You'Re My Sundown

You'Re My Sundown
Ikmal yang baper


__ADS_3

Kini Ikmal, Fajar dan Peira sudah duduk berhadapan disatu meja yang sama, Ikmal sedikit canggung harus dihadapkan dengan Peira, yang membuatnya semalaman tidak bisa tidur karena terus memikirkan Peira yang menangis sambil memarahi dirinya kemarin.


Hening, tidak ada yang berniat membuka suara. Sampai akhirnya Fajar menyenggol lengan Peira, mengisyaratkan agar Peira mengatakan apa yang sudah mereka sepakati kemarin.


"soal kejadian kemarin, gue bener-bener minta maaf." ucap Peira yang memecah ketegangan diantara mereka.


Ikmal mengerutkan alisnya mendengar penuturan Peira, dirinya yang salah sudah menabrak Fajar, tapi kenapa Peira yang meminta maaf kepadanya?


"...kemarin gue panik, sampai nggak bisa berpikir jernih." sambung Peira.


Sebenarnya dia masih merasa kesal kepada Ikmal, tapi setelah Fajar menasehatinya,


'kita harus belajar memaafkan orang yang menyakiti kita.'


'nggak baik menyimpan dendam, apa lagi orang itu merasa menyesal dan mau bertanggung jawab.'


Peira berusaha untuk menyingkirkan perasaan buruknya itu.


"loe nggak perlu minta maaf, gue sadar ini semua memang salah gue." ucap Ikmal kemudian.


"gue harap loe bisa melupakan kata-kata kasar gue kemarin." ucap Peira.


"gue nggak memasukkan kata-kata loe kedalam hati kok, tenang aja!" balas Ikmal.


"...harusnya gue yang minta maaf sama kalian. Terutama loe Jar, gue udah nggak sengaja nabrak loe." ucap Ikmal.


"gue udah memaafkan loe Mal. Jadi, masalahnya clear ya sekarang! Udah nggak ada lagi kesalah pahaman diantara kita." ucap Fajar.


"ya udah, kalau gitu sebagai awal pertemanan kita, gue teraktir kalian makan sekarang. Kalian mau pesen apa?" tanya Ikmal kemudian.


"seriusan nih?" tanya Fajar memastikan. Ikmal mengangguk mantap.


"kamu pesankanlah, aku mau ke toilet dulu." ucap Peira yang lalu beranjak pergi.


Sementara menunggu pesanan datang, Fajar dan Ikmal terlibat perbincangan ringan.


"sejak kapan kalian berpacaran?" tanya Ikmal.


"sejak eman bulan yang lalu." jawab Fajar santai.


"kok gue baru tau sekarang?" tanya Ikmal.


"siapa suruh loe nggak tau dari dulu?" ucap Fajar.

__ADS_1


"kenapa loe bisa suka sama dia?" pertanyaan Ikmal terasa mengintrogasi Fajar.


"emm, kenapa yaa?" Fajar menirukan gaya orang sedang berpikir keras.


Ikmal tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Fajar. Bagaimana tidak? Bagaimana mungkin Peira yang biasa-biasa saja bisa meluluhkan hati Fajar yang menurut Ikmal sangat luar biasa. Pasti ada alasan khusus yang membuat Fajar menjatuhkan hatinya kepada perempuan itu.


"jaman sekarang, mana ada sih perempuan yang mau diajak hidup susah." ucap Fajar, Ikmal mengerutkan alisnya.


"...disaat orang-orang menjauhi gue karena gue orang nggak punya, Peira malah datang memberi gue semangat untuk bertahan dan berjuang bersamanya." sambung Fajar, dia jadi teringat waktu pertama kali kenal dengan Peira.


Ikmal memperhatikan raut wajah Fajar saat bercerita dengan seksama, entah apa yang ada di pikirannya saat itu.


"...loe harus tau Mal, seribu teman akan datang saat loe bahagia dan bergelimang harta, tapi entah akan ada atau nggak orang yang datang saat loe berderai air mata dan nggak punya apa-apa?" ucap Fajar.


Deg!


Perkataan Fajar seolah membungkam rapat mulut Ikmal, kata-katanya tepat menancap diulu hati Ikmal.


'apa yang dia katakan benar, dia orang yang hebat dan beruntung.' ucap Ikmal dalam hati.


"...gue udah menemukan orang yang bisa diajak hidup senang maupun susah. Peira mau terima gue dan semua kekurangan gue." sambung Fajar.


'apa Airin juga akan bisa menerima gue kalau gue nggak punya apa-apa?' Ikmal bertanya didalam hatinya.


Fajar terkekeh geli saat melihat Ikmal yang bengong setelah dia menjawab pertanyaan Ikmal.



Ikmal tersadar lalu tersenyum ke arah Fajar.


Peira kembali dari toilet bersamaan dengan pesanan mereka yang datang, tidak bisa dipungkiri, perut Peira memang sudah lapar dan minta segera diisi. Tanpa merasa sungkan, Peira langsung menyantap mie ramen yang sudah nangkring diatas meja.


"pelan-pelan Pei! Masih panas itu." tegur Fajar pada sang kekasih.


Ikmal menatap Fajar dan Peira secara bergantian.


'sehebat itukan Peira dimata Fajar? Bahkan gue sendiripun nggak pernah berpikir memuji atau membanggakan Airin didepan orang lain.' Ikmal terus membatin.


Ikmal melanjutkan memakan mie ramennya saat Fajar menyadari tatapan Ikmal dan meliriknya.


***


'jaman sekarang, mana ada sih perempuan yang mau diajak hidup susah?'

__ADS_1


'disaat orang-orang menjauhi gue karena gue orang nggak punya, Peira malah datang memberi gue semangat untuk bertahan dan berjuang bersamanya.'


'seribu teman akan datang saat loe bahagia dan bergelimang harta, tapi entah akan ada atau nggak orang yang datang saat loe berderai air mata dan nggak punya apa-apa?'


Sial! Kata-kata Fajar tadi siang terus saja menari-nari dikepala Ikmal. Dia tidak bisa menepis setiap kata itu dengan mudah. Perkataan Fajar seolah sedang menyindir dirinya.


Tapi tidak, ini hanya Ikmal yang terlalu baper dibuat Fajar.Tapi, sejak kapan Ikmal menjadi orang baper?


'selama ini, gue hidup dengan bergelimangan harta, gue memiliki segalanya. Gue nggak pernah berpikir kalau orang-orang disekitar gue akan menjauhi gue kalau gue jatuh miskin. Tapi Fajar benar, gue nggak akan tau siapa yang tulus sama gue, selama gue masih memiliki semuanya.'


'gue yakin Airin juga pasti bisa menerima gue apa adanya, sama seperti Peira mau menerima Fajar yang nggak punya apa-apa.'


'gue yakin itu, gue akan membuktikan ke Fajar kalau gue juga memiliki kekasih yang bisa terima gue dengan semua kekurangan gue dan mau diajak hidup susah.'


***


Pada hari minggu seperti inipun Peira harus berjibaku dengan pekerjaan mengantar paketnya. Tapi Peira harus tetap semangat, semakin keras dia bekerja, semakin cepat pundi-pundi rupiahnya bertambah. Dengan begitu maka akan semakin cepat pula dia bisa melunasi hutangnya.


Peira menelan salivanya ketika melihat nama dan alamat pemilik paket yang akan dia antar. Dia jadi ragu untuk kembali kerumah itu, bagaimana dia harus bersikap nantinya?


Tapi Peirapun harus profesional, dia tidak bisa menyangkut pautkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Toh, masalahnyapun sekarang sudah selesai.


Peira menekal tombol bel yang ada disamping pintu utama rumah itu. Tak perlu dia menekan ulang, pintu yang semula tertutup rapat sekarang sudah terbuka lebar.


Peira harap-harap cemas menunggu orang yang akan muncul dari balik pintu.


"cari siapa ya?" ucap seorang ibu hamil yang sekarang berdiri dihadapan Peira. Peira membuang nafas lega karena ternyata yang membuka pintu bukan orang yang dia pikirkan.


"saya mau antar paket untuk tuan Ikmal." ucap Peira.


"oh, Ikmal. Sebentar saya panggilkan." perempuan itu hendak berlalu, tapi Peira mencegahnya.


"ngak usah mbak, saya titip saja kepada mbaknya." ucap Peira kemudian.


Dia tidak ingin bertemu dengan Ikmal saat ini.


"kenapa harus dititip? Kan gue yang mau bayar." ucap Ikmal yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"ehh..." Peira terlihat gugup ketika melihat kedatangan Ikmal.


"nah, ini orangnya sudah ada. Gue tinggal dulu ya Mal, lagi goreng tempe takut gosong." ucap Velisa, kakak Ikmal sambil nyelonong pergi.


Tinggallah Peira dan Ikmal disana, Peira bingung harus bersikap bagaimana kepada Ikmal. Ikmal memperhatikan Peira yang terlihat gugup, Peira yang merasa diperhatikan seperti itu semakin merasa gugup saja.

__ADS_1


---------


Jangan lupa tinggalkan jejaknya setelah membaca, satu like dari readers sangat berarti buat author...


__ADS_2