
Addara duduk manis di kursi penumpang menikmati perjalanan dengan Calvin sebagai sopirnya, hari ini adalah hari libur dan suaminya itu mengajaknya untuk keluar.
"Kita mau ke mana?" tanya Addara yang memang belum tahu tujuan mereka.
Dia hanya menurut, saat tadi Calvin memintanya untuk siap-siap dan mengatakan akan pergi, tanpa bertanya ke mana tujuan mereka pergi.
"Nanti juga kamu akan tau." Calvin menoleh sekilas padanya lalu tersenyum dan kembali menatap ke depannya.
Addara memilih diam dan kembali menikmati perjalanannya itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka berdua selama perjalanan itu, keduanya fokus pada kegiatan mereka.
Kendaraan beroda empat yang Calvin kemudikan itu mulai memasuki halaman sebuah restoran yang cukup Addara kenali, karena dia baru beberapa bulan lalu datang ke tempat itu, hanya saja kini tampilan restoran itu jadi berbeda.
"Kita mau makan di sini?" tanya Addara ketika Calvin memarkirkan mobilnya.
"Iya," sahut Calvin singkat sambil melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya dan langsung keluar dari mobil.
Addara pun mengangguk paham, lalu melepaskan sabuk pengamannya juga. Belum sempat dia membuka pintu mobil, suaminya sudah lebih dulu membukakan pintu mobil itu untuknya.
Addara tersenyum, melihat senyuman yang pemuda itu tunjukan. Dia juga langsung menerima uluran tangan dari Calvin dan mengikuti langkahnya yang membawa dia masuk ke dalam restoran itu.
Mereka berjalan dengan beriringan, Addara melingkarkan tangannya di lengan Calvin, sedangkan sebelah tangan Calvin merangkul pinggangnya dengan posesif.
"Ini adalah acara pembukaan restoran ini, setelah beberapa saat lalu tutup karena perbaikan," cerita Calvin di sela-sela langkah mereka.
"Oh ya," sahut Addara menoleh sekilas padanya dan kembali melihat seisi restoran itu.
Katika mereka telah sampai di tengah-tengah restoran, seorang dengan pakaian pelayan mendatangi mereka. Awalnya Addara mengira pelayan itu, mendatangi mereka untuk menyambutnya seperti pelayan yang menyambut pengunjung pada umumnya.
"Vin, akhirnya kamu datang juga, semua orang udah nunggu untuk acara utamanya," ucap pemuda yang Addara yakini seumuran dengan Calvin.
__ADS_1
Addara mengerutkan keningnya bingung, karena melihat interaksi pemuda itu yang sepertinya sudah saling mengenal sejak lama, juga tentang maksud dari ucapan pemuda itu.
"Terima kasih atas kehadiran semuanya yang sudah mau menyempatkan diri untuk hadir di acara sederhana yang restoran kami adakan ini. Saya di sini tidak akan banyak bicara, karena kebetulan owner kita sudah berada di sini, maka saya persilakan beliau selaku owner dari restoran ini, untuk memberikan beberapa patah kata sebagai sambutan untuk pembukaan acara ini."
Suara dari seorang pria yang sudah cukup dewasa itu, membuat atensi Addara tertuju padanya yang saat ini tengah berdiri di panggung kecil yang berada di tengah-tengah restoran itu.
Melihat tatapan pria itu tertuju ke arahnya, membuat Addara heran, tapi tidak sampai di sana kebingungan dirinya, manakala dia merasakan pergerakan dari Calvin yang membawanya untuk mendekati panggung itu.
"Kamu tunggu dulu di sini ya," ucap pemuda itu ketika mereka sudah berada di dekat panggung.
Belum sempat Addara bertanya, dengan apa yang terjadi itu, pemuda itu sudah mulai melangkah menjauh darinya, tapi sebelum itu tidak lupa juga senyuman dia berikan pada Addara yang tengah dilanda kebingungan.
Sebenarnya bukan cuma Addara saja yang bingung, tapi pemuda yang tidak lain adalah Mirza, sejak kedatangan Calvin sudah dibuat bingung, oleh sosok yang berada di samping temannya itu.
Sebenarnya dia ingin menanyakan mengenai Addara psda Calvin, tapi mengingat kini waktu mereka terbatas, akhirnya dia pun menyimpan rasa penasarannya itu untuk nanti.
Meskipun masih belum mengetahui siapa Addara sebenarnya, tapi karena wanita itu datang bersama dengan Calvin jadi Mirza menganggap jika dia adalah orang yang penting, jadi dia memperlakukannya dengan baik.
"Iya, makasih," sahut Addara mengangguk dengan ramah.
Addara duduk di kursi yang berada di dekatnya itu, dia menatap Calvin yang tengah berbicara di atas panggung menyampaikan beberapa kata sambutan, untuk setiap orang yang hadir di sana.
"Jadi ini restoran miliknya itu," gumam Addara yang sudah bisa mencerna dengan baik apa yang ada di depannya itu.
Dia menatap pemuda itu dengan serius, balutan kemeja formal berwarna marun yang dipakainya dan dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam, membuat penampilannya terlihat lebih dewasa.
"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya, seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya."
Calvin mengucapkan dengan lantang setiap ucapannya itu, tatapan matanya hanya tertuju pada satu objek yang ada di restoran itu, hanya pada dunianya.
__ADS_1
"Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku, memberikanku semangat untuk tetap bertahan di saat aku merasa tidak ingin bertahan. Terima kasih telah memberikan aku kesempatan untuk bisa menjadi bagian dari cerita dalam hidupmu, aku harap di sisa cerita kita yang masih tersisa ini, aku akan selalu berada di dekatmu, sampai Tuhan mengakhiri kisah kita dengan memanggil kita kembali."
Addara merasa debaran di jantungnya kian menggila kala mendengar untuian kata yang suaminya itu ucapkan, dia pun menatap dalam suaminya yang tengah menatapnya dari atas sana.
Bahkan dia merasa tidak dapat lagi mendengar ucapan dari suaminya setelah itu, hingga tahu-tahu suaminya sudah berdiri di depannya, menatapnya dengan tatapan yang penuh cinta, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia begitu mencintanya.
"Aku mungkin memang bukan orang sempurna, tapi aku ingin kamu bisa berada di sampingku selamanya dan menjadi pelengkapku agar kehidupanku menjadi sempurna."
Beberapa sorak sorai dari setiap orang yang berada di sana dan menjadi saksi setiap ungkapan pemuda itu, menyadarkan Addara dari keterpakuannya pada pemuda itu.
Wanita itu secara perlahan, mulai melihat sekelilingnya dan ternyata kini mereka telah menjadi pusat perhatian. Menyadari hal itu, Addara hanya bisa tersenyum kaku karena merasa canggung.
"Ayo ikut aku," ucap Calvin menarik tangan untuk bangkit Addara dengan lembut.
"Ke mana?" tanya Addara heran.
"Ke tempat yang khusus untuk kita berdua, agar lebih leluasa," sahut Calvin.
Addara akhirnya hanya mengangguk pasrah dengan ajakannya itu, dia bangkit dari kursinya dan mengikuti langkah suaminya itu. Sedangkan Calvin, memberikan intrusi pada pria yang sebelumnya memberikan sambutan sebelumnya, untuk melanjutkan acaranya.
Selama perjalanan yang entah akan ke mana itu, Calvin tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Addara sedetik pun, bahkan ketika mereka mulai memasuki lift.
"Aku tidak menyangka, kalau restoran ini milikmu," ucap Addara pada Calvin yang berada di sampingnya.
"Milik kita," ralat Calvin.
"Kita," cicit Addara.
Sebelum Calvin kembali bicara, pintu lift pun terbuka, membuat mereka akhirnya melanjutkan langkah keluar. Addara menatap ke sekeliling tempat yang didatanginya itu, dia menatap tempat itu sambil berdecak kagum.
__ADS_1