
"Oh ya Pei, gimana soal ayah loe? Apa udah ada panggilan dari perusahaan?" Memilih mengalihkan pembicaraan, untuk memecah ketegangan yang sempat tercipta.
"Iya, waktu hari jum'at kemarin ayah gue udah interview, dan alhamdulilah mulai hari senin bisa mulai kerja. Thanks ya Mal, udah kasih kesempatan dia kerja diperisahaan loe." Berusaha masuk kedalam obrolan yang Ikmal ciptakan.
"Itu bukan karena gue, tapi ayah loe yang berusaha sendiri buat bisa kerja disana."
Seorang pelayan menghampiri meja mereka membawa pesanan, kemudian menata makanan diatas meja dengan hati-hati.
"Terimakasih." Fajar tersenyum hangat.
"Silahkan menikmati hidangannya." Ucapnya ramah lalu kemudian pergi untuk melayani pengunjung lain.
Merekapun mulai menyantap pesanan mereka masing-masing.
"Ini gimana sih yang cara makannya?" Peira bingung dengan lobster yang dia pesan sendiri.
Fajar menaruh sendoknya lalu menggeser piring lobster milik Peira mendekat kearahnya.
"Gini, buka dulu bagian yang kerasnya ini Pei." Fajar mengupas cangkang lobster menggunakan alat yang sudah disediakan.
Peira hanya memperhatikan kelihaian kekasihnya itu membuka lobster, tidak tau dia belajar dari mana, padahal Peira tau kalau Fajar jarang sekali makan makanan laut seperti lobster ini.
"Nggak tau cara makannya kok malah pesen sih, dasar kamu ini." Fajar memasukkan daging lobster kedalam mulut Peira setelah berhasil menyingkirkan bagian kerasnya.
Peira yang tidak siap menerima suapan mendadak itu kaget, tapi tetap mengunyah lalu menelannya.
"Ya aku kan penasaran gimana rasanya yang, ternyata enak ya." Peira balik menyuapi Fajar, Fajar malah terkekeh saat melihat ekspresi datar Peira saat menyuapinya, tidak ada romantis-romantisnya. Hihi.
'Ini maksudnya mau bikin gue iri atau cemburu sih? Kalian lupa apa ada gue disini.' Selalu saja Ikmal menjadi obat nyamuk saat mereka sedang jalan bertiga.
Dia nemasukkan sendok kedalam mulutnya dengan kesal melihat kearah Fajar dan Peira, kesal melihat drama yang disuguhkan di hadapannya itu.
Drama suap-suapan itu terus berlanjut sampai makanan didalam piring mereka benar-benar kandas.
Sekian lama setelah makanan mereka beralih kedalam perut, tapi belum ada tanda-tanda mereka akan pergi meninggalkan restoran itu.
Ikmal dan Fajar terus berbincang tentang pekerjaan yang tidak ada habisnya. Sedangkan Peira, dia masih berjibaku dengan pikirannya tentang orang yang selalu mengiriminya pesan singkat. Diliriknya Ikmal yang sedang berbicara panjang lebar dengan Fajar.
'Apa iya loe orangnya Mal? Loe itu orang paling bodoh kalau masih berharap sama gue tau.' Peira berpikir untuk mengirimi nomor itu pesan singkat, untuk mengetes dan memastikan sekali lagi.
Benar saja, tak berselang lama setelah delivery report, terdengar nada dering berbeda dari sebelumnya.
"Yang, hp kamu bunyi itu." Ucap Peira.
"Nggak Pei, hp aku cuma digetarin aja. Mungkin punya loe kali Mal."
__ADS_1
Ikmal kembali kikuk, dia yakin kalau Peira yang mengiriminya pesan, karena nomor itu hanya dia gunakan khusus untuk Peira saja. Dan bodohnya lagi, kenapa tadi dia lupa men-silent ponselnya. Kenapa tadi Ikmal tidak berpikir seperti itu.
"Ahh, iya ini si Velisa ganggu aja ya."
Ikmal meraih ponselnya didalam saku celana, melihat pesan yang masuk. Benar, dari Peira, hanya pesan kosong. Apa maksudnya? Apa perempuan itu sudah tau semuanya? Tapi dari mana?
Cepat-cepat Ikmal merubah profil ponselnya menjadi diam. Sial! Sebelum Ikmal melakukannya, terdengar nada dering panggilan masuk, ternyata Peira kembali menelfonnya.
Ikmal semakin tegang, tidak berani menoleh kearah Peira atau perempuan itu akan menatapnya dengan tatapan pembunuh.
"Angkat aja Mal, siapa tau penting." Ucap Fajar, dia menangkap gelagat aneh Ikmal.
"Biarin aja, paling juga dia nyuruh gue buat jagain si Gio." Akhirnya panggilan itu berakhir, Ikmal cepat-cepat mematikan daya ponselnya.
Fajar hanya manggut-manggut saja, mengartikan kalau gelagat Ikmal tadi adalah sebuah ketakutan untuk menjaga keponakan nakalnya.
Fixs, Peira benar-benar yakin sekarang, kalau Ikmallah pelaku yang selalu menerornya belakangan ini. Semua bukti memang mengarah kepadanya. Ingin sekali rasanya dia mengintrogasi Ikmal sekarang, tapi dia tidak bisa melakukan itu karena disini ada Fajar, Peira tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara mereka seperti dulu lagi dan menyakiti hati kekasihnya.
Getaran didalam saku jeans Fajar membuatnya merogoh benda kecil itu disana, ternyata ada panggilan masuk, telfon dari salah satu teman komunitas ojek online nya, Fajar segera mengangkatnya.
"Ya, halo ada apa?" Ucap Fajar setelah panggilannya terhubung.
"Apa? Gue nggak bisa denger, musik disini kenceng banget." Fajar menaikkan satu oktaf suaranya, agar yang disebrang sana bisa mendengar.
"Bentar ya Pei, Mal, gue angkat telfonnya diluar." Melirik Peira dan Ikmal bergantian. Yang dilirik kompak mengangguk bersamaan.
Tinggallah Peira dan Ikmal dimeja itu setelah kepergian Fajar. Peira menarik nafasnya dalam, mengumpulkan segenap tenaga untuk menyerbu Ikmal, tentunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi menari-nari di pikirkannya.
Ikmal menelan salivanya kasar melihat air muka Peira yang berubah 180°, berpikir keras mencari alasan yang tepat untuk menyangkal jika nanti Peira bertanya tentang kejujuran nomor kontak itu. Sialnya, semakin berpikir, Ikmal justru tidak juga menemukan alasan untuk menyangkal semua itu.
Jujur. Iya jujur saja lebih baik, itu bisa sedikit mengurangi beban di hatinya bukan, toh sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga.
Tapi surat perjanjian itu?
'Persetan sama surat perjanjian itu, kalaupun gue dijebloskan kedalam penjara, pasti dengan mudah gue bisa keluar dari sana. Tapi apa lucu kalau alasan gue dipenjara adalah berusaha untuk merebut kekasih sahabat gue sendiri?' Hati dan pikiran Ikmal saling bertentangan.
"Jadi apa maksud loe mengirimi gue sms kata-kata galau loe itu?" To the point Peira bertanya. Mulutnya sudah terasa gatal ingin bertanya.
"Sory Pei, kalau boleh jujur, perasaan gue ke loe itu masih sama seperti dulu, nggak pernah berubah sedikitpun sampai sekarang." Ada sedikit kelegaan setelah mengungkapkan isi hatinya yang terpendam selama ini.
Peira tertawa menyeringai, menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.
"Loe itu bodoh tau Mal kalau masih berharap sama gue, sedangkan hubungan gue sama Fajar itu udah nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Loe tau kan kalau sebentar lagi gue sama Fajar akan menikah?" Tanya Peira penuh penekanan. Berharap Ikmal bisa melupakannya dan melanjutkan hidup.
Ikmal sangat tau tentang pernikahan mereka, bahkan dia melihat secara live prosesi acara lamaran sederhana Fajar kepada Peira. Sakit memang, tapi tidak berdarah.
__ADS_1
"Iya, gue tau gue adalah orang yang paling bodoh didunia, gue tau kalau loe nggak akan pernah bisa jadi milik gue tapi tetap mencintai loe, apa ada obat untuk menyembuhkan kebodohan gue ini Pei?" Ikmal ingin membludak kan semua isi hatinya.
"Loe orang baik Mal, gue yakin loe akan mendapatkan jodoh yang baik juga. Gue ini bukan apa-apa Mal, gue cuma butiran debu."
"Tapi nggak akan ada lagi orang yang seperti loe Pei."
"Ada, cuma loe belum menemukannya. Gue harap, nanti pas acara resepsi, loe jangan datang sendirian, gue mau liat loe bawa pasangan."
"Tega loe Pei, bahkan gue belum bisa move on dari loe."
Peira terdiam, bingung harus berkata apa lagi.
"Gue nggak tau sampai kapan gue akan seperti ini, tapi gue seneng sekarang loe mempertanyakan lagi tentang perasaan gue ke loe. Percayalah Pei, gue ikut bahagia dengan pernikahan loe." Senyum Ikmal seketika mengembang, senyum yang entah apa artinya itu, senyum misterius. Karena kalimat terakhirnya sangat bertolak belakang dengan kenyataan.
Peira tidak bisa untuk tidak membalas senyum Ikmal, merasa lega karena Ikmal merestui pernikahannya.
"Thanks ya Mal, gue do'akan biar loe cepet menyusul gue sama Fajar." Peira tersenyum.
Fajar kembali dengan wajah sumringah, Ikmal berharap cemas, takut kalau Fajar mendengar apa yang tadi dia katakan panjang lebar dengan Peira, tapi sepertinya tidak, Fajar terlihat sedang bahagia.
"Kalian lagi membicarakan apa?" Tanya Fajar setelah kembali duduk di kursinya.
"Ini yang, Ikmal katanya ikut bahagian sama pernikahan kita, dan aku mendoa'akan dia biar bisa cepet nyusul." Jawab Peira.
"Jadi loe udah tau Mal? Tenang aja, nanti loe akan jadi tamu VVIP di acara gue." Ikmal tidak menanggapi.
Dia sama sekali tidak berharap untuk mendapatkan kehormatan itu, dia tidak ingin datang kesana nanti, bahkan kalau bisa, Ikmal ingin pergi saja kedalam kerak bumi saat pernikahan mereka terjadi.
"Siapa yang telfon yang?" Tanya Peira mengalihkan pembicaraan.
"Si Gilang, katanya mau lempar orderan, dia nggak bisa berangkat nanti malam karena menemani ibunya dirumah sakit." Jawab Fajar, itu alasannya dia terlihat sumringah, dia selalu senang ketika mendapat orderan seperti ini, meskipun sekarang gajinya dan gaji Vania sudah bisa menutupi kebutuhan keluarga, tetap saja Fajar cinta dengan pekerjaannya sebagai supir ojek online.
Tapi tidak dengan Peira, dia terlihat tidak suka kalau Fajar masih saja berhubungan dengan ojek online, yang Peira inginkan adalah Fajar hanya fokus dengan pekerjaannya yang sekarang, menurutnya sudah cukup selama ini dia bekerja keras, sekarang waktunya untuk menikmati hidup dan memperbanyak istirahat.
"Udahlah yang, kamu berhenti aja narik ojek onlinenya, aku mau liat kamu istirahat yang cukup." Ucap Peira.
"Itu hobi Pei, aku nggak merasa terbebani dengan pekerjaan ini, malahan aku seneng kalau keluyuran kesana kemari. Juga selama ini aku bisa menghidupi keluarga aku dari hasil narik ojek online kan?" Jawab Fajar.
"Itu bener, Jar loe memang the best." Ikmal semakin mengagumi Fajar, dia bukan tipe seperti kacang lupa kulitnya.
Peira hanya bisa pasrah meskipun hatinya tidak mengizinkan, tapi karena melihat kekasihnya yang seperti bahagia, Peira hanya bisa mendo'akannya saja semoga kemanapun Fajar pergi, dia akan selalu ada didalam lindungan yang maha kuasa.
Jangan lupa like, komentar, rate bintang 5 ya readers.
__ADS_1