You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Ternyata ini


__ADS_3

Lanjut yuk guys...


Astaga!


Sungguh, pemandangan yang sangat menyakitkan mata. Ikmal kalap saat melihat 3 orang preman sedang mengacak-acak barang dagangan bu Leni. Dia menarik bahu salah satunya dan...


BUKK !!


BUKK !!


Ikmal melayangkan kepalan tangannya hingga berkali-laki ke wajah salah satu preman itu, sehingga meninggalkan bekas kebiru-biruan diwajah sangar milik orang itu.


Orang itu yang tidak siap menerima serangan, langsung jatuh tersungkur. Rekannya yang lain (sebut saja preman 2) menyadari akan datangnya serangan, dia dengan sigap membalas menyerang Ikmal.


Dengan cekatan, Ikmal dapat menghindari serangan balik dari orang itu.


Serangan tidak berhenti sampai disana, satu rekannya yang lain (sebut saja preman 3) menyerang Ikmal dari belakang sehingga kali ini Ikmal tidak bisa menghindarinya.


Dengan cepat, si preman 2 memegang lengan Ikmal bagian kanan, sedangkan si preman 3 memegangi lengkan kirinya sehingga gerakan Ikmal terkunci.


Si preman satu bangkit dari jatuhnya, dengan senyum menyeringai dia melangkah menghampiri Ikmal dan kedua rekannya.


Dengan senang hati dia melayangkan kepalan tangannya, membalas pukulan Ikmal tadi dengan lebih kejam.


Dalam hitungan detik, wajah mulus Ikmal kini sudah dipenuhi oleh luka lebam. Bahkan, hidungnya sampai mengeluarkan cairan berwarna merah kental.


Dengan sisa tenaga yang masih dia punya, dia menendang 'kepunyaan' si preman yang memukulinya. Preman itu meringis kesakitan sambil memegangi 'kepunyaannya'.


Semua orang terperangah melihat adegan mengilu itu, termasuk kedua rekannya dan bos Toni. Mereka seperti merasakan apa yang si preman itu rasakan.


'pasti ngilu sekali.'


Disaat itu pula 2 preman yang sedang memegangi lengannya lengah, Ikmal memanfaatkan situasi ini untuk memegang kendali pertarungan.


Ikmal memutar salah satu tangan berbulu itu dalam satu hentakan kasar sehingga menghasilkan suara...


KREK !!


"arrggh!" suara tangan yang Ikmal putar bersamaan dengan erangan dari sang pemilik tangan.


Sementara satu preman meringis sambil memegangi kepunyaannya, satu lagi memegangi tangannya yang mungkin sudah patah, Ikmal tinggal membereskan satu preman lainnya.


BUKK !!


BUKK !!


Pertarungan semakin sengit, Ikmal dan preman itu sama-sama kuat dan tidak mau kalah satu sama lain.


Peira bingung harus berbuat apa, ikut memukuli preman itu bukanlah pilihan yang bijak. Sementara bu Leni, dia masih terus menangis.


Sesekali Peira menutup mata agar tidak melihat Ikmal yang harus menerima pukulan terus menerus dari preman itu.


Entah bagaimana ceritanya, sekarang Ikmal dan preman itu saling berguling-guling ditanah. Awalnya Ikmal yang berada di atas tubuh preman itu, tapi kemudian preman itu mengambil alih posisi Ikmal sehingga Ikmal berada dibawahnya.


Mereka terus berguling-guling sampai entah berapa kali untuk mempertahankan posisi mereka dan memenangkan pertarungan itu yang tidak tau disebabkan oleh apa.


Bos Toni terlalu asik menoton adegan action dihadapannya sehingga lupa tujuan awalnya datang kemari, pun dengan para tetangga yang disuguhi tontonan panas gratis pagi ini.


"cukup! Tolong hentikan!" Peira berteriak dengan suara seraknya.

__ADS_1


Kedua orang itu terlalu asik dengan pertarungan mereka sehingga tidak mengindahkan seruan Peira.


"saya mohon, suruh anak buahmu itu untuk berhenti!" ucap Peira pada bos Toni.


Bos Toni baru tersadar, kemudian diapun menyuruh anak buahnya berhenti.


"baiklah, baik. Sudah hentikan! jangan buang-buang tenaga untuk melayani bocah ingusan seperti dia." seru bos Toni.


'tenaga kami memang sudah habis bos!' preman 2 membatin.


Akhirnya pertarungan itupun berhenti setelah dua preman yang lain memisahkan mereka.


Keempatnya terlihat ngos-ngosan, mereka membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak lagi.


"mari kita bicarakan masalah ini secara kekeluargaan!" seru bos Toni.


'cih! Kenapa nggak dari awal? Kenapa setelah tenaga gue terkuras habis baru dia mau menyelesaikan masalahnya baik-baik!' Ikmal membetulkan letak kemejanya yang berantakan, nafasnya terdengar tak beraturan akibat ditindih berkali-kali oleh preman yang badannya lebih besar dari pada dirinya tadi.


Para tetangga terlihat berbisik-bisik membicarakakan tentang keburukan Peira dan ibunya. Mereka juga menduga-duga apa yang akan terjadi setelah ini, karena yang mereka tau tidak akan ada orang yang bisa selamat kalau sudah berurusan dengan bos Toni.


"apa yang kalian lihat? Apa kalian tidak memiliki pekerjaan sehingga mengurusi urusan orang lain?" Sorot tajam dari kedua mata bos Toni membuat orang-orang yang melihatnya bergidig ngeri, para tetanggapun berbondong-bondong meninggalkan kontrakan Peira, mereka takut kalau harus berurusan dengan bos Toni, dia adalah orang yang berpengaruh besar dilingkungan tempat mereka.


Mereka harus merelakan tontonan gratis dan seru itu berakhir dengan cerita yang menggantung.


Peira masih terlihat syok, dia juga belum sepenuhnya bisa mencerna dengan baik tentang kejadian ini.


"sebenarnya, apa yang membawa anda kesini dan menghancurkan dagangan bu Leni?" tanya Ikmal.


"hey! Saya tidak ada urusan dengan kau, anak muda! Saya hanya ingin menentukan tanggal pernikahan saya dengan putrinya ini, tapi dia malah bersikap tidak sopan kepada calon menantunya. Terpaksa saya menggunakan cara kasar." jawab bos Toni.


Dalam kelimpungannya, Peira masih bisa memahami apa yang bos Toni katakan tadi.


"apa maksud perkataan anda?" tanya Peira dengan bibir gemetar.


"maafkan ibu Pei, ini semua salah ibu." ucap bu Leni masih menangis.


"kau akan menikah dengan saya dalam waktu dekat ini. Hahaha." jawab bos Toni sambil tertawa mengerikkan menurut Peira, mengerikan setelah mendengar kalimat menjijikan dari mulut yang bernaungkan kumis tebalnya.


Ingin muntah rasanya.


"bukankah anda sudah memiliki dua istri?" tanya Peira.


"saya akan menjadikan kau istri ketiga. Hahaha."


"hahaha."


Bos Toni tertawa diikuti oleh ketiga anak buahnya. Meskipun mereka masih merasakan sakit ditubuhnya, mereka merasa puas melihat wajah tidak berbentuk Ikmal saat mendengar perkataan bos Toni. Bukan hanya wajah tampannya saja yang hancur, tapi hatinya juga pasti babak belur, karena pacarnya akan diperistri oleh bos mereka. Begitulah isi pikiran preman-preman itu.


"jaga bicara anda!" hampir saja Ikmal meninju wajah keriput bos Toni, tapi Peira segera menahannya.


"atas dasar apa anda bicara seperti itu? Saya tidak sudi menikah dengan anda!" ucap Peira penuh penegasan.


"sesuai kesepakatan antara saya dan kedua orang tuamu dulu, kalau kalian tidak bisa membayar cicilan hutang itu, maka kau yang akan dijadikan sebagai pelunas hutang orang tuamu kepada saya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kau harus menikah dengan saya. Hahaha." ucap bos Toni panjang lebar.


Ternyata Peira tidak tau kalau ada kesepakatan lain dibalik hutang pihutang ayahnya dulu, yang dia tau hanya mencicil hutangnya sampai lunas. Peira semakin tidak berdaya, pengorbanannya untuk berhenti kuliah ternyata hanya sia-sia.


Tidak, mungkin masih ada sedikit harapan. Dengan tenaga yang tersisa, Peira mencoba berkata.


"tapi saya selalu membayar cicilannya setiap bulan." ucap Peira.

__ADS_1


"hahaha, bicaralah Leni!" bos Toni kembali menyeringai mengerikkan, lebih mengerikkan dari hantu yang ada difilm-film.


"maafkan ibu Pei, ibu tidak amanah. Uang yang kamu berikan untuk mencicil ibu gunakan untuk keperluan lain." ucap bu Leni penuh penyesalan.


Srrr!


Lutut Peira melemas, dia membanting pantatnya kelantai saking tidak sanggup lagi menopang tubuhnya.


Ikmal sedikit banyak mulai paham dengan masalah yang sedang dihadapi Peira dan ibunya. Ingin rasanya dia menghajar wajah pria paruh baya itu, tapi diurungkan nitnya saat melihat Peira menangis.


"apa maksud ibu dengan keperluan keperluan lain?" tanya Peira ditengah tangisannya.


"sebenarnya, dua bulan terakhir ibu berikan uang itu kepada ayah kamu Pei, dia membutuhkannya disana." jawab bu Leni sambil sesekali menyusut pipinya.


"apa? Ibu berikan uangnya kepada laki-laki b*rengs*k itu? Apa tidak cukup selama ini dia membuat hidup kita berada dalam kesusahan?" nada bicara Peira terdengar tinggi, setelah berbicara seperti itu, tenaganya seolah habis, tubuhnya semakin melemas.


Peira tertunduk lesu sambil menenggelamkan wajahnya diantara lututnya.


'plis, jangan nangis!' Ikmal berseru dalam hati, namun sayang, seruannya itu tidak dapat didengar oleh Peira. Hatinya ikut teriris saat melihat Peira menangis.


"maafkan ibu Pei, ibu memang bersalah. Ibu menyesal." ucap bu Leni, dia menggoyang-goyangkan tubuh Peira, namun tidak ada respon, Peira terlanjur kecewa terhadap ibunya.


"sudahlah! Tidak ada yang perlu disesali. Mungkin sudah takdirnya kau menjadi istri ketiga saya. Hahaha." bos Toni tertawa diikuti oleh ketiga anak buahnya.


"...ayo tunggu apa lagi? Bawa dia untuk dinikahkan dengan saya!" seru bos Toni penuh kemenangan.


Peira semakin ketakutan manakala melihat dari celah tangannya, anak buah bos Toni mulai mendekatinya.


"tunggu!" dengan sigap, Ikmal menepis tangan salah satu preman yang sedikit lagi menyentuh Peira.


"kenapa kalian menuruti perintah bocah ini? Disini saya bosnya." ucap bos Toni.


"berapa hutangnya?" tanya Ikmal menatap bos Toni serius.


Bos Toni terkekeh mendengar pertanyaan Ikmal.


"kau ingin tau berapa hutangnya? Saya tidak yakin kau bisa membayar cicilannya, apalagi sampai melunasi semua hutangnya." jawab bos Toni meremehkan.


"sebutkan saja berapa!?" seru Ikmal geram.


"oke, total keseluruhannya 200 juta. Mereka baru mencicilnya selama 10 bulan terakhir." jawab bos Toni. Dia semakin tertarik ketika melihat wajah Ikmal yang memucat.


"apa itu benar bu?" tanya Ikmal.


Bu Leni mengangguk sambil menunduk.


Ikmal menelan salivanya, dia tidak habis fikir, untuk apa Peira dan ibunya meminjam uang sebanyak itu?


Apa yang dikatakan bos Toni memang benar, Ikmal tidak bisa melunasi hutang Peira dalam situasinya yang seperti ini.


"jadi, berapa cicilan setiap bulannya?" tanya Ikmal.


"3 juta, dikali 2 bulan. Jadi kau pasti tau berapa jumblahnya." jawab bos Toni.


"oke!" Ikmal memungut tas punggungnya yang tadi dia lempar kesembarang arah, lalu dia melempar beberapa gepok uang berwarna merah kerah bos Toni. Dengan sigap, bos Toni menangkapnya.


"jangan ganggu mereka lagi!" seru Ikmal.


 

__ADS_1


Likenya yaa readers.....


__ADS_2