Fajar, dalam keadaan sakit sekalipun dia masih tetap bekerja, Ikmal semakin tidak enak hati terhadap Fajar.
"kamu percaya, kan sekarang yang?" tanya Ikmal.
"nggak tau deh. Aku pergi sekarang ya!" ucap Airin yang langsung nyelonong pergi menyusul teman-temannya.
"yang.." seru Ikmal hendak menahan Airin, tapi Fajar menarik tangan Ikmal.
"Mal, ada yang mau ketemu sama loe." ucap Fajar kemudian, Ikmal menoleh kearah Fajar dan melupakan untuk mengejar Airin.
"siapa?" tanya Ikmal.
__ADS_1
----------
Jangan lupa tinggalkan jejaknya setelah membaca....