
Seorang pemuda baru saja turun dari motor yang baru saja terparkir di basement parkiran khusus sebuah restoran, dengan langkah ringan, dia kemudian memasuki restoran itu melalui pintu belakang.
"Selamat sore, Mas," sapa seorang pria yang jauh lebih tua dengannya membungkuk hormat, ketika berpapasan dengannya saat memasuki restoran itu.
"Sore juga, Mas." Calvin menyapa balik pria dengan kemeja pendek berwarna hitam yang merupakan salah satu karyawan di restoran itu.
Calvin melanjutkan langkahnya, menaiki tangga yang berada di lorong itu, lalu memasuki sebuah ruangan yang hanya ada satu-satunya di sana.
Ruangan yang tidak lain adalah ruangan miliknya yang merupakan seorang owner di restoran itu. Restoran yang baru delapan bulan dia dirikan, tanpa diketahui orang-orang disekitarnya, termasuk orang-tuanya.
Hanya Mirza saja yang tahu tentang dia dan restorannya itu, karena pemuda itu adalah salah satu karyawan juga di sana.
Calvin menyimpan tas yang sedari tadi dibawanya, lalu mengambil baju dari lemari kecil yang berada di belakang meja.
Baju berwarna merah itu, merupakan baju khusus koki di sana. Selain menjadi owner, dia pun menjadi salah satu koki di restoran itu, karena hobinya memasak menjadi salah satu alasan, kenapa dia membuka usaha di bidang kuliner itu.
Dia mulai memliki hobi, mengolah bahan-bahan mentah menjadi makanan yang lezat ketika dia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dulu dia bahkan sengaja mencuri-curi waktu untuk mengikuti kursus memasak, hingga saat ini sudah banyak berbagai menu yang bisa dia hasilkan dengan tangannya.
"Ke mana kamu kemarin?" tanya seorang pria yang berpakaian sama sepertinya, ketika dia memasuki dapur yang cukup ramai oleh suara dari peralatan dapur yang tengah digunakan oleh koki di sana.
"Aku ada urusan dulu kemarin," sahut Calvin.
"Oh pantesan kamu gak dateng ke sini kemarin." Pria itu manggut-manggut.
"Kak Zain udah nyoba menghadirkan menu baru yang kita buat itu? Gimana respon pengunjung?"
"Respon pengunjung baik, jadi mulai besok kayaknya kita harus sudah mulai menambahkan menu itu, ke daftar menu." Pria bernama Zain itu terlihat antusias, ketika membahas menu baru mereka.
"Baguslah kalau gitu, Mas Zain atur aja masalah itu," sahut Calvin yang memang selalu menyerahkan masalah makanan kepada kepala koki di restorannya itu.
Dia menjadikan Zain sebagai kepala koki di sana, karena mereka sudah kenal cukup lama. Dia dan Zain kenal sejak dia mengikuti kursus memasak dan ketika setahun yang lalu mereka bertemu lagi.
__ADS_1
Dia menawarkan kerjasama dengan Zain untuk bergabung bersamanya, menjalankan bisnisnya itu dan kebetulan juga Zain menyetujuinya karena saat itu dia juga belum memiliki pekerjaan yang tetap.
Setelah berbincang beberapa patah kata dengan Zain, Calvin akhirnya ikut bergabung dengan para koki di sana, memasak pesanan pengunjung yang semakin sore, biasanya semakin banyak, hingga malam hari.
*****
Sementara itu, Addara saat ini tengah duduk bersama tiga orang teman kerjanya, di salah satu meja restoran yang direkomendasikan oleh salah satu temannya.
"Kata teman-teman aku di media sosial, restoran ini cukup rekomended, makanan enak-enak, harganya juga masih standar," ucap salah satu teman wanita Addara dengan antusias.
"Restoran ini belum lama 'kan bukanya?" timpal salah satu teman Addara yang laki-laki.
"Belum, katanya baru sekitar satu tahunan atau kurang kalau gak salah," sahut teman wanita Addara.
Addara tidak menimpali obrolan teman-teman kerjanya itu, dia hanya sibuk memperhatikan seluruh sudut restoran itu. Menurutnya, restoran itu cukup nyaman dengan interior yang dan furniture yang cukup unik, tidak membuat pengunjung bosen.
Meja dan kursi yang tersedia di sana yang beragam, membuat nilai plus untuk restoran itu, pengunjung bisa memilih meja sesuai dengan kebutuhan mereka. Bisa untuk sendiri, untuk bersama-sama teman atau keluarga.
"Stop! Sekarang kita sudah berada di luar kantor, sudah bukan jam kerja lagi. Jadi bahas masalah pekerjaannya besok aja kalau udah di kantor, oke!" Olivia langsung menyela obrolan itu dan menatap Addara dengan bibir yang sedikit manyun.
"Lagian niat kita makan bareng kayak gini, adalah untuk merayakan kembalinya kamu yang udah masuk kerja. Juga merayakan pernikahan kamu, Dar. Jadi jangan rusak dengan membahas masalah pekerjaan, mending kita happy-happy aja sekarang," omel Olivia menatap satu persatu teman satu divisinya.
"Iya, Dar. Oliv benar, kita bahas masalah kerjanya nanti-nanti aja ya," sahut salah satu pria berkacamata yang bertubuh kurus, setuju dengan ucapan Olivia.
"Oke, oke! Padahal 'kan sambil nunggu makanan kita datang, gak ada salahnya membahas itu, lagian aku menanyakan satu pertanyaan aja," sahut Addara menghela napas pasrah.
"Daripada ngomongin masalah pekerjaan terus, gimana kalau sambil nunggu makanan dateng, kita bahas tentang kehidupan kamu setelah menikah." Olivia menaik turunkan alisnya, menggoda Addara.
"Kehidupan aku ya gitu-gitu aja," sahut Addara dengan tenang.
"Masa lempeng-lempeng aja sih, gak ada hal menarik apa, seperti dalam kisah-kisah romantis dalam novel, apalagi suami kamu itu berondong." Olivia terus berbicara dengan antusias.
__ADS_1
Sementara kedua teman pria mereka saling lirik, merasa topik pembicaraan Olivia itu kurang pantas, karena mereka pun tahu bagaimana pernikahan Addara terjadi.
Kedua pria itu, memilih diam dengan harapan Addara tidak merasa tersinggung dengan topik pembicaraan temannya itu.
"Tidak ada yang spesial, semuanya berjalan begitu aja," sahut Addara dengan enggan.
Ketika Olivia hendak melayangkan lagi pertanyaan padanya, pelayan datang menyajikan makanan yang telah mereka pesan sebelumnya.
Addara bernapas lega karena kedatangan pelayan itu di waktu yang tepat, dia enggan meladeni obrolan temannya itu yang membahas tentang kehidupan pribadinya.
"Ayo sebaiknya kita makan sekarang," ucap pria berkacamata membuat semua orang mengangguk setuju.
Begitu pun Olivia yang mengangguk antusias, ketika makanan yang di pesannya itu telah ada di depan mata. Dia langsung melupakan pembahasan yang sebelumnya dia bahas.
"Dari tampilannya, sih benar-benar menggiurkan. Semoga saja rasanya sama kayak penampilannya," ucap Olivia dengan wajah berbinar melihat makanan di depannya.
Addara dan kedua temannya hanya menggeleng, melihat kelakuan Olivia yang seperti orang yang baru saja melihat makanan mewah.
Mereka berempat pun mulai makan, sambil sesekali mereview makanan yang mereka pesan, karena ini memang pertama kalinya mereka makan di restoran itu, jadi mereka saling memberi pendapat tentang pesanan mereka masing-masing, di sela-sela makannya.
"Kayaknya mulai sekarang, kita bisa jadiin tempat ini buat acara kumpul-kumpul santai kita deh," ucap pria yang memiliki bentuk tubuh sedikit berisi, juga kulit sedikit gelap.
"Setuju!" seru Olivia mengangkat jempolnya, tanpa menghentikan suapan makannya.
Sementara Addara dan dan teman pria yang berkacamata, hanya menimpalinya dengan anggukan saja.
Setelah makanannya habis, Addara pamit kepada teman-temannya untuk pergi ke toilet, karena merasa kebelet.
Setelah mendapat persetujuan dari ketiga temannya itu, Addara pun segera pergi ke toilet untuk menuntaskan hajatnya.
Namun, ketika akan sampai di lorong toilet, dia melihat siluet yang dikenalnya, dia seolah melihat siluet Calvin dari belakang yang menghilang dari balik dinding.
__ADS_1
"Cuma mirip aja kali ya," gumamnya langsung melanjutkan langkahnya dan mengabaikan apa yang dilihatnya.