You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Velisa?


__ADS_3

Hari-haripun cepat berlalu, tidak terasa Ikmal sudah lebih dari satu bulan tinggal dikontrakan itu. Ikmal belum berpikir untuk pulang ke rumahnya dan mengakhiri sandiwaranya.


Ikmal sudah terlanjur nyaman berada disekitar orang-orang baik yang tulus terhadap dirinya.


'hitung-hitung belajar mandiri.' pikir Ikmal.


Pagi ini ternyata bu Leni tidak berjualan lagi, sudah 3 hari terakhir ibunya Peira itu tidak membuka warung buburnya. Kalau Ikmal bertanya kenapa? Bu Leni selalu menjawab 'kurang enak badan.'


Ikmalpun jadi bingung untuk mencari sarapan yang enak dan murah dimana.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu selama satu bulan ini tiba juga, hari ini Ikmal akan menerima gaji pertamanya. Ikmal merasa sangat senang mendapatkan uang hasil jerih payahnya sendiri.


Rasanya lebih senang ketimbang saat diberi uang saku oleh mamanya, meskipun terhitung nominalnya sangat jauh berbeda.


Ikmal berencana menteraktir Fajar dan Peira untuk merayakan gaji pertamanya.


"sory Mal, gue nggak bisa ikut. Ada banyak banget orderan hari ini. Kalian pergi berdua aja nggak apa-apa." jawab Fajar ketika Ikmal mengutarakan maksudnya.


Akhirnya Ikmal hanya pergi berdua dengan Peira. Kafe Ramen Cemen adalah tempat tujuan mereka, kafe favorit Ikmal bersama teman-temannya dulu.


Terbesit rasa senang dihati Ikmal saat bisa jalan berdua bersama Peira. Tapi, apa dia egois jika memiliki perasaan seperti itu? Dia merasa kalau dirinya tidak tau terimakasih, dia sudah dibantu oleh Fajar dan Peira, tapi dia malah berharap lebih.


Tapi mau bagaimana lagi? Ikmal sudah terlanjur nyaman dengan sikap perhatian Peira, sehingga membuat dia berpikir kalau perempuan itu juga memiliki sedikit perasaan kepadanya.


Entahlah!


Ikmal hanya ingin menikmati setiap detik yang mereka habiskan bersama, meskipun nantinya dia tidak bisa merasakan hal ini lagi, setidaknya dia pernah merasakannya.


"perasaan loe suka banget datang ke tempat ini?" ucap Peira.


"iya, ini adalah tempat favorit gue dulu. Hampir setiap akhir pekan gue sama anak-anak nongkrong disini." terlihat sangat jelas perubaha diwajah Ikmal.


Peira terdiam.


"...bahkan kita sering nge-band diatas panggung itu." Ikmal menunjuk sebuah panggung kecil yang berada dipojok ruangan.


"loe jangan sedih ya Mal, meskipun loe nggak bisa seperti dulu lagi, seenggaknya loe masih bisa menikmati ramennya sekali-kali." ucap Peira. Ikmal mengangguk.


Seorang pelayan mengantar dua mangkuk mie ramen ke meja mereka, setelahnya dia pergi lagi.


Ramen itu terlihat sangat menggoda, Ikmal dan Peira langsung menggeser posisi mangkuk itu kehadapan mereka dan memakannya sedikit demi sedikit.


Sedang enak-enaknya makan, seorang perempuan menegur Ikmal sambil menepuk pundaknya. Itu membuat Ikmal kaget, untung saja dia tidak sampai tersedak makanan yang ada dimulutnya.


"Mal, loe kemana aja? Gue khawatir tau, loe tinggal dimana sekarang?" tegur ibu hamil yang tak lain adalah Velisa, kakak Ikmal.


Ikmal menelan salivanya melihat kemunculan Velisa, dia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk kalau kakaknya itu terus bertanya tentang dirinya.


Peira mengerutkan keningnya, dia masih hafal betul kalau perempuan itu adalah perempuan yang kapan hari dia temui dirumah Ikmal.


"adalah, loe nggak udah khawatir. Gue bisa jaga diri." ucap Ikmal dengan wajah masamnya, dia harap jika Velisa tidak akan bertanya yang aneh-aneh dan segera pergi dari hadapannya.

__ADS_1


"ini pacar baru loe Mal?" tanya Velisa kepo.


Ikmal dan Peira saling menatap, mereka terlihat bingung harus menjawab seperti apa.


"ehh, tapi kok ya kayanya gue pernah lihat loe deh. Tapi dimana yaa?" Velisa mencoba mengingat-ngingat.


"sepertinya kita perlu bicara deh kak. Pei, tunggu sebentar ya!" tanpa persetujuan, Ikmal menarik tangan Velisa hingga ke luar kafe.


Ikmal takut kalau mulut ember kakaknya itu bisa membongkar rahasianya.


Peira masih bisa melihat apa yang mereka lakukan diluar kafe melalui kaca yang berjejer, tapi dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena jarak yang terlalu jauh.


Awalnya Peira tidak merasa curiga dengan percakapan antara kakak beradik itu, tapi setelah melihat Ikmal yang berbicara dengan menggebu-gebu, Peira menjadi penasaran.


'sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?' tanya Peira dalam hati, lalu kemudian dia menyendokkan ramen lagi kedalam mulutnya, matanya masih menatap intens kearah Ikmal dan Velisa.


Sementara itu, disisi lain, tepatnya diluar kafe. Ikmal mencoba untuk meyakinkan sang kakak untuk tidak ikut campur dulu dengan urusannya.


"percaya sama gue, begitu misi gue selesai, gue bakal balik kerumah." ucap Ikmal meyakinkan.


"misi apaan? Misi menaklukkan hati perempuan itu?" tanya Velisa.


"terserah loe mau sebut itu apa, yang jelas sekarang misi gue masih belum selesai." jawab Ikmal.


"bokap sama nyokap bulan depan pulang, gue harus jawab apa kalau mereka menanyakan keberadaan loe?" tanya Velisa.


"gue janji, sebelum mereka pulang gue udah balik kerumah. Buat sekarang, biarin gue selesaikan dulu masalah gue." ucap Ikmal.


Ikmal akhirnya bisa bernafas lega karena sang kakak mau diajak kompromi.


"ya udah, sekarang meningan loe pulang gih! Mana suami loe?" tanya Ikmal


"sialan! Loe ngusir gue?"


Ikmal menggaruk keningnya frustasi menghadapi Velisa.


***


Ikmal kembali menghampiri Peira yang masih duduk manis di mejanya.


"ada apa Mal?" Peira kepo.


"dia cuma khawatir aja." jawab Ikmal.


"kakak loe kelihatan protektif banget." ucap Peira.


"iya, maklum gue adik satu-satunya." jawab Ikmal.


"apa nggak sebaiknya loe pulang aja kerumah kakak loe? Kasihan kan kalau dia terus memikirkan loe, apa lagi keadaanya sekarang yang lagi hamil besar." ucap Peira.


"iya, nanti gue pikirkan lagi." jawab Ikmal.

__ADS_1


***


BRAK !!


PRANG !!


"astaga! Suara apa itu?" Peira yang sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja dikejutkan dengan suara bising dari luar.


Diapun langsung berhambur keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Objek pertama yang menarik perhatiannya adalah 3 orang bertubuh kekar berpakaian serba hitam sedang mengobrak-abrik isi gerobak, sehingga bahan dagangan bubur ibunya melayang dan berserakan menyatu dengan tanah.


Mulut Peira terbuka lebar, merasa sangat kaget sekaligus bingung.


"ayo! Hancurkan semua barangnya!" seru seorang pria paruh baya bertopi ala-ala koboi.


Kemudian pandangan Peira beralih kearah sumber suara. Peira sangat hapal dengan pria paruh baya itu, bagaimana mungkin dia bisa lupa, dia adalah orang yang sudah menghancurkan keluarganya, namanya adalah bos Toni.


"jangan, saya mohon! Hentikan mereka!" bu Leni berlutut dihadapan bos Toni dan memeluk kakinya sambil menangis.


Bos Toni merasa risih, dia menghempas-hempaskan kakinya sehingga bu Leni ikut terhemas ketanah.


"ibu!" Peira menghampiri bu Leni dan berjongkok menyamai posisinya, dia mengusap pundak bu Leni, setetes cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Dia sangat sedih ibu yang selalu di hormatinya diperlakukan kasar oleh orang lain.


"ini ada apa bu?" tanya Peira.


Bu Leni tidak menjawab, dia hanya menangis.


Sekali mendapat perintah, anak buah bos Toni semakin menjadi-jadi. Mereka memecahkan mangkuk dan kaca gerobak sehingga menyatu dengan bahan dagangan yang sudah terlebih dahulu mendarat ditanah.


Tangisan bu Leni semakin histeris, manakala melihat barang dagangannya sudah dihancurkan oleh anak buah bos Toni. Peira memeluk ibunya, kemudian diapun ikut menangis, merasa sangat sedih. Bagaimana tidak sedih? Bahan dagangan itu adalah suber penghasilan bagi mereka, tapi kenapa dengan mudahnya mereka menghancurkan itu semua? Apa salah mereka?


Padahal, dengan susah payah mereka berjuang mencoba peruntungan dengan berjualan bubur ayam, walaupun dengan untung yang tidak seberapa dan modal yang pas-pasan.


"apa salah kami? Kenapa anda tega melakukan ini?" tanya Peira dengan nada tinggi meskipun sambil menangis, suaranya dibuat setegas mungkin.


"hahaha, kau masih bertanya? apa kalian lupa dengan kesepakatan yang sudah kita buat waktu itu?" tanya bos Toni sambil tertawa menyebalkan.


Ikmal yang baru keluar dari kontrakannya, melihat kegaduhan didepan kontrakan Peira. Beberapa tetangga sampai berkerumun disana, ditambah lagi dengan suara nyaring yang sepertinya dihasilkan dari sesuatu yang pecah.


Ikmal semakin penasaran, diapun menerobos kerumunan ibu-ibu itu dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Astaga!


Sungguh, pemandangan yang sangat menyakitkan mata. Ikmal kalap saat melihat 3 orang preman sedang mengacak-acak barang dagangan bu Leni. Dia menarik bahu salah satunya dan...


BUKK !!


BUKK !!


 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya guys....


__ADS_2