
Drttt... Drttt...
Getaran ponsel dari dalam saku jeansnya berfrekuensi cukup besar, membauat Fajar terperanjat dari tidur singkatnya. Dia mencoba mengembalikan kesadarannya yang sempat berterbangan.
Dilihatnya Peira masih tertidur dipangkuannya, seulas senyum seketika mengembang di bibirnya melihat wajah tenang dan menyejukkan yang disuguhkan dihadapannya.
Drttt, drttt.
Getaran yang tadi terhenti, sekarang terasa lagi, Fajarpun segera mengambil ponselnya.
Dia mengumpati Gilang, temannya yang menelfon, padahal jarak diantara mereka hanya berkisar 20 meter, bahkan dari posisinya sekarang Fajar masih bisa melihat Gilang dan beberapa temannya yang lain sedang tertawa cengengesan.
Diangkatnya panggilan itu.
"Apa?" Tanya Fajar tidak suka, dia tau kalau yang sedang mereka tertawakan adalah dirinya.
"Loe mau pacaran cari tempat yang enakan dikit kenapa? Kasihan banget itu cewe, diajakin ngegelandang terus sama loe. Haha." Gilang tertawa renyah diakhir kalimatnya.
Fajar dapat dengan jelas temannya yang lain ikut tertawa, padahal sama sekali tidak ada yang lucu. Fajar sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Gilang, dia tau benar temannya yang satu itu suka berbicara blak-blakan.
"Makanya coba pacaran sana, mau dimanapun tempatnya akan terasa sangat indah. Haha." Fajar mendramatisir perkataannya agar yang disebrang sana baper.
"Jangan banyak menghalu, ayo buruan mau narik nggak loe?" Tanya Gilang mengalihkan pembicaraan, dia malas kalau nanti ujung-ujungnya Fajar membahas tentang kejombloannya yang hakiki.
Peira samar-samar mendengar suara seseorang sedang berbicara, mengerejapkan matanya berkali-kali, dia baru sadar kalau dirinya ketiduran setelah makan tadi. Paha Fajar terasa begitu nyaman sekali ketika dijadikan bantal, hihi.
Kemudian dia beranjak dari tidurnya, melihat Fajar sedang berbicara melalui ponselnya.
"Yang!" Seru Peira.
"Ehh Pei, udah bangun?" Fajar cepat-cepat mengakhiri panggilan tak penting itu dan kembali memasukan ponselnya kedalam saku.
"...maaf ya aku ganggu, kamu tidur lagi aja nggak apa-apa." ucap Fajar.
Peira kembali teringat dengan tujuannya menemui Fajar siang ini, mengabaikan perkataan Fajar yang menyuruhnya kembali tidur, seleranya untuk tidur sudah tidak ada lagi.
"Emm, yang, kamu mau denger cerita aku nggak?" Tanya Peira kemudian.
Fajar menatapnya bingung juga penasaran.
"Mau, cerita tentang apa?" Tanya Fajar.
"Tentang aku." Jawab Peira.
"Ceritalah!" Seru Fajar.
Peira menarik nafasnya perlahan, kemudian mengeluarkannya melalui mulut, mengumpulkan keberanian dan mencoba menyusun kalimat yang ada di pikirannya sehingga dapat terucap dari bibirnya tanpa menyinggung atau menyakiti kekasihnya.
"Dulu kamu selalu bertanya, buat apa aku sama ibu bekerja keras banting tulang sampai-sampai aku memutuskan untuk berhenti kuliah." Ucap Peira.
__ADS_1
"Iya." Sahut Fajar.
"Aku melakukan itu semua demi untuk melunasi semua hutang ayahku yang." Peira menundukkan kepala menatap tanah.
Fajar menatapnya datar tanpa ekspresi.
"...ayah terlilit banyak sekali hutang, karena dulu dia suka banget berjudi, bahkan aku sama ibu selalu mendapat pukulan kalau ibu nggak memberikan uang hasil jualannya sama ayah." Sambung Peira.
Malu sekali rasanya mengatakan aib keluarga kepada orang lain, sekaipun itu adalah kekasih sendiri. Takut kalau Fajar mengecap keluarganya jelek, apalagi sedari tadi Fajar tidak bergeming, Peira semakin tidak percaya diri untuk melanjutkan kisahnya.
Sejenak suasana berubah menjadi hening, Peira belum berniat kembali membuka mulut melihat kebisuan Fajar yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dan sekarang ayah kamu ada dipenjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang berniat membegal orang untuk melunasi hutangnya." Ucap Fajar memecah kebisuan diantara mereka.
Peira mendongak, terlihat Fajar tengah tersenyum kearahnya, entah senyum itu mengandung arti apa.
"...dan kamu takut kalau aku tau, aku nggak akan bisa terima itu." Sambungnya.
"Kamu kok tau sih yang?" Tanya Peira kaget bercampur penasaran.
"Itu nggak penting Pei." Jawab Fajar.
"Pasti Ikmal yang kasih tau kamu yaa?" Tanya Peira penuh curiga.
"Udahlah Pei, aku nggak akan meninggalkan kamu karena masalah ini. Kita pernah melewati masalah yang lebih besar dari ini, dan kita bisa melewatinya sama-sama." Jawab Fajar, sementara Peira terdiam.
Peira bahkan sampai tidak berkedip ketika kekasihnya berbicara, perkatanannya sungguh menusuk dihati Peira, meluluhlantahkan isi didalamnya. Perasaan kagum dan cintanya semakin bertambah besar.
"Iya yang, aku paham sekarang. Tapi apa kamu nggak tersinggung Ikmal yang tau masalah ini duluan?" Tanya Peira.
"Nggak, mungkin itu kebetulan Ikmal lagi ada disana. Aku tau kamu pasti akan cerita sama aku kalau waktunya udah tepat." Jawab Fajar.
Peira manggut-manggut saja.
"...kapan-kapan kita jengukin ayah kamu disana ya!" Seru Fajar.
Mata Peira membulat, ragu, belum siap jika harus bertemu dengan laki-laki yang sudah menggores sekian banyak luka didalam hatinya.
"Tapi yang?"
"Kenapa? Kamu belum bisa memaafkan kesalahan ayah kamu dan nggak mau bertemu sama dia?" Tanya Fajar seperti bisa menebak isi kepala Peira.
Peira jadi gelagapan di buatnya, membantah juga tidak bisa karena kenyataannya memang iya. Fajar meraih tangan Peira sehingga kedua pasang tangan itu menyatu.
"Kamu harus bisa belajar untuk memaafkan ayah kamu yang, semua orang nggak luput dari yang namanya dosa dan kesalahan. Kita harus memberi ayah kamu kesempatan." ucap Fajar menatap lekat kedua bola mata bernaungkan bulu lentik dihadapannya itu.
"Aku cuma takut kalau dia nanti menyakiti aku sama ibu lagi." Akhirnya uneg-uneg itu keluar juga, ketakutan dalam mengambil keputusan.
"Kita nggak akan tau kalau kita nggak mencoba, percayalah Pei, terima ayah kamu kembali."
__ADS_1
Dan seperti yang biasa terjadi, Peira akan kalah berdebat, akhirnya hanya bisa menurut. Tapi itu bukan tanpa alasan, Peira sadar kalau yang dikatakan Fajar memang benar.
Entahlah! Dia akan mencoba untuk memaafkan kesalahan ayahnya, walaupun itu rasanya aneh.
Fajar selalu bisa membuka mata hati Peira agar kekasihnya itu bisa melihat hal benar di sekelilingnya, dia selalu menuntun Peira menuju jalan yang lurus dan benar.
***
Minggu berikutnya, Fajar benar-benar mengajak Peira mengunjungi lapas tempat pak Bayu ditahan, Peira merasa sangat gugup akan kembali bertatap wajah dengan ayahnya setelah hampir setahun lamanya.
Fajar memperkenalkan diri sebagai kekasih Peira, pak Bayu menyambut hangat uluran tangan Fajar. Diapun berterimakasih karna sudah mau menjaga putrinya selama ini dan akan sepenuhnya mempercayakan Peira kepada Fajar. Pak Bayu sangat merestui hubungan keduanya.
Fajar sangat senang bisa diterima dengan baik oleh ayahnya Peira itu.
Semua berjalan sesuai dengan apa yang Fajar bayangkan, kedua ayah dan anak itu saling menumpahkan air mata penyesalan sambil berpelukan di hadapannya.
"Sering-seringlah jenguk ayah disini, sesungguhnya ayah sangat merindukanmu." Begitu yang pak Bayu pinta dari Peira.
Peira kembali berhamburan kedalam pelukan sang ayah, pelukan yang selama ini tidak pernah dia dapatkan, ini pertama kalinya dia merasakan sentuhan hangat yang diberikan seorang ayah.
Pelukan hangat itu harus berakhir setelah penjaga berkata kalau waktu berkunjung telah habis.
***
4 tahun berlalu.
Bukan waktu yang singkat untuk Peira dan Fajar dapat mempertahankan hubungan mereka, walaupun sama-sama disibukkan dengan pekerjaan, komunikasi diantara mereka selalu terjalin dengan sangat baik.
Keduanya bahkan telah membuktikan kepada dunia kalau mereka pasangan yang tidak bisa terpisahkan. Banyak sekali waktu yang sudah mereka curi untuk bisa saling bertemu ditengah kesibukannya.
Waktu tidak merubah sedikitpun perasaan diantara pasangan muda itu, justru perasaan itu semakin menggebu dikala merasa rindu.
Begitupun dengan Ikmal, waktu selama itu tidak juga bisa merubah perasaan dihatinya untuk Peira, meskipun waktu semakin lama berlarian, tapi perasaan cinta itu sama sekali tak mau enyah.
Ikmal membiarkan hatinya terbengkalai selama itu, semakin usang, gersang, dia tidak membiarkan siapapun menyentuh hatinya. Ikmal masih setia menyendiri, menikmati setiap cabikan yang melukai hatinya ketika melihat Fajar dan Peira bersama.
Ikmal hanya membiarkan itu semua terjadi, untuk meyakinkan jika dirinya benar-benar mencintai Peira, dan itu semua sudah terbukti adanya.
Peira yang sekarang bahkan jauh lebih dewasa jika dibandingkan dulu, dia benar-benar menjadi perempuan bijak. Bahkan Peira bisa menerima Ikmal kembali setelah kejadian dirinya yang hampir menghancurkan hubungan Peira dengan Fajar.
Ikmal semakin mengagumi sosok sempurna Peira.
Waktu selama itu mungkin sudah banyak merubah isi dunia, tapi tidak merubah isi hati ketiga manusia yang dibutakan oleh yang namanya cinta.
_____________
***Sedih aku lihat likenya,, tapi aku tetap mau lanjutkan menulis karena memang hobi...
Kepoin novelku yang sudah tamat yuk! judulnya TAKDIR MEMBAWA CINTA, itu sad story ya***...
__ADS_1