
Setelah pulang ke rumah, Calvin yang saat itu baru saja berusia 10 tahun, terus memikirkan keadaan perempuan yang dia temui, dia khawatir dengan keadaan perempuan asing itu. Hingga seiring dengan berjalannya waktu, ingatan tentang Addara tidak pernah hilang dalam benaknya.
Calvin selalu berpikiran untuk menemui Addara, tapi dia tidak tahu di mana dia harus menemui perempuan itu, meskipun hanya untuk menanyakan bagaimana kabarnya.
Awalnya Calvin tidak percaya, jika dia bisa menyukai wanita dengan tatapan teduh itu di saat usianya yang masih kanak-kanak. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, dia memahami, jika ternyata perasaan kagum akan keberanian Addara yang mau menolongnya, mencoba menenangkan dirinya, di situasi seperti itu, perlahan berubah menjadi rasa suka.
Dia sering berkhayal, jika seandainya dia dipertemukan lagi dengan Addara, maka dia akan mencoba mendekati perempuan itu, meskipun saat itu dia baru saja duduk di bangku SMP. Hingga akhirnya, pertemuan itu pun kembali terjadi, dia kembali bertemu dengan Addara.
Ingin rasanya dia mendekati Addara saat itu juga, tapi setelah sadar akan dirinya yang saat itu masih kecil, membuat dia mengurungkan niatnya itu, karena dia yakin jika Addara pasti hanya akan menganggap dirinya sedang bermain-main.
"Kalau kita berjodoh, aku akan menemuimu lagi di saat aku sudah merasa pantas untukmu dan aku takkan melepaskanmu, jika suatu saat nanti kita dipertemukan kembali." Janji Calvin kecil menatap Addara yang tengah berbincang bersama teman-temannya, sambil bersenda gurau.
Calvin kecil tersenyum, melihat senyum lepas gadis yang selalu ada di pikirannya. Melihat gadis itu terlihat baik-baik saja, bahkan terlihat cerita membuat dia merasa lega.
"Addara," bisiknya, ketika dia dapat mendengar nama itu dari seorang yang duduk di meja bersama Addara.
Setelah kejadian itu, Calvin tidak pernah lagi bertemu dengan Addara, tapi bayangan dari wanita itu, tidak kunjung hilang dalam ingatannya, malah semakin tertanam dengan dalam.
Rasa yang ada dalam hatinya pun semakin terasa menggelora, ingin segera bertemu dengan wanita yang menempati hati dan pikirannya itu.
Nasib baik pun kembali berpihak padanya, dia kembali dipertemukan dengan Addara di saat dia sudah duduk di bangku SMA, semenjak pertemuan itu, dia pun mulai mengikuti setiap media sosial wanita itu. Bahkan tidak jarang, dia juga sengaja mengikuti setiap kegiatan Addara di saat dirinya senggang.
__ADS_1
"Kamu benar-benar ngikutin aku?" tanya Addara menatap Calvin dengan yang menyipit.
Calvin kembali mengalihkan perhatian pada Addara, lalu dengan entengnya mengangguk, tidak lupa juga senyuman lebar hingga menampilkan sederet giginya.
Addara menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika selama ini dia memiliki penguntit, tapi anehnya dia sama sekali tidak menyadari hal itu, mungkin karena sebelumnya titik fokusnya hanya pada pekerjaan, keluarga juga hubungannya dengan Jeffrey, hingga dia tidak menyadari ada hal ganjil.
"Terus waktu datang ke pernikahan aku, kamu juga tau kalau itu pernikahan aku?" tanya Addara.
"Kalau itu aku tidak tau ... setelah kamu bertunangan aku mulai berhenti mengikutimu, aku hanya sesekali liat postingan tentangmu dari media sosialmu saja."
Air muka pemuda itu tiba-tiba saja berubah jadi sedih, ketika mengatakan hal itu, seolah itu hal yang menyakitkan untuknya.
"Aku merasa sedih, karena ternyata kamu akan menjadi milik orang lain. Aku ingin sekali muncul di hadapanmu dan mengatakan kalau aku mencintaimu, tapi aku tau itu mungkin akan terlihat aneh menurutmu."
"Melihat kamu terlihat bahagia dengan hubunganmu itu, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menjadi penguntit dan fokus pada kuliahku, juga pada usaha yang akan aku bangun."
"Terus, bagaimana bisa kamu ada di sana ketika pernikahanku?"
"Aku hanya mengikuti perintah Ayahku saja yang tiba-tiba mengajakku untuk menghadiri acara itu, hingga aku benar-benar kaget ketika tau, acara yang aku hadiri itu ternyata acara pernikahanmu."
"Namun yang membuat aku lebih kaget adalah, ketika orang-tua calon suamimu datang dan setelah melihat ekspresimu yang berubah membuat aku meyakini jika ada yang tidak beres dengan pernikahanmu."
__ADS_1
Calvin mengatakan yang sebenarnya, dia pada awalnya memang tidak mengetahui jika ayahnya mengajak dia menghadiri acara itu, adalah pernikahan Addara. Pada awalnya dia bermaksud untuk pergi lagi dari sana, ketika melihat Addara bersama papa dan adiknya datang ke tempat itu.
Dia yakin dia tidak akan sanggup, melihat orang yang dia cintai secara diam-diam dengan waktu yang cukup lama, akan resmi menjadi milik orang lain. 10 tahun, dia memikirkan wanita itu, 10 tahun dia melewati hari-hari dengan bayangan Addara yang sudah melekat dalam hati juga pikirannya.
10 tahun pula, dari yang awalnya rasa kagum, berubah menjadi suka. Dan akhirnya berubah lagi menjadi cinta, meskipun tidak pernah saling menyapa, tidak pernah saling bertatap mata dengan intens. Jadi bukanlah hal yang mudah untuk Calvin, ketika dia belum sempat mengatakan rasa yang dia pendam itu, harus dihadapkan dengan pernikahan antara Addara dan Jeffrey.
Namun, niatnya yang akan melarikan diri dari acara itu, harus urung manakala dia melihat keadaan Addara yang tiba-tiba saja terlihat tidak baik-baik saja, ketika melihat sebuah kertas yang diberikan oleh orang tua calon suaminya.
Kayaknya pihak laki-laki membatalkan pernikahannya deh.
Kalau dilihat dari ekspresi pengantin wanita kayaknya iya deh.
Bisik-bisik yang Calvin dengar itu, membuat dia terus menatap Addara yang terlihat sedih dengan perasaan yang ikut sedih.
Sampai pada akhirnya, penghulu menanyakan apakah pernikahan itu akan tetap dilangsungkan atau tidak, tanpa pikir panjang, dia pun langsung berdiri.
"Pernikahan bisa tetap dilaksanakan!"
Dengan suara tegasnya Calvin mengatakan hal itu, dia tidak memedulikan ekspresi heran dari setiap mata yang hadir di sana. Karena saat ini titik fokusnya hanya pada Addara, tidak pada hal lainnya lagi.
"Saya yang akan menikahi mempelai wanitanya!"
__ADS_1
Calvin menatap Addara yang terlihat mulai menjatuhkan air matanya, ingin rasanya dia mendekatinya, memeluknya dan menghapus air mata yang membasahi pipinya itu.
Namun dia tetap mempertahankan raut wajahnya itu, menatap Addara dan papanya dengan penuh keyakinan meskipun terlihat, ekspresi bingung dan tidak percaya dari keluarga calon pengantin juga dari tamu yang ada di sana termasuk kedua orang-tuanya.