You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Cemburu tak beralasan


__ADS_3

Hari berikutnya, hari ini adalah hari libur untuk Peira, rencananya untuk pergi main kerumah Fajar dan menengok ibunya sepertinya harus diurungkan. Pasalnya, hari ini Fajar sedang banyak sekali pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.


Kendati demikian, Fajar sudah berjanji akan menemuinya pagi ini sebelum pergi bekerja, berhubung kelas Fajar dimulai pukul satu siang nanti.


Sebelum pergi kerumah Peira, Fajar menyempatkan diri untuk mampir kekontrakan Ikmal.


"ayo kita sarapan bubur diwarungnya bu Leni. Sekalian kita tanya soal loker ditempat Peira bekerja." ucap Fajar.


"Ya udah ayo. Mudah-mudahan gue bisa dapat kerja dalam waktu dekat ini." balas Ikmal.


Merekapun bergegas pergi kerumah kontrakan Peira yang jaraknya hanya 10 meter saja.


"ehh, nak Ikmal dan nak Fajar tumben kok datangnya bisa barengan?" tanya bu Leni saat dua pemuda itu datang ke kontrakannya.


Fajar cepat-cepat meraih tangan bu Leni dan menyalaminya, bu Leni menyambutnya dengan hangat.


"iya bu, sekalian kita mau sarapan buburnya ibu." jawab Fajar.


"saya biasa ya bu, krupuknya agak banyakan dan nggak pakai sambal." ucap Ikmal.


"asiap." sahut bu Leni.


Ikmal dan Fajarpun duduk di kursi kayu yang selalu nangkring diteras kontrakan Peira. Sambil menunggu bubur siap, mereka mengobrol ringan.


Peira yang mendengar kasak-kusuk diluar, langsung keluar untuk memastikan suara apa itu.


"yang, kamu sudah sampai? Kok aku nggak denger suara motor kamu?" tanya Peira setelah melihat kekasihnya.


"ehh Pei. Iya aku baru sampai, itu motornya aku parkir didepan kontrakan Ikmal." jawab Fajar.


Peira hanya manggut-manggut.


"ini buburnya, silahkan dimakan." ucap bu Leni sambil meletakkan dua mangkuk bubur di atas meja.


"terimakasih bu." jawab Fajar dan Ikmal bersamaan.


"ya sudah, ibu tinggal dulu, masih ada pelanggan yang harus ibu layani." ucap bu Leni kemudian berlalu pergi.


"kalian makan dulu aja ya, aku mau membereskan tempat tidur dulu." ucap Peira.


"iya, jangan lama ya Pei, ada sesuatu yang mau kita bicarakan." ucap Fajar.


"oke." Peirapun pergi masuk kedalam.


Sementara Peira berjibaku dengan pekerjaannya, Ikmal dan Fajar sibuk memakan bubur.


15 menit kemudian, Peira kembali menghampiri kedua pemuda tampan itu. Dia melihat dua mangkok bubur tadi sudah mereka sapu dengan bersih.


"Pei, duduklah!" seru Fajar sambil menepuk kursi disebelahnya, Peirapun duduk disamping kekasihnya itu.


"ada apa sih yang?" tanya Peira penasaran.


"apa loker ditempat kamu kerja masih ada?" tanya Fajar kemudian.


Peira melirik kearah Ikmal, dia berpikir kalau Fajar sedang membantu Ikmal mencari pekerjaan.


"loe mau kerja Mal?" tanya Peira.


"hehe, iya nih Pei." jawab Ikmal sambil cengengesan.


"tapi loker ditempat gue udah ditutup." ucap Peira yang membuat Fajar lesu, yang mau kerja Ikmal, tapi kenapa Fajar yang merasa kecewa? Entahlah.


"oh, gitu ya Pei." ucap Ikmal sambil manggut-manggut.

__ADS_1


"tapi kemarin sore gue lihat info loker di kedai kopi seberang kantor gue." ucap Peira yang membuat Fajar dan Ikmal kembali bersemangat.


"Sweet Coffe itu Pei?" tanya Fajar yang memang sudah tau tempat itu.


"iya." jawab Peira.


"loe serius Pei? Dimana tempatnya? Gue mau kerja apa aja, yang penting halal dan gue bisa punya duit." tanya Ikmal.


"gue wa alamatnya ya. Yang jelas baru kemarin sore dipasang info lokernya. Loe harus cepet-cepet kalau mau, nanti keduluan orang. Loker jaman sekarang cepet banget ditutupnya." jawab Peira.


"ya udah, loe sand sekarang ya. Gue langsung otw." ucap Ikmal.


"iya." Peirapun mulai membuka ponselnya.


"gue antar ya Mal, mumpung masih ada waktu." ucap Fajar.


"loe serius Jar?" tanya Ikmal, Fajar mengangguk mantap.


"kalau gitu, gue ganti baju dulu sebentar." ucap Ikmal, diapun langsung pergi menuju kontrakannya.


Fajar sebenarnya merasa khawatir kepada Ikmal, dia takut Ikmal tidak akan percaya diri atau gugup saat interview kerja. Untuk itu Fajar menawarkan diri untuk menemani Ikmal.


"yang, jadinya kapan aku bisa main kerumah kamu?" tanya Peira.


"minggu depan gimana?" jawab Fajar.


"ahh, nanti nggak jadi lagi." balas Peira, dia melipat tangannya didada sambil memasang wajah kecut.


Fajar malah terkekeh melihat Peira yang pura-pura merajuk, dia paham betul kalau kekasihnya itu minta dibujuk.


"hey Pei! Nggak usah sok-sokan ngambek begitu, nggak baik tau!" seru bu Leni yang tiba-tiba menimbrung, dia terlihat masih melayani pembeli.


Wajah Peira seketika bersemu merah mendapat teguran dari ibunya itu, dia jadi malu sendiri.


Fajar semakin melebarkan senyumnya melihat Peira, ekspresi malu sekaligus kesal kekasihnya itu terlihat sangat menggemaskan.


"beneran yang?" tanya Peira antusias, dia langsung tersenyum mendengar perkataan Fajar.


Begitulah Peira, moodnya akan cepat kembali membaik hanya dengan Fajar membujuknya seperti itu saja, pada dasarnya, dia tidak akan bisa kesal lama-lama kepada kekasih tampannya itu.


***


"jadi, kalian berdua ini yang mau melamar pekerjaan disini?" tanya pemilik kedai kopi yang sedang meng-interview Ikmal.


"tidak pak, hanya saya saja." jawab Ikmal.


"Ya sudah, silahkan anda tunggu diluar!" serunya kemudian mempersilahkan Fajar.


"baik pak." Fajarpun akhirnya meninggalkan ruang interview itu dengan berat hati, dia sangat mencemaskan Ikmal yang belum berpengalaman bekerja.


"apa pengalamanmu?" tanya pemilik kedai itu.


"tidak ada pak. Saya tidak berpengalaman." jawab Ikmal jujur.


Pemilik kedai itu memperhatikan Ikmal cukup lama, Ikmal yang diperhatikan seperti itu jadi merasa gugup, dia tidak yakin dia akan diterima bekerja disana.


"lulusan apa kamu?" tanyanya lagi.


"saya lulusan SMA pak, saya sekarang kuliah di Universitas Padjadjaran dan saya sangat membutuhkan pekerjaan." jawab Ikmal, dia mencoba menghilangkan kegugupannya.


"apa kamu bisa membagi waktu antara kuliah dan bekerja?" tanyanya.


"insyaallah pak, saya kuliah paling cepat sampai pukul 12 atau pukul 2 siang pak. Saya punya banyak waktu luang" jawab Ikmal.

__ADS_1


"jam kerja kamu dari pukul 3 sore sampai pukul 11 malam, apa kamu sanggup?" tanyanya lagi.


"saya sanggup pak." jawab Ikmal tegas.


"hari libur giliran, gajih kamu UMR kota Bandung." ucap pemilik kedai itu kemudian.


"jadi, saya diterima pak?" tanya Ikmal meyakinkan, padahal dia sudah sangat yakin kalau dirinya diterima, dia terlihat sangat senang.


"ya, kamu jadi waiters disini. Belajarlah meracik kopi, setelah pandai kamu bisa menjadi barista." jawabnya.


"terimakasih pak, terimakasih banyak. Saya akan bekerja dengan baik dan benar." Ikmal menjabat tangan pemilik kedai itu, diapun menyambut tangan Ikmal.


"kamu bisa bekerja mulai besok, dan ingat! Jangan sampai terlambat!"


***


Satu minggu telah berlalu, semua berjalan sesuai dengan yang diharapkan, Ikmal merasa nyaman dengan pekerjaannya sekarang. Meskipun dia tidak terbiasa hidup susah, tapi Ikmal sangat menikmati masa-masa ini.


Dia seperti menemukan keluarga baru, meskipun hidupnya sekarang jauh dari kemewahan.


Sementara itu, Fajar benar-benar menepati janjinya. Hari ini Fajar sengaja mengosongkan jadwalnya hanya untuk Peira.


Lain halnya dengan Peira, dia harus bernegosiasi cukup lama dengan kepala divisi untuk diizinkan libur, pasalnya baru saja minggu lalu dia libur, dia akan mendapat libur kembali minggu depan.


Tapi Peira menawarkan diri untuk menukar liburnya dengan minggu depan, akhirnya kepala divisi itu mau mengerti dan memberi izin Peira untuk libur.


Tepat pukul 9 pagi, Fajar menjemput Peira dirumah kontrakannya. Ternyata Peira sudah siap sedari tadi, Fajar membuatnya menunggu cukup lama.


Fajar terperangah saat melihat Peira yang berdandan tidak seperti biasanya, bahkan Fajar sampai tidak bisa berkedip saat menatap kekasihnya itu.


Peira terlihat sangat cantik dengan menggunakan dress hitam selutut, rambut yang dibiarkan terurai sedikit bergelombang, make up yang natural, bibir merah merona, penampilan sederhana tapi membuat Peira terlihat sangat cantik dan berbeda hari ini.


Fajar jadi grogi saat melihat Peira, apalagi setelah satu minggu tidak bertemu, tau-tau Peira semakin cantik seperti ini.


"maaf ya Pei aku telat." ucap Fajar sambil tersenyum malu-malu.


"nggak apa-apa kok yang, ayo berangkat!" jawab Peira.


Ikmal tiba-tiba saja datang, dia tadinya hanya ingin sarapan bubur disana karena pagi ini dia sedikit telat bangun, tapi dia malah disuguhi pemandangan yang sangat langka terjadi.


Dia menatap Peira sampai tidak berkedip, Ikmal tidak menyangka kalau Peira yang biasa-biasa saja bisa berubah menjadi sangat cantik seperti itu.


"Pei, ini beneran loe?" tanya Ikmal tidak percaya.


"iya, dia Peira, cewe gue. Tolong matanya dijaga ya, nanti bisa-bisa keluar nggak ada gantinya lagi." jawab Fajar, dia tidak senang melihat tatapan Ikmal kepada Peira.


Peira hanya mengulum senyum, yang membuatnya semakin terlihat anggun.


"sory." ucap Ikmal, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia merasa bersalah telah memandangi dan menuju-muji kekasih orang didalam hatinya.


"ya udah, kita duluan ya Mal." ucap Peira.


Setelah berpamitan kepada bu Leni, merekapun langsung berangkat menuju rumah Fajar.


Ikmal memperhatikan Fajar dan Peira yang berjalan sambil bergandengan tangan dan saling melempar senyum, mereka terlihat sangat serasi dan bahagia walaupun didalam segala keterbatasan.


Entah perasaan apa yang tiba-tiba saja menyeruak dihati Ikmal, hatinya terasa panas seperti terbakar api cemburu. Tapi kenapa Ikmal harus cemburu? Bukankah dia juga sudah memiliki kekasih?


Atau mungkin karena dia dan kekasihnya tidak bisa seperti Fajar dan Peira? Sehingga dia merasa cemburu? Entahlah, Ikmal sendiripun bingung dengan perasaannya ketika melihat mereka bersama.


Ikmal berpikir kalau Fajar sangat beruntung memiliki kekasih yang cantik, dan baik hati. Tapi, Ikmalpun juga begitu, dia memiliki kekasih yang cantik dan baik hati, tapi kenapa dia tidak merasa dirinya beruntung? Akhir-akhir ini Airin dan Ikmal jarang sekali berkomunikasi, mereka seperti sibuk dengan hidupnya masing-masing, Ikmal jadi merasa sudah ditinggalkan oleh kekasihnya itu secara tidak langsung.


Selera makan Ikmal mendadak jadi hilang setelah memikirkan semua itu.

__ADS_1


***


...Tolong tinggalkan jejak setelah membaca, berupa like komentar Atari beri tip bintang 5, author sangat senang jika ada yang menghargai karya author ini,,...


__ADS_2