Young Husband

Young Husband
Tawaran Pulang Bareng


__ADS_3

Addara tengah duduk bersama rekan kerjanya yang lain, berhadapan dengar klien yang menggunakan jasa perusahaan tempatnya bekerja untuk membuat desain sebuah apartement yang rencananya akan dia bangun dalam dekat ini.


"Bagaimana dengan desain yang ini, ini contoh gambar sebuah ruangan di lantai atas di mana dinding penghubung lantai satu ke lantai dua itu yang hanya disekat oleh rak buku."


"Menurut saya ini cocok untuk orang yang sudah bekerja, si penghuni nantinya akan bisa fokus bekerja, karena di ruangan atas ini hanya ada ruangan ini saja untuk dijadikan ruang baca atau ruang kerja, sedangkan kamar dan yang lainnya ada di lantai satu."


Addara menjelaskan tentang desainnya untuk sebuah unit yang merupakan hasil rancangannya itu pada pria yang sudah cukup berumur itu.


"Terus bagaimana kalau yang menyewanya bukan orang yang memerlukan ruangan itu?" tanya kliennya, bergantian menatap Addara dan layar laptop dengan serius.


"Itulah sebabnya, kenapa kami memberikan beberapa desain untuk setiap unit."


"Jadi sebelum si penyewa atau si pembeli, memutuskan, pihak anda bisa memberikan kira-kira unit seperti apa dia inginkan, jadi biar dia bisa memilih sesuai dengan kebutuhannya," sahut Addara.


"Iya, Tuan. Kami memang sengaja membuat beberapa desain ini untuk membuat calon penghuni unit di apartement anda bisa memilih unit yang sesuai dengan kebutuhannya nantinya. Dengan banyaknya pilihan desain unit di satu gedung, itu akan memberikan nilai lebih pada apartement anda nantinya," timpal rekan kerja Addara, pria kurus berkacamata itu adalah rekan Addara dalam proyek ini.


Terlihat kliennya itu tampak berpikir, pria itu menatap setiap desain yang telah Addara dan rekannya tunjukkan, menimbang apakah dia setuju atau tidak dengan desain-desain itu.


"Jika anda ingin desain lain, kami akan merubah desain itu, kami usahakan dalam beberapa hari desain itu akan selesai," ucap Addara yang dapat melihat keraguan dari kliennya itu.


"Baiklah, saya akan mencoba memakai beberapa desain ini di unit-unit apartement saya." Putus Klien Addara setelah beberapa saat berpikir.


Addara dan temannya itu bernapas lega, dia dan temannya tidak perlu mendesain ulang karena kliennya setuju dengan desain yang mereka tunjukkan itu.


"Baik, kalau begitu terima kasih karena Tuan, telah mempercayakan hal ini pada perusahaan kami. Anda bisa menghubungi kami lagi, jika sekiranya ada yang ingin Anda rubah," ucap Addara dengan ramah.


"Baik, terima kasih juga untuk kerja keras kalian, semoga nanti hasilnya sesuai dengan ekspetasi," sahut kliennya yang tak kalah ramahnya.


Mereka pun akhirnya bersalaman sebagai tanda persetujuan kerja sama itu, setelah beberapa saat akhirnya Addara pun pamit pada kliennya bersama dengan rekannya.


Addara dan rekannya mulai meninggalkan tempat dia bertemu dengan kliennya itu, pertemuan dengan kliennya itu diadakan di perusahaan kliennya yang lumayan jauh dari kantornya.


"Leganya, klien kita setuju dengan rancangan desain kita," ucap Addara yang disahuti anggukan kepala oleh rekannya.

__ADS_1


"Iya, aku tadi sempat was-was pas liat klien kita tengah berpikir, takut dia tidak setuju dengan desain-desain dari kita itu dan meminta kita membuat ulang," cetus rekannya sambil membenarkan kaca mata yang sedikit melorot.


"Sama aku juga ngerasain hal itu." Angguk Addara.


Addara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu berucap, "Ternyata ini sudah mau malam ya, pantesan di sini tampak sepi."


Saat ini memang sudah lewat dari jam kerja, saking seriusnya pembahasan antara mereka dan kliennya, mereka sampai tidak sadar jika mereka sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk pertemuan itu.


Bahkan kini lobby perusahaan itu sudah sepi, hanya ada pihak keamanan saja yang terlihat masih stanby berjaga-jaga.


"Iya, sekarang sebaiknya kita pulang aja dulu, lapor ke atasannya besok aja," saran rekannya itu.


"Iya, kita pulang aja," sahut Addara yang kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas selempang miliknya.


Dia memeriksa ponselnya, karena seingatnya tadi ada chat masuk di benda pipih itu. Dan ternyata benar, chat itu ternyata dari Calvin yang mengatakan jika sehabis pulang dari kampus, dia akan ke restorannya dulu, memantau perkembangan renovasi tempat usahanya itu.


Baru saja dia akan memesan taksi online, tapi ternyata ponselnya keburu mati karena kehabisan batrai, hingga membuat Addara berdecak.


"Kamu mau bareng aja pulangnya, Dar?" tanya rekannya itu.


"Boleh deh, tapi sampai tempat yang banyak taksi lewat aja ya, soalnya 'kan arah kita beda," sahut Addara kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


"Baiklah ayo," ajak rekannya itu.


"Iya, sorry ya aku nebeng, soalnya batrai ponselku habis, suami aku juga lagi sibuk jadi gak bisa jemput," terang Addara ketika mulai memakai helm.


"Iya, santai aja kali."


Setelah itu mereka pun meninggalkan pelataran perusahaan itu dengan sepeda motor milik rekannya, selama di perjalanan mereka mengobrol, membahas tentang masalah pekerjaan.


Setelah menghabiskan waktu sekitar lima belas menit, akhirnya Addara pun minta diturunkan, di pinggir jalan raya di mana akan banyak kendaraan umum lewat.


"Makasih ya, udah ngasih tumpangan," ucap Addara ketika turun dari motor.

__ADS_1


"Iya sama-sama, mau aku temenin sampai ada taksi lewat?" tawar rekannya.


"Gak perlu, ini udah malam kamu sebaiknya pulang aja. Aku yakin bentar lagi juga pasti ada taksi lewat," tolak Addara secara halus.


"Ya udah deh, kalau gitu aku duluan ya," pamit rekannya.


"Iya, hati-hati ya," sahut Addara yang hanya dijawab anggukan kepala oleh pria yang seumuran dengannya itu.


Dia berdiri di trotoar sambil menunggu ada taksi lewat, berharap apa yang ditunggunya itu segera datang karena dia ingin segera sampe ke apartement lalu makan dan istirahat.


Setelah beberapa menit menunggu, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Awalnya Addara tidak melihat mobil itu, matanya dia sibukan menatap mobil yang berjalan hilir mudik berharap ada taksi yang lewat.


"Dar."


Namun ketika telinganya mendengar namanya dipanggil, dia pun mulai mengalihkan pandangan pada mobil yang kini jendela depannya sudah terbuka itu.


Dari dalam jendela yang terbuka itu, dia melihat sosok wanita cantik tengah tersenyum padanya, hingga membuat Addara mau tak mau ikut tersenyum.


"Kamu baru mau pulang, Dar?" tanya Airin dengan ramah seperti biasa.


"Iya," sahut Addara memfokuskan matanya pada Airin, tidak pada pria yang duduk di balik setir, di samping Airin


"Nungguin suami kamu?"


Addara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Gak, suami aku lagi ada urusan, jadi aku lagi nungguin taksi dulu," sahut Addara.


"Bareng aja kalau gitu yuk," tawar Airin.


"Gak usah, aku nungguin taksi aja," tolak Addara secara halus.


Dia tidak ingin terlalu lama berhadapan dengan Jeffrey, dia ingin menjaga jarak kalau perlu tidak ingin bertemu lagi agar dia bisa segera melupakan tentang perasaannya itu.

__ADS_1


"Udah bareng aja, ini udah malam lho bahaya ... gak pa-pa 'kan, kalau Addara ikut bareng kita pulangnya?" Airin kemudian menoleh ke arah Jeffrey untuk meminta persetujuan dari suaminya itu.


Terlihat pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Addara mulai merasa resah karena taksi yang dia tunggu pun tidak kunjung


__ADS_2